50 Keterampilan komunikasi dan pertolongan dalam konseling #5

Seorang konselor membutuhkan alat dan keterampilan yang dapat mendukung tugasnya menolong konseli mengalami kebebasan dan pencerahan. Untuk itu kita bisa belajar beberapa teknik komunikasi dan pertolongan. Penggunaannya tentu tergantung konteks dan situasi yang ada. Tidak semua keterampilan ini bisa digunakan dalam semua situasi pertolongan (konseling). Tidak semua tehnik ini juga disukai atau digunakan oleh aliran psikologi atau pertolongan tertentu.

  1. terapi eksperiental  – teknik ini merupakan suatu sistem dimana terapis memasuki dunia emosi yang tertekan dari klien, lewat fantasi, drama, bermain peran dll., bahkan bisa ikut berkhayal bersama-sama konseli. Pengalaman emosi yang diperoleh dimaksudkan untuk memunculkan kembali emosi yang tertekan dan mendidik kembali (re-edukasi) klien pada taraf kejiwaan yang terdalam. 
  2. terapi gestalt – teknik ini berfokus pada kesulitan klien dalam membentuk “gestalt-gestalt” yang terorganisasi dan bermakna dari aneka pengalaman hidupnya, sehingga membuatnya dirundung masalah-masalah yang seperti tak terpecahkan. Lewat pertemuan antara terapis dank lien, biasanya diselenggarakan dalam situasi kelompok, terapi ditujukan untuk memulihkan integritas individu dalam berpikir, merasa dan bertindak yang sempat buyar, sehingga ia bisa kembali menjalin kontak yang sehat dengan realitas dan kepribadiannya pun dapat berkembang
  3. hipnoterapi – teknik ini memanfaatkan hypnosis untuk menjadikan klien lebih mudah disugesti serta menyingkirkan aneka represi, menghilangkan simtpm-simptom neurotik yan terus berkembang selama terapi, atau mempengaruhi klien agar mengembangkan sikap-sikap hidup yang lebih konstruktif. Tidak semua aliran psikologi dan konseling menyetujui terapi ini. 
  4. psikodrama – teknik ini merupakan sejenis drama improvisasi, memainkan aneka peran dan peristiwa dramatic tertentu menyerupai situasi-situasi yang menimbulkan masalah dalam kehidupan klien sehari-hari. Tujuannya adalah memberikan pemahaman teoretis dan pengalaman emosional yang bersifat korektif kepada klien. permainan peran ini sering dilaksanakan di hadapan penonton
  5. analisis transaksional – analisis transaksional mempostulasikan bahwa semua jenis komunikasi antar pribadi bersumber dari ego states tertentu yang disebut parent, adult, and child. Tugas terapis adalah mencoba menemukan ego state yang melatarbelakangi setiap komunikasi klien dengan maksud mengungkap rencana hidup yang secara tidak sadar telah dipilih oleh klien, dan bila perlu, menggantikannya dengan sebuah rencana hidup baru yang lebih realistik dan lebih konstruktif
  6. terapi yang berpusat pada klien – teknik ini menekankan premis dasar bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk memecahkan sendiri masalah-masalahnya, bahwa ia wajib menentukan sendiri arah rehabilitasinya dan bahwa ia harus menjadi pusat wawancara terapeutik. Tugas terapis adalah menolong klien menjernihkan perasaan-perasaannya tentang dirinya sendiri dalam relasinya dengan orang lain agar ia lebih menerima dan memahami dirinya. Yang dijadikan focus dalam terapi ini adalah aneka sikap dan perasaan klien yang disadrinya,  bukan konflik-konflik tak sadar serta aneka pengalaman yang direpresikannya. Maka, klien bebas mendiskusikan masalah-masalah dan konflik-konflik yang dirasakannya paling mengganggu
  7. psikoanalisis – psikoanalisis memandang konflik sebagai kodrat manusia. Fungsi kejiwaan manusia dipandang sebagai cerminan dari daya-daya yang saling bertentangan. Sebagian  dari daya-daya ini disadari, sedangkan lainnya, dan mungkin justru yang utama, tidak disadari. Konflik merupakan dimensi kondisi manusia yang tidak dapat ditawar-tawar. Konflik mencerminkan kontradiksi yang bersifat inheren dalam kodrat ganda manusia sebagai makhluk biologis dan sosial. 
    1. Simtom-simton neurotik dipandang sebagai akibat dari ketegangan emosi yang tak tersalur bersumber dari ingatan yang direpresikan tentang masa kanak-kanak yang penuh trauma. Klien ditolong mengatasi konflik-konfliknya dengan menggunakan analisis mimpi, teknik-teknik rekoleksi, asosiasi bebas dan transferensi
    2. Psikoanalisis bisa efektif diterapkan pada klien yang memiliki ego yang cukup sehat, punya motivasi kuat untuk berubah, dan mampu  menghadapi dirinya sendiri secara jujur. Bagi jenis-jenis klien yang sesuai ataua memenuhi syarat, psikoanalisis dapat menolong individu mencapai pemecahan terbaik dalam rangka mengatasi aneka konflik batinnya
  8. terapi rasional-emotif – terapi ini mengandaikan bahwa bila terjadi suatu reaksi yang sangat emosional mengikuti suatu peristiwa tertentu dan reaksi tersebut tidak sebanding dengan peristiwanya, maka sumbernya dapat dilacak pada keyakinan-keyakinan sang pribadi yang sifatnya irasional. Bila keyakinan-keyakinan ini berhasil ditumbangkan secara efektif dengan argumentasi-argumentasi yang rasional, maka reaksi-reaksi bermasalah yang merupakan akibat tersebut akan menghilang, bahkan akhirnya akan lenyap sama sekali. Gangguan emosi akan terjadi apabila orang menuntut, ngotot, dan bersikeras memuaskan hasrat-hasratnya. Dalam terapi ini para klien ditolong mengendorkan pandangan atau keyakinannya yang bersifat mendikte, dogmatik, dan mutlak-mutlakan itu dengan tiga cara:
    1. Terapi kognitif, tujuannya untuk menunjukkan kepada klien bahwa mereka harus membuang sikap perfeksionis mereka bila ingin hidup lebih bahagia dan bebas dari rasa cemas
    2. Terapi emotif-evokatif, dimaksudkan untuk menolong klien mengubah nilai-nilai hidupnya, dengan cara mendramatisasikan aneka kebenaran dan kepalsuan agar klien dapat membedakan keduanya secara jernih-jelas. Untuk itu terapis bisa menggunakan berbagai teknik, seperti bermain peran, modeling, sikap menerima tanpa syarat, ekshortasi atau direksi. 
    3. Terapi perilaku. Terapi ini dipakai tidak hanya untuk menolong klien mengubah simtom-simtomnya dan membiasakan diri dengan bentuk-bentuk perilaku yang lebih efektif, namun juga untuk mengubah kognisi atau pengertian-pengertian mereka 
  9. terapi keluarga – sebagaimaan tersirat dalam namanya, fokus dari terapi ini bukan pada seorang individu atau seorang klien tertentu, melainkan pada satu keluarga secara keseluruhan. Konsep dasarnya ialah bahwa lebih logis, lebih cepat, lebih memuaskan dan lebih ekonomis menangani seluruh anggota dari seluruh sistem relasi-dalam hal ini keluarga batih primer-ketimbang menangani satu orang yang dipandang membutuhkan pertolongan. Terapis keluarga bertugas mengubah relasi-relasi diantara para anggota keluarga yang bermasalah, sehingga bentuk-bentuk perilaku yang simtomatik dapat dihilangkan. Untuk itu, para terapis keluarga telah mengembangkan aneka strategi dan teknik, berdasarkan sejumlah teori yang sedikit berlainan, dengan tujuan akhir meluruskan kembali relasi-relasi di dalam keluarga agar semua individu di dalamnya dapat meningkatkan mutu penyesuaiannya, termasuk si klien. beberapa diantara tekik-teknik yang dipakai dalam terapi keluarga adalah:
    1. Peragaan kembali (reenactment). Bila suatu masalah dapat diperagakan kembali dalam sesi terapi, hal ini seringkali ditempuh. Dengan begitu terapis dapat menyaksikan sendiri apa yang sesungguhnya terjadi, tidak perlu menggantungkan diri pada laporan-laporan yang diperoleh dari bernagai pihak. Teknik ini sangat efektif sebab banyak keluhan bersumber pada ketidakmampuan orang untuk saling berbicara. Masalah-masalah komunikasi bisa menjadi bahan utama sesi-sesi terapi.
    2. Tugas rumah (homework), yakni bentuk-bentuk tindakan yang harus dilakukan oleh para anggota keluarga di antara sesi-sesi terapi. Manfaat dari teknik ini adalah menjadikan sesi-sesi terapi tempat menemukan pemecahan masalah, bukan sekedar tempat untuk saling mengeluh dan mencaci. Selain itu, teknik ini juga akan membuat para anggota keluarga sadar dan paham bahwa bila mereka mau mengubah cara mereka bertingkah laku, maka mereka pun akan dapat mengubah cara merasa dan cara berpikir mereka 
    3. Membedah keluarga (family sculpting), yakni proses menyelidiki dimensi-dimensi kedekatan dan kekuasaan di dalak keluarga dengan menggunakan cara-cara nonverbal. Dari sini perasaan para anggota tentang aneka struktur keluarga akan terungkap.
    4. Teknik-teknik modifikasi perilaku. Kadang-kadang terapis keluarga menggunakan teknik-teknik perkuatan dan teknik-teknik desensitisasi untuk memecahkan masalah-masalah keluarga
    5. Terapi keluarga-ganda(multiple-family therapy). Yang dimaksud disini adalah melayani beberapa keluarga yang bermasalah sekaligus. Teknik ini memungkinkan para anggota keluarga tahu sekilas tentang keluarga-keluarga lain, melihat bahwa masalah-masalah yang serupa juga dialami oleh keluarga-keluarga lain, serta berbagi perasaan dengan para anggota keluarga lain. Selain itu, dengan memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengambil bagian dengan peran sebagai kuasi-terapis, teknik ini juga berdampak mengurangi autoritas sang terapis, yang kadang-kadang justru menguntungkan bagi proses terapinya sendiri. Teknik ini memungkinkan para anggota keluarga saling memberi pengertian baru dan saling belajar
  10. Genogram, adalah diagram struktural tentang sistem relasi di sebuah keluarga meliputi tiga generasi. Ada yang berpendapat bahwa batas-batas di dalam keluarga, di antara keluarga dan dunia luar, serta siapa saja yang menjadi anggota dalam keluarga merupakan masalah-masalah yang saling terkait dan paling cocok diungkap dengan teknik ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s