50 Keterampilan komunikasi dan pertolongan dalam konseling #4

Seorang konselor membutuhkan alat dan keterampilan yang dapat mendukung tugasnya menolong konseli mengalami kebebasan dan pencerahan. Untuk itu kita bisa belajar beberapa teknik komunikasi dan pertolongan. Penggunaannya tentu tergantung konteks dan situasi yang ada. Tidak semua keterampilan ini bisa digunakan dalam semua situasi pertolongan (konseling). Tidak semua tehnik ini juga disukai atau digunakan oleh aliran psikologi atau pertolongan.

  1. relasi transferensi – konseli akan mentransferkan kepada konselor banyak sikap, reaksi emosional dan konflik-konflik yang pernah dialaminya di masa lalu. Transferensi tersebut bisa mencakup perasaan-perasaan positif maupun negatif, rasa cinta dan ketergantungan, kebencian dan sikap berontak yang pernah dirasakan oleh konseli terhadap tokoh-tokoh signifikan tertentu. Konselor diharapkan memainkan peran pengganti, kecuali bahwa ia dituntut menanggapi konseli dengan sikap yang lebih memahami, menerima, dan objektif dibandingkan para tokoh signifikan dulu. Dengan begitu konselor menolong mengatasi aneka konflik dan kecemasan di masa kanak-kanak yang punya kontribusi terhadap gangguan emosi yang dialami oleh konseli kini. Tidak semua aliran psikologi menyetujui terapi seperti ini. 
  2. fantasi yang terbimbing (guided imagery) – fantasi yang terbimbing yakni sejenis aktivitas yang berpusat pada konseli, bertujuan menolong konseli menggunakan khayalan untuk meningkatkan pemahaman diri dan penyaluran emosinya. Untuk itu perlu diciptakan situasi tertentu dalam relasi konseling serta digariskan ciri-ciri tertentu yang harus dimiliki oleh konseli. Teknik ini bisa menolong konseli memahami pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. Biasanya digunakan ketika konseli memiliki penghalang yang sangat kuat secara emosi. Tidak semua penolong menyetujui ataupun menggunakan terapi seperti ini. 
  3. merefleksikan perasaan – merefleksikan perasaan yakni menanggapi segi perasaan dalam pernyataan konseli, dan bukan segi intelek atau pikirannya. Konselor menolong konseli untuk menyelidiki perasaan-perasaannya dan secara bertahap membuang sikap defensif atau eskapisnya dalam menjalin relasi dengan orang lain. Diharapkan, cara ini bisa menolong konseli meningkatkan pemahaman dan kepercayaan dirinya, sehingga ia mampu bertingkah laku secara lebih masak, lebih konstruktif dan lebih memuaskan 
  4. teknik konseling operant – teknik ini berfokus pada perubahan tingkah laku instrumental klien. Terapis menggunakan penguatan selektif, megnatur jadwal penguatan, atau menggunakan metode aproksimasi seksesif untuk membentuk perilaku. Ia harus menemukan penguatan yang membentuk perilaku tersebut sehingga jenis-jenis penguatan tersebut bisa segera dicegah bila kebiasaan tertentu mulai terbentuk. 
  5. penggunaan alat-alat audio visual – aneka jenis peralatan audio-visual seperti tape recorder, televise, kamera video, film, dsb bisa amat bermanfaat dalam situasi-situasi tertentu, seperi konseling terhadap keluarga-keluarga atau kelompok-kelompok yang mengalami masalah dalam interaksi mereka. Keluarga atau jenis kelompok lain dapay ditolong untuk melihat bagaimana mereka itu berinteraksi dan menjadi paham tentang aneka pola interaksi. Para konselor di pusat-pusat bimbingan untuk anak-anak juga dapat mendemonstrasikan kepada para orangtua yang memerlukan aneka cara membangung relasi dengan anak, tanpa menggunakan banyak kata-kata.
  6. teknik-teknik desensitisasi – atau terapi untuk mengurangi, meminimalkan bahkan menghilangkan sikap dan tingkah laku tertentu yang tidak disukai atau destruktif, misalnya ketakutan atau kemarahan dengan jalan membuat orang memiliki kepekaan yang berkurang tentang pemicu hal tersebut
    1. Ekstingsi yakni menghilangkan bentuk tingkah laku tertentu yang tak diinginkan dengan cara berhenti memberikan perkuatan pada tingkah laku yang bersangkutan
    2. Kondisioning aversif, yakni mengaitkan bentuk tingkah laku tertentu dengan hukuman atau akibat-akibat tertentu yang tidak menyenangkan
    3. Modeling, yakni memberikan contoh-contoh perilaku yang sesuai atau semestinya, yang akan meningkatkan kebahagiaan klien 
    4. Desensitisasi sistematik. Teknik ini lazim dipakai untuk mengatasi kecemasan terhadap objek-objek atau situasi-situasi khusus tertentu. Caraya, kepada subjek yang terlebih dulu dibuat merasa sangat rileks disajikan serangkaian stimuli yang menimbulkan rasa cemas secara berurutan, dimulai dari yang laing lemah sampai yang paling mencemaskan, artinya sampai subjek tidak merasa cemas lagi. Stimuli tersebut dapat dihadirkan secara fisik, diproyeksikan dalam bentuk slides atau film, atau sekedar dibayangkan
    5. Terapi diskriminatif. Perilaku klien dicoba dikendalikan dengan stimulus sehingga perilaku yang tidak diinginkan dapat dihentikan dan digantikan oleh bentuk-bentuk perilaku yang lebih sesuai
    6. “token economy”. Bentuk-bentuk perilaku yang dipandang lebih sesuai atau bermanfaat dibandingkan dengan yang kini dilakukan, dikenai perkuatan dengan diberi ‘token’ atau ditandai tertentu (misalnya kepingan-kepingan) plastic untuk bermain poker) yang dapat ditukar dengan benda-benda kongkrit atau hak-hak istimewa tertentu sebagai hadiah. Misalnya, perilaku sasarannya adalah menyelesaikan pekerjaan rumah sedangkan tokennya adapt ditukar dengan menonton film, perpanjangan waktu istirahat atau uang jajan.
    7. “flooding”. Stimuli yang menimbulkan rasa takut disajikan secara nyata atau hanya dalam angan-angan serta ditambah dengan stimuli baru yang diciptakan oleh terapis, sampai klien melaporkan bahwa rasa takutnya berkurang. Teknik ini menuntut bahwa terapis memiliki pengetahuan sebanyak mungkin tentang situasi-situasi yang menimbulkan kecemasan yang tidak semsetinya itu.
    8. Terapi implosif. Teknik ini hamper sama dengan flooding, bedanya terapi implosive memanfaatkan tema-tema psikodinamis seperti kompleks Oedipus, yang sesungguhnya telah terbukti kurang perlu
  7. teknik introspeksi – teknik introspeksi yakni analisis dan pengungkapan pengalaman sadar seseorang secara objektif selama jangka waktu tertentu sesudah mendapatkan stimulasi dengan objek atau kejadian tertentu. Klien diberi waktu secukupnya untuk memberikan laporan verbalnya yang objektif tentang apa yang menurut persepsinya tengah berlangsung di dalam pikirannya. Laporan verbal ini selanjutnya dapat dianalisis dan dikategorikan.
  8. biblioterapi  – yakni penyembuhan lewat buku-buku. Biblioterapi merupakan proses interaksi dinamis antara konseli dan isi bacaan, suatu interaksi yang dapat dimanfaatkan untuk menolong penyesuaian dan perkembangan kepribadian
  9. terapi kelompok – terapi kelompok merupakan suatu teknik yang bertujuan membebaskan konseli dari simtom-simtomnya dengan cara meningkatkan kesadarannya serta menolongnya mengatasi pola-pola hidup yang merugikan, seperti sikap melawan autoritas. Teknik ini juga bertujuan menolong menyeimbangkan intelek dan perasaan konseli sehingga ia mampu mengungkapkan diri secara lebih tuntas-terbuka, menolong konseli meningkatkan kemampuannya dalam menjalin relasi dengan orang lain, menjadikannya sekebal mungkin terhadap aneka penyakit lain. Pendek kata, menolong konseli berkembang menjadi pribadi yang dicita-citakannya 
  10. terapi eksistensial – teknik ini didasarkan pada keyakinan filosofis eksistensialis bahwa masing-masing individu harus memilih sendiri nilai-nilai hidupnya dan menentukan sendiri makna hidupnya. Tugas terapis adalah berusaha menciptakan relasi yang spontan-autentik dengan klien dengan maksud untuk menolongnya menemukan kemauannya dan membuat pilihan-pilihan hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s