Langkah-langkah model KawanTumbuh

 

Berbagi Firman

Tuhan membagikan kisah-Nya, manusia berusaha memahaminya

Tuhan membuka diri dan menyatakan diri-Nya lewat tulisan yang difirmankan-Nya supaya kita bisa mengerti apa rencana-Nya bagi hidup kita. Tanggung jawab kita adalah belajar memahami apa maksud Tuhan dalam firman-Nya.

Langkah Berbagi Firman

Bacalah bagian ayat yang sudah ditentukan untuk pertemuan hari ini. Gunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini sebagai panduan.

  • Bagian Firman ini berbicara tentang apa?
  • Apa yang saya pelajari tentang Allah Tritunggal: Allah Bapa, Tuhan Yesus atau Roh Kudus – “Saya belajar bahwa Allah/Yesus/Roh Kudus …..
  • Apa yang saya pelajari tentang Manusia (secara umum) – “Saya belajar bahwa manusia  …..”
  • Bagian mana (kata, ayat, cerita, ide) yang paling menarik perhatian saya
  • Firman Tuhan ini  berbicara apa kepada saya?  - “Saya merasa Allah ingin agar saya ….”

Sikap saat berbagi Firman

  • Baca berulang kali dengan motivasi ingin memahami apa yang dimaksud oleh bagian Firman.
  • Pusatkan pembacaan anda pada ayat dan kebenaran yang muncul dari Bagian Firman yang sedang dipelajari.
  • Tunjukkan ayat atau bagian Firman apa yang memperlihatkan kebenaran yang sedang anda temukan.
  • Hormatilah kebenaran yang ditemukan oleh orang lain, walaupun mungkin pemahamannya berbeda, atau bahkan anda merasa bahwa hal tersebut salah sama sekali.

Berbagi Kisah

Membagikan pengalaman hidup yang muncul saat berbagi firman

Renungkanlah: Apa yang muncul dalam ingatan dan perasaan anda ketika Berbagi Firman? Apakah ada perasaan khusus yang muncul? Adakah pengalaman dan kisah kehidupan yang muncul ketika kita menggali Firman? Berbagilah dengan kawan/pasangan tentang hal-hal seperti di bawah ini.

  • Kesaksian – cerita tentang kemenangan iman dan pertolongan Allah
  • Akuntabilitas – cerita tentang kegagalan iman dan kejatuhan
  • Pengalaman – peristiwa yang pernah terjadi yang diingatkan
  • Inspirasional – perenungan akan pengalaman hidup
  • Perasaan – perasaan yang muncul ketika menggali Firman Tuhan
  • Mimpi – kerinduan dan keinginan yang muncul di hati

Bergantian bercerita dan men-dengarkan antara anda dan kawan/pasangan. 

Sikap saat berbagi Firman

  • Belajar untuk terbuka apa adanya tentang diri sendiri.
  • Belajar untuk menerima orang apa adanya.
  • Dibutuhkan hati yang mau menerima dan berempati dengan kawan/pasangan kita.

Berbagi Kebutuhan

Merumuskan kebutuhan, dan menceritakannya pada Tuhan lewat doa

Saling berbagi kebutuhan yang muncul setelah menggali firman dan berbagi kisah. Bergantian menyatakan kebutuhan kepada Allah, yang kemudian diteguhkan oleh kawan/pasangan kita.

Langkah Berbagi Kebutuhan

  • Bersama-sama membahas sebuah kebutuhan yang muncul setelah berbagi Firman dan Berbagi Kisah hidup.
  • Secara bergantian dan bersuara menyampaikan kebutuhan tersebut dalam doa 
  • Mengambil waktu diam untuk memberi kesempatan kepada Tuhan menaruh kebenaran-Nya bagi kita
  • Secara bergantian mendoakan kawan/pasangan dan memberkati

Yang dilakukan ketika berdoa

  • Adakah dosa yang harus diakui? Berdoalah meminta pengampunan dan bertobat
  • Adakah luka dan perasaan negatif lainnya yang anda rasakan? Berdoa mengampuni orang yang anda rasa bersalah, dan lepaskan segala luka dan perasaan negatif yang anda rasakan
  • Adakah komitmen perubahan yang anda ambil? Berdoa menyatakan keputusan dan komitmen anda di hadapan Tuhan dan mohon penyertaan Tuhan yang memampukan anda melaksanakan.
  • Adakah pertanyaan atau keputusan yang perlu diambil? Berdoa bertanya kepada Tuhan dan harapkan jawaban
  • Adakah ikatan yang anda miliki yang perlu dibebaskan? Berdoa menyatakan kuasa Tuhan atas segala ikatan dan dosa serta kelemahan, dan mohon Tuhan menjadikan baru.

Sikap saat berbagi Kebutuhan

Doa akan semakin efektif jika:

  • Motivasinya adalah hubungan – dengan Allah dan sesama
  • Dinyatakan secara jelas dan spesifik, Memberikan kesempatan pada Allah untuk menjawab

10 Pertanyaan Kunci dalam Performance Management

Sampul Depan

Dalam suatu manajemen kinerja, penting agar atasan dan bawahan memiliki pemahaman dan bahasa yang sama tentang apa yang diharapkan dari masing-masing pihak. 10 pertanyaan di bawah ini yang saya ambil dari buku IMPROVING EMPLOYEE PERFORMANCE through Workplace Coaching bisa menolong kita untuk melihat sejauh mana manajemen kinerja yang baik terjadi dalam organisasi kita.
  1. Apa saja yang diharapkan dari saya di tempat kerja
  2. Apakah saya memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan setiap hari
  3. Apakah saya mendapatkan pujian dan afirmasi untuk pekerjaan baik yang telah saya lakukan dalam seminggu ini
  4. Apakah ada orang di tempat kerja yang peduli kepada saya sebagai seorang pribadi
  5. Adakah orang yang memberi semangat dan dukungan bagi saya untuk berkembang
  6. Dalam 6 bulan terakahir adakah seseorang di tempat kerja yang berbicara tentang kemajuan saya
  7. Apakah pendapat saya penting
  8. Apakah pernyataan misi organisasi membuat saya merasa bahwa pekerjaan saya penting
  9. Apakah sesama pekerja berkomitmen untuk melakukan kerja yang berkualitas
  10. Apakah saya memiliki kesempatan untuk belajar dan bertumbuh di tempat kerja dalam setahun terakhir

Memahami Evaluasi Kinerja (Performance Evaluation)

Dalam artikel Memahami Manajemen Kinerja, kita telah belajar pentingnya umpan balik bagi sebuah organisasi kerja ataupun organisasi pembelajaran. Feedback didefinisikan sebagai “informasi tentang hasil usaha”, yang perlu diukur dan kemudian ditindaklanjuti agar dapat memberikan pengaruh yang positif untuk meningkatkan kinerja organisasi. Karenanya penting bagi kita untuk dapat mengukur feedback, yaitu mengukur sejauh mana keberhasilan sebuah usaha dibandingkan dengan tujuan yang ditetapkan semula. Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur dalam organisasi kerja adalah evaluasi kinerja (performance evaluation atau performance appraisal).

Evaluasi kinerja adalah suatu proses yang bersifat sistemik dan berlangsung secara periodik untuk mengukur kinerja dan produktifitas pekerja dalam hubungannya dengan tujuan organisasi dan kriteria kerja yang telah ditetapkan sebelumnya, termasuk dalamnya adalah pengukuran tingkah laku dalam organisasi, keberhasilan, potensi untuk pengembangan berikutnya, kekuatan dan kelemahan dll. Evaluasi ini didapatkan dalam kurun waktu tertentu, yang terdiri dari tiga bentuk:

  1. Data Obyektif, biasanya berupa data langsung tentang produktivitas seseorang, yang terlihat misalnya dalam jumlah penjualan, hasil produksi dll. Data yang didapatkan biasanya bersifat kuantitif, dan sering dianggap memberikan gambaran yang belum lengkap tentang kinerja dan produktifitas pekerja.
  2. Data Personalia, yang mencatat peristiwa yang berhubungan dengan pekerja tersebut di tempat kerja, misalnya absensi, kecelakaan kerja, ataupun peristiwa lainnya
  3. Data Penilaian, dimana ada orang-orang tertentu yang akan memberikan penilaian tentang kinerja dan produktifitas seorang pekerja.

Terkait Data Penilaian ada pribadi-pribadi tertentu yang bisa memberikan penilaian terhadap seorang pekerja, yaitu:

  1. Atasan langsung
  2. Bawahan langsung
  3. Sesama pekerja (peer review) yang merupakan penilaian dari sejawat yang langsung berinteraksi sehari-hari
  4. Penilaian sendiri (self review)
  5. Stakeholder lain: pelanggan, supplier dll.

 

 

Memahami manajemen kinerja (Performance Management)

Satu hal penting namun sering terlupakan dalam sebuah sistem kerja ataupun sistem pembelajaran adalah memahami dan memberdayakan feedback (umpan balik). Feedback, dalam sebuah sistem pembelajaran dapat  didefinisikan sebagai “informasi tentang hasil usaha”, yang dapat digambarkan seperti ini:

Feedback menjadi penting karena apa yang kita lakukan biasanya tidak langsung berhasil 100%, dan kita membutuhkan informasi bagaimana meningkatkan kualitas kerja kita sehingga mendekati hasil yang kita harapkan. Dalam sebuah organisasi feedback penting untuk dievaluasi untuk memperlihatkan sejauh mana kegiatan yang kita lakukan mendekati tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk itulah sebuah organisasi membutuhkan manajemen kinerja untuk mengukur apa hasil kegiatan yang kita lakukan, bagaimana kualitasnya dengan tujuan yang telah ditetapkan, serta menentukan apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kinerja tersebut sesuai tujuan organisasi.

Performance Management (Manajemen Kinerja) adalah suatu proses komunikasi, yang dilakukan dalam konteks kemitraan, antara seorang pekerja dengan atasannya yang melibatkan pengharapan dan pemahaman yang jelas akan:

  • Fungsi kerja yang diharapkan dari pekerja
  • Bagaimana hasil kerja individu memberikan sumbangan pada tujuan organisasi
  • Apa saja indikator sukses atau keberhasilan kerja dengan standar yang spesifik
  • Apa saja yang akan dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja
  • Bagaimana mengukur kinerja
  • Mengenali dan membereskan penghalang kinerja

Alat dan proses yang perlu ada dalam sebuah manajemen kinerja adalah:

  • Perencanaan Kinerja, termasuk di dalamnya perencanaan tujuan dan obyektif, baik berupa Strategic Directions Perusahaan, SOP maupun tujuan-tujuan pribadi pekerja
  • Komunikasi tentang performa dan kinerja yang berkelanjutan
  • Pengumpulan data, pengamatan dan dokumentasi
  • Pertemuan untuk membahas kinerja
  • Pelatihan untuk peningkatan kinerja

Untuk mendapatkan manajemen kinerja yang baik, hal-hal ini haruslah diperhatikan:

  • Standar dan pengharapan yang jelas, baik pada proses seleksi, penerimaan dan pelatihan pegawai
  • atasan yang mau berfungsi sebagai coach
  • atasan yang memberikan feedback seawal mungkin, dalam konteks yang jelas
  • memiliki bahasa dan pemahaman yang sama tentang standar kinerja dan tingkah laku kerja
  • feedback perlu dipahami sebagai peristiwa sehari-hari, seperti seorang atlit mendapatkan feedback saat bermain, atau aktor saat berakting
  • Sedapat mungkin feedback bersifat 2 arah
  • pelatihan dan pengembangan pekerja yang searah dengan standar yang diharapkan dan diukur

 

Memahami pengampunan (Matius 18:21-35)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”  Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.  Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.   Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.  Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.  Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.  Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.  Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!  Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.  Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.   Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.   Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.  Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?   Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.  Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Matius 18:21-35)

Apakah pengampunan itu?

Menurut Bagian Firman di atas, pengampunan disamakan dengan penghapusan hutang. Mengampuni berarti membebaskan seseorang dari sebuah hutang. Sikap tidak mengampuni sama dengan ketika kita merasa ada orang tertentu yang masih berhutang sesuatu kepada kita. Sesuatu itu bisa jadi adalah  permintaan maaf, perubahan sikap, pembalasan dendam, ataupun pembayaran kerugian yang kita derita. Seperti ada tuntutan dalam hati kita bahwa ada orang-orang tertentu yang harus berlaku seperti yang kita inginkan, barulah kita merasa puas dan lega.

Seperti apakah sikap orang yang tidak atau belum mengampuni?

  • Ada perasaan kecewa akan suatu peristiwa yang terjadi – artinya belum merelakan terjadinya hal yang tidak baik tersebut
  • Ada perasaan bahwa ada orang-orang tertentu yang masih memiliki ‘hutang’ kepada kita
  • Ada tuntutan bagi orang-orang tertentu yang kita anggap masih memiliki ‘hutang’
  • Ada perasaan sakit ketika mengingat peristiwa atau orang tersebut

Seperti apakah sikap orang yang sudah mengampuni?

  • Dapat teringat sebuah peristiwa atau orang yang terlibat didalamnya tanpa kembali merasakan sakit dan kecewa
  • Tidak merasakan adanya tuntutan pada orang-orang tertentu (agar mereka berubah, meminta maaf, ataupun perasaan semacam itu), dan mereka juga tidak dianggap berhutang sesuatu kepada kita
  • Dapat bersyukur ataupun belajar sesuatu yang baik dari peristiwa yang telah terjadi

Yang menjadi masalah, sering sikap mengampuni di atas bukanlah hasil pengampunan yang sejati (dengan segenap hati), melainkan keluar dari usaha pikiran dan hati kita untuk terbebas dari rasa sakit dengan cepat, yang biasanya kita lakukan dengan cara:

  • Melupakan, yaitu mencoba menghilangkan ingatan akan peristiwa yang tidak enak
  • Mengabaikan, yaitu menganggap enteng akibat atau dampak yang terjadi karena peristiwa yang tidak enak itu
  • Mengeraskan hati, yaitu menganggap diri dan hati kita kuat untuk mengalami peristiwa yang terjadi dengan cara mematikan perasaan kita

Jadi yang penting adalah apakah kita memproses luka dan peristiwa itu dengan cara yang benar, maka kita akan mendapatkan hasil yang benar – yaitu hati yang benar-benar mengampuni. Ketika kita melewati proses itu dengan tidak benar, maka pengampunan yang kita lakukan pun tidaklah mendalam.

Bagaimana proses pengampunan yang benar? Pengampunan yang sejati akan memiliki ciri-ciri seperti ini:

  • Kehendak untuk mengampuni – pengampunan adalah pilihan, mau atau tidak mau. Jika kita mau, Tuhan yang akan memampukan
  • Pengakuan: Mengakui keberadaan luka dan dampaknya dalam hidup kita
  • Pengampunan: memaafkan orang dan melepaskan perasaan bahwa ia berhutang sesuatu kepada kita
  • Kerelaan: mengijinkan peristiwa yang tidak enak itu terjadi dan mengijinkan juga bahwa ada orang-orang yang berlaku tidak seperti yang kita harapkan
  • Kelepasan emosi negatif: melepaskan semua marah, kecewa dan sakit hati
  • Pemulihan: Memohon Tuhan menyembuhkan hati yang sakit
  • Kedamaian: Meminta Tuhan mencurahkan damai dan sejahtera bagi kita 
  • Konfirmasi: Peneguhan kembali bahwa kita sudah mengampuni

Kadang-kadang cukup sekali kita mengampuni dan semua aspek di atas sudah kita alami. Dalam kasus-kasus tertentu, aspek-aspek di atas terjadi secara bertahap ataupun dalam pengulangan yang semakin lama semakin kuat. Bagaimanapun caranya, ketika kita berproses dengan cara yang benar akan mendatangkan damai dan berkat dalam hidup kita.

Memahami Cerita dan Bercerita

Cerita atau kisah dapat didefinisikan sebagai serangkaian peristiwa. Bercerita berarti menghubungkan serangkaian peristiwa dalam sebuah alur yang dapat disajikan atau ditampilkan – sehingga memperlihatkan suatu proses aksi reaksi yang berhubungan: misalnya peristiwa A mengakibatkan B, yang kemudian mengakibatkan C dsb. Bercerita adalah bentuk komunikasi untuk menggambarkan atau menjelaskan serangkaian peristiwa yang terjadi – baik yang terjadi secara nyata maupun tidak nyata.

Beberapa proses yang  terjadi dalam sebuah penceritaan adalah:

  • Proyeksi – ketika pendengar maupun pencerita memproyeksikan dirinya ke dalam cerita
  • Identifikasi – ketika pendengar maupun pencerita mengidentifikasi dengan karakter yang ada di dalam cerita
  • Empati – ketika pendengar maupun pencerita mencoba merasakan apa yang dirasakan atau dialami karakter dalam cerita tersebut
  • Imagination – ketika pendengar menggambarkan cerita yang terjadi di dalam benaknya
  • Imitate – ketika pendengar meniru karakter yang ada dalam cerita

Karena terjadi proses seperti di atas, maka cerita memiliki kekuatan tersendiri dibandingkan model komunikasi yang lain seperti pengajaran ataupun diskusi dll. Kekuatan itu adalah:

Membagikan sesuatu yang lebih dari sekedar informasi atau data

  • membagikan emosi
  • membagikan nilai dan budaya

Menghubungkan:

  • yaitu menghubungkan diri sendiri dengan pengalaman dan kehidupan secara umum
  • menghubungkan pribadi dengan orang lain, dan komunitas yang lebih besar, bahkan antar generasi

Memberi inspirasi

  • memberi arti pada pengalaman atau peristiwa
  • mendorong pendengar untuk merenungkan dan mengambil pilihan

Cerita yang baik akan membawa pendengar masuk dan terlibat, baik dengan cerita itu sendiri maupun dengan proses penyampaiannya karena pendengar akan saing berinteraksi dengan pencerita dan sesama pendengar.Cerita yang baik akan membuat pendengar melupakan dirinya sendiri dan menaruh dirinya dalam cerita: mereka akan terpengaruh situasi dan keputusan yang diambil karakter baik secara emosi maupun pikiran.

Elemen dari sebuah cerita

  • Karakter – yang mengambil keputusan (Who)
  • Tempat (Where)
  • Waktu (When)
  • Plot – alur cerita (How)
  • Element indrawi: bau, rasa, warna dll.
  • Obyek – benda-benda yang berhubungan dengan cerita
  • Emosi – perasaan yang terjadi selama cerita berlangsung
  • Point of View dari Pencerita – cerita disuarakan oleh siapa dan untuk siapa
  • Sikap Pencerita – pilihan tone suara, atmosfir yang dibangun dll.
  • Tema dan Arti

 

Mengalami sukacita karena memiliki hidup yang sejati (Lukas 5:17-26)

Apa yang menjadi tujuan hidup manusia? Yesus memberikan hukum yang terutama dalam Matius 22:37-40 sebagai mengasihi Allah dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Perintah ini memberikan gambaran betapa pentingnya hubungan dalam kehidupan manusia: Hubungan dengan Allah, sesama dan diri sendiri menjadi tujuan dalam perjalanan kehidupan semua orang. Namun keindahan hubungan yang sudah dirancang Allah sejak penciptaan mendapat tantangan ketika manusia memilih jalannya sendiri (Kejadian 3) yang mengakibatkan rusaknya hubungan dengan Pencipta, diri sendiri dan orang lain. Bagi kita manusia yang berdosa, perintah untuk mengasihi Allah dan sesama seperti diri sendiri menjadi tantangan yang tersulit untuk dicapai.

Karena itulah tugas utama kita dalam hidup ini adalah untuk mengenal Allah, Sang Pencipta. Seperti yang dinyatakan oleh Allah sendiri:

Beginilah firman TUHAN: “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN.” (Yeremia 9:23-24)

Pengenalan akan Allah menjadi sebuah proses seumur hidup, yang akan disempurnakan ketika kita nanti akan bertemu muka dengan muka dengan Allah sendiri.

Namun perjalanan hidup ini tidak berhenti di sini saja. Kita yang sedang belajar untuk mengenal Allah memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengenalkan dan membawa orang kepada Allah, dan kemudian bersama-sama menikmati pengalaman hidup dalam pengenalan akan Allah. Artinya, usaha kita untuk mengenal dan mengalami Allah akan berhubungan juga dengan interaksi dan pengalaman dengan sesama kita. Ketika kita sedang berusaha mendekat pada Allah, dampaknya akan terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain. Lebih mendasar lagi: Apapun yang kita lakukan (atau tidak lakukan) dalam hidup ini akan membawa kita untuk semakin dekat (atau semakin jauh) dengan Allah, dan pada saat yang sama mempengaruhi kehidupan orang lain dan menolong (atau menjauhkan) orang lain dari Allah.

Kalau begitu bagaimana seharusnya kita hidup? Bacaan di Lukas 5:17-26 memperlihatkan bagaimana kita perlu bersikap dan bertindak dalam hidup ini.

  1. Kehidupan yang sejati terjadi ketika kita datang kepada Yesus
    1. Kita perlu belajar untuk datang pada Yesus, Sumber Kehidupan. Akibat dari dunia yang berdosa adalah kehidupan manusia yang memiliki banyak kebutuhan. Bahkan hidup sepertinya adalah rangkaian usaha untuk memenuhi kebutuhan yang tidak pernah terpuaskan. Kita memiliki banyak kebutuhan yang tidak pernah selesai terpenuhi. Karenanya kita berusaha keras dan melakukan berbagai macam cara untuk memenuhi kebutuhan itu. Orang-orang datang berbondong-bondong kepada Yesus dengan motivasi dan kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang membutuhkan keajaiban, ada juga yang hanya membutuhkan tontonan. Namun semuanya mengharapkan sesuatu terjadi. Ketika kita memiliki kebutuhan dan datang pada Yesus, kita sudah berada di jalan yang benar. Yang perlu kita pastikan adalah kita datang pada Yesus karena Ia adalah pemilik kehidupan ini, dan sudah pada tempatnya kita untuk memiliki hubungan yang sangat baik dengan-Nya. 
    2. Dengan seluruh aspek kehidupan kita, kita juga perlu menolong orang lain untuk datang pada Yesus. Begitu kita mengenal Yesus sebagai Sumber Hidup yang sejati, maka kita telah memiliki identitas yang baru, yaitu sebagai anggota Kerajaan Allah dan juga sebagai anak Allah. Dalam identitas yang baru ini, kita sedang mewakilkan atau menampilkan Gambar Yesus bagi orang lain. Apapun yang kita lakukan (atau tidak lakukan) akan membawa dampak bagi orang lain yang mempengaruhi mereka melihat Gambar Yesus tersebut. Tentu saja gambaran ini tidak sempurna karena kitapun masih belajar untuk mengenal Allah. Namun sama seperti orang-orang yang menolong si lumpuh, kita pun memiliki kewajiban untuk memperkenalkan Allah kepada orang lain. Dan seluruh hidup kita akan mencerminkan pengenalan kita akan Allah. Kita perlu memiliki pemahaman untuk secara sadar terlibat dalam kehidupan orang lain, dan membawa mereka untuk lebih dekat lagi kepada Allah.
  2. Agar dapat menjadi penolong bagi orang lain, kita perlu memiliki:
    1. Komitmen - dengan adanya kesadaran untuk terlibat dalam kehidupan orang lain, kita pun mengambil komitmen bahwa “apapun yang saya pikiran,  katakan dan lakukan, saya sedang belajar mengenal Allah menolong orang lain untuk datang pada Yesus”. Beberapa orang melakukannya dalam bentuk penginjilan. Yang lain dengan memuridkan ataupun melakukan pelayanan rohani. Namun kita bisa melakukannya dengan apapun yang kita lakukan sehari-hari – apapun pangkat, jabatan dan fungsi kita sehari-hari.
    2. Kreatifitas & kegigihan - Manusia adalah pribadi yang kreatif. Ketika sedang terdesak dan sepertinya tidak ada jalan, maka kita akan mencoba untuk mencari dan bahkan membuat jalan. Seperti orang-orang yang menjebol atap rumah untuk membawa orang pada Yesus, kita pun perlu memiliki kreatifitas dan keteguhan hati untuk mencari cara menolong orang-orang mengalami Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu mengambil komitmen untuk “sebisa mungkin, dengan kemampuan yang ada, untuk dengan gigih belajar mengenal Allah dan menolong orang lain bertumbuh”
    3. Ketulusan Hati – adalah satu hal untuk memiliki kreatifitas dan kegigihan mencari jalan keluar dari krisis yang menimpa diri kita. Namun kita juga perlu memiliki ketulusan hati untuk mencari jalan bagi orang-orang lain di sekitar kita, dan bukannya hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita perlu memiliki komitmen untuk “memiliki hati yang tulus untuk bersama-sama saling membantu sesama untuk mengenal dan menikmati Allah”. 
  3. Hasilnya adalah pengalaman yang membawa sukacita:
    1. Ada pertobatan – ada kehidupan yang diperbaharui
    2. Ada mujizat – harapan dan kebutuhan kita dipenuhi dengan cara yang ajaib, di luar pikiran kita
    3. Allah dipermuliakan – kita mengalami sukacita karena melihat Allah dipermuliakan

Bertumbuh bersama dalam komunitas – Prinsip-prinsip penting dalam bertumbuh

Pertumbuhan adalah ciri makhluk hidup. Manusia perlu bertumbuh dalam semua aspek kehidupan: fisik, sosial, emosional & spiritual. Namun pertumbuhan rohani memiliki nilai yang berbeda, karena  bagi orang percaya kehidupan sejati dimulai saat hubungan dengan Allah terjalin kembali lewat Yesus Kristus. Yang menjadi menjadi tujuan utama pertumbuhan itu adalah pengenalan akan Allah dan keserupaan akan Kristus.
Pertumbuhan orang percaya adalah sesuatu hal yang telah dijamin. Allah sudah mengusahakan segala sesuatu agar kita bertumbuh dan menghasilkan buah yang berkualitas. Namun manusia masih memiliki kehendak bebas untuk mengikuti rencana Allah atau sebaliknya. Pertumbuhan yang sehat terjadi ketika kita mengambil keputusan untuk hidup dalam kesatuan dengan Allah, dan mengijinkan Allah mengelola pertumbuhan kita dalam cara dan waktu-Nya.
Meskipun Allah-lah sumber, pemelihara dan tujuan pertumbuhan, namun Ia mengajak manusia untuk terlibat dalam pertumbuhan sesamanya. Orang-orang seperti Paulus, Apolos dan lainnya secara sengaja terlibat untuk menolong orang lain bertumbuh. Bahkan Paulus katakan itulah hal yang dengan sangat kuat ia kerjakan, yaitu untuk menolong orang mengalami pertumbuhan ke arah Kristus. Inilah komunitas orang percaya yang saling terjalin dan terikat satu sama lain untuk bersama-sama bertumbuh menuju keserupaan dengan Kristus. 
Pertumbuhan bersumber dari Allah, namun kita manusia bertanggung jawab untuk memiliki sikap dan memberikan tanggapan yang akan mendukung kita untuk bertumbuh lebih. Karena kita bisa memilih apa tanggapan kita, maka kita perlu memiliki kehendak yang jelas dalam hubungannya dengan pertumbuhan. Kita perlu merumuskan apa yang kita inginkan terjadi, dan juga berkomitmen untuk membayar harga mendapatkan apa yang kita cari. 
Komitmen yang sangat penting adalah dengan sengaja melibatkan Tuhan dan sesama dalam proses pertumbuhan. Kita perlu mengambil sikap untuk melepaskan cara dan pemikiran kita tentang pertumbuhan, berserah dan mempercayai Allah sebagai sumber pertumbuhan. Kita juga perlu dengan sengaja mengundang orang lain untuk terlibat dalam pertumbuhan kita. Caranya bisa dengan memberi masukan/nasihat, menjadi teman pertanggungjawaban, menjadi mitra doa, tempat curhat dll. Kita pun perlu dan memiliki tanggung jawab untuk terlibat dalam pertumbuhan orang lain.

Keterampilan Hidup yang diperbaharui

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,406 other followers

%d bloggers like this: