Menjadi Rapuh: Sebuah pilihan…

Kerapuhan adalah kondisi yang rentan untuk mengalami serangan atau kegagalan. Secara fisik, manusia biasanya akan semakin rapuh ketika berada dalam keadaan sakit ataupun berusia terlalu muda ataupun terlalu tua. Secara emosi, manusia bisa menjadi rapuh ketika mengalami tekanan emosi ataupun konflik yang mengganggu, dan itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja. Dan hal itu biasanya mengganggu, karena kita lebih senang untuk menjadi seseorang yang perkasa, kuat menanggung segala penderitaan, bisa mengatasi segala persoalan…
Menjadi Rapuh-01
Namun kita juga bisa memilih untuk menjadi rapuh secara emosional – yaitu ketika kita mengijinkan orang melihat diri kita apa adanya. Hal ini pasti terasa berbahaya, karena kita tidak pernah bisa mengatur bagaimana reaksi orang ketika memandang diri kita. Menjadi rapuh seperti ini membutuhkan keberanian dan bukan kelemahan. Keberanian untuk mengambil resiko. Keberanian untuk menjadi tidak yakin dan tidak tahu. Keberanian untuk terluka.
Mengapa? Mengapa kita perlu memilih untuk menjadi rapuh? Karena itulah satu-satunya jalan untuk memiliki hubungan yang sehat dan mendalam. Ketika orang bisa melihat kita apa adanya, kita mengundang orang lain untuk mengambil resikonya sendiri, dan akan ada yang mau membuka dirinya juga bagi kita. Hasilnya adalah terjadinya koneksi, karena kita bisa saling memahami. Sebuah hubungan yang intim, yang adalah kebutuhan mendasar kita semua.
Apa dasar kita menjadi rapuh? Tidak lain karena kita memiliki Tuhan yang sudah terlebih dulu mempraktekkannya. Tuhan yang dalam kasih karunia-Nya memilih untuk tidak mengabaikan manusia, namun justru menyelamatkan. Tuhan tidak perlu melakukan itu. Tuhan tidak harus melakukan itu. Tapi justru Dia lakukan lebih dari sekedar menyelamatkan. Dia menebus dan membayar manusia yang tidak layak ditebus dan dibayar, yang belum tentu mau ditebus. Tuhan yang mengambil resiko, mengasihi tanpa mendapatkan balasan. Tuhan yang mengasihi dengan kasih karunia.
Dan Tuhan yang sama yang akan bekerja dengan luar biasa ketika kita mengakui kerapuhan diri. Dalam setiap kelemahan dan ketidakmampuan kita, kita bisa berteriak dan memohon penyertaan, perlindungan dan pertolongannya. Dan Ia pasti menjawab!
Ketika menolak hidup dalam kerapuhan, kita sedang membangun tembok yang membatasi kualitas hubungan kita. Penghalang yang membatasi hubungan, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama.Jadilah pemberani. Hiduplah dalam kasih karunia. Hiduplah dalam kerapuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s