HIS STORY – cerita Allah, cerita tentang Kerajaan Allah

Kerajaan Allah adalah Umat di rumah Allah, dalam kekuasaan Allah
 
Kerajaan Allah didefinisikan sebagai “Umat Allah, di rumah Allah, dalam kekuasaan Allah” (Graeme Goldsworthy). Cerita alam semesta adalah cerita tentang Allah, dan cerita tentang Allah adalah tentang Kerajaan-Nya, Kuasa dan Kedaulatannya di dalam alam ciptaan ini. Dengan definisi ini, Firman Tuhan bisa digambarkan dalam aspek-aspek sebagai berikut: (Robert Vaughn, God’s Big Picture)
 
Perjanjian Lama 
  1. Pola kerajaan. Di taman Eden kita melihat dunia seperti rancangan Tuhan. Umat ​​Allah yaitu Adam dan Hawa, tinggal di rumah Allah, yaitu di taman, di bawah pemerintahan-Nya karena mereka tunduk pada firman-Nya. Dan berada di bawah pemerintahan Allah dalam Alkitab berarti selalu menikmati berkat-Nya; itu adalah cara terbaik untuk hidup. Ciptaan awal Allah menunjukkan model kerajaan-Nya seperti yang dirancangkan-Nya.
  2. Kerajaan yang hancur. Sayangnya, Adam dan Hawa berpikir hidup akan lebih baik jika mereka tinggal terpisah dari Allah. Hasilnya bencana. Mereka tidak lagi umat Allah. Mereka berpaling dari dia dan dia merespon dengan berpaling dari mereka. Mereka tidak lagi di tempat Allah; Ia mengusir mereka dari taman. Dan mereka tidak berada di bawah pemerintahan Allah, sehingga mereka tidak menikmati berkat-Nya. Sebaliknya, mereka menghadapi kutukan dan berada di bawah penilaiannya. Situasi ini sangat suram. Tapi Tuhan, cinta-Nya yang besar, bertekad untuk memulihkan kerajaannya. 
  3. Kerajaan yang dijanjikan. Allah memanggil Abraham dan membuat beberapa janji tanpa syarat kepadanya: melalui keturunan Abraham ia akan membangun kembali kerajaannya. Mereka akan menjadi umat-Nya, yang tinggal di tanahnya dan menikmati berkat-Nya, dan melalui mereka semua bangsa di bumi akan diberkati. Janji itu adalah Injil. Hal ini sebagian digenapi dalam sejarah Israel, tetapi hanya akhirnya dipenuhi melalui Yesus Kristus. 
  4. Kerajaan parsial. Alkitab mencatat bagaimana janji Allah kepada Abraham yang sebagian dipenuhi dalam sejarah Israel. Melalui eksodus dari Mesir, Allah membuat keturunan Abraham rakyatnya sendiri. Di Mount Sinai ia memberi mereka hukum-Nya sehingga mereka bisa hidup di bawah pemerintahannya dan menikmati berkat-Nya, seperti Adam dan Hawa yang telah dilakukan sebelum mereka berdosa. Berkat ditandai terutama oleh kehadiran Allah dengan umat-Nya dalam tabernakel. Di bawah Joshua mereka memasuki tanah dan, pada saat Raja Daud dan Salomo, mereka menikmati perdamaian dan kemakmuran di sana. Itu adalah titik tinggi dari sejarah Israel. Mereka adalah umat Tuhan di tempat Allah, tanah Kanaan, di bawah kekuasaan Allah dan karena itu menikmati berkat-Nya. Tapi janji-janji kepada Abraham masih belum sepenuhnya terpenuhi. Masalahnya adalah dosa, ketidaktaatan terus-menerus dari orang Israel. Itu segera mengarah pada pembongkaran kerajaan parsial sebagai Israel runtuh. 
  5. Kerajaan dinubuatkan. Setelah kematian perang sipil Raja Salomo pecah dan kerajaan Israel terpecah menjadi dua bagian: Israel di utara dan Yehuda di selatan. Tak ada yang kuat. Setelah 200 tahun keberadaannya terpisah, kerajaan utara Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur. Kerajaan selatan berjuang selama abad lain, tapi kemudian juga ditaklukkan dan penduduknya dibawa ke pengasingan di Babel. Selama periode ini menyedihkan dalam sejarah mereka Tuhan berbicara kepada orang-orang Israel dan Yehuda melalui beberapa nabi. Dia menjelaskan bahwa mereka sedang dihukum karena dosa mereka tetapi masih menawarkan harapan untuk masa depan. Para nabi menunjuk ke depan ke waktu ketika Tuhan akan bertindak tegas melalui Raja Nya, Mesias, untuk memenuhi semua janji-Nya. Orang-orang Yehuda pasti berpikir bahwa waktu itu telah datang ketika mereka diizinkan untuk kembali dari pengasingan, tapi Tuhan membuat jelas bahwa waktu yang tepat keselamatan masih di masa depan. Itu adalah di mana Perjanjian Lama berakhir: menunggu Raja Allah muncul untuk memperkenalkan kerajaannya.

Perjanjian Baru 

  1. Kerajaan Zaman Ini.  Empat ratus tahun berlalu setelah selesainya Perjanjian Lama sebelum Yesus memulai pelayanan publik dengan kata-kata, ‘Waktunya telah tiba. . . Kerajaan Allah sudah dekat ‘(Markus 1:15).  Menunggu itu lebih; Raja Allah datang untuk mendirikan Kerajaan Allah. Hidupnya, pengajaran dan mujizat semua membuktikan bahwa dia yang katanya dia: Allah sendiri dalam bentuk manusia. Dia memiliki kekuatan untuk meletakkan segala sesuatu kembali seperti semula, dan ia memilih cara yang sangat mengejutkan untuk melakukannya: dengan mati kelemahan di kayu salib. Itu kematiannya bahwa Yesus berurusan dengan masalah dosa dan memungkinkan bagi manusia untuk kembali ke dalam hubungan dengan Bapa-Nya. Kebangkitan membuktikan keberhasilan rescuemission Yesus di kayu salib dan mengumumkan bahwa ada harapan bagi dunia kita. Mereka yang percaya di dalam Kristus dapat berharap untuk hidup yang kekal dengan dia. 
  2. Kerajaan yang Dinyatakan. Oleh kematian dan kebangkitan-Nya Yesus melakukan semua yang diperlukan untuk menempatkan segalanya dengan benar lagi dan benar-benar mengembalikan kerajaan Allah. Tapi dia tidak menyelesaikan pekerjaan ketika ia pertama di bumi. Ia naik ke surga dan membuat jelas bahwa akan ada penundaan sebelum ia kembali. Penundaan ini untuk memungkinkan lebih banyak orang untuk mendengar tentang kabar baik Kristus sehingga mereka dapat menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya dan siap untuk dia ketika dia datang. Kita hidup selama periode ini, yang menyebut Alkitab ‘hari-hari terakhir. Ini dimulai pada hari Pentakosta ketika Allah telah menyuruh Roh untuk melengkapi gereja untuk memberitahu seluruh dunia tentang Kristus. 
  3. Kerajaan disempurnakan. Suatu hari Kristus akan kembali. Akan ada pemisahan besar. Musuh-musuhnya akan dipisahkan dari hadapan-Nya di neraka, namun rakyatnya akan bergabung dengannya dalam ciptaan baru yang sempurna. Lalu akhirnya janji-janji Injil akan benar-benar terpenuhi. Kitab Wahyu menggambarkan kerajaan sepenuhnya pulih: umat Allah, orang-orang Kristen dari segala bangsa, di tempat Allah, ciptaan baru (surga), di bawah kekuasaan Allah dan karena itu menikmati berkat-Nya. Dan tidak ada yang dapat merusak happy ending ini. Hal ini tidak dongeng; mereka benar-benar semua akan hidup bahagia selamanya.

Penggunaan Teknologi Informasi untuk menunjang Penelitian & Penulisan Karya Ilmiah Teologi

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Latar Belakang:

Mahasiswa dituntut untuk mampu mendapatkan dan memahami informasi yang seluas-luasnya untuk mendukung pembelajaran, baik dalam pembelajaran sehari-hari, namun terlebih lagi ketika harus mengerjakan penelitian dan penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis maupun disertasi). Informasi ini semakin berkembang dengan adanya hardware canggih, seperti komputer, tablet dan HP Pintar (Smartphone), demikian juga dengan penggunaan internet yang semakin merata bahkan mendominasi ranah informasi. Namun tidak dipungkiri bahwa banyak mahasiswa teologi yang merasa gamang karena merasa tidak memiliki latar belakang ataupun pengalaman yang mendukung penggunaan teknologi informasi. Mungkin sudah banyak mahasiswa yang terbiasa menggunakan komputer untuk kegiatan pembelajaran sehari-hari dalam menulis dokumen ataupun mengunjungi website tertentu. Namun banyak mahasiswa yang tidak memiliki kecakapan dalam Mencari, Memilih, Mengelola, Memahami dan Mempublikasikan informasi yang didapatkan.

Kompetensi Dasar

  • Peserta dapat mengelola informasi dalam media penyimpanan lokal dan cloud
  • Peserta dapat mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara spesifik, baik dalam media penyimpanan lokal maupun internet
  • Peserta dapat memahami informasi bahasa asing yang didapatkan
  • Peserta dapat menyusun karya ilmiah teologi dengan bantuan menggunakan perangkat lunak teologi
  • Peserta dapat mempublikasikan hasil karya ilmiahnya dalam bentuk tulisan dan presentasi

Kegiatan Pembelajaran

Pelatihan ini akan menggunakan metode yang berbasis tugas (task-based) dan berbasis kompetensi (competence-based) untuk menolong peserta secara membangun keterampilannya dalam mengelola informasi secara terintegasi, mulai dari mencari informasi  sampai dapat menghasilkan sebuah karya yang dapat dipublikasikan.

  1. MENCARI – melakukan teknik-teknik pencarian canggih di internet melalui GOOGLE SEARCH untuk mendapatkan informasi secara spesifik – gambar, pdf, ppt dll.. Mencari situs-situs yang berbobot dan dapat mendukung penyusunan karya ilmiah
  2. MENGELOLA –menyimpan informasi yang didapatkan secara cloud, dengan DROPBOX dan EVERNOTE, maupun menyusun file secara kategorial di hard disk, mencari dengan EVERYTHING
  3. MENYUSUN–penulisan karya ilmiah lewat WORD dan POWERPOINT, dengan bantuan BIBLEWORK & SABDA
  4. MEMPUBLIKASI –  menampilkan karya tulis di internet di WORDPRESS dan SLIDESHARE

 

Pinjamkan Harapanmu…

Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
tampaknya telah hilang harapanku
Rasa hilang dan putus asa mendampingiku setiap hari,
rasa sakit dan kebingungan menjadi kawanku
Aku tidak tahu ke mana harus berpaling;
melihat ke depan tidak membawa harapan baru.
Yang kulihat adalah masa sulit, hari penuh sakit dan lebih banyak tragedi….

sadness and despair
Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
tampaknya telah hilang harapanku
Pegang tangan dan peluk aku;
dengarkan semua ocehanku,
pemulihan tampaknya begitu jauh
Jalan kesembuhan tampak seperti perjalanan panjang dan sepi…
Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
tampaknya telah hilang harapanku
Berdiri bersamaku, tawarkan kehadiranmu, hati dan cintamu.
Kuakui rasa sakit ini, begitu nyata dan selalu hadir
Membanjiriku dengan pikiran duka dan yang bertentangan
Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
supaya ketika aku pulih nanti,
kuakan membagikan pembaruanku,
harapan dan kasihku dengan orang lain

dari Lend Me Your Hope, tidak dikenal

Luka Hati dan Dampaknya: Menjadi Wounded Helper, bukan Wounded Healer

Wounded Healer – Penyembuh yang Terluka. Istilah ini banyak disandingkan pada Henri Nouwen, Filsuf, pastur dan pemerhati sesama. Tahun ’79 ia menulis buku The Wounded Healer: Ministry in Contemporary Society, yang menekankan bahwa “..dalam keterlukaan, kita bisa menjadi sumber kehidupan bagi orang lain”. Dalam bukunya ini Nouwen menceritakan sebuah kisah seorang rabi Yahudi yang berbincang dengan nabi Elia:

“Tolong katakan – kapankah Mesias akan datang?”

“Pergi dan tanya sendiri pada-Nya,” jawab Elia

“Ada di mana Dia?” tanya sang rabi

“Dia sedang duduk di pintu gerbang kota,” sahut Elia

“Bagaimana saya tahu yang manakah Mesias”

Maka Nabi menjawab, “Dia sedang duduk diantara orang-orang sengsara, dipenuhi dengan luka-luka. Orang yang lain membuka semua luka yang ada di tubuh mereka pada saat yang sama, dan kemudian menutupnya lagi. Tapi Dia hanya membuka satu luka saja dan menutupnya lagi, sambil berkata pada dirinya sendiri, ‘Mungkin Aku akan dibutuhkan; jika begitu, Aku harus siap sedia supaya tidak menunda waktu'”

Menurut Henri Nouwen, “Yang menarik hati saya dalam kisah ini ada dua: Pertama, orang percaya yang memulihkan luka-lukanya, dan kedua, kemauan untuk menolong orang lain dan mempersiapkan buah hasil keterlukaan kita tersedia bagi orang lain”.

Namun sebenarnya istilah ini telah digunakan oleh Carl Jung, yang mengatakan, “.. lewat lukanya sendiri, [dokter] memiliki sejumlah kuasa untuk menyembuhkan.” Jung mengacu pada mitologi Yunani tentang Chiron, seorang centaur, yaitu manusia setengah kuda yang adalah seorang penyembuh fenomenal. Namun saat terluka, ia tidak dapat menyembuhkan luka-lukanya sendiri. Carl Jung memberikan gambaran bahwa saat menolong, seorang penyembuh bisa mengalami kesembuhan dari interaksinya dengan orang yang ditolong, dan pada gilirannya memiliki kemampuan untuk menolong orang tesebut.

Saya sendiri cenderung menggunakan istilah Wounded Helper – Penolong yang Terluka. Pembacaan Firman, praktek pelayanan dan juga pengalaman pribadi menguatkan keyakinan bahwa peran saya yang sebenarnya ‘hanyalah’ sebagai penolong. Dan tugas utama penolong sebenarnya hanya membawa orang ke hadapan Tabib Yang Agung. Sama seperti orang-orang yang mengusung orang lumpuh sampai menjebol atap agar orang lumpuh ini dapat bertemu Yesus, demikian juga tugas saya adalah mengusung orang ke hadapan Yesus. Mencari cara yang kreatif untuk membawa orang pada Yesus, dan bukan memikirkan bagaimana cara menyembuhkan, atau menormalkan, atau mengubah orang lain. Dan melakukannya walaupun kita sendiri memiliki kelemahan dan keterlukaan kita sendiri. Dengan keyakinan, bahwa ada waktu di mana kita sendiri yang  diusung oleh teman-teman kita ke hadapan Yesus. Dan ketika kita semua ada di hadapan-Nya, ijinkan Yesus juga untuk menyembuhkan kita pada waktu dan dengan cara-Nya.

Apapun jabatan kita, siapapun kita, dan kondisi saat ini, kita mendapat panggilan untuk menjadi penolong dan pengusung bagi orang-orang di sekitar kita. Apakah sebagai orang tua, pemimpin, pengusaha, penginjil, pemberita Firman, pengkotbah ataupun gembala – tugas utama kita adalah menolong orang di sekitar kita untuk bertemu Tuhan, sehingga kita semakin mengenal dan menikmati Dia. Kita juga mengijinkan orang lain untuk menolong dan membawa kita kepada Yesus. Dengan cara inilah komunitas akan menjadi healing community – komunitas di mana kesembuhan terjadi, dalam waktu dan cara Tuhan sendiri.

Luka Hati dan Dampaknya: Dampak Internal

Ada banyak dampak yang dialami seseorang yang mengalami luka yang relatif permanen. Saat ini kita akan membahas dampak internal, atau dampak yang muncul di manusia batin seseorang yang terluka. Dampak internal itu adalah: Kebutuhan yang tidak terpenuhi, Emosi Negatif yang permanen dan Kepercayaan Palsu.

Kebutuhan yang Tidak terpenuhi

Semua manusia memiliki kebutuhan yang mendasar. Selain dari kebutuhan fisik, sebenarnya manusia memiliki kebutuhan terdalam. Kebutuhan terdalam ini adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh manusia supaya merasa sejahtera lahir dan batin. Walaupun mungkin diisi oleh hal-hal material, namun sebenarnya yang dipuaskan adalah kesejahteraan seseorang secara mental. Contoh-contoh kebutuhan yang terdalam adalah: rasa aman, rasa berharga, rasa diterima, rasa dikasihi dll. Ini adalah kebutuhan yang normal yang dibutuhkan oleh semua manusia, tidak peduli posisi, jenis kelamin ataupun kondisi.

Ketika seseorang terluka hati, maka yang muncul adalah Kebutuhan Yang Tidak Terpenuhi – suatu kondisi/perasaan akan suatu kebutuhan yang mendalam, yang perlu diisi terus namun tidak pernah cukup. Akibatnya orang akan terus-menerus:

  • Merasa kurang dikasihi
  • Kehilangan rasa aman
  • Merasa diperlakukan tidak adil
  • Merasa tidak dihargai

Emosi Negatif yang kuat dan relatif tetap

Kita semua bisa memiliki perasaan tertentu – dan memiliki perasaan adalah hal yang wajar dan normal. Ada emosi positif – yaitu perasaan yang membuat kita merasa enak dan tentunya juga ada emosi negatif, yaitu perasaan tidak enak yang ingin kita buang. Dua macam emosi ini pun normal ada dalam kehidupan manusia, dan umumnya kita alami secara berganti-ganti. Namun karena ada kebutuhan terdalam yang tidak terpenuhi, jadilah orang-orang terluka memiliki emosi negatif yang relatif tetap dalam perasaannya.

Beberapa emosi negatif yang kuat pada orang terluka:  rasa malu, rasa takut & rasa bersalah

  • Memiliki ketakutan yang berlebihan atau tidak rasionil
  • Tidak dapat mengendalikan kemarahan
  • Memiliki perasaan yang naik turun dengan cepat
Kepercayaan Palsu
Luka juga akan mempengaruhi cara orang berpikir tentang kehidupan. Bisa terbentuk serangkaian prinsip, sistem kepercayaan, cara pandang dan sistim nilai yang mempengaruhi seseorang ketika memandang kehidupan ini. Beberapa prinsip dan nilai terbentuk sebagai hasil refleksi atau perenungan ketika terjadi luka dan krisis – sebagai hasil pembelajaran. Prinsip dan nilai ini sering terbentuk sebagai langkah awal untuk menyelesaikan kebutuhan terdalam dan emosi yang mengganggu. Beberapa prinsip dan nilai ini bersifat positif – mendukung orang untuk maju, tapi juga ada yang bersifat negatif – justru menghambat seseorang untuk bertumbuh. Namun pada prinsipnya, bukan saja kita perlu melihat apakah prinsip dan nilai ini positif atau negatif, namun terlebih lagi apakah selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Inilah yang kita sebut sebagai Kepercayaan yang palsu – yaitu prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang tidak berdasarkan kebenaran Allah.
Kepercayaan yang palsu akan mempengaruhi kita dalam tiga jurusan:
  • Kepada Allah Pencipta – kita memiliki gambaran yang tidak benar tentang siapa dan bagaimana Allah
  • Kepada Diri Sendiri – Kita memiliki Identitas yang palsu – siapakah saya menurut diri sendiri yang sebenarnya semu
  • Kepada Orang lain – yang biasanya dipengaruhi penghakiman, yaitu cara kita memberi label dan kategori pada orang-orang tertentu

Luka Hati & Dampaknya: Contoh-contoh secara kronologis

Kapankah seseorang bisa mengalami luka hati? Sepanjang hidup, bahkan sebelum ia dibuahi dan dilahirkan pun seseorang bisa mengalami luka sampai pada saat kematiannya. Berikut adalah contoh-contoh luka yang bisa dialami seseorang, mulai dari sejarah orang tua. Tentu contoh-contoh ini tidak lengkap, namun harapannya bisa memberikan gambaran apa saja yang bisa melukai hidup seseorang.

Konsekuensi Luka orang tua – yaitu luka-luka yang dimiliki oleh orang tua, bahkan sebelum mereka menikah, yang konsekuensinya diwariskan kepada anak-anak. Luka dapat diturunkan kepada generasi di bawah kita dan Ini adalah akibat atau konsekuensi yang ditanggung keturunan kita.

  • Ayah atau ibu tidak diasuh oleh orang tua mereka masing-masing
  • Ayah atau ibu memiliiki perselisihan yang berat dengan orang tua masing-masing
  • Pernikahan yang tidak didukung oleh keluarga masing-masing
  • Ayah dan ibu berselisih berat selama pernikahan
  • Kekerasan dalam rumah tangga

Proses Kehamilan dan Kelahiranyaitu luka-luka yang terjadi ketika seseorang berada dalam kandungan dan juga pada proses persalinan atau perawatan sesudahnya. Proses kehamilan sering memberi dampak yang kuat pada anak dalam kandungan. Proses persalinan dan awal lahir  adalah proses yang dapat dan sering menjadi pengalaman traumatis bagi anak

  • Kehamilan yang tidak diinginkan
  • Orang tua berpisah/bercerai/meninggal saat proses kehamilan atau kelahiran
  • Ibu Mengalami trauma berat pada saat proses kehamilan dan kelahiran
  • Penolakan karena jenis kelamin yang tidak diinginkan
  • Dipisahkan (mungkin sementara) sesaat setelah dilahirkan

Proses Pertumbuhan (dalam keluarga) – yaitu luka-luka yang didapatkan ketika seorang anak bertumbuh di dalam lingkungan keluarga atau orang yang mengasuhnya. Masa awal pertumbuhan adalah masa yang sangat penting dalam membangun fondasi kehidupan anak, dan luka-luka yang terjadi pada masa ini sering mempengaruhi kehidupan seseorang dalam berbagai aspek kehidupannya.

  • Diadopsi atau diurus oleh selain orang tua kandung
  • Merasa diperlakukan dengan tidak adil
  • Merasa dituntut terus menerus
  • Mengalami perlakuan yang keras/kasar
  • Mendapatkan disiplin yang berlebihan
  • Tidak diurus/mengalami pembiaran
  • Anggota keluarga yang disfungsi
  • Orang tua mengalami konflik, kekerasan, perpisahan bahkan perceraian
  • Perubahan status social dan keuangan yang tiba-tiba (PHK, bangkrut dll.)
  • Ada anggota keluarga yang harus mendapatkan perawatan khusus
  • Ada anggota keluarga yang kecanduan sesuatu

Proses Pertumbuhan (Kehidupan sosial) – yaitu luka-luka yang terjadi pada masa kanak-kanak dan muda, yang terjadi  dalam interaksi seseorang dalam kehidupan sosial di luar rumah. Pada masa ini banyak luka terjadi karena adanya peer pressure dan penyesuaian diri dalam kelompok sosial.

  • Sering merasa kesepian atau dikucilkan
  • Sering menjadi bahan olok-olok
  • Dikhianati oleh seseorang
  • Mengalami pemerasan & penindasan

Proses pernikahan & berkeluarga – yaitu luka yang terjadi dalam interaksi dengan seseorang yang menjadi pendamping hidup, serta komunitas baru yang terbentuk, yaitu keluarga besar dari kedua belah pihak maupun anak-anak yang kemudian lahir. Pada masa ini banyak luka lama yang berulang terjadi, sehingga makin menguatkan luka hati yang sudah ada lama, namun mungkin dalam bentuk yang berbeda. Ada juga luka-luka yang baru timbul.

  • Ketidaksetujuan salah satu atau kedua pihak keluarga
  • Proses pendekatan atau pacaran yang tidak sehat, misal penuh manipulasi dan intimidasi
  • Proses pernikahan yang rumit atau mengalami ketegangan-ketegangan
  • Disfungsi peran dari salah satu atau kedua pihak suami istri
  • Komunikasi yang penuh konflik
  • Kekerasan dalam rumah tangga
  • Perselingkuhan dan ketidaksetiaan
  • Ketidaksehatan secara fisik, kejiwaan dan keuangan
  • Proses perawatan dan pertumbuhan anak-anak yang tidak sehat

Masa tua dan kematianyaitu saat anak-anak telah mapan dan memiliki kehidupan sendiri.

  • Diabaikan atau tidak diperhatikan oleh anak-anak, baik secara fisik maupun kejiwaan dan juga finansial
  • Konflik yang disebabkan  harta warisan
  • Kehilangan kontak dengan salah satu atau semua anggota keluarga

Artikel ini adalah bagian kedua dari seri tentang luka hati dan dampaknya. Untuk melihat bagian pertama: Luka Hati & Dampaknya: Pemahaman Dasar

Artikel terkait:

Luka Hati & Dampaknya: Pemahaman Dasar

Bagaimanakah sifat luka secara fisik? Luka adalah sesuatu yang merobek bagian tubuh, dan membawa rasa sakit dan pedih. Kesembuhan dari luka membutuhkan waktu, dan jika tidak ditangani dengan baik masih memiliki dampak. Misalnya masih meninggalkan bekas luka yang terlihat, atau masih membawa rasa sakit sekali-sekali. Karenanya luka perlu mendapat perawatan dengan hati-hati, karena bisa membawa masalah yang lebih besar. Misalnya luka yang tidak terobati dengan benar akan mengalami infeksi. Ketika terjadi infeksi, maka luka itu akan membusuk, dan infeksi ini dapat menyebar semakin besar. Infeksi pada bagian tubuh yang parah mungkin akan mengakibatkan bagian tubuh tersebut harus diamputasi, agar tidak merusak bagian tubuh yang lain. Bahkan, dalam beberapa kasus, infeksi dapat mengakibatkan kematian.

Keberadaan luka bukan saja mengancam tubuh kita, namun juga mempengaruhi bagaimana kita hidup. Luka yang terdapat di bagian tubuh tertentu dapat mempengaruhi bagaimana kita berjalan, makan atau fungsi-fungsi lainnya. Dan rasa sakit yang terus menerus pun akan mengganggu kehidupan kita.

Sama seperti tubuh yang bisa mengalami cedera, bagian jiwa dan rohani kita pun bisa tergores dan terluka. Dan sama seperti luka tubuh, luka hati pun membutuhkan waktu penyembuhan dan juga perlu ditangani dengan perhatian khusus, jika tidak luka ini bisa berbekas atau mempengaruhi bagian hidup kita yang lain. Luka dalam hati seseorang tidak langsung terlihat, namun dampaknya justru bisa berjangka panjang dan mempengaruhi seluruh aspek hidupnya.

Luka hati atau luka batin adalah kondisi kejiwaan dan rohani yang tidak sehat, yang disebabkan pengalaman menyakitkan atau traumatis yang tidak terselesaikan dengan benar

Beberapa contoh di alkitab yang menggambarkan luka secara hati dan roh adalah:

  • “Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa” (Ams 27:9b)
  • “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mzm 147:3)
  • “tenangkanlah rohku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh!” (Yes 38:16)

Sumber-sumber luka hati

  • Isaiah 61:1-2  … orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, …orang berkabung,
  • Luke 4:18-19  … orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, …

Ada 2 bentuk luka hati, yaitu terjadi secara aktif atau secara pasif.

  • Secara aktif dalam bentuk kesengsaraan – yaitu ketika seseorang mengalami sesuatu penderitaan yang tidak layak dialami, misalnya mengalami kekerasan, pelecehan atau kecelakaan, dll.
  • Secara pasif, dalam bentuk kemiskinan  –  yaitu ketika seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang selayaknya dimiliki, misalnya tidak mendapatkan perhatian, tidak mendapatkan teladan dll.

Dari Yesaya dan Lukas di atas, ketika seseorang mendapatkan luka hati, ia akan mengalami perasaan dan kondisi seperti ini:

  • Hancur hati
  • Tertawan & Terkurung – terikat
  • Buta – tidak sadar/tertipu
  • Tertindas

Apa saja yang menjadi sumber luka hati? Secara umum orang bisa terluka karena ada peristiwa atau pengalaman yang terjadi pada sekelompok orang bersama-sama. Namun juga ada pengalaman yang secara khusus terjadi pada orang-orang tertentu saja.

  • Penderitaan – semua bentuk kesusahan dan kesengsaraan dapat mengakibatkan luka. Con: kemiskinan, sakit penyakit dll.
  • Bencana/Malapetaka – bentuk kerusakan & kehilangan yang terjadi dengan tiba-tibaYang dirasakan: ketakutan, kehilangan & dukacita
  • Penolakan – ketika seseorang tidak diterima dan dikasihi tanpa syarat oleh orang yang seharusnya mengasihi
  • Pengabaian – ketika seseorang tidak mendapatkan pengasuhan yang positif
  • Pelecehan – ketika seseorang direndahkan martabatnya secara komunikasi, fisik, emosi dan seksual

Artikel terkait:

Membangun Perubahan saat berubah adalah hal yang sulit (Switch)

Apakah anda menginginkan perubahan? Perubahan kearah yang lebih baik tentunya. Saya rasa semua kita menginginkan perubahan positif seperti itu. Mungkin perubahan untuk diri sendiri, mungkin juga untuk orang lain. Ada perubahan yang cukup mudah terjadi, namun banyak  yang cukup sulit. Dan biasanya perubahan sesuatu yang penting dan sangat berarti membutuhkan usaha yang besar juga. Dan tidak jarang perubahan yang diharapkan tidak terjadi, bahkan mungkin membawa kemunduran bagi orang-orang yang mengalaminya.

Mengapa perubahan penting terkesan sulit untuk dijalankan? Biasanya orang akan menyalahkan kegagalan perubahan dalam hal-hal berikut:

  • Perubahan yang terjadi sangat sulit (atau berat)
  • Orang tidak mau berubah

Walau begitu tetap saja perubahan terjadi. Teknologi adalah bukti perubahan yang terus-menerus ke arah kemajuan. Demikian juga perubahan yang terjadi dalam kehidupan seseorang: memilih sekolah, memilih pasangan hidup ataupun memutuskan memiliki anak. Semua ini memperlihatkan bahwa orang sebenarnya berubah dan mau berubah. Namun ada perubahan yang tidak berjalan dengan baik, dan ada perubahan yang membawa kesejahteraan bagi yang melewatinya.

Bagaimana agar kita bisa berhasil melakukan perubahan? Penulis Chip Heath dan Dan Heath mencoba merumuskan apa yang dilakukan oleh mereka yang berhasil membawa perubahan dalam bukunya Switch:How To Change Things when Change is Hard. Dalam bukunya para Heath memberikan kerangka proses yang perlu dilakukan agar perubahan mengalami keberhasilan:

  • Berikan tuntunan pada aspek kognitif (intelek): Apa yang sering dianggap sebagai perlawanan seng merupakan ketiadaan kejelasan.Jadi berikanlah petunjuk yang sangat jelas.
  • Berikan motivasi pada aspek afektif (perasaan) : Apa yang sering dianggap sebagai kemalasan sebenarnya sering merupakan kelelahan. Perubahan terus-menerus untuk jangka waktu lama sangat melelahkan, kecuali kita bisa membakar motivasi seseorang lewat perasaannya.
  • Buatlah jalur perubahan. Apa yang dianggap sebagai masalah orang sebenarnya sering merupakan masalah situasi. Ubah situasi maka orang pun dapat berubah dengan lebih mudah. Ketika kita mempersiapkan jalur perubahan,maka tingkat keberhasilan berubah pun semakin besar.

“Untuk mengubah tingkah aku, anda harus menuntun Si Pengendara, memotivasi Sang Gajah, dan membangun Jalurnya. Jika anda dapat melakukan ketiganya sekaligus,perubahan yang dramatis dapat terjadi bahkan ketika anda tidak memiliki banyak kuasa atau sumber daya dibelakang anda.”

Bagaimana dengan anda? Apakah perubahan adalah sesuatu yang sulit atau mudah bagi anda? Apakah anda sedang menolong orang lain berubah? Apa yang anda lakukan agar prosesnya berjalan dengan relatif mudah?

Keterampilan Hidup yang diperbaharui

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,607 other followers

%d bloggers like this: