Pinjamkan Harapanmu…

Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
tampaknya telah hilang harapanku
Rasa hilang dan putus asa mendampingiku setiap hari,
rasa sakit dan kebingungan menjadi kawanku
Aku tidak tahu ke mana harus berpaling;
melihat ke depan tidak membawa harapan baru.
Yang kulihat adalah masa sulit, hari penuh sakit dan lebih banyak tragedi….

sadness and despair
Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
tampaknya telah hilang harapanku
Pegang tangan dan peluk aku;
dengarkan semua ocehanku,
pemulihan tampaknya begitu jauh
Jalan kesembuhan tampak seperti perjalanan panjang dan sepi…
Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
tampaknya telah hilang harapanku
Berdiri bersamaku, tawarkan kehadiranmu, hati dan cintamu.
Kuakui rasa sakit ini, begitu nyata dan selalu hadir
Membanjiriku dengan pikiran duka dan yang bertentangan
Pinjamkan harapanmu untuk sementara,
supaya ketika aku pulih nanti,
kuakan membagikan pembaruanku,
harapan dan kasihku dengan orang lain

dari Lend Me Your Hope, tidak dikenal

Luka Hati dan Dampaknya: Menjadi Wounded Helper, bukan Wounded Healer

Wounded Healer – Penyembuh yang Terluka. Istilah ini banyak disandingkan pada Henri Nouwen, Filsuf, pastur dan pemerhati sesama. Tahun ’79 ia menulis buku The Wounded Healer: Ministry in Contemporary Society, yang menekankan bahwa “..dalam keterlukaan, kita bisa menjadi sumber kehidupan bagi orang lain”. Dalam bukunya ini Nouwen menceritakan sebuah kisah seorang rabi Yahudi yang berbincang dengan nabi Elia:

“Tolong katakan – kapankah Mesias akan datang?”

“Pergi dan tanya sendiri pada-Nya,” jawab Elia

“Ada di mana Dia?” tanya sang rabi

“Dia sedang duduk di pintu gerbang kota,” sahut Elia

“Bagaimana saya tahu yang manakah Mesias”

Maka Nabi menjawab, “Dia sedang duduk diantara orang-orang sengsara, dipenuhi dengan luka-luka. Orang yang lain membuka semua luka yang ada di tubuh mereka pada saat yang sama, dan kemudian menutupnya lagi. Tapi Dia hanya membuka satu luka saja dan menutupnya lagi, sambil berkata pada dirinya sendiri, ‘Mungkin Aku akan dibutuhkan; jika begitu, Aku harus siap sedia supaya tidak menunda waktu’”

Menurut Henri Nouwen, “Yang menarik hati saya dalam kisah ini ada dua: Pertama, orang percaya yang memulihkan luka-lukanya, dan kedua, kemauan untuk menolong orang lain dan mempersiapkan buah hasil keterlukaan kita tersedia bagi orang lain”.

Namun sebenarnya istilah ini telah digunakan oleh Carl Jung, yang mengatakan, “.. lewat lukanya sendiri, [dokter] memiliki sejumlah kuasa untuk menyembuhkan.” Jung mengacu pada mitologi Yunani tentang Chiron, seorang centaur, yaitu manusia setengah kuda yang adalah seorang penyembuh fenomenal. Namun saat terluka, ia tidak dapat menyembuhkan luka-lukanya sendiri. Carl Jung memberikan gambaran bahwa saat menolong, seorang penyembuh bisa mengalami kesembuhan dari interaksinya dengan orang yang ditolong, dan pada gilirannya memiliki kemampuan untuk menolong orang tesebut.

Saya sendiri cenderung menggunakan istilah Wounded Helper – Penolong yang Terluka. Pembacaan Firman, praktek pelayanan dan juga pengalaman pribadi menguatkan keyakinan bahwa peran saya yang sebenarnya ‘hanyalah’ sebagai penolong. Dan tugas utama penolong sebenarnya hanya membawa orang ke hadapan Tabib Yang Agung. Sama seperti orang-orang yang mengusung orang lumpuh sampai menjebol atap agar orang lumpuh ini dapat bertemu Yesus, demikian juga tugas saya adalah mengusung orang ke hadapan Yesus. Mencari cara yang kreatif untuk membawa orang pada Yesus, dan bukan memikirkan bagaimana cara menyembuhkan, atau menormalkan, atau mengubah orang lain. Dan melakukannya walaupun kita sendiri memiliki kelemahan dan keterlukaan kita sendiri. Dengan keyakinan, bahwa ada waktu di mana kita sendiri yang  diusung oleh teman-teman kita ke hadapan Yesus. Dan ketika kita semua ada di hadapan-Nya, ijinkan Yesus juga untuk menyembuhkan kita pada waktu dan dengan cara-Nya.

Apapun jabatan kita, siapapun kita, dan kondisi saat ini, kita mendapat panggilan untuk menjadi penolong dan pengusung bagi orang-orang di sekitar kita. Apakah sebagai orang tua, pemimpin, pengusaha, penginjil, pemberita Firman, pengkotbah ataupun gembala – tugas utama kita adalah menolong orang di sekitar kita untuk bertemu Tuhan, sehingga kita semakin mengenal dan menikmati Dia. Kita juga mengijinkan orang lain untuk menolong dan membawa kita kepada Yesus. Dengan cara inilah komunitas akan menjadi healing community – komunitas di mana kesembuhan terjadi, dalam waktu dan cara Tuhan sendiri.

Luka Hati dan Dampaknya: Dampak Internal

Ada banyak dampak yang dialami seseorang yang mengalami luka yang relatif permanen. Saat ini kita akan membahas dampak internal, atau dampak yang muncul di manusia batin seseorang yang terluka. Dampak internal itu adalah: Kebutuhan yang tidak terpenuhi, Emosi Negatif yang permanen dan Kepercayaan Palsu.

Kebutuhan yang Tidak terpenuhi

Semua manusia memiliki kebutuhan yang mendasar. Selain dari kebutuhan fisik, sebenarnya manusia memiliki kebutuhan terdalam. Kebutuhan terdalam ini adalah hal-hal yang dibutuhkan oleh manusia supaya merasa sejahtera lahir dan batin. Walaupun mungkin diisi oleh hal-hal material, namun sebenarnya yang dipuaskan adalah kesejahteraan seseorang secara mental. Contoh-contoh kebutuhan yang terdalam adalah: rasa aman, rasa berharga, rasa diterima, rasa dikasihi dll. Ini adalah kebutuhan yang normal yang dibutuhkan oleh semua manusia, tidak peduli posisi, jenis kelamin ataupun kondisi.

Ketika seseorang terluka hati, maka yang muncul adalah Kebutuhan Yang Tidak Terpenuhi – suatu kondisi/perasaan akan suatu kebutuhan yang mendalam, yang perlu diisi terus namun tidak pernah cukup. Akibatnya orang akan terus-menerus:

  • Merasa kurang dikasihi
  • Kehilangan rasa aman
  • Merasa diperlakukan tidak adil
  • Merasa tidak dihargai

Emosi Negatif yang kuat dan relatif tetap

Kita semua bisa memiliki perasaan tertentu – dan memiliki perasaan adalah hal yang wajar dan normal. Ada emosi positif – yaitu perasaan yang membuat kita merasa enak dan tentunya juga ada emosi negatif, yaitu perasaan tidak enak yang ingin kita buang. Dua macam emosi ini pun normal ada dalam kehidupan manusia, dan umumnya kita alami secara berganti-ganti. Namun karena ada kebutuhan terdalam yang tidak terpenuhi, jadilah orang-orang terluka memiliki emosi negatif yang relatif tetap dalam perasaannya.

Beberapa emosi negatif yang kuat pada orang terluka:  rasa malu, rasa takut & rasa bersalah

  • Memiliki ketakutan yang berlebihan atau tidak rasionil
  • Tidak dapat mengendalikan kemarahan
  • Memiliki perasaan yang naik turun dengan cepat
Kepercayaan Palsu
Luka juga akan mempengaruhi cara orang berpikir tentang kehidupan. Bisa terbentuk serangkaian prinsip, sistem kepercayaan, cara pandang dan sistim nilai yang mempengaruhi seseorang ketika memandang kehidupan ini. Beberapa prinsip dan nilai terbentuk sebagai hasil refleksi atau perenungan ketika terjadi luka dan krisis – sebagai hasil pembelajaran. Prinsip dan nilai ini sering terbentuk sebagai langkah awal untuk menyelesaikan kebutuhan terdalam dan emosi yang mengganggu. Beberapa prinsip dan nilai ini bersifat positif – mendukung orang untuk maju, tapi juga ada yang bersifat negatif – justru menghambat seseorang untuk bertumbuh. Namun pada prinsipnya, bukan saja kita perlu melihat apakah prinsip dan nilai ini positif atau negatif, namun terlebih lagi apakah selaras dengan kebenaran Firman Tuhan. Inilah yang kita sebut sebagai Kepercayaan yang palsu – yaitu prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang tidak berdasarkan kebenaran Allah.
Kepercayaan yang palsu akan mempengaruhi kita dalam tiga jurusan:
  • Kepada Allah Pencipta – kita memiliki gambaran yang tidak benar tentang siapa dan bagaimana Allah
  • Kepada Diri Sendiri – Kita memiliki Identitas yang palsu – siapakah saya menurut diri sendiri yang sebenarnya semu
  • Kepada Orang lain – yang biasanya dipengaruhi penghakiman, yaitu cara kita memberi label dan kategori pada orang-orang tertentu

Luka Hati & Dampaknya: Contoh-contoh secara kronologis

Kapankah seseorang bisa mengalami luka hati? Sepanjang hidup, bahkan sebelum ia dibuahi dan dilahirkan pun seseorang bisa mengalami luka sampai pada saat kematiannya. Berikut adalah contoh-contoh luka yang bisa dialami seseorang, mulai dari sejarah orang tua. Tentu contoh-contoh ini tidak lengkap, namun harapannya bisa memberikan gambaran apa saja yang bisa melukai hidup seseorang.

Konsekuensi Luka orang tua – yaitu luka-luka yang dimiliki oleh orang tua, bahkan sebelum mereka menikah, yang konsekuensinya diwariskan kepada anak-anak. Luka dapat diturunkan kepada generasi di bawah kita dan Ini adalah akibat atau konsekuensi yang ditanggung keturunan kita.

  • Ayah atau ibu tidak diasuh oleh orang tua mereka masing-masing
  • Ayah atau ibu memiliiki perselisihan yang berat dengan orang tua masing-masing
  • Pernikahan yang tidak didukung oleh keluarga masing-masing
  • Ayah dan ibu berselisih berat selama pernikahan
  • Kekerasan dalam rumah tangga

Proses Kehamilan dan Kelahiranyaitu luka-luka yang terjadi ketika seseorang berada dalam kandungan dan juga pada proses persalinan atau perawatan sesudahnya. Proses kehamilan sering memberi dampak yang kuat pada anak dalam kandungan. Proses persalinan dan awal lahir  adalah proses yang dapat dan sering menjadi pengalaman traumatis bagi anak

  • Kehamilan yang tidak diinginkan
  • Orang tua berpisah/bercerai/meninggal saat proses kehamilan atau kelahiran
  • Ibu Mengalami trauma berat pada saat proses kehamilan dan kelahiran
  • Penolakan karena jenis kelamin yang tidak diinginkan
  • Dipisahkan (mungkin sementara) sesaat setelah dilahirkan

Proses Pertumbuhan (dalam keluarga) – yaitu luka-luka yang didapatkan ketika seorang anak bertumbuh di dalam lingkungan keluarga atau orang yang mengasuhnya. Masa awal pertumbuhan adalah masa yang sangat penting dalam membangun fondasi kehidupan anak, dan luka-luka yang terjadi pada masa ini sering mempengaruhi kehidupan seseorang dalam berbagai aspek kehidupannya.

  • Diadopsi atau diurus oleh selain orang tua kandung
  • Merasa diperlakukan dengan tidak adil
  • Merasa dituntut terus menerus
  • Mengalami perlakuan yang keras/kasar
  • Mendapatkan disiplin yang berlebihan
  • Tidak diurus/mengalami pembiaran
  • Anggota keluarga yang disfungsi
  • Orang tua mengalami konflik, kekerasan, perpisahan bahkan perceraian
  • Perubahan status social dan keuangan yang tiba-tiba (PHK, bangkrut dll.)
  • Ada anggota keluarga yang harus mendapatkan perawatan khusus
  • Ada anggota keluarga yang kecanduan sesuatu

Proses Pertumbuhan (Kehidupan sosial) – yaitu luka-luka yang terjadi pada masa kanak-kanak dan muda, yang terjadi  dalam interaksi seseorang dalam kehidupan sosial di luar rumah. Pada masa ini banyak luka terjadi karena adanya peer pressure dan penyesuaian diri dalam kelompok sosial.

  • Sering merasa kesepian atau dikucilkan
  • Sering menjadi bahan olok-olok
  • Dikhianati oleh seseorang
  • Mengalami pemerasan & penindasan

Proses pernikahan & berkeluarga – yaitu luka yang terjadi dalam interaksi dengan seseorang yang menjadi pendamping hidup, serta komunitas baru yang terbentuk, yaitu keluarga besar dari kedua belah pihak maupun anak-anak yang kemudian lahir. Pada masa ini banyak luka lama yang berulang terjadi, sehingga makin menguatkan luka hati yang sudah ada lama, namun mungkin dalam bentuk yang berbeda. Ada juga luka-luka yang baru timbul.

  • Ketidaksetujuan salah satu atau kedua pihak keluarga
  • Proses pendekatan atau pacaran yang tidak sehat, misal penuh manipulasi dan intimidasi
  • Proses pernikahan yang rumit atau mengalami ketegangan-ketegangan
  • Disfungsi peran dari salah satu atau kedua pihak suami istri
  • Komunikasi yang penuh konflik
  • Kekerasan dalam rumah tangga
  • Perselingkuhan dan ketidaksetiaan
  • Ketidaksehatan secara fisik, kejiwaan dan keuangan
  • Proses perawatan dan pertumbuhan anak-anak yang tidak sehat

Masa tua dan kematianyaitu saat anak-anak telah mapan dan memiliki kehidupan sendiri.

  • Diabaikan atau tidak diperhatikan oleh anak-anak, baik secara fisik maupun kejiwaan dan juga finansial
  • Konflik yang disebabkan  harta warisan
  • Kehilangan kontak dengan salah satu atau semua anggota keluarga

Artikel ini adalah bagian kedua dari seri tentang luka hati dan dampaknya. Untuk melihat bagian pertama: Luka Hati & Dampaknya: Pemahaman Dasar

Artikel terkait:

Luka Hati & Dampaknya: Pemahaman Dasar

Bagaimanakah sifat luka secara fisik? Luka adalah sesuatu yang merobek bagian tubuh, dan membawa rasa sakit dan pedih. Kesembuhan dari luka membutuhkan waktu, dan jika tidak ditangani dengan baik masih memiliki dampak. Misalnya masih meninggalkan bekas luka yang terlihat, atau masih membawa rasa sakit sekali-sekali. Karenanya luka perlu mendapat perawatan dengan hati-hati, karena bisa membawa masalah yang lebih besar. Misalnya luka yang tidak terobati dengan benar akan mengalami infeksi. Ketika terjadi infeksi, maka luka itu akan membusuk, dan infeksi ini dapat menyebar semakin besar. Infeksi pada bagian tubuh yang parah mungkin akan mengakibatkan bagian tubuh tersebut harus diamputasi, agar tidak merusak bagian tubuh yang lain. Bahkan, dalam beberapa kasus, infeksi dapat mengakibatkan kematian.

Keberadaan luka bukan saja mengancam tubuh kita, namun juga mempengaruhi bagaimana kita hidup. Luka yang terdapat di bagian tubuh tertentu dapat mempengaruhi bagaimana kita berjalan, makan atau fungsi-fungsi lainnya. Dan rasa sakit yang terus menerus pun akan mengganggu kehidupan kita.

Sama seperti tubuh yang bisa mengalami cedera, bagian jiwa dan rohani kita pun bisa tergores dan terluka. Dan sama seperti luka tubuh, luka hati pun membutuhkan waktu penyembuhan dan juga perlu ditangani dengan perhatian khusus, jika tidak luka ini bisa berbekas atau mempengaruhi bagian hidup kita yang lain. Luka dalam hati seseorang tidak langsung terlihat, namun dampaknya justru bisa berjangka panjang dan mempengaruhi seluruh aspek hidupnya.

Luka hati atau luka batin adalah kondisi kejiwaan dan rohani yang tidak sehat, yang disebabkan pengalaman menyakitkan atau traumatis yang tidak terselesaikan dengan benar

Beberapa contoh di alkitab yang menggambarkan luka secara hati dan roh adalah:

  • “Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa” (Ams 27:9b)
  • “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mzm 147:3)
  • “tenangkanlah rohku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh!” (Yes 38:16)

Sumber-sumber luka hati

  • Isaiah 61:1-2  … orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara, …orang berkabung,
  • Luke 4:18-19  … orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, …

Ada 2 bentuk luka hati, yaitu terjadi secara aktif atau secara pasif.

  • Secara aktif dalam bentuk kesengsaraan – yaitu ketika seseorang mengalami sesuatu penderitaan yang tidak layak dialami, misalnya mengalami kekerasan, pelecehan atau kecelakaan, dll.
  • Secara pasif, dalam bentuk kemiskinan  –  yaitu ketika seseorang tidak mendapatkan sesuatu yang selayaknya dimiliki, misalnya tidak mendapatkan perhatian, tidak mendapatkan teladan dll.

Dari Yesaya dan Lukas di atas, ketika seseorang mendapatkan luka hati, ia akan mengalami perasaan dan kondisi seperti ini:

  • Hancur hati
  • Tertawan & Terkurung – terikat
  • Buta – tidak sadar/tertipu
  • Tertindas

Apa saja yang menjadi sumber luka hati? Secara umum orang bisa terluka karena ada peristiwa atau pengalaman yang terjadi pada sekelompok orang bersama-sama. Namun juga ada pengalaman yang secara khusus terjadi pada orang-orang tertentu saja.

  • Penderitaan – semua bentuk kesusahan dan kesengsaraan dapat mengakibatkan luka. Con: kemiskinan, sakit penyakit dll.
  • Bencana/Malapetaka – bentuk kerusakan & kehilangan yang terjadi dengan tiba-tibaYang dirasakan: ketakutan, kehilangan & dukacita
  • Penolakan – ketika seseorang tidak diterima dan dikasihi tanpa syarat oleh orang yang seharusnya mengasihi
  • Pengabaian – ketika seseorang tidak mendapatkan pengasuhan yang positif
  • Pelecehan – ketika seseorang direndahkan martabatnya secara komunikasi, fisik, emosi dan seksual

Artikel terkait:

Membangun Perubahan saat berubah adalah hal yang sulit (Switch)

Apakah anda menginginkan perubahan? Perubahan kearah yang lebih baik tentunya. Saya rasa semua kita menginginkan perubahan positif seperti itu. Mungkin perubahan untuk diri sendiri, mungkin juga untuk orang lain. Ada perubahan yang cukup mudah terjadi, namun banyak  yang cukup sulit. Dan biasanya perubahan sesuatu yang penting dan sangat berarti membutuhkan usaha yang besar juga. Dan tidak jarang perubahan yang diharapkan tidak terjadi, bahkan mungkin membawa kemunduran bagi orang-orang yang mengalaminya.

Mengapa perubahan penting terkesan sulit untuk dijalankan? Biasanya orang akan menyalahkan kegagalan perubahan dalam hal-hal berikut:

  • Perubahan yang terjadi sangat sulit (atau berat)
  • Orang tidak mau berubah

Walau begitu tetap saja perubahan terjadi. Teknologi adalah bukti perubahan yang terus-menerus ke arah kemajuan. Demikian juga perubahan yang terjadi dalam kehidupan seseorang: memilih sekolah, memilih pasangan hidup ataupun memutuskan memiliki anak. Semua ini memperlihatkan bahwa orang sebenarnya berubah dan mau berubah. Namun ada perubahan yang tidak berjalan dengan baik, dan ada perubahan yang membawa kesejahteraan bagi yang melewatinya.

Bagaimana agar kita bisa berhasil melakukan perubahan? Penulis Chip Heath dan Dan Heath mencoba merumuskan apa yang dilakukan oleh mereka yang berhasil membawa perubahan dalam bukunya Switch:How To Change Things when Change is Hard. Dalam bukunya para Heath memberikan kerangka proses yang perlu dilakukan agar perubahan mengalami keberhasilan:

  • Berikan tuntunan pada aspek kognitif (intelek): Apa yang sering dianggap sebagai perlawanan seng merupakan ketiadaan kejelasan.Jadi berikanlah petunjuk yang sangat jelas.
  • Berikan motivasi pada aspek afektif (perasaan) : Apa yang sering dianggap sebagai kemalasan sebenarnya sering merupakan kelelahan. Perubahan terus-menerus untuk jangka waktu lama sangat melelahkan, kecuali kita bisa membakar motivasi seseorang lewat perasaannya.
  • Buatlah jalur perubahan. Apa yang dianggap sebagai masalah orang sebenarnya sering merupakan masalah situasi. Ubah situasi maka orang pun dapat berubah dengan lebih mudah. Ketika kita mempersiapkan jalur perubahan,maka tingkat keberhasilan berubah pun semakin besar.

“Untuk mengubah tingkah aku, anda harus menuntun Si Pengendara, memotivasi Sang Gajah, dan membangun Jalurnya. Jika anda dapat melakukan ketiganya sekaligus,perubahan yang dramatis dapat terjadi bahkan ketika anda tidak memiliki banyak kuasa atau sumber daya dibelakang anda.”

Bagaimana dengan anda? Apakah perubahan adalah sesuatu yang sulit atau mudah bagi anda? Apakah anda sedang menolong orang lain berubah? Apa yang anda lakukan agar prosesnya berjalan dengan relatif mudah?

Menjadi penolong dalam pertumbuhan bersama: Mengusahakan perubahan

Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.  (Kolose 1:28-29)
Apa yang diharapkan terjadi ketika kita menolong seseorang? Tujuan akhir pasti berupa perubahan yang bersifat tetap. Ini yang disebut sebagai pertumbuhan dan pembelajaran, yaitu perubahan secara positif ke arah tujuan yang dikehendaki.  Sebagai penolong, kita perlu bertanya, hal-hal apakah yang akan menolong orang untuk mengalami perubahan secara maksimal?
Pemuridan yang kita lakukan perlu mencerminkan 3 aspek yang penting: 
  • mentoring, yang berhubungan dengan masa depan dan membangun kebiasaan & keterampilan baru,  
  • pemulihan – yang berhubungan dengan masa lalu dan hal-hal yang menghambat pertumbuhan, 
  • disiplin rohani, yaitu pola perilaku rohani dan kebiasaan baik yang memberi kesempatan maksimal bagi Tuhan bekerja.
Kita perlu menggabungkan ketiga aspek itu agar mendapatkan hasil pemuridan yang maksimal. Caranya lewat hubungan yang positif, perubahan secara menyeluruh
Hubungan yang positif
Salah satu kunci perubahan adalah hubungan, karena manusia sangat membutuhkan hubungan. Dalam banyak peristiwa dan pengalaman, hubungan antar manusialah yang sering menghasilkan perubahan – ke arah yang baik maupun yang buruk. Karena itu kita mengakui pentingnya komunitas ataupun relasi yang baik untuk mendukung terjadinya pertumbuhan.
Ketika sebuah kebiasaan terbentuk, kita mengalami kesulitan untuk mengubah kebiasaan itu dan membentuk kebiasaan yang baru. Mengapa? Sering kita berada bersama orang-orang yang tidak tahu bagaimana mendukung kita untuk berubah. Perubahan dan pembelajaran membutuhkan suasana yang saling mempercayai dan memberikan rasa aman untuk bertumbuh. Namun sering yang kita terima adalah tuntutan, penghakiman atau pelecehan akan kemampuan kita berubah. Atau ketika ada yang memberikan dorongan untuk berubah, hal tersebut dilakukan dengan cara yang mendominasi atau memanipulasi. Yang diberikan adalah fakta dan logika, kekuatan yang keras, atau menakutkan atau bahkan mempermalukan dan membangkitkan rasa bersalah. Harapannya agar orang mau dan dapat berubah. Penting sekali kita tidak melakukan 3 hal ini dalam menolong orang bertumbuh, karena tidak sesuai dengan karakter Allah.
  • Dominasi – ketika kita menggunakan kelebihan kita untuk menekan kekurangan orang lain agar ia bertumbuh
  • Intimidasi – ketika kita menggunakan jalan menakut-nakuti agar ia bertumbuh
  • Manipulasi – ketika kita menggunakan kebenaran dengan cara yang salah, atau memperbesar rasa bersalah seseorang agar ia bertumbuh
Sebaliknya, jika kita melibatkan Allah, maka akan karakter Allah pun akan kuat melekat dalam pelayanan yang kita kerjakan, yaitu dalam Kasih, Kuasa dan Kebenaran Allah
Perubahan yang menyeluruh
Ketika kita telah memberikan investasi yang banyak agar orang berubah, sering kita bertanya-tanya mengapa hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Sering kita merasa telah melakukan segala sesuatu, namun orang yang kita tolong sepertinya tidak menanggapi dengan dorongan yang sama. Ingat, bahwa manusia memiliki banyak aspek dalam kehidupannya: kognitif (intelek), afektif (perasaan), kehendak, roh dll. Semua aspek itu perlu disentuh dengan tepat agar pertumbuhan terjadi secara maksimal. Sering  usaha yang kita lakukan hanya menyentuh sebagian aspek tersebut, sehingga hasilnya tidak memuaskan.
Kita perlu memandang permasalahan tidak berubah dengan cara pandang yang berbeda::
  • Orang yang kelihatannya tidak mau berubah sering sebenarnya tidak tahu bagaimana harus berubah. Orang itu perlu tahu langkah-langkah apa yang harus diambil, lebih baik berupa langkah mudah (baby step).
  • Orang yang kelihatannya sulit mengalami terobosan sering sebenarnya tidak memiliki motivasi dan perasaan yang kuat untuk berubah
  • Jika kita bisa menolong orang memiliki langkah-langkah yang tepat, dengan motivasi dan perasaan yang tepat, serta situasi yang tepat untuk kebutuhannya, maka kita bisa percaya ada terobosan dalam pertumbuhan orang tersebut.
Karenanya perubahan yang kita rancangkan perlu terjadi dalam tiga tingkat:
  • Paradigma – (Cara pandang) 
  • Keterampilan (Skill)
  • Kebiasaan 
Inilah yang perlu dibangun oleh pemimpin komunitas, baik sebagai mitra, mentor, teladan ataupun nara sumber perubahan. Bagaimana caranya?
  • Kita mulai dengan membangun sebuah komunitas atau hubungan yang membangkitkan rasa percaya dan rasa aman
  • Berikan inspirasi dan kepercayaan bahwa perubahan adalah hal yang mungkin dan dapat dilakukan, dan akan membawa sejahtera
  • Buat atmosfir yang meningkatkan motivasi dan keinginan untuk berubah. Berikan kesempatan pada orang untuk menunjukkan kreativitas dan kemampuan, untuk merasa berhasil dan dihormati.
  • Buat struktur yang menolong orang untuk berubah pada tujuan yang diinginkan. Jangan hanya diberitahu, namun buat struktur yang dapat memberikan keberhasilan kecil dalam waktu singkat. Dampingi mereka saat melakukan perubahan kecil tersebut dan jadikan modal untuk mendorong orang mengambil perubahan yang lebih besar.
  • Pastikan bahwa setiap orang yang terlibat mau belajar bersama, baik dari keberhasilan maupun kegagalan. Juga setiap orang perlu memiliki kesempatan untuk mendapatkan pemberesan dari hal-hal yang menghalangi mereka untuk maju.
  • Rayakan setiap keberhasilan, dan beri kesempatan untuk merenungkan dan mengevaluasi kemajuan – dan mensyukurinya!

Menjadi penolong pertumbuhan bersama: Prinsip-prinsip dasar

Pertumbuhan yang sejati hanya akan terjadi ketika ada keterlibatan Allah dan sesama. Tidak ada yang bisa bertumbuh dengan sehat jika sendirian. Itu berarti kita semua sebagai orang percaya memiliki tugas untuk terlibat dalam pertumbuhan orang lain, namun juga mengijinkan orang lain untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan kita. Ada dua konsep yang harus kita pahami sebagai dasar bertumbuh bersama.

  • Kasih karunia Allah – yaitu bahwa pertumbuhan dimulai dari Allah, dan bertujuan kepada Allah
    • Allah merancang pertumbuhan -Allah adalah sumber pertumbuhan (1Kor 3:6)
    • Allah memelihara pertumbuhan – Ia melakukan segalanya bagi kita (Yes 5:4, 2 Pet 1:3)
    • Allah adalah tujuan pertumbuhan – kita bertumbuh agar menjadi serupa dengan Kristus, yang adalah rupa Allah yang kelihatan. (Roma 8:29,2 Kor 3:18,  Fil 2:6))

Bagian kita sebagai manusia adalah meresponi, memberi tanggapan yang tepat sehingga rencana Allah tercapai.

  • Komunitas – Allah bekerja terutama melalui manusia. Komunitas adalah kumpulan pribadi yang memiliki peran yang relatif penting dalam kehidupan kita. Semua manusia memiliki bermacam-macam komunitas, mulai sejak kita lahir sampai kita mati. Sejak menjadi orang percaya, kita telah menjadi bagian komunitas orang kudus di seluruh dunia dan sepanjang masa (Ef 4:6, Mat 28:19). Kita hanya bisa bertumbuh dalam sebuah komunitas, walaupun dengan peran yang berbeda-beda. Tetapi kita tahu bahwa tidak semua komunitas kita membawa kebaikan dan pertumbuhan, bahkan kita pun sering mengalami hambatan dan tantangan dari komunitas kita.
Kita memiliki banyak peran dalam membantu pertumbuhan sesama. Kita bisa menjadi seorang konselor, pemimpin kelompok sel, hamba tuhan, orang tua dll. Kita perlu memiliki sikap hati yang benar sebagai seorang penolong. Beberapa hal yang bisa kita pelajari dari Lukas 5:17-26 adalah
  • Kelumpuhan jiwa dan rohani – sering orang yang kita tolong adalah orang yang sudah kelumpuhan secara jiwa dan rohani, tidak memiliki semangat dan ketekunan untuk berubah. Sepertinya apapun yang kita lakukan untuk menolongnya tidak membawa terobosan dalam kehidupan orang tersebut.
  • Motivasi – yang menjadi alasan seseorang untuk menolong dan mendampingi adalah kasih. Kasih karena Kristus sudah mengasihi kita terlebih dahulu. Kasih karena ada orang yang dipakai Allah untuk menyatakan kasih-Nya. Dan yang menjadi tujuan kita menolong adalah agar Allah dipermuliakan, ketika hidup seseorang diubahkan dan menjadi berkat.
  • Cara – kita perlu bergiat hati dan mau memberikan investasi untuk menolong orang. Menolong orang bertumbuh adalah pekerjaan yang sering menuntut banyak pengorbanan, sementara hasilnya sering tidak memuaskan. Namun kita perlu belajar tekun dan berkreasi untuk mencari jalan terobosan bagi orang yang kita tolong.
  • Tugas: Tugas utama seorang penolong adalah membawa orang kepada Yesus. Apapun bentuk fungsi  dan status kita, tugas utama seorang penolong adalah untuk memperkenalkan dan mendekatkan orang kepada Kristus. Tugas kita bukanlah untuk mengubah seseorang, karena kita tidak mampu. Seorang penginjil akan memperkenalkan Yesus. Seorang gembala akan memimpin orang semakin dekat pada Kristus. Seorang konselor akan membereskan hal-hal yang merintangi orang datang pada Kristus. Seorang pengajar akan membagikan pemahaman dan kebenaran tentang Kristus dll.
  • Kerelaan: kita perlu berbesar hati untuk mengakui bahwa hasil pertolongan sebenarnya diluar kemampuan kita, sebagaimanapun hebat dan keras kerja kita. Pada satu sisi, setiap orang yang kita tolong memiliki kehendak bebasnya sendiri, sehingga ia sendiri yang akan mengambil keputusan akan hidupnya.Pada sisi yang lain, ketika kita mengundang Tuhan bekerja, kita juga perlu siap untuk mengakui bahwa Tuhan bekerja dalam waktu dan cara-Nya yang penuh kasih karunia, walau sering sulit untuk kita mengerti. Kita perlu mengakui keterbatasan kita, namun tetap berpengharapan besar karena kita percaya tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
  • Perlawanan: kita juga harus tahu bahwa perjuangan kita akan mendapatkan tentangan. Banyak tantangan itu berasal dari komunitas tidak percaya, namun sering juga berasal dari komunitas orang percaya. Namun kita tahu musuh sebenarnya bukanlah darah & daging. Ada unsur-unsur dunia dan kedagingan yang diperalat si  jahat, dan kita perlu melawannya. 

Keterampilan Hidup yang diperbaharui

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,607 other followers

%d bloggers like this: