Berhala-berhala dalam hati

Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala. (1 Yoh 5:21)

Apa yang langsung muncul saat mendengar kata berhala? Kemungkinan berhubungan patung sembahan, jimat-jimat dan benda-benda bertuah, upacara-upacara ritual, ataupun kegiatan yang berhubungan dengan mistik. Kalau hanya itu yang kita ingat, kemungkinan kita belum memahami apa itu berhala, dan kemungkinan juga kita tidak mengerti adakah pengaruhnya dalam hidup kita sebagai orang percaya. Berhala adalah segala ilah palsu, pengganti Allah, atau segala hal yang dianggap atau diperlakukan sebagai sembahan. Dan mungkin kita merasa bahwa sejak menjadi orang percaya kita telah mengenal dan menyembah Allah yang benar, dan sudah tidak lagi berhubungan dengan berhala.

Namun sebenarnya keberadaan berhala juga membawa ancaman kepada orang percaya, justru karena berhala yang disembah belum tentu berupa patung, jimat, ataupun kegiatan mistik. Karena penyembahan berhala dimulai didalam hati – dan belum tentu kelihatan dalam bentuk penyembahan yang gelap, mistis dan jahat. Berhala adalah apapun yang berada di dalam hati kita yang mengambil tempat Allah. Mengambil tempat seperti apa? Berhala adalah sesuatu yang begitu memuaskan dan mengikat hati kita dan pikiran kita, sehingga menjadi sebuah obsesi. Berhala adalah sesuatu yang kita cari dengan begitu kuat, sampai kita siap berdosa untuk mendapatkannya. Berhala adalah sesuatu yang bisa memberikan kita rasa aman dan nyaman. Berhala adalah sesuatu yang harus ada bersama kita ketika sedang galau dan gelisah. Berhala adalah sesuatu yang memberi identitas kepada kita, mengangkat harga diri ketika kita dapatkan, dan menghancurkan harga diri ketika tidak kita miliki. Berhala adalah segala sesuatu yang seharusnya merupakan milik dan hak Allah – menjadi penyembahan dan pusat hati kita.

Berhala dalam hati dibangun karena hati memiliki kebutuhan terdalam yang tak terpuaskan, atau dipuaskan, namun bukan oleh Allah. Paradigma Dua, Bapa yang telah memenuhi kebutuhan mengajarkan bahwa kita memiliki Allah yang adalah sumber, pemelihara dan tujuan hidup kita. Ketika kita mencari Allah sebagai pemuas kebutuhan, kita tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk memuaskan hidup kita. Kita penuh karena dicukupkan oleh Allah, dan Allah menggunakan segala hal yang lain, orang-orang di sekitar kita, materi dan segala kebaikan lainnya, sebagai jalan untuk memuaskan kita.  Mari bertumbuh bersama, menerima kepuasan dari Allah, melepaskan segala berhala hidup kita, dan mengalami keutuhan.

KEUTUHAN HANYA DIDAPATKAN OLEH MEREKA YANG TERPUASKAN OLEH ALLAH.

Bacaan Lanjutan: Yehezkiel 20

Mari bertumbuh bersama dalam kasih karunia-Nya,

PLA

Renungan: https://hikmatpembaharuan.wordpress.com/category/renungankwantum

website: https://kawantumbuh.com

FB: https://facebook.com/kawantumbuh

Twitter: https://twitter.com/kawantumbuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s