Cross of Christ: Atonement – Penebusan #1, bagaimana cara kerjanya?

Kecaman terhadap teori Penebusan lewat Pertukaran

 

Ada beberapa doktrin yang merupakan inti iman Kristen,  seperti Penebusan Dosa (atonement).  Pekerjaan imamat Kristus telah membedakan Kekristenan dengan Yahudi dan Islam. Ssalib telah menjadi simbol iman kita. Namun, pekerjaan Allah di salib masih menyisakan berbagai pertanyaan. Selalu ada beberapa orang Kristen yang mempertanyakan: apakah kita masih membutuhkan Penebusan Dosa, termasuk yang akhir-akhir ini, beberapa orang injili yang menentang pemahaman dominan tentang kematian Kristus di salib sebagai substitusi dosa-dosa kita.

Yang menjadi taruhan merupakan esensi Kekristenan. Secara historis, Penebusan Dosa oleh Kristus memberikan pengharapan kepada orang Kristen akan dosa dan penderitaan. Jika kita telah memiliki jaminan keselamatan, hal itu karena Penebusan dosa Kristus; jika ada sukacita, hal itu berasal dari pekerjaan Kristus di salib. Penebusan Dosa melindungi kita dari kecenderungan alami untuk mengganti agama dengan moralitas dan anugerah Allah dengan legalisme. Terpisah dari pekerjaan penebusan Kristus, kita akan selamanya bersalah, merasa malu dan dihakimi di hadapan Allah. Namun tidak semua orang memahami hal tersebut dengan cara yang sama.

Tulisan berikut merupakan terjemahan bebas dari artikel tentang penebusan berikut: Nothing but the Blood, Christianity Today, 2006 May, 2006.

Salib yang berbeda?

Orang Kristen selama ini memahami bahwa bahasa dan gambaran Penebusan Dosa yang beragam melalui berbagai macam teori. J. I. Packer, dalam kuliah klasik 1973, memberi tiga kelompok teori. Setiap teori memandang masalah utama manusia dengan cara yang berbeda, dan tiap teori menjelaskan bagaimana kematian Kristus menyelesaikan masalah tersebut.

Kelompok teori yang pertama memiliki gagasan bahwa masalah utama adalah manusia yang telah ditawan dan ditindas oleh kekuatan rohani yang berada di luar kendali kita. Kematian Kristus merupakan sebuah pembayaran tebusan yang membebaskan kita dari tawanan. Kematian dan kebangkitan Kristus mengalahkan kekuatan rohani yang jahat. Teori ini umumnya diringkaskan sebagai Ransom Theory atau Christus Victor.

Kelompok teori yang kedua membicarakan kebutuhan subyektif dari semua orang untuk mengenal kasih Allah bagi kita. Teori-teori ini menekankan kematian Kristus di kayu salib memperlihatkan kasih Allah yang begitu dramatis sehingga kita yakin akan kasih-Nya dan dapat membagikannya dengan orang lain. Termasuk dalam kelompok teori ini adalah Moral Influence Theory dan lainnya.

Kelompok teori yang ketiga mengasumsikan bahwa masalah utama manusia adalah murka Allah yang berdasarkan kebenaran melawan kita karena keberdosaan, yang membawa bagi kita bahaya penghukuman kekal. Teori ini menyatakan bahwa pengorbanan Kristus yang sempurna bagi dosa kita dibutuhkan untuk memuaskan kebenaran Allah. Kematian Kristus membawa penghukuman ilahi yang sepatutnya kita dapatkan. Dengan menanggung oleh diri-Nya sendiri hukuman  kita, Allah telah memuaskan murka-Nya yang baik dan benar melawan kita. Kelompok teori ini, yang terdiri dari teori Satisfaction Allah dan teori Penal Substitution menekankan bagaimana Kristus mewakili (represent) kemanusiaan.

Gelombang kritik akhir-akhir ini menjadikan kelompok teori yang terakhir sebagai sasaran, yaitu pandangan bahwa Kristus sebagai penal substitute – sebuah teori yang telah menjadi pusat bagi banyak kelompok Protestan, terutama kaum injili. Kritik biasanya mengambil jalan yang telah dibangun oleh orang-orang mulai dari Abelard, Socinus, Schleiermacher sampai C. H. Dodd. Di tahun 1955, teolog Metodis Inggris Vincent Taylor menyatakan bahwa “sangat terlihat… kecenderungan untuk menolak teori penggantian penghukuman”. Para penentang yang berasal dari Katolik Roma telah beralih dari menekankan bentuk pengorbanan ritual kultik kepada etika meneladani pengorbanan Kristus. Dalam lingkaran Lutheran, pandangan Kristus Pemenang (Christus Victor) dari Gustav Aulen memelopori pemahaman Penebusan Dosa yang berbeda, yang ia sebut sebagai pemahaman klasikal – Kristus membebaskan kita dari kekuatan rohani yang telah memperbudak kita.

Para pengritik, dulu dan sekarang, biasanya mengajukan empat keberatan utama akan penebusan pengganti.

Tidak Cukup

Banyak kelompok garis utama Kristen[1] menyatakan bahwa penggantian penghukuman, dalam bentuknya yang terbaik, tidak cukup. Mereka mengakatan bahwa fokus doktrin Penebusan Dosa lebih besar dari sekedar mendapatkan pengampunan.

Sebagai contoh, Stephen Finlan mewakili golong pemikiran Kristen yang mengikuti pemikian Abelard dan Schleiermacher yang menekankan pentingnya inkarnasi dan bukannya pemahaman penebusan dosa tertentu. Ia memahami seluruh cara berpikir “satisfaction” merupakan pemikiran yang berasal dari abad pertengahan; bukan berasal dari pemikiran Paulus, namun dari  Anselm. Finlan[2] mengakui bahwa “korban” (sacrifice) dan “kambing kurban” (scapegoat) adalah gambaran yang berakar dari PL, yang kemudian digunakan oleh Paulus dan penulis Ibrani, namun penggunaan istilah secara teologis belakanganlah yang mengakibatkan orang Kristen membangun teori Penebusan Dosa. Finlan menyimpulkan bahwa orang Kristn seharusnya menyadari bahwa Penebusan Dosa merupakan konsep sekunder dibandingkan Inkarnasi. Ia berpendapat bahwa kita perlu memandang Penebusan dosa sebagai sebuah theosis, yaitu bertumbuh dalam kerohanian dan tingkah laku yang serupa Allah, yang artinya berbagi hidup dalam Allah.

Gereja Ortodoks Timur sejak lama telah menerima teosis sebagai hasil dari kematian Kristus. Dengan merenungkan 2Kor. 3.18, Ef. 4:13, 2Pet. 1:4 dan bagian Firman lainnya, banyak yang berpendapat bahwa pekerjaan Allah di dalam kita melalui Kristus paling baik dipahami bukanlah dengan bahasa penghukuman (penalty), pembayaran (payment), penebusan (ransom) dan pemuasan (satisfaction), namun dengan bahasa kasih (love), inklusi (inclusion), pertumbuhan (growth), dan pemuliaan atau deifikasi (deification). Saat memandang dengan cara berpikir seperti ini, gereja menjadi perpanjangan inkarnasi Allah dalam Kristus dan mengakibatkan gambaran gereja sebagai tubuh Kristus yang alkitabiah memiliki warna yang lebih realistis.

Tidak relevan

Pengritik yang lain, yang memikirkan kepentingan mengkomunikasikan injil dengan jelas menuding bahwa substitusi tidaklah masuk akal bagi budaya modern, tidak menyatu dengan apa yang kebanyakan ada dalam Injil, serta mengagungkan  tingkah laku yang abusif dan tidak mengampuni. Para pengritik[3] berpendapat bahwa budaya modern, yang begitu jauh dari agama-agama yang menawarkan pengorbanan darah, menganggap teori substitusi adalah hal yang tidak relevan dan tidak menyenangkan.

Terlalu individualistik

Para pengritik juga berpendapat bahwa teori penal substitution telah mendukung individualisme, karena kelihatannya berpusat pada pengampunan dan kesalahan pribadi. Hal ini telah membutakan gereja akan masalah sosial, seperti materialisme, rasisme dan nasionalisme[4].

Terlalu keras

Mungkin kritikan tentang penal substitution telah datang dari banyak sarjana yang menolak  kekerasan di dalamnya. Terinspirasi dari Rene Girard, banyak teolog modern yang menolak kekerasan ilahi sebagai bagian dari penebusan. Mereka menolak apa yang sepertinya terlihat sebagai standar ganda, dengan cara melakukan apa yang Allah larang orang lakukan, yaitu membunuh.

Katolik Roma telah memperdebatkan tema ini dalam 30 tahun terakhir. Namun baru sekarang pemikiran ini masuk dalam kalangan injili, yang selama ini dipengaruhi oleh himne-himne dari Watt dan Wesley yang penuh bahasa substitusi. Beberapa kaum Injili telah menggunakan karya para sarjana[5] yang menolak bahasa kekerasan dalam Penebusan Dosa secara substitusi. Bagi mereka, substitusi, dalam bentuknya yang paling buruk, memberikan pembenaran akan kekerasan yang menyimpang dan mendukung penyalahgunaan kekuasaan yang individualistik dan mementingkan diri sendiri[6].

Green dan Barker mengingatkan agar kita tidak menggunakan pemikiran Allah Bapa melakukan sesuatu kepada Allah Anak. Dalam pengajaran gereja yang populer, ilustrasi kotbah tentang pengorbanan Kristus di salib telah membawa banyak keluhan tentang substitusi. Sebagai contoh, ada kisah tentang operator rel kereta api yang baru menyadari bahwa jembatan di depan sana telah rusak, sehingga ia bersiap untuk memindahkan jalur untuk menyelamatkan hidup ratusan orang yang berada dalam kereta yang sedang datang dengan cepat. Namun pada saat itu, Ia melihat anaknya sedang bermain-main di alat pemindah jalur, dan orang ini berhenti untuk mempertimbangkan. Banyak pengkotbah yang merenungkan kasih Allah dengan cara yang hampir tidak masuk akal – kita diberi tahu bahwa orang tersebut kemudian memutuskan untuk mengorbankan nyawa naaknya supaya dapat menyelamatkan mereka yang ada di kereta. Pengorbanan yang tidak tepat seperti inilah yang mengakibatkan bahwa konsep Peeebusan Dosa merupakan bentuk penyiksaan anak secara ilahi.

[1]   William Placher, “Christ Takes our Place” (Interpretation, Jan. 1999), dan  Peter Schmiechen, Saving Power (Eerdmans, 2005)

[2] The Backgrounds and Content of Paul’s Cultic Atonement Metaphors (Brill, 2004), dan dalam bukunya Problems with Atonement (Liturgical Press, 2005)

[3] Joel Green dan Mark Baker, dalam Recovering the Scandal of the Cross (InterVarsity Press, 2000), menulis, “We believe that the popular fascination with and commitment to penal substitutionary Atonement has had ill effects in the life of the church in the United States and has little to offer the global church and mission by way of understanding or embodying the message of Jesus Christ.”

[4] James D. G. Dunn has argued, “[Substitution] smacks too much of individualism to represent Paul’s thought adequately.”

[5] Anthony Bartlett, J. Denny Weaver, Steve Chalke, and Alan Mann

[6] The Lost Message of Jesus (Zondervan, 2004), Chalke menulis, “The church’s inability to shake off the great distortion of God contained in the theory of penal substitution, with its inbuilt belief in retribution and the redemptive power of violence, has cost us dearly.”

Advertisements

2 thoughts on “Cross of Christ: Atonement – Penebusan #1, bagaimana cara kerjanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s