Memandang dalam perspektif kekekalan

 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi… Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga. (Matius 6:19-21)”

Ada kontras antara perhatian pada hal-hal yang permanen (di bumi) dan hal-hal yang kekal (di surga). Cara hidup kita akan ditentukan apa yang menjadi pusat cara pandang kita. Perubahan cara pandang akan sangat mempengaruhi perubahan cara hidup kita. Sebagai ilustrasi, pergeseran paradigma yang besar terjadi, ketika para ilmuwan menemukan bahwa bukan saja bumi dan planet mengitari matahari, namun matahari  hanyalah pusat tatasurya, yang merupakan bagian sangat sangat kecil dari milyaran bintang yang ada di galaksi, yang juga adalah bagian dari milyaran galaksi yang ada di alam semesta. Manusia bukan pusat dari alam semesta, melainkan partikel yang teramat kecil dari alam semesta yang teramat besar.

Hanya memandang hidup dari sudut pandang di bumi akan memberi kita perspektif temporer, ketika apa yang terjadi saat ini, ataupun saat-saat yang lalu memiliki arti yang signifikan dalam hidup kita. Ya, kita perlu menghidupi dan menikmati hidup saat ini. Namun jika perspektif kita hanya temporer, maka pengalaman saat ini, emosi saat ini, pikiran saat ini, harapan saat ini akan menjadi begitu penting dan terlihat begitu besar di hadapan kita. Sehingga ketika menghadapi penderitaan saat ini, menjadi pengalaman traumatik untuk masa depan. Demikian juga kesuksesan saat ini pun sering menjadi andalan dan harapan kita yang besar untuk masa depan.

Namun ketika kita memandang dengan perspektif kekekalan, kita akan melihat ada Bapa yang kekal sebelum kita dan di masa depan. Kita menyadari bahwa kita terlibat dalam sebuah Rencana Agung, yang sudah Allah siapkan, bahkan sebelum dunia diciptakan. Dan apapun yang terjadi, tidak akan mengganggu posisi kita dalam kekekalan, yang sudah dipersiapkan Yesus sendiri ketika Ia naik ke surga. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Ketika perspektif kita ada pada kekekalan, maka hati kita pun akan tertarik dan mementingkan hal-hal yang berdampak pada kekekalan. Kita tidak mengandalkan hal-hal temporer sebagai pengharapan kita. Kekayaan, kekuatan ataupun hikmat yang kita miliki, tidak memiliki arti jika tidak untuk hal-hal yang bersifat kekal.

Ketika kita hidup dengan kebenaran Paradigma 2, Bapa telah memenuhi segala kebutuhan, maka kita pun siap untuk hidup dengan prinsip yang benar, yaitu bahwa Bapa adalah tujuan hidup kita. Segala sesuatu yang ada dalam hidup kita ada untuk Tujuan, Rencana dan Kerajaan Allah. Hidup dengan perspektif kekekalan akan menjadikan hidup kita lebih utuh. Mari mulai hari dengan melepaskan keterikatan hati pada hal-hal temporer, dan mengikatkan diri pada hal-hal kekekalan.

Bacaan Lanjutan: Lukas 12:12-31

Mari bertumbuh bersama dalam kasih karunia-Nya,

PLA

Renungan: https://hikmatpembaharuan.wordpress.com/category/renungankwantum

website: https://kawantumbuh.com

FB: https://facebook.com/kawantumbuh

Twitter: https://twitter.com/kawantumbuh

 

Renungan ini diadaptasi secara bebas dari New Morning Mercies, Paul David Tripp

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s