Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • paulpla 2:45 am on February 4, 2010 Permalink | Reply
    Tags: bekerja, Karakter, lifeskill   

    Mutiara Hikmat #1: Pekerjaan yang meningkatkan kualitas hidup 

    Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa (10:16)

    Setiap orang yang bekerja mengharapkan mendapat upah. Upah tersebut bisa merupakan sesuatu hal yang dapat dihitung, seperti jumlah uang, atau juga bisa sesuatu yang tidak dapat dihitung, seperti rasa terima kasih. Apapun upah yang didapat, harapan seseorang pekerja adalah mendapatkan sesuatu yang membawa kebaikan atau kesejahteraan.

    Namun ternyata bagaimana sikap hati seorang pekerja akan membuat perbedaan akan hasil sebuah pekerjaan. Orang yang hatinya benar akan cenderung bekerja dengan benar, dan kemudian ketika mendapatkan upah, menghabiskan upah tersebut dengan cara yang benar juga. Karena itulah upah yang didapat seorang yang hatinya benar akan semakin meningkatkan kualitas kehidupan.

    Sebaliknya, jika seseorang yang hatinya jahat bekerja, ia akan cenderung melakukannya tanpa memperhitungkan apakah yang dilakukannya benar atau tidak. Mungkin ia akan mencari jalan pintas, walaupun yang dilakukannya mungkin melanggar kebenaran. Mungkin juga ia mengaku hal yang tidak benar, melebih-lebihkan jasa atau harga yang dipakainya. Tujuannya adalah agar ia mendapat hasil yang lebih.

    Namun walaupun hasil yang didapat kelihatannya melebihi orang lain, namun apa yang dilakukannya belum tentu membawa kebaikan. Bahkan hasil yang dirasa besar itu mungkin akan mendorong orang tersebut hidup berfoya-foya, atau mungkin mencari kenikmatan semu yang justru akan menghancurkan hidupnya. Upah yang didapat oleh orang yang jahat, justru akan dipakai untuk melakukan hal-hal yang jahat, yang akan mencelakakan kehidupannya sendiri.

    Bagaimana memili Kearifan dalam Bekerja:
    • Bekerjalah dengan motivasi yang benar, yaitu memberikan yang terbaik dengan cara yang baik
    • Terimalah upah yang pantas untuk kualitas dan kuantitas pekerjaan yang kita lakukan
    • Gunakanlah hasil yang kita dapat dari pekerjaan kita untuk hal-hal yang positif yang menambah kualitas kehidupan kita.

     
  • paulpla 8:58 am on January 9, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Lifeskill #5 Membuat Komitmen Perubahan 

    Awal tahun baru adalah waktu yang sering digunakan untuk membuat perubahan-perubahan, sehingga orang sering membuat komitmen di awal Tahun Baru – sering disebut sebagai Resolusi Tahun Baru. Awal tahun baru sering dianggap sebagai sebuah awal yang baru, menjadi kesempatan baik untuk menghilangkan kebiasaan buruk dan membangun rutinitas baru yang akan membantu kita bertumbuh secara psikologis, emosional, sosial, secara fisik atau intelektual maupun finansial. Komitmen ini jauh lebih mudah dibuat daripada dijaga, dan pada akhir bulan Januari banyak di antara kita telah kehilangan tekad baru dan kembali ke pola lama. Yang membuat sementara orang berpendapat, tidak ada gunanya membuat resolusi tahun baru, toh akhirnya akan gagal juga. Bagaimana seharusnya kita bersikap, perlukah mengambil komitmen tahun baru, dan bagaimana caranya agar bisa memelihara tekad dan komitmen yang sudah diambil?

    Pentingnya Komitmen Perubahan
    A    Mengapa kita perlu membuat komitmen perubahan – secara psikologis
    1.    Secara psikologis mereka yang akan sukses membawa perubahan adalah:

    • Orang yang memiliki komitmen awal yang kuat untuk berubah
    • Memiliki strategi yang dibutuhkan untuk menghadapi masalah yang akan datang
    • Memperhatikan kemajuan perubahan. Semakin terampil kita dalam memonitor dan mengevaluasi kemajuan, semakin besar kemungkinan kita untuk mengalami perubahan

    2.    Semakin jelas dan spesifik tujuan kita, semakin besar kemungkinan kita untuk mendapatkannya

    (More …)

     
  • paulpla 1:54 am on January 7, 2010 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Lifeskill #4 Berdamai dengan Masa Lalu 

    Sebagian orang tidak begitu memperdulikan pengalaman yang terjadi di masa lalu. Apa yang sudah terjadi, terjadilah – begitu menurut mereka, dan lebih memberikan perhatian pada hal-hal yang harus dilakukan sekarang, atau perencanaan masa depan. Ada sebagian lagi yang terjebak dalam pengalaman masa lalu, mungkin akan keberhasilan-keberhasilan masa lalu, sementara beberapa hidup dalam kegetiran karena kegagalan masa lalu, dan sulit untuk memberikan perhatian pada kebutuhan masa sekarang dan perencanaan masa depan. Bagaimana seharusnya kita bersikap: memikirkan masa sekarang dan masa depan, atau memberi perhatian lebih pada masa lalu?

    Kebutuhan memandang waktu secara kudus
    A    Ketidakseimbangan yang dilakukan banyak orang

    • Berpusat pada masa lalu – Hidup dalam ingatan-ingatan akan masa lalu. Beberapa orang hidup mengenang kembali kejayaan yang dialami pada masa lalu, dan kemudian sering membandingkannya dengan kehidupan sekarang, yang sering dirasa lebih buruk. Beberapa terikat akan kepahitan dan kesakitan yang pernah dialami di masa lalu, hidup dalam trauma dan ketakutan, bahwa hal yang buruk akan terulang kembali.
    • Berpusat pada masa sekarang – hidup hanya untuk hari ini saja. Hidup yang hanya mengalir saja, tanpa memperhitungkan apa yang akan dicapai pada masa depan.
    • Berpusat pada masa depan – hidup dengan tujuan-tujuan yang besar yang ingin dicapai pada masa yang akan dating. Namun orang juga bisa terjebak hidup dalam fantasi dan ambisi,  dan hidup mengejar keinginan semata.

    B    Contoh kasus – Yesus memulihkan Petrus dan memberinya tugas untuk masa sekarang dan depan

    • Dalam Yoh 21:15-19 Yesus tiga kali bertanya kepada Petrus – “apakah engkau mengasihi Aku”, dan hal itu menyedihkan hati Petrus. Namun Yesus melakukan ini untuk memulihkan hati Petrus yang telah 3 kali menyangkalnya. Dalam hal ini Yesus membereskan masa lalu Petrus agar ia siap untuk tugas selanjutnya.
    • Pertanyaan Yesus juga merujuk pada kondisi Petrus yang sekarang. Dulu Petrus pernah berkata bahwa imannya sekali-kali tidak akan tergoncang (Mat 26:33), namun sekarang Petrus menjawab dengan menyatakan isi hati yang paling dalam “Tuhan, Engkau tahu…”
    • Yesus juga memberi mandat dan tugas kepada Petrus “Gembalakanlah domba-dombaku”, dan memberi nubuatan bagaimana Petrus akan “mati dan memuliakan Allah” (John 21:19)
    • Di sini kita bisa melihat bahwa bagi Tuhan Yesus masa lalu, masa sekarang dan masa depan Petrus sangat berharga bagi Dia, dan Allah mau ikut campur dalam hal itu semua.

    (More …)

     
    • Rudy 1:56 am on January 22, 2010 Permalink

      Intinya adalah NO GROWTH Without CHANGE (tidak ada pertumbuhan tanpa perubahan) Jesus bless u all

  • paulpla 1:40 am on January 7, 2010 Permalink | Reply
    Tags: ,   

    Lifeskill #3 Membangun Nilai-nilai Inti dalam Keluarga 

    Nilai-nilai inti adalah serangkaian prinsip dan aturan yang secara batin menolong seseorang untuk mengambil keputusan di dalam hidupnya. Nilai-nilai inti banyak dibentuk oleh keluarga dan pengasuhan. Karenanya penting bagi keluarga untuk secara sengaja dan menyeluruh membagikan nilai-nilai yang baik, sehingga anak bertumbuh dengan karakter dan kecenderungan yang baik juga.

    Mengapa nilai-nilai inti penting dalam keluarga

    Nilai-nilai inti adalah serangkaian prinsip dan aturan yang secara batin menolong seseorang untuk mengambil keputusan di dalam hidupnya. Dalam hal ini nilai-nilai inti berbeda dengan norma-norma kehidupan, karena norma merupakan aturan yang sudah menjadi kesepakatan bagi banyak orang, sementara nilai-nilai inti lebih bersifat pribadi dan menolong seseorang untuk memberi penilaian baik atau buruk untuk segala keputusan yang diambil di dalam hidupnya.

    Karena nilai-nilai inti ini berada di dalam batin, ia bukan hanya berhubungan dengan intelek (pengetahuan) semata, namun juga berhubungan dengan emosi dan kerohanian seseorang, dan juga dengan karakter dan kecenderungan seseorang. Serangkaian nilai-nilai inti akan menjadi karakter seseorang. Jadi seseorang disebut sebagai berkarakter baik, jika memiliki serangkaian nilai-nilai inti yang baik.

    Tidak mengherankan jika nilai-nilai inti yang dimiliki seseorang banyak dipengaruhi oleh kondisi keluarga dan pengasuhan. Ini terjadi karena anak-anak yang masih labil mendapat banyak masukan dari keluarga dan pengasuh, dan lama kelamaan masukan tersebut mengendap dan mengkristal dalam batin seseorang. Karena itu penting bahwa keluarga secara sengaja dan secara menyeluruh membagikan nilai-nilai inti yang baik bagi seorang anak, agar ia bertumbuh dengan karakter dan kecenderungan yang baik.

    Mengapa hal ini perlu terjadi secara sengaja dan menyeluruh? Karena keberdosaan kita, manusia memiliki penghambat-penghambat yang terdiri dari kedagingan (kecenderungan berdosa), dunia (sistem kehidupan yang tidak kudus) dan iblis (beserta kuasa-kuasa jahat) yang berusaha untuk menghambat kita menjadi pribadi seperti yang dikehendaki Allah. Karenanya lebih mudah bagi seseorang untuk mengembangkan nilai-nilai yang buruk, dibandingkan dengan nilai-nilai yang baik.  Jika pelatihan nilai-nilai inti ini tidak disengajakan, dan juga tidak secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan seseorang, hasilnya tentu tidak masksimal.

    (More …)

     
  • paulpla 1:29 am on January 7, 2010 Permalink | Reply
    Tags: , Masa Sulit   

    Lifeskill #2: Berserah di masa sulit 

    Berserah, dalam arti yang positif, berarti menyerahkan kendali, hak-hak maupun kepemilikan akan hal-hal tertentu yang kita anggap sebagai milik kita. Dalam hal ini kita menyerahkannya kepada Allah sebagai pemilik dan sumber kehidupan kita. Namun pada kenyataannya ada hal-hal tertentu yang menyulitkan kita untuk sungguh-sungguh berserah kepada Allah, bahkan di saat-saat yang sulit. Untuk itu kita perlu belajar untuk melatih diri kita agar semakin terampil untuk berserah kepada Allah.

    Pemahaman tentang masa sulit

    A    Sumber-sumber penderitaan dan kesulitan
    Mengapa kita mengalami krisis, penderitaan dan masa-masa sulit di dalam hidup kita? Dari pengalaman hidup pribadi dan orang-orang, kita bisa melihat ada beberapa sumber krisis:

    • Akibat dari kesalahan dan dosa – baik dari diri sendiri maupun orang lain
    • Harga yang harus dibayar untuk keputusan-keputusan yang kita ambil
    • Bagian dari pengajaran Allah bagi kehidupan kita
    • Serangan kuasa-kuasa jahat untuk menghancurkan kehidupan kita
    • Perjalanan kehidupan, yang kadang-kadang memang tidak bisa dimengerti

    Dan bisa saja terjadi bahwa masa sulit tersebut terjadi sebagai gabungan dari satu atau beberapa hal di atas, misalnya, karena kita berdosa, maka ada kuasa jahat yang mencoba mengambil keuntungan dan ikut memperburuk keadaan dan konsekuensi yang harus kita tanggung, dan pada saat yang sama, Allah mengijinkan hal itu terjadi untuk mengajar dan mendewasakan kita. Namun satu hal yang harus kita pegang adalah: apapun sumber dari krisis dan kesulitan, Allah tetap pegang kendali alam semesta dan kehidupan kita.

    Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi siapakah yang mendampingi Aku? (Isaiah 44:24)

    Karenanya penting bagi kita untuk melihat masa sulit ini dari pandangan Allah.

    (More …)

     
    • Rudy 2:20 am on January 22, 2010 Permalink

      Belajar dan terus belajar untuk berserah kepada Yesus karena Dialah yang tahu akan seluruh kehidupan kita,serahkanlah segala kekuatiran kita dalam doa dan pengharapan kepada Yesus Kristus,karena Dia berjanji sekali-kali Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita,Dialah sumber berkat dan kehidupan bagi kita semua,Jesus bless u all

  • paulpla 1:15 am on January 7, 2010 Permalink | Reply
    Tags: berserah, penyerahan diri   

    Lifeskill #1: Berserah kepada Allah 

    Kata berserah, menyerahkan diri atau mengalah bukanlah kata yang popular untuk untuk menjelaskan sebuah sikap. Namun ketika kita menggunakan kata ini sebagai bentuk sikap kita kepada Allah, ini menjelaskan suatu kondisi yang perlu dimiliki oleh setiap orang percaya agar mengalami kesejahteraan dalam hidupnya.

    Berserah berarti memberikan kepemilikan, atau menyerahkan kendali akan hal-hal yang kita anggap sebagai milik kita: barang-barang kita, waktu, hak-hak bahkan keseluruhan hidup kita. Kita bisa melihat penyerahan ini dari berbagai sudut: melepaskan kendali (surrender), atau memberikan seluruh hidup kita (dedikasi atau komitmen), atau tunduk pada satu pribadi atau perjanjian (pledge atau covenant).

    Ketika kita berserah kepada Tuhan, sebenarnya kita mengakui bahwa apa yang kelihatannya milik kita, sebenarnya adalah milik Tuhan. Dia adalah sumber seluruh kehidupan kita, dan fungsi kita lebih sebagai hamba atau orang yang dipercayai untuk memelihara milik Allah.

    Saat kita berserah, kita menyatakan bahwa Allah-lah yang mengendalikan seluruh kehidupan kita, termasuk juga situasi kita saat ini. Bagi beberapa orang hal ini adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan, namun sebenarnya keuntungan yang didapatkan dari penyerahan diri sangatlah besar.

    (More …)

     
    • Rudy 2:09 am on January 22, 2010 Permalink

      Berserah bukan dalam artian kita pasif dan tidak melakukan apa2 tetapi berserah dalam artian kita siap menjadi pelayan2Nya dan siap dituntun oleh Yesus dalam setiap segi kehidupan menjadi seperti yang dikehendakiNya,Jesus bless u all

  • paulpla 5:16 pm on December 19, 2009 Permalink | Reply  

    FT di Natal Remaja GKN Filadelfia, Babarsari: The Leader as a Servant.(Markus 10:41-45)

    1. Yesus memanggil – Seluruh Alkitab berisi orang-orang yang dipanggil oleh Allah, pertama-tama karena Ia ingin memiliki hubungan dengan kita, namun juga karena Allah memiliki tugas dan mandat yang dilimpahkan bagi kita. Dalam ayat 42, Yesus mengumpulkan murid-muridNya untuk berbicara tentang panggilan sebagai seorang pemimpin yang ilahi. Pemimpin adalah orang yang memberi pengaruh, dan membawa orang pada satu tujuan. Semua orang percaya, apapun latar belakangnya, adalah orang yang dipanggil untuk mempengaruhi orang lain dan membawa orang pada tujuan ilahi.

    2. Pemimpin yang Ilahi yang dimaksudkan Yesus adalah orang yang bertindak sebagai pelayan, yaitu melayani dan mendahulukan kepentingan orang lain, namun juga bersikap sebagai hamba, yaitu memiliki hati yang rendah hati dan ketaatan kepada tuannya

    3. Untuk menolong kita menjadi pemimpin yang Ilahi, Yesus telah memberi teladan yang perlu kita ikuti. Ia yang adalah Allah justru melepaskan semua atribut kemuliaan-Nya (Fil 2), dan menjadi manusia, bahkan manusia yang dianggap hina, dan mati dengan cara yang sangat hina. Semua itu agar manusia yang yang sia-sia, bisa memiliki hidup yang berarti dan berharga. Ini adalah tantangan bagi kita, sebagai manusia yang sudah ditebus, untuk hidup dalam panggilan Allah dan memberi yang terbaik, yaitu seluruh hidup kita sebagai persembahan yang kudus dan berkenan kepada-Nya.

    Kotbah ditutup dengan tantangan bagi mereka yang (i) belum pernah menyerahkan seluruh hidup kepada
    Yesus sebagai Tuhan, Raja, Juruselamat dan Pemilik Kehidupan, dan (ii) mereka yang pernah berkomitmen untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, namun karena sesuatu hal, mengalami kegoncangan dan ingin menyatakan komitmen kembali.

     
  • paulpla 5:17 am on December 19, 2009 Permalink | Reply
    Tags: Personal   

    Halo teman-teman pembaca setia Hikmat Pembaharuan..
    Karena kesibukan, blog ini kurang mendapat perhatian dari saya. Sudah hampir 6 bulan saya tidak mengisi blog ini, walaupun sebenarnya ada banyak tulisan-tulisan yang bisa diupload. Sekarang ada kesempatan untuk mengisi dan harapan saya Hikmat Pembaharuan akan bisa memberkati anda yang membacanya. Terima kasih..

     
  • paulpla 7:48 am on July 22, 2009 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Pertanyaan Akuntabilitas #5 Church Multiplication Associates 

    Akuntabilitas adalah suatu sistem di mana kita mengakui ketidakmampuan kita untuk secara mandiri bertumbuh dan menyatakan kebutuhan kita akan pertolongan orang lain. Dalam sistem ini kita membagikan pertanggungjawaban atas kondisi kehidupan kita kepada orang lain yang kemudian akan ikut mendukung, mungkin melalui dorongan, teguran, nasihat ataupun doa. Yang penting dalam sistem ini adalah adanya keterbukaan dan penerimaan satu sama lain. Di bawah ini ada
    beberapa pertanyaan yang dapat menolong anda saat berbagi dengan orang
    lain. Artikel ini saya ambil dari sini.

    1. Apakah engkau sudah menjadi kesaksian akan kebesaran Kristus lewat tindakan dan kata-katamu pada minggu ini?
    2. Apakah engkau sudah membiarkan dirimu mendapatkan hal-hal yang merangsang seksualitas, atau membiarkan pikiranmu memikirkan hal-hal yang tidak senonoh dengan seseorang yang bukan pasangan hidupmu?
    3. Apakah engkau gagal dalam memprtahankan integritas keuangan pada minggu ini, atau menginginkan sesuatu yang bukan milikmu?
    4. Apakah engkau sudah berlaku terhormat, penuh pengertian dan murah hati dalam hubungan-hubunganmu yang penting pada minggu ini?
    5. Apakah engkau sudah melukai orang yang lain dengan kata-kata, mungkin di depan atau juga di belakang mereka?
    6. Apakah engkau kecanduan sesuatu pada minggu ini?
    7. Apakah engkau sedang berada dalam kondisi kepahitan dengan seseorang?
    8. Apakah engkau pernah berharap kemalangan orang lain agar engkau yang ditinggikan orang?
    9. Apakah engkau sudah membaca Firman Tuhan dan mendengar dari-Nya? Apa yang akan kau lakukan?
    10. Apakah engkau menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan jujur?
     
  • paulpla 7:40 am on July 22, 2009 Permalink | Reply
    Tags: , ,   

    Pertanyaan Akuntabilitas #4 Neil Cole 

    Akuntabilitas adalah suatu sistem di mana kita mengakui ketidakmampuan kita untuk secara mandiri bertumbuh dan menyatakan kebutuhan kita akan pertolongan orang lain. Dalam sistem ini kita membagikan pertanggungjawaban atas kondisi kehidupan kita kepada orang lain yang kemudian akan ikut mendukung, mungkin melalui dorongan, teguran, nasihat ataupun doa. Yang penting dalam sistem ini adalah adanya keterbukaan dan penerimaan satu sama lain. Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang dapat menolong anda saat berbagi dengan orang lain. Artikel ini saya ambil dari sini.

    1. Bagaimanakah keadaan jiwamu?
    2. Dosa apa yang perlu engkau akui?
    3. Apa yang perlu engkau serahkan kepada Allah?
    4. Apakah ada hal yang sedang mengurangi semangatmu bagi Kristus?
    5. Kepada siapakah engkau sudah berbicara tentang Kristus dalam minggu ini?

     
c
compose new post
j
next post/next comment
k
previous post/previous comment
r
reply
e
edit
o
show/hide comments
t
go to top
l
go to login
h
show/hide help
esc
cancel