Pergeseran pusat hidup

“Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi… bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” (Mazmur 73:25-26)

Dosa mengalihkan pusat hidup manusia. Manusia diciptakan untuk mengalami keutuhan relasi dengan Allah Pencipta, sesama dan diri sendiri. Yang menjadi pusat alam semesta, dan pusat relasi manusia adalah Allah, sumber segala sesuatu. Namun dosa mengalihkan pusat relasi itu. Manusia menjadi condong berpusat pada diri sendiri. Pada keinginan-ku. Rencana-ku. Kehendak-ku. Tuntutan-ku. Hasrat-ku. Perasaan-ku. Pikiranku. Sehingga hidup adalah tentang Aku. Dan karena kita begitu berpusat pada diri sendiri, maka kita pun cenderung peka akan hal-hal yang tidak sesuai harapan. Akhirnya kebutuhan-ku, perasaaan-ku yang terganggu, dan harapan-ku yang tidak tercapai, menjadi pencarian utama kita. Kita mudah menjadi galau dan khawatir, karena terampil menghitung apa yang tidak kita miliki. Kita cenderung membanding-bandingkan dan menjadi iri ketika melihat orang lain yang memiliki apa yang kita inginkan.

Karena manusia hidup berpusat pada kebutuhan diri, maka ia pun terdorong mencari cara untu memuaskan kebutuhan itu. Alih-alih dipuaskan lewat hubungan dengan Allah Sumber, kita mencari jalan pintas dengan mencari kepuasan lewat apa yang bisa kita dapatkan dan kendalikan dengan lebih mudah. Kita mengalami dorongan yang besar untuk puas lewat sesama dan barang atau materi. Dan dorongannya begitu besar sampai paradigmanya pun terbalik – seharusnya kita mengasihi sesama dan menggunakan barang untuk kepuasan, namun banyak orang justru mengasihi barang dan menggunakan, memanipulasi, mengintimidasi dan mendominasi sesama untuk kepentingan diri sendiri. Dan tentunya, Allah pun menjadi samar-samar, ataupun hanya menjadi pemuas hawa nafsu belaka.

Paradigma Dua, Bapa telah memenuhi segala kebutuhan, mendorong orang percaya untuk mencari kepuasan pertama-tama dari Allah. Saat hati terpuaskan secara benar, maka kita akan mampu memberi tanggapan dengan cara yang benar. Kita akan merasa cukup dan penuh. Lebih mudah bagi kita untuk menyatakan penyembahan, dan bukan tuntutan.  Kita pun cenderung hidup dalam sukacita dan syukur ketimbang khawatir dan dengki. Dan semua itu keluar secara alami, dari hati yang dipuaskan oleh Allah kita. Mari mengalami keutuhan karena memiliki sumber yang sejati.

KEPUASAN PENUH DATANG DARI PENCIPTA DAN BUKAN CIPTAAN

Bacaan Lanjutan: 1 Tim 6:6-10.

Mari bertumbuh bersama dalam kasih karunia-Nya,

PLA

Renungan: https://hikmatpembaharuan.wordpress.com/category/renungankwantum

website: https://kawantumbuh.com

FB: https://facebook.com/kawantumbuh

Twitter: https://twitter.com/kawantumbuh

 

Renungan ini diadaptasi secara bebas dari New Morning Mercies, Paul David Tripp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s