Rasa Malu dan Kesembuhan Kasih Karunia

 Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapapun.  Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.”  Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.”  Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh.  (Lukas 8:43-47)

Rasa malu adalah perasaan tidak nyaman yang dirasakan tentang diri sendiri, tentang keberadaan diri sendiri. Sering rasa malu dirasakan bersama-sama dengan rasa bersalah. Perbedaannya adalah, dalam rasa bersalah, kita merasa melanggar sebuah standar tertentu dan sering berhubungan dengan tingkah laku – yaitu ketika kita tidak melakukan suatu hal yang sesuai standar, atau melakukan sesuatu yang melanggar aturan.

Ketika seseorang merasa malu, yang dialami adalah rasa tidak nyaman dengan keberadaan diri sendiri. Kita malu tentang siapa kita. Kita merasa tidak berharga atau tidak layak sebagai seorang pribadi. Kita merasa nilai kita sebagai manusia sedang mengalami gangguan. Rasa malu, mirip seperti rasa bersalah, menjadi sebuah beban yang menekan.

Ada beberapa situasi dimana seseorang (pemalu maupun tidak) akan mengalami rasa malu yang wajar dan lebih dapat diterima, yaitu:

  • bertemu dengan orang yang baru dikenal;
  • tampil di depan orang banyak;
  • situasi baru (misalnya sekolah baru, pindah rumah baru)

Hal ini adalah rasa malu secara sosial yang umum dirasakan oleh seseorang. Kita perlu membedakan antara malu (embarrased), yang sering kita alami, dan seringnya merupakan hal yang wajar saja, dengan rasa memalukan (shame), yang lebih merujuk pada perasaan diri yang negatif. Penekanan kali ini adalah pada rasa malu yang mendalam yang dibawa seseorang di dalam dirinya.

Mengapa seseorang bisa memiliki rasa malu?

Rasa malu pertama dirasakan Adam dan Hawa ketika mereka berdosa, saat itulah mereka tahu bahwa mereka telanjang, dan kemudian mereka merasa malu. Ada beberapa hal yang membuat manusia merasa malu.

  1. Faktor Perbedaan – perbedaan membawa ketidaknyamanan, bahkan ancaman buat orang-orang tertentu.
  2. Faktor Pengalaman negatif – misalnya kegagalan, kekecewaan, namun terutama pelecehan, yang adalah bentuk kekerasan terhadap nilai dan keberhargaan seseorang.
  3. Faktor Pengasuhan
  • Faktor Keturunan
  • Faktor Budaya
  • Faktor Agama

Rasa malu yang sehat

Rasa malu yang sehat akan membuat hidup kita menjadi lebih utuh, karena menolong kita dengan cara:

  • menjadi tanda adanya sesuatu yang membutuhkan perhatian kita
  • melindungi kita dari kepura-puraan dan kesalahan yang tersembunyi
  • memberi kesempatan untuk melihat diri apa adanya

Rasa malu yang tidak sehat

Rasa malu yang tidak sehat adalah suara peringatan yang keluar dari identitas diri yang tidak sehat, yang akan menekan kita karena:

  • memperbesar kekurangan-kekurangan kita – membuat kita tidak bisa melihat nilai-nilai positif dari diri sendiri, dan cenderung terfokus pada kekurangan diri
  • memberi perasaan tertekan yang relatif permanen – perasaan ini bersama kita terus untuk waktu yang cukup lama
  • menjadi identitas diri seseorang
  • berasal dari tekanan atau standar orang lain yang diterapkan kepada kita, yang kemudian sering kita pindahkan kepada orang lain lagi
  • membuat kita merasa perlu menutupinya

Ada hubungan yang sangat dekat antara rasa tidak percaya diri, rasa malu, rasa bersalah dan rasa takut, yang membuatnya menjadi satu kombinasi yang sulit dipisahkan. Dalam hal ini kita melihat perasaan rendah diri sebagai manifestasi gabungan dari rasa malu, rasa bersalah dan rasa takut (tidak aman).

Kasih Karunia membebaskan dari rasa malu

Dalam cerita di atas, kita bisa merasakan rasa malu yang dialami oleh perempuan yang dua belas tahun sakit pendarahan. Sakitnya adalah penyakit yang dianggap orang kotor, bahkan kehadiran penyakit ini akan membuat orang disekeliingnya menjadi najis untuk hadir dalam upacara keagamaan. Belum lagi kenyataan bahwa sudah bertahun-tahun ia mencari kesembuhan dan belum mendapatkannya.Tidak heran jika wanita ini merasa malu untuk menyatakan kebutuhannya di hadapan orang banyak.

Ketika seseorang merasa malu, reaksi pertama adalah cenderung untuk menutupinya. Sesuatu yang memalukan perlu disamarkan. Itu juga yang dilakukan Adam dan Hawa ketika mereka menyadari bahwa mereka telanjang – mereka perlu menutupi hal-hal yang dianggap memalukan tersebut.

Banyak orang, bahkan orang percaya sekali pun yang masih hidup dalam rasa malu yang kuat. Mungkin mereka pernah melakukan kesalahan. Dan walaupun sudah meminta ampun, mereka masih merasa sebagai warga kelas dua. Ada orang yang mengalami pelecehan – dan hal itu membuat mereka memandang diri mereka sebagai barang yang sudah rusak, atau tidak berharga lagi. Orang lain merasa tidak memenuhi standar tertentu atau berbeda dari kebanyakan orang lain, sehingga mereka merasa malu dengan dirinya. Ada yang malu dengan fisiknya sendiri yang mungkin tidak sempurna, atau merasa tidak sebagus orang lain. Ada yang malu dengan status sosial atau bahkan suku/daerah dari mana berasal. Ada yang malu karena merasa tidak memiliki sesuatu yang bisa ditonjolkan, baik secara sosial, bahkan juga dalam pelayanan. Mereka hidup dengan berbeban berat. Dan orang akan berusaha untuk menyamarkan, bahkan menutupinya.

Bukan saja menutupi, namun juga berusaha menggantinya – melakukan kompensasi. Dan yang paling sering orang lakukan adalah dengan usaha atau prestasinya. Rasa malu yang menekan seseorang justru bisa menjadi pemicu besar baginya untuk melakukan sesuatu yang baginya menjadi obat atau pengalih dari rasa malu tersebut. Namun bahkan ketika apa yang mereka lakukan itu berhasil, keberhasilan itu tidak otomatis membuat rasa malu hilang.

Dalam cerita di atas, wanita yang penuh rasa malu ingin mengatasinya dengan menyentuh Yesus, tentu secara diam-diam. Namun justru Yesus membongkar apa yang ia tutupi, bukan untuk mempermalukannya lebih, namun justru untuk menyembuhkannya secara penuh.

Mazmur 22:5,6, “Kepada-Mu nenek moyang kami percaya, mereka percaya dan Engkau meluputkan mereka. kepada-Mu mereka berseru-seru dan mereka terluput, kepada-Mu mereka percaya dan mereka tidak mendapat malu.”

Romans 10:9-11   9 Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.  10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.  11 Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”

Kita mengalami kesembuhan dari rasa malu bukan dengan topeng ataupun kompensasi usaha dan prestasi kita. Kita mengalami kesembuhan ketika datang kepada Yesus, dan dalam kash karunia-Nya, mengijinkan Yesus melakukan apa yang Ia anggap baik bagi kita. DI situlah letak kesembuhan sejati bagi orang percaya.

Inilah siklus yang ideal dari kehidupan orang percaya.

  1. Dalam Kasih Karunia, Allah berinisiatif untuk membereskan dosa dan konsekuensinya. Ia mau membereskan rasa malu yang sudah menempel erat dengan manusia berdosa.
  2. Yesus menanggung rasa malu yang tidak layak Ia alami agar kita tidak perlu lagi menanggung rasa malu, baik yang sudah selayaknya maupun yang bukan.
  3. Allah membebaskan hati nurani kita dan membebaskan dari rasa malu, baik yang sejati maupun yang palsu.
  4. Allah menyediakan rasa damai, sukacita dan kelegaan.

Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka juga mengalami dan hidup dalam rasa malu. Namun Allah juga yang memberi mereka perlindungan dari rasa malu itu. Allah membuat pakaian bagi mereka, yang berasal dari hewan, sehingga mereka tidak lagi perlu hidup dengan rasa malu karena ketelanjangan mereka. Allah lah yang memulihkan rasa malu, Allah melimpahi dengan kasih karunia. Perasaan memalukan adalah sebuah emosi yang terasa gelap dan berat, menekan kita – namun kasih karunia Allah seperti cahaya yang terang benderang. Malu sering menghancurkan dan merusak, kasih karunia Allah memulihan dan menyembuhkan. Rasa malu mempengaruhi dan mengubah kita semua, namun kaish karunia juga tersedia dengan cuma-cuma bagi kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s