Hidup dalam Identitas yang diperbaharui

“… kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah” (Roma 8:15)

Kita semua pasti mendambakan hal ini: melihat diri sendiri dengan puas dan bangga. Ini adalah pencarian semua orang, baik secara sengaja ataupun tidak. Kita menganggap diri kita cukup baik dan cukup berharga, dan jika tidak, kita pasti akan berusaha dengan berbagai cara untuk bisa melihat bahwa diri ini baik dan berharga. Orang tidak akan tahan untuk memandang dirinya terus menerus secara negatif untuk jangka waktu yang panjang tanpa mengalami kerusakan secara mental. Lama kelamaan orang tersebut akan putus asa, dan bahkan mulai membenci dirinya sendiri. Ia akan mulai kehilangan gairah hidup dan sering mulai memikirkan alternatif lain untuk tidak melanjutkan hidup. Inilah yang disebut memiliki identitas yang negatif, yaitu ketika kita memandang diri sendiri dengan cara yang tidak membawa sukacita.

Banyak orang mencoba untuk mendapatkan tanggapan positif itu dari sesama. Namun hal ini pun untuk jangka panjang tidak akan memberikan yang kita harapkan. Mengapa? Pertama, kita tidak mungkin cukup baik secara konsisten untuk mendapatkan pujian terus menerus dari sesama. Kita akan gagal, jatuh, tersesat dan mengecewakan orang, apalagi ketika kita sedang mengalami hari yang buruk. Dan kemungkinan besar, kita akan mengeluarkan juga pikiran, perasaan dan kata-kata yang tidak pada tempatnya. Padahal, sering orang lain pun tidak mau mengerti kondisi kita, saat kita sedang tidak maksimal. Atau mereka tidak cukup peduli untuk menjadi penolong dan pendukung ketika kita sedang di bawah. Dan yang pasti kebanyakan orang juga tidak tertarik untuk menjadi cheerleader bagi kita – menolong kita memiliki citra diri yang positif. Kemungkinan besar mereka pun punya kebutuhan yang sama untuk mengalami identitas diri yang membawa sukacita.

Paradigma Tiga, Roh Kudus telah mengubah dari dalam, mendorong kita untuk mempercayai kebenaran ini:  Karena Allah telah mengubah natur kita, maka kita perlu memandang diri kita dengan cara pandang yang baru, yaitu cara pandang Allah. Inilah yang disebut sebagai identitas yang ilahi, yaitu melihat diri sendiri seperti Allah memandang kita. Dan bagaimana Ia memandang kita sekarang? Sebagai seorang anak, anggota keluarga Allah, kekal selama-lamanya. Kita perlu mengubah cara hidup kita agar sesuai dengan identitas ilahi ini. Caranya, tentu kita perlu bertobat terlebih dahulu dari identitas palsu yang selama ini kita pegang, dan dengan pertolongan Roh Kudus membangun hidup yang baru berdasarkan identitas yang telah diperbaharui. Keutuhan hidup hanya akan dapat dicapai kalau kita menyadari dan mengalami identitas hidup yang diubah secara supranatural. Mari hidup dalam identitas sebagai anak Allah, dan nikmati keutuhan hidup.

Keutuhan hidup dinikmati oleh mereka yang memandang diri sebagai anak-anak Allah

Bacaan Lanjutan: 2 Korintus 6:3-10

Mari bertumbuh bersama dalam kasih karunia-Nya,

PLA

Renungan: https://hikmatpembaharuan.wordpress.com/category/renungankwantum

website: https://kawantumbuh.com

FB: https://facebook.com/kawantumbuh

Twitter: https://twitter.com/kawantumbuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s