Injil Kerajaan Allah dan Injil Kasih Karunia

Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. (KPR 20:24-25)

Injil berarti berita baik. Injil adalah sebuah kabar yang membawa sukacita bagi pendengarnya. Injil adalah sebuah pemberitahuan akan peristiwa yang telah terjadi. Sebelum kekristenan, yang biasanya disebut kabar baik adalah berita tentang kelahiran seorang anak bagi Kaisar, ataupun berita kemenagnan pasukan di medan perang. Hal-hal semacam itulah yang merupakan isi dari sebuah injil (kabar baik) pada jaman Romawi.

Kemunculan kekristenan memperbaharui pengertian Injil tersebut, menjadi sebuah kabar baik yang berhubungan dengan Yesus Kristus. Apakah isi dari  berita baik tersebut? 1 Korintus 15 merumuskan Injil sebagai berikut: Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, Ia telah dikuburkan dan telah dibangkitkan (ay. 3-4). Berita ini merupakan sebuah kabar baik karena memberi jaminan bahwa mereka yang percaya pada isi Injil ini telah diselamatkan. Fokusnya adalah pada pekerjaan Yesus di kayu salib yang telah memperdamaikan alam ciptaan, termasuk manusia, dengan Pencipta. Manusia tidak perlu melakukan hal apapun, kecuali percaya, yaitu menerima, kabar baik itu sebagai sebuah kebenaran, bahwa Allah, dalam kasih karunia-Nya sudah bekerja menyelamatkan umat-Nya lewat kematian Kristus di kayu salib. Dan tanggapan untuk menerima Injil Kasih Karunia Allah itu adalah dengan percaya (Ef 2:8-9).

Namun pembacaan Alkitab memperlihatkan ada isi berita yang sepertinya berbeda. Dalam kitab-kitab Injil (Gospel), beberapa ayat menyatakan bahwa Yesus berkhotbah: “Waktunya telah genap,” kataNya, “Kerajaan Allah sudah dekat.  Bertobatlah dan percayalah kepada Injil (Mrk 1:14-15). Dan juga bahwa “Demikian Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan” (Matius 9:35). Bahkan ketika Yesus memulai pelayanan-Nya, setelah dibaptiskan dan berpuasa di padang gurun, Ia menggunakan kesempatan berkotbah untuk menyatakan bentuk pelayanan-Nya, yang dikutip dari nubuatan nabi Yesaya: “Roh Tuhan ada pada-Ku, …, untuk menyampaikan kabar baik …; dan Ia telah mengutus Aku  untuk memberitakan pembebasan …, dan penglihatan …, untuk membebaskan …, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.“ … Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Luk. 4:18-21).

Apa artinya itu? Terdapat kesan bahwa ada berita baik yang isinya berbeda dari yang dirumuskan pada surat Korintus. Dimulai dari pemberitaan Yohanes Pembaptis, yang menyatakan bahwa orang Israel perlu “bertobat, karena Kerajaan Allah sudah dekat”, dan bahwa ia sedang memberitakan kedatangan seseorang yang akan membawa kuasa Kerajaan Allah tersebut (Luk 3:16), dan bahwa yang dilakukan Yohanes adalah memberitakan Injil (Luk 3:18). Yesus pun membawa berita senada, yang menyatakan Kerajaan Allah sudah datang. Bahkan kehadiran-Nya pun merupakan tanda kedatangan Kerajaan Allah tersebut. Dan ketika Ia mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil, baik sebgai kedua belas murid maupun kepada 70 murid, isi berita yang disampaikan sama, yaitu Kerajaan Allah sudah dekat (Luk 10:9,11).

Apakah ini memperlihatkan dua isi Injil yang berbeda? Tentu tidak. Yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, Yesus dan murid-muridnya adalah berita tanpa pekerjaan Yesus di kayu salib, karena memang peristiwa belum terjadi. Belum menjadi sebuah berita. Yang saat itu menjadi pemberitaan adalah Injil Kerajaan, yang intinya menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang, dan ini merupakan sebuah kabar baik karena memperlihatkan bahwa Allah telah hadir membebaskan & menyelamatkan umat-Nya. Dan tanggapan akan kabar baik ini adalah dengan percaya, yang diperlihatkan dengan cara bertobat, dan menyediakan diri untuk dibaptis, sebagai penyataan percaya.

Yang diberitakan adalah kedatangan penyelamatan dan pembebasan melalui KE-RAJA-AN ALLAH. Kerajaan Allah bukanlah istilah yang mencakup secara geografis atau teritorial, sebagaimana kerajaan Inggris atau kerajaan Jepang memiliki batas wilayah. Kerajaan Allah adalah kondisi Pemerintahan Allah sebagaimana kehendak dan kuasa-Nya terjadi. Seluruh alam semesta adalah batas wilayah kekuasaan Allah. Namun sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, ada wilayah-wilayah yang berada di luar pemerintahan Allah, walaupun masih berada dalam kendali kuasa Allah. Hal itu terjadi karena Allah sendiri mengakui keberadaan pemerintahan Iblis: Dalam Injil Yohanes Setan disebutkan sebagai “penguasa dunia ini” (Yoh 12:31; 14:30; 16:11); Rasul Paulus memakai istilah “ilah zaman ini” (2 Kor 4:4); 1 Yohanes membuat pernyataan yang paling jelas: “Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yoh 5:19). Dan ada satu wilayah di mana pemerintahan Allah, di mana kehendak dan kuasa-Nya belum tentu terjadi, yaitu dalam hati manusia, karena manusia memiliki kehendak bebas untuk menentukan pilihannya sendiri.

Karenanya ketika Yesus datang, Ia menghadirkan Kerajaan Allah yang sudah datang menebus lewat pemberitaan kebenaran Allah yang menyelamatkan, kasih Allah yang menyembuhkan, dan kuasa Allah  membebaskan saat mengalahkan pekerjaan si Jahat. Itulah yang dilakukan-Nya ketika berkeliling ke kampung dan desa. Itulah yang dilakukan-Nya ketika mengutus murid-murid-Nya untuk berkeliling. Dan kemudian ketika waktunya tiba, Yesus menghadirkan keselamatan Allah lewat kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Satu Injil yang sama dengan ekspresi yang berbeda. Injil Kerajaan adalah gambar besar pekerjaan Allah, dan Injil Kasih Karunia adalah detail dan fokus dari pekerjaan Allah yang menyelamatkan itu.

Karenanya bagaimana cara kita hidup sebagai tanggapan pada Injil Kerajaan Allah? Kita perlu  Mengalami Allah yang sudah membebaskan dan menyelamatkan lewat pekerjaan Yesus di kayu salib. Ini adalah jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Namun kita juga perlu menghadirkan Ke-Raja-an Allah di dalam hidup kita. Yesus berkata: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat. 6:33). Dalam terjemahan bahasa sehari-hari menjadi: Jadi, usahakanlah dahulu supaya Allah memerintah atas hidupmu dan lakukanlah kehendak-Nya. (Mat. 6:33 BIS).

Kita juga perlu Menghadirkan Ke-Raja-an Allah lewat hidup kita. Bagi kita yang sudah ada dalam Kerajaan Allah, penting bahwa hidup kita menyatakan tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah. Kita pun telah diutus untuk melakukan apa yang Yesus telah lakukan. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” (Yoh. 20:21). Itu artinya sama seperti Yesus dan murid-murid-Nya, hidup kita pun perlu memancarkan Kebenaran, Kasih dan Kuasa Allah. Dalam semua aspek hidup kita, Kerajaan Allah menjadi sebuah kenyataan. Pekerjaan kita menjadi arena Kerajaan Allah. Demikian juga keluarga kita. Lingkungan kita pun membutuhkan demonstrasi kedatangan Kerajaan Allah. Semua orang di sekitar kita perlu mendengar dan mengalami kabar baik itu: Kerajaan Allah sudah datang dalam kebenaran, kuasa dan kasih Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s