SAKIT (Sangat Amat Keliwat Ironis Terlalu)

Video Musik dari Andrew Peterson ini sangat menggugah. Liriknya kuat dan dialogis, melodinya kalem dan meditatif, serta tema yang teologis membuat lagu ini sangat baik sebagai lagu refleksi. Videonya, yang disutradarai Max Hsu, juga fenomenal. Direkam dalam satu ambilan (take), dengan figuran yang keluar masuk dari frame, sementara kamera berpindah-pindah fokus. Diambil dari Wahyu 5, lagu ini menggemakan pertanyaan malaikat, “Siapakah yang layak?” untuk membuka gulungan kitab, lagu ini ingin membawa pendengarnya memandang Yesus sebagai satu-satunya yang layak di langit dan di bumi.
 
Ketika video ini dirilis, tanggal 15 Maret lalu, banyak komentar yang memuji keindahan yang dimunculkan. Namun ada juga komentar yang membuat Peterson menangis. Ada yang justru terganggu dengan gambaran dari video tersebut, dan berkata tidak akan membagikan pada orang lain, karena mereka pun pasti terganggu. Gambar apa yang mengganggu? Bisa disimpulkan dari komentar seseorang yang berkata, “That’s a lot of white people in one video.” Terlalu banyak orang kulit putih dalam video tersebut – dan memang kenyataannya, hanya ada orang kulit putih yang muncul dalam video tersebut.
 
Ironis, karena tujuan dari lagu dan video itu agar Yesus dipermuliakan oleh segala suku dan bangsa, seperti yang tertulis dalam Wahyu 5:9-10:
 
Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”
 
Justru gambaran bahwa segala suku, bahasa, kaum dan bangsa itu tidak terwakili dalam video tersebut!
 
Rasis? Eits, sebelum kita menghakimi, perlu disimak juga penjelasan dari Andrew Peterson. Ternyata orang-orang yang ada dalam video tersebut merupakan para sukarelawan yang menyambut tawaran terbuka dari Peterson untuk hadir dalam pengambilan gambar. Tidak ada rekayasa, namun entah mengapa pada hari itu yang hadir hanya setengah dari yang diperlukan, dan semuanya kulit putih! Satu-satunya yang bukan berkulit putih hanyalah sutradara, dan ia tidak muncul dalam frame. Inilah sesuatu hal yang sangat amat keliwat ironis, dan Peterson pun menyadari hal itu, seperti yang ia tuliskan dalam tautan ini:
 
 
Peterson menulis:
 
If I could go back in time I would tell the Andrew of a month ago, “Don’t assume. Make sure that this video is a true reflection of the Kingdom. Make sure it paints a glorious picture of the promise in Revelation that every people, tribe, nation, and tongue will sing (indeed, already sing) of the worthiness of Christ, the Lamb who was slain to free the captives. Think about the subtext, about what this video will say, wordlessly, to your friends of all colors.”
 
Sering apa yang kita ikhtiarkan justru menghasilkan sesuatu yang menjadi kebalikan dari tujuan kita. Namun jangan khawatir, dan jangan berhenti berikhtiar yang baik. Allah yang kita sembah adalah Allah yang turut bekerja bersama kita dan menghasilkan segala yang baik, sesuai dengan rencana yang teramat baik. Bagian kita berusaha, dengan melibatkan Allah dalam rancangan dan prosesnya. Hasilnya, serahkan kepada Yang Empunya Alam Semesta, yang akan memberikan yang terbaik bagi kita. Hasilnya, pasti, pasti, akan membawa kemuliaan bagi Dia Yang Layak Disembah.
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s