Beragama Baru, Harry Potter!

Sejak kehadirannya, serial Harry Potter karangan J. K. Rowlings telah secara fenomenal merebut hati banyak orang: tua muda, miskin kaya, mendapatkan kepuasan dengan membaca dan menonton kisah tentang penyihir muda yang harus melawan penyihir jahat yang telah membunuh orang tuanya dan berniat menguasai dunia. Setiap kehadiran novel dan adaptasi lainnya pasti telah dinantikan para penggemar dengan antusias. Dan seperti semua hal yang menarik dan trending, akan ada sekelompok orang yang memberi hati, bahkan hidup, secara utuh bagi hal yang menyentuh hati mereka. Untuk para penggemar fanatik ini, Harry Potter – lebih dari sekedar sebuah cerita – adalah hidup itu sendiri. Seperti yang dilakukan oleh sekelompok orang yang memahami teks Harry Potter seperti membaca kitab suci.

Tulisan di bawah ini merupakan terjemahan bebas dari artikel ini.

harrypottersacredtext-998x744

Sejak dahulu, manusia telah mengetahui hal-hal tertentu yang dapat sangat memuaskannya. Hal-hal seperti iman dan keluarga telah menolong kita untuk melihat keluar diri sendiri dan kepada kuasa di atas kita, yang membuat kita merasa utuh. Namun sebagaimana anak-anak muda jaman sekarang menjauhkan diri dari hal-hal tersebut, tidak mengherankan jika sekarang mereka merasa kosong dan mencari arti dalam perburuan yang sia-sia dan semakin aneh.

Satu cara ganjil yang kemudian digunakan untuk mengisi kekosongan itu adalah dunia Harry Potter, Bukan hanya Harry Potter sebagai sebuah seri cerita yang bisa kita gunakan sebagai tempat pelarian atau bahkan sebuah seri dengan pesan yang sangat berarti, namun sebagai kitab suci.

Dimulai dengan sebuah podcast. Dua lulusan Harvard Divinity School, Casper ter Kuile dan Vanessa Zoltan memulai sebuah podcast bernama “Harry Potter and the Sacred Text”. Dimulai musim panas yang lalu, dan dengan cepat naik dalam anak tangga iTunes dan menjadi podcast nomor 2 di Amerika Serikat. Podcast ini mendorong para pendengar untuk membuat kelompok mirip PA (Pendalaman Alkitab), seperti yang dilakukan ter Kuile dan Zoltan di Harvard Square, yang digambarkan Washington Post sebagai “sebuah pertemuan mingguan menerupai gereja bagi orang sekular yang memusatkan pada arti teks Potter”. Sekarang mereka menjalankan sebuah tur nasional, dan merekam podcast tersebut di kota-kota yang berbeda di hadapan jemaat Potter.

Dari Alkitab ke Harry Potter

Mark Kennedy, yang menghadiri sebuah pertemuan di Washington DC adalah seorang non-spiritual yang dibesarkan sebagai Katolik. Ia memberi tahu Washington Post bahwa podcast tersebut telah mengubah segalanya bagi Dia. “Saya merasa seperti lahir kembali”, katanya. Pada saat yang sama Zoltan dan ter Kuile pun meragukan sekularisme, karena seperti kata Zoltan, “hal itu tidak menyentuh hati dan jiwa seseorang.”

Jadi mereka berharap bacaan Harry Potter dapat menolong orang untuk belajar tema-tema agama tradisional seperti kewajiban, pengampunan, belas kasihan, kasih dan anugerah. “Bagi saya, tujuan memperlakukan teks ini seperti kitab suci adalah supaya kita bisa belajar untuk memperlakukan satu sama lain sebagai yang suci, ” kata Zoltan. “Jika kamu dapat belajar mengasihi karakter seperti ini, misalnya mengasihi Draco Malfoy, maka kamu pun dapat belajar mengasihi sepupu yang sudah 30 tahun tidak bicara, ataupun para pengungsi di luar sana.”

Selama beribu tahun, pelajaran seperti ini diajarkan lewat Taurat, Alkitab dan Kitab Suci lainnya, namun banyak anak muda menjauhkan diri dari hal semacam itu, dan kemudian merasa tanpa arah. Lebih dari sepertiga kaum millenial menganggap diri mereka sebagai non-agamawi, yang berarti dua kali lipat dibandingkan generasi baby boomer, dan tiga kali lipat dibandingkan generasi sebelumnya. Bahkan mereka yang masuk sebagai penganut agama belum tentu mempraktekkannya. Hanya 2 dari 10 orang di bawah30 tahun yang merasa pergi ke gereja adalah hal yang penting dan berharga.

Kalau begitu, dimanakah mereka akan belajar tentang moral? Di manakah mereka akan mendapatkan panduan tentang hal ini? Jelas mereka tidak mendapatkan, dan mereka merasakan kekosongan itu. Ketika seseorang kemudian menawarkan panduan yang begitu konyol seperti Harry Potter, anehkah kalau mereka langsung memegangnya erat-erat? Sally Taylor, yang berumur 23 tahun dan mengaku tidak beragam apapun, menghadiri acara di Washington DC dan berjata bahwa podcast tersebut “selalu memberi petunjuk untuk kebutuhan saya dengan cara yang sebelumnya tidak saya sadari”. Jadi sementara ter Kuile dan Zoltan berkata bahwa mereka sebenarnya tidak berusaha membuat Potterism sebagai sebuah agama, namun mereka juga mengeri bahwa sekularisme tidak berfungsi, dan mereka yang tidak pernah diajarkan agama yang benar mulai mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan itu.

Saya sangat berkomitmen – pada diri saya sendiri

Bukan saja agama yang sudah mulai hilang dari masyarakat, namun hal-hal lain yang secara tradisional membuat kita memiliki pusat dan merasa terpenuhi. Sebagian besar generasi millenial juga telah menunda pernikahan, atau bahkan menolak sama sekali. Bahkan ada orang tertentu yang kemudian menikahi diri sendiri, sebuah pernyataan tertinggi melihat ke dalam dan bukannya ke luar.

Mereka juga menolak memiliki anak (walaupun ada yang membeli rumah agar anjing mereka bisa merasa nyaman). “Kaum millenial tidak membutuhkan tradisi,” kata pakar hubungan April Masini. “Mereka lebih memilih untuk berkencan. menyewa daripada membeli dan hidup bersama ketimbang menikah. Bukan karena mereka tidak mau mengambil komitmen – mereka punya. Mereka juga punya hubungan yang berarti dan juga ada studi yang memperlihatkan bahwa mereka juga lebih sedikit berhubungan seksual pada usia mereka dibandingkan generasi sebelumnya – jadi bukan berarti mereka mau kebebasan untuk tidur dengan siapa saja. Mereka hanya tidak mau menikah.”

Saya tidak setuju bahwa orang-orang ini memiliki komitmen, karena contoh-contoh yang diberikan justru memperlihatkan bagaimana mereka menghindar dari komitmen. Semua contoh “dulu” yang dibandingkan dengan “sekarang” memperlihatkan komitmen yang semakin berkurang sekarang dibandingkan dengan generasi sebelumnya, memberikan kita hidup dengan ketidaktahuan dan ketidakyakinan, di mana sebelumnya ada kemapanan. Tidak mengambil komitmen untuk beragama adalah bagian dari hal tersebut. Mengapa harus tunduk pada Yesus kalau kita bisa menyembah Harry Potter, berharap hal ini bisa memenuhi kekosongan, dan berpura-pura ini hal yang ironis?

Hal ini membuat saya sedih, dan seharusnya kita sudah bisa menduganya. Sebagai masyarakat, kita telah menjauhkan diri dari hal-hal yang membuat kita merasa penuh dan kemudian malah mencari jawabannya yang bisa membuat kita merasa nyaman, walau sementara. Tidak perlu kaget kalau kemudian kita mencari pemenuhan itu dalam hal-hal yang aneh. Hal ini sangat disayangkan, bukan karena mereka sedang bertingkahlaku konyol, namun karena hal ini tidak akan berhasil. Harry Potter tidak akan bisa memenuhi kebutuhanmu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s