Rasa Bersalah dan Kesembuhan Kasih Karunia

Rasa bersalah adalah perasaan negatif yang dialami seseorang ketika ia merasa tidak memenuhi sebuah standar tertentu. Pelanggaran standar tersebut bisa berupa (1) melakukan hal-hal yang terlarang, ataupun (2) tidak melakukan hal-hal yang diperintahkan. Dari mana manusia mendapatkan rasa bersalah?

Begitu manusia pertama melanggar perintah Allah, ada beberapa perasaan negatif yang dominan, yaitu rasa takut, rasa malu dan rasa bersalah. Muncul perasaan takut dihukum, yang membuat mereka melarikan diri dari Allah yang mencari mereka. Rasa malu muncul ketika mereka mengetahui kondisi mereka, yaitu telanjang. Perasaan bersalah muncul dan berinteraksi dengan rasa takut dihukum dan rasa malu, dan membuat mereka saling menyalahkan satu sama lain.

Alkitab, sebagai standar Allah yang absolut, lebih banyak berbicara tentang kondisi manusia yang bersalah. Namun didalamnya juga kita melihat orang-orang yang menanggung perasaan bersalah, misalnya Yeptah, Daud dll.  Dan kondisi ini secara universal diderita semua manusia karena di mata Tuhan kita semua adalah orang yang bersalah (Rom 3:23).  Di dalam Kristus, status bersalah itu telah dihapus selamanya (Rom 8:1) ketika kita mengaku dosa dan percaya kepada-Nya, dan seharusnya kita pun terbebas dari rasa bersalah ini. Ketika kemudian kita melakukan kesalahan yang lain, kita akan merasa bersalah lagi, yang membutuhkan pengakuan dosa dan pengampunan Tuhan kembali, dan kita terbebas baik dari status dan juga rasa bersalah. Inilah siklus yang ideal dari kehidupan orang percaya.

Sumber rasa bersalah

  1. Ada hati nurani yang akan terganggu ketika kita melanggar kodrat kita sebagai ciptaan yang perlu hidup sesuai dengan kehendak Allah, Sang Pencipta.
  2. Karena rasa bersalah ini muncul ketika ada pelanggaran terhadap satu standar atau aturan tertentu, maka perasaan bersalah itupun akan tergantung pada standar atau aturan apa yang kita pakai.

Ada rasa bersalah yang diajarkan melalui:

  1. hukum tertulis yang berlaku di suatu tempat: misalnya melanggar peraturan lalu lintas.
  2. norma-norma masyarakat di mana kita bersosialisasi, misalnya melanggar aturan adat setempat.
  3. prinsip-prinsip yang kita buat sendiri, misalnya kita melanggar komitmen pribadi untuk bersaat teduh setiap pagi.

Setiap orang akan memiliki rasa bersalah yang berbeda karena setiap orang akan memiliki latar belakang, pengalaman, pengajaran dan prinsip yang berbeda-beda. Namun umumnya yang menjadi sumber rasa bersalah adalah:

  1. Pengasuhan, terutama yang didapatkan dari keluarga inti
  2. Pengajaran, baik dari orang tua maupun sekolah dll.
  3. Budaya, baik keluarga maupun sosial
  4. Media
  5. Agama

Mengukur Standar Rasa Bersalah

Karenanya sangat penting bagi kita untuk meneliti dari mana rasa bersalah yang kita miliki berasal. Ada dua indikator untuk mengukur standar yang kita miliki:

  • Siapa yang membuat aturan tersebut
  • Aturan seperti apa yang mengatur kita, serta relevansinya bagi hidup kita
  • Semakin tinggi status/kedudukan pembuat aturan di hadapan kita, semakin berotoritas dan mengikat aturan tersebut bagi kita.

Masalah dengan rasa bersalah

Kita mengenal dua jenis rasa bersalah:

  • Rasa bersalah yang sejati, ketika kita melanggar aturan yang dibuat oleh Pembuat aturan yang berotoritas dan relevan dengan hidup kita
  • Rasa bersalah yang palsu, ketika sebenarnya kita tidak melanggar prinsip-prinsip yang benar, dan hanya perasaan kita saja yang menanggung rasa bersalah tersebut

Sebagai orang percaya, ada dua ekstrim yang harus dihindari:

  • Tidak merasa bersalah walaupun ada prinsip-prinsip benar yang kita langgar yang belum kita bereskan
  • Merasa bersalah untuk hal-hal yang sudah kita bereskan, atau merasa bersalah walaupun tidak ada prinsip yang benar yang kita langgar

Beberapa cara orang ketika sedang mengalami rasa bersalah:

  • Sikap mempertahankan diri agar tidak merasa bersalah
  • Mengeraskan hati – mengakui adanya masalah, namun bertekad untuk menguatkan hatinya
  • Mengabaikan – mengakui adanya masalah, namun mengecilkan arti atau dampaknya
  • Melupakan – berpura-pura tidak ada masalah
  • Menyalahkan – mencari kambing hitam (orang lain) sebagai orang yang bersalah
  • Membenarkan diri – dengan segala cara menutupi kesalahan sendiri

Jenis-jenis orang yang rentan terhadap rasa bersalah yang palsu:

  • Perfeksionis – memiliki aturan-aturan yang tidak realistis
  • Minder – merasa tidak percaya diri, dan mudah terintimidasi oleh perasaan bersalah
  • Legalistik – memiliki aturan yang kaku, dan berusaha taat tanpa memahami spirit of the law

Apa yang perlu kita lakukan supaya hidup kita tidak dipenuhi rasa bersalah yang palsu?

  • Memeriksa standar-standar kita – hidup mendasarkan pada aturan Tuhan sebagai dasar segala aturan, dan memeriksa standar yang lain berdasarkan Firman Tuhan.
  • Meminta ampun untuk segala dosa dan kesalahan kita, dan menerima pengampunan dari Tuhan. Kadang-kadang dibutuhkan orang lain untuk mendengar pengampunan tersebut dan mendoakan kita.
  • Memeriksa pengaruh masa lalu yang masih membebani kita, mungkin ada pengaruh dari pengasuhan, pengajaran, budaya dan media yang membuat kita memiliki standar dan rasa bersalah yang subyektif. Mungkin kita harus mengampuni orang-orang tertentu yang telah melukai kita dan menaruh tuntutan-tuntutan yang tidak realistis.
  • Memeriksa identitas diri, apakah kita sudah menerima diri kita sebagaimana Allah telah menerima kita, dengan segala kegagalan dan ketidakmampuan kita
  • Membuat batas-batas yang jelas, sehingga orang tidak boleh menanamkan rasa bersalah yang palsu dalam hidup kita
  • Melawan intimidasi si jahat yang berusaha untuk menanamkan kembali rasa bersalah yang palsu dalam hidup kita

Semua hal di atas perlu kita lakukan dalam hidup kita. Namun yang terutama dan pertama-tama yang perlu kita lakukan adalah hidup dalam Kasih Karunia Allah.

Kasih Karunia membebaskan kita dari rasa bersalah

Banyak orang, bahkan orang percaya sekali pun yang masih hidup dalam rasa bersalah yang palsu. Mereka merasa bersalah karena merasa tidak memenuhi standar-standar tertentu yang dtetapkan oleh dunia maupun oleh diri sendiri. Atau mereka memang telah melanggar kebenaran Tuhan, dan telah bertobat dan meminta pengampunan-Nya namun tetap tinggal dalam rasa bersalah yang menghancurkan. Mereka enggan untuk melakukan hal-hal benar karena selalu ada intimidasi. Mereka hidup dengan berbeban berat.

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.  2 Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. (Rom 8:1-2 ITB)

9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1Jo 1:9 ITB)

Di dalam Kristus, status bersalah itu telah dihapus selamanya ketika kita mengaku dosa dan percaya kepada-Nya, dans eharusnya kita pun terbebas dari semua jenis rasa bersalah. Ketika kemudian kita melakukan kesalahan ang lain, kita akan merasa bersalah lagi, yang baru, yang perlu kita bereskan dengan Tuhan kembali. Setelah itu pun ktia terbebeas baik dari status dan juga rasa bersalah yang membebani.

Seeperti inilah siklus yang baik dari kehidupan orang percaya:

  • Dalam kasih Karunia, Allah telah berinisiatif  untuk membereskan dosa dan konsekuensinya agar dapat berhubungan lagi dengan manusia.
  • Pengorbanan Kristus telah menghancurkan kuasa dosa dan konsekuensinya
  • Kita mengalami pengampunan dosa lewat iman kepada Yesus
  • Allah membereskan hati nurani kita dan membebaskannya dari rasa bersalah, baik yang sejati maupun yang palsu.
  • Allah menyediakan rasa damai, sukacita dan kelegaan.

Ketika kita hidup dalam kasih karunia, maka kita memiliki keyakinan, bahwa:

  • kita sudah ditebus oleh darah Kristus, dan itu terjadi bukan karena kebaikan atau usaha kita , namun karena kasih Kristus yang sudah melayakkan kita.
  • bahwa kita mungkin gagal dan bersalah, namun selalu ada pengampunan bagi kita, karena Allah tahu kelemahan dan kegagalan kita
  • bahwa kasih Allah jauh lebih besar dari segala dosa, kelemahan dan kegagalan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s