Bahaya dari Cerita Tunggal – Chimamanda Adichie

Cerita tunggal terjadi ketika kita hanya mendapatkan atau menerima kisah dari satu sumber dan satu pendekatan saja. Akibatnya kita tidak memahami atau bahkan mengabaikan keberadaan kisah-kisah lain yang akan menjadi pembeda dalam pemahaman kita tentang sesuatu. Dan cerita tunggal juga bisa menjadi alat untuk menindas, ketika orang atau sekelompok orang hanya dicekoki satu cerita dominan yang diinginkan oleh mereka yang ingin mempertahankan kekuasaan. Hidup kita, budaya kita, terdiri dari banyak cerita yang tumpang tindih. Novelist Chimamanda Adichie menceritakan bagaimana dia menemukan suaranya yang otentik – dan memperingatkan bahwa jika kita hanya mendengar satu cerita tentang orang atau negara lain, kita mempertaruhkan kesalahpahaman kritis. Berikut beberapa highlight dari pembicaraan ini:

09:38 Mustahil untuk membicarakan cerita tunggal tanpa membicarakan kekuasaan. Ada sebuah kata, sebuah kata Igbo, yang saya ingat setiap kali saya memikirkan struktur kekuasaan di dunia, yaitu “nkali.” Kata benda yang terjemahan bebasnya adalah “menjadi lebih hebat daripada yang lain.”Seperti dunia ekonomi dan politik kita, cerita juga diartikan dengan prinsip nkali. Bagaimana cara memberi tahu, siapa yang memberi tahu, kapan mereka diberi tahu, berapa banyak cerita yang diberi tahu, semuanya tergantung pada kekuasaan.

10:12 Kekuasaan bukan hanya kemampuan untuk menceritakan cerita ke orang lain, namun untuk membuat kisah definitif dari orang itu. Penyair Palestina Mourid Barghouti menulis bahwa jika Anda ingin mengusir orang, cara yang paling sederhana adalah dengan menceritakan kisah mereka, dan dimulai dengan, “yang kedua.” Mulailah cerita dengan panah dari orang asli Amerika, bukan dengan kedatangan orang Inggris, dan Anda memiliki sebuah cerita yang sepenuhnya berbeda. Mulailah cerita dengan kegagalan negara-negara Afrika, dan bukan dengan terbentuknya daerah kolonial di negara-negara Afrika, dan Anda memiliki sebuah cerita yang sepenuhnya berbeda.

12:58 Semua cerita ini menjadikan siapa saya sekarang. Tetapi untuk bersikeras hanya pada kisah-kisah negatif adalah untuk menyamaratakan pengalaman saya, dan mengabaikan banyak cerita lain yang membentuk saya. Cerita tunggal menciptakan stereotip. Masalah dengan stereotip adalah bukan berarti hal itu tidak benar, tetapi tidak lengkap. Mereka membuat satu cerita menjadi satu-satunya cerita.

… tidak mungkin untuk terlibat dengan tempat atau seseorang dengan baik tanpa melibatkan semua cerita tentang tempat dan orang itu. Konsekuensi dari cerita tunggal adalah: Merampas martabat orang-orang. Hal itu membuat pengakuan kita atas kesetaraan manusia menjadi sulit. Hal itu menekankan bagaimana kita berbeda bukan bagaimana kita adalah sama.

Cerita-cerita itu penting. Banyak cerita itu penting. Cerita telah digunakan untuk mengusir dan memfitnah. Tapi cerita juga dapat digunakan untuk memberdayakan, dan memanusiakan. Cerita dapat merusak martabat orang. Tapi cerita juga dapat memperbaiki martabat yang rusak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s