Bahasa Kasih Karunia

Bahasa sangat mempengaruhi pola pikir, dan pola pikir menentukan bagaimana kita berkomunikasi. Kebenaran ini juga berdampak dalam cara kita menyatakan kasih karunia dalam bahasa yang mudah dimengerti orang. Sering terjadi orang diiming-imingi untuk percaya pada Yesus dengan ungkapan yang penuh kasih karunia:

‘semua dosamu sudah diampuni..’, “Allah mengasihimu apa adanya..”, “Allah telah menerimamu sepenuhnya..”, “Kristus telah mati untuk semua dosamu..” dll.

Namun sering bahasa yang berbeda dibagikan bagi mereka yang sudah percaya. Kalau tadinya memiliki nada undangan dan pilihan, sekarang menjadi tuntutan dan syarat.

“Allah akan memberkatimu, jika..”, “Kamu harus bertumbuh menjadi semakin kudus..”, “sebagai orang percaya, kamu perlu bersaksi..”

Inilah bentuk penyalahgunaan bahasa kasih karunia.

Sebagai orang percaya kita juga bisa kambuh menyalahgunakan tata bahasa Injil, mengulangi kembali kecenderungan alami untuk membalikkan Injil – seperti pembenaran oleh kasih karunia namun kehidupan Kristen pada dasarnya adalah bentuk pengembangan diri yang alkitabiah (Devoted to God, 34).

Dengan mudah kita bisa terjatuh dalam pola ‘masuk lewat kasih karunia, bertahan dengan usaha.’ Sehingga bagi orang percaya hidup menjadi sebuah pola usaha dan bukannya kasih karunia.

Kalau kita membalikkan urutan logika injil, tidak butuh waktu lama sebelum kita menyelundupkan pengudusan kita ke dalam kebenaran kita. Status kita yang terus menerus di hadapan Allah sepertinya harus bergantung pada kinerja kita.. kemudian kekudusan mulai mendapatkan karakter metalik, yaitu ketepatan yang tidak berlandaskan anugerah; ketaatan yang menjadi tujuan. Kemudian pencapaian mulai mengaburkan adanya kebutuhan. Bukan kita tidak memiliki teologi kasih karunia; hal tersebut sudah tinggal tetap dalam teologi kita, namun sebenarnya telah berhenti menjadi sebuah kenyataan dalam hati dan hidup kita. (Devoted to God, 37)

Dengan mudah, hidup kita beralih dari berpusat pada Injil menjadi berpusat pada kinerja. Kasih karunia yang cuma-cuma dan Injil adalah hal yang tidak alami bagi kita. Karena keduanya tidak alami, dengan mudah kita masuk kembali ke dalam kondisi natural kita dan berpikir, jika kita sudah mengusahakan yang terbaik untuk menjadi bai, Allah akan memberkati usaha kita dan memberikan hidup yang indah, menyelesaikan maslah kita, membuat kita kaya dan melindungi kita. Ketika bicara tentang anugerah dan belas kasihan Allah dalam Kristus, kita biasanya memiliki ingatan jangka pendek saja.

Berhati-hati agar bahasa kita tidak memunculkan tema ‘masuk lewat kasih karunia, bertahan lewat usaha’

Kasih karunia Allah yang tidak alami

Satu-satunya penawar untuk masalah kita adalah mendengar dan mendengar lagi bahwa Kristus telah membereskan dosa dan tuntutan menaati hukum agar mendapatkan perkenan Allah. Untuk melawan dorongan natural dalam hati dan pikiran, kita membutuhkan Injil, yaitu kabar baik tentang kasih karunia yang memang bertentangan dengan naluri alamiah kita untuk berusaha. Dan kita perlu mendengarnya  secara teratur. Itu berarti Injil ini perlu secara setia dinyatakan dan dibagikan pada kita. Kita perlu mendengarnya, berkubang di dalamnya, merenungkan dan membagikan kepada diri sendiri maupun orang lain.

Kita perlu terus menerus diingatkan akan bahasa injil yang tepat. Semakin kita berendam dalam kasih karunia Allah dan apa yang Allah telah lakukan bagi kita, semakin kita dapat  sungguh-sungguh memahami bahwa janji Allah lebih besar dari yang bisa kita bayangkan. Ambil waktu untuk membaca kitab Roma, dan mengamati betapa banyak bagian yang digunakan Rasul Paulus untuk berbicara tentang injil sebelum memberi perintah agar orang-orang berhenti melakukan dosa.

Pada zaman Reformasi, hal inilah yang diperjuangkan para reformator melawan gereja. Teologi pekerjaan baik telah masuk dalam kotbah dan   pengajaran gereja Abad Pertengahan dan mengotori  kasih karunia cuma-cuma yang radikal yang ada dalam Kitab Suci. Apa yang ditemukan oleh Luther dan para reformator dalam halaman Kitab Suci adalah bahwa Kristus telah melakukannya semua bagi kita, dan bahkan usaha kita yang terbaik untuk menjadi orang yang baik hanya akan berhasil karena kuasa Allah yang berdiam di dalam kita. (1 Yohanes 4:12-20; 2 Tesalonika 1:11; Efesus 3:7)

Kita membutuhkan ahli bahasa kasih karunia yang dengan setia memantau komunikasi kita!

Kita perlu diingatkan bahwa Kristus telah memerdekakan kita supaya tidak lagi kita mau dibebani ikatan perbudakan (Galatia 5:1), yang mungkin muncul dalam aturan-aturan atas nama ‘memotivasi diri’ , ataupun tuntutan ‘kekudusan orang Kristen’, walaupun kita perlu hidup dengan motivasi yang ebnar, dan bertekun dalam kekudusan – namun semuanya itu tanpa mengabaikan kebenaran tentang kasih karunia. Kita perlu mendengar apa yang telah Kristus lakukan, apa yang Bapa janjikan, apa yang sedang Roh Kudus kerjakan bagi kita – yang semuanya itu memunculkan pengharapan dan iman dan kasih dalam hati kita. Dan kita juga perlu membagikannya pada orang percaya lainnya, sehingga mereka pun mendapatkan peringatan terus menerus akan perlunya bahasa kasih karunia ini. Sampai kapanpun, kita tidak akan pernah berhenti membutuhkan mendengar berita Injil dan bahasa kasih karunia tentang Kasih Allah yang tidak terbatas. Mari berbahasa kasih karunia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s