Luka Hati dan Dampaknya: Menjadi Wounded Helper, bukan Wounded Healer

Wounded Healer – Penyembuh yang Terluka. Istilah ini banyak disandingkan pada Henri Nouwen, Filsuf, pastur dan pemerhati sesama. Tahun ’79 ia menulis buku The Wounded Healer: Ministry in Contemporary Society, yang menekankan bahwa “..dalam keterlukaan, kita bisa menjadi sumber kehidupan bagi orang lain”. Dalam bukunya ini Nouwen menceritakan sebuah kisah seorang rabi Yahudi yang berbincang dengan nabi Elia:

“Tolong katakan – kapankah Mesias akan datang?”

“Pergi dan tanya sendiri pada-Nya,” jawab Elia

“Ada di mana Dia?” tanya sang rabi

“Dia sedang duduk di pintu gerbang kota,” sahut Elia

“Bagaimana saya tahu yang manakah Mesias”

Maka Nabi menjawab, “Dia sedang duduk diantara orang-orang sengsara, dipenuhi dengan luka-luka. Orang yang lain membuka semua luka yang ada di tubuh mereka pada saat yang sama, dan kemudian menutupnya lagi. Tapi Dia hanya membuka satu luka saja dan menutupnya lagi, sambil berkata pada dirinya sendiri, ‘Mungkin Aku akan dibutuhkan; jika begitu, Aku harus siap sedia supaya tidak menunda waktu'”

Menurut Henri Nouwen, “Yang menarik hati saya dalam kisah ini ada dua: Pertama, orang percaya yang memulihkan luka-lukanya, dan kedua, kemauan untuk menolong orang lain dan mempersiapkan buah hasil keterlukaan kita tersedia bagi orang lain”.

Namun sebenarnya istilah ini telah digunakan oleh Carl Jung, yang mengatakan, “.. lewat lukanya sendiri, [dokter] memiliki sejumlah kuasa untuk menyembuhkan.” Jung mengacu pada mitologi Yunani tentang Chiron, seorang centaur, yaitu manusia setengah kuda yang adalah seorang penyembuh fenomenal. Namun saat terluka, ia tidak dapat menyembuhkan luka-lukanya sendiri. Carl Jung memberikan gambaran bahwa saat menolong, seorang penyembuh bisa mengalami kesembuhan dari interaksinya dengan orang yang ditolong, dan pada gilirannya memiliki kemampuan untuk menolong orang tesebut.

Saya sendiri cenderung menggunakan istilah Wounded Helper – Penolong yang Terluka. Pembacaan Firman, praktek pelayanan dan juga pengalaman pribadi menguatkan keyakinan bahwa peran saya yang sebenarnya ‘hanyalah’ sebagai penolong. Dan tugas utama penolong sebenarnya hanya membawa orang ke hadapan Tabib Yang Agung. Sama seperti orang-orang yang mengusung orang lumpuh sampai menjebol atap agar orang lumpuh ini dapat bertemu Yesus, demikian juga tugas saya adalah mengusung orang ke hadapan Yesus. Mencari cara yang kreatif untuk membawa orang pada Yesus, dan bukan memikirkan bagaimana cara menyembuhkan, atau menormalkan, atau mengubah orang lain. Dan melakukannya walaupun kita sendiri memiliki kelemahan dan keterlukaan kita sendiri. Dengan keyakinan, bahwa ada waktu di mana kita sendiri yang  diusung oleh teman-teman kita ke hadapan Yesus. Dan ketika kita semua ada di hadapan-Nya, ijinkan Yesus juga untuk menyembuhkan kita pada waktu dan dengan cara-Nya.

Apapun jabatan kita, siapapun kita, dan kondisi saat ini, kita mendapat panggilan untuk menjadi penolong dan pengusung bagi orang-orang di sekitar kita. Apakah sebagai orang tua, pemimpin, pengusaha, penginjil, pemberita Firman, pengkotbah ataupun gembala – tugas utama kita adalah menolong orang di sekitar kita untuk bertemu Tuhan, sehingga kita semakin mengenal dan menikmati Dia. Kita juga mengijinkan orang lain untuk menolong dan membawa kita kepada Yesus. Dengan cara inilah komunitas akan menjadi healing community – komunitas di mana kesembuhan terjadi, dalam waktu dan cara Tuhan sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s