50 Keterampilan komunikasi dan pertolongan dalam konseling #3

Seorang konselor membutuhkan alat dan keterampilan yang dapat mendukung tugasnya menolong konseli mengalami kebebasan dan pencerahan. Untuk itu kita bisa belajar beberapa teknik komunikasi dan pertolongan. Penggunaannya tentu tergantung konteks dan situasi yang ada. Tidak semua keterampilan ini bisa digunakan dalam semua situasi pertolongan (konseling).

  1. Meningkatkan keterampilan asertif – teknik ini bertujuan menolong konseli mempertahankan hak-haknya yang sah dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak melanggar hak-hak orang lain. Di sini, konseli belajar menyatakan keinginannya secara jelas dan tegas, sekaligus menunjukkan empati terhadap lawan bicaranya, sambil membatasi diri sendiri dan orang lain untuk tidak saling melanggar batas.
  2. Manajemen potensi masalah – yakni suatu teknik dalam terapi perilaku dimana terapis dan klien mengelola sasaran, yaitu menentukan bentuk perilaku lama dan bermasalah yang harus dihilangkan dan bentuk perilaku baru yang harus dimunculkan. Di sini konseli dihadapkan pada beberapa pilihan sikap destruktif yang mungkin akan dimunculkannya ketika ada masalah, serta alternatif sikap konstruktif yang bisa ia pilih. Penguatan diberikan terhadap bentuk perilaku baru yang masih harus dikembangkan atau dikuasai, sedangkan terhadap bentuk perilaku lama yang harus dihilangkan dikenal teknik ekstingsi
  3. bermain peran (role playing) – merupakan sejenis pentas drama yang bertujuan menolong orang mengungkapkan diri dan dengan demikian meningkatkan pemahaman dirinya. Dengan saling bertukar peran dan mencoba menempatkan diri di dalam situasi orang lain, masing-masing klien diharapkan mampu melihat diri sendiri sebagaimana orang lain melihat diri mereka
  4. Encounter Group (terapi kelompok) – Yakni sejenis pertemuan dalam kelompok kecil yang bertujuan membuat peka masing-masing anggotanya, dimana dalam situasi tatap muka dan dengan perintah agar mengungkapkan apa yang dirasakan, masing-masing anggota kelompok ditolong untuk menghayati dan mengungkapkan perasaannya secara lebih leluasa
  5. Manajemen masa kiniatau “present time technique” – yaitu keterampilan untuk memiliki kesadaran yang penuh akan masa sekarang. Biasanya digunakan untuk mereka yang lebih suka berkutat dengan masa lalu ataupun masa depan, sehingga tidak cukup punya waktu untuk masa sekarang. Berguna juga bagi mereka yang sulit melihat detail dari kondisi dan situasi sekarang. Caranya adalah:
    • menumbuhkan perhatian kepada konselor. Perhatian konseli dicoba diarahkan pada apa yang tengah berlangsung di masa kini. Aneka bentuk ungkapan salam sederhana dari pihak konselor yang harus ditanggapi oleh konseli seringkali cukup menolong para konseli yang tampak kurang bergairah-terlibat memasuki proses konseling. Menghadapi klien yang mengalami gangguan berat, langkah ini bisa merupakan tugas panjang dan sukar yang menguras tenaga-kemampuan konselor. Pertama-tama, perhatian konseli harus diarahkan kepada konselor
    • menumbuhkan perhatian ke arah lingkungan. Hal ini bisa dilakukan lewat bentuk-bentuk pengarahan sederhana, lewat pertanyaan-pertanyaan, dengan melibatkan konseli dalam suatu aktivitas yang menuntut perhatiannya, dan dengan meminta pendapat atau penilaian konseli tentang aneka factor di masa kini dengan cara-cara tertentu
    • menjadikan lingkungan terasa menarik, yakni mengubah lingkungan konseli sehingga menjadi cukup berharga untuk diperhatikan. Perubahan semacam itu tidak hanya akan menghilangkan factor-faktor yang bersifat restimulatif, namun secara positif juga akan menjauhkan perhatian dari kecenderungan kea rah introversi, yaitu orientasi yang berlebihan pada diri sendiri, atau abersi, yakni kecenderungan menjauhkan perhatian dari diri sendiri
  6. Keterampilan mengingat– yaitu keterampilan mendapatkan keuntungan dari ingatan yang baik. Caranya
    • mengingat hal-hal yang menyenangkan. Maksudnya, mengenang kisah-kisah sukses dan menyenangkan di masa lalu untuk mengalihkan konseli dari ketegangan yang sedang dialaminya.
    • dengan cepat berpindah-pindah ke berbagai jenis ingatan. Masing-masing pertanyaan dari pihak konselor harus diarahkan pada salah satu jenis ingatan yang berbeda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dikelompokkan sedemikian rupa misalnya untuk mengungkap ingatan tentang hal-hal biasa sehari-hari, ingatan tentang kegiatan rasional, ingatan tentang keberhasilan dan pengalaman-pengalaman menyenangkan lainnya sehingga kemampuan konseli untuk mengingat pun meningkat
    • mengingat kejadian-kejadian kecil yang menimbulkan gangguan. Maksudnya mengingat pengalaman-pengalaman yang mengganggu serta yang akan menghidupkan kembali ketegangan-ketegangan yang dulu pernah dialami. Bila konselor dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengalaman-pengalaman kecil yang mengganggu semacam itu dan dapat dengan cepat beralih dari pengalaman yang satu ke pengalaman yang lainnya tanpa terlalu lama berkutat pada masing-masing pengalaman, diharapkan konselor dapat memperoleh sejenis evaluasi tentang keadaan konseli.
    • Dari sembarang ke yang serupa. Yang dimaksud adalah menolong konseli untuk mengingat kembali kejadian demi kejadian secara sembarang, sambil mengusahakan agar konseli tidak terlalu lama memusatkan perhatiannya pada salah satu kejadian. Selanjutnya bila mungkin, konseli diminta mengingat kembali kejadian-kejadian yang serupa dengan yang baru saja dikenangnya
    • Peninjauan kembali secara sekilas atau ‘scanning’. Konseli diminta mengenang ingatan paling lama atau paling awal tentang kejadian-kejadian tertentu, lalu diminta mengingat pengalaman-pengalaman serupa secar kronologis, mulai dari yang paling awal sampai yang mutakhir. Proses ini bisa diulang-ulang
  7. Keterampilan melengkapi kalimat– orang seringkali tahu lebih banyak dari yang dikiranya dan bila kondisinya memungkinkan serta pendekatan yang dipakai tepat, maka apa yang sepertinya ‘tak diketahui’ oleh seorang klien atau bersifat ‘subsadar’ ternyata dapat dimunculkan ke dalam kesadaran. Dalam teknik ini, klien diminta melengkapi sederetan kalimat yang belum lengkap. Persisnya, teknik ini meliputi:
    • sebuah item khusus yang disajikan kepada klien; metode mencoba-coba antara item-item yang baku, dirancang sebelumnya dan item-item yang dirumuskan secara spontan “on the spot”
    • cara teknik ini diadministrasikan atau diselenggarakan;
    • efek terapeutik langsung yang sering dialami klien akibat mengerjakan tes ini
  8. Pelatihan peningkatan sensitivitas: ini adalah sejenis teknik untuk melatih kejujuran, ketulusan, dan sikap percaya dalam menjalin hubungan dengan orang lain sebagai syarat bagi pengungkapan diri dan perkembangan kelompok. Lewat latihan semacam ini individu akan memperoleh umpan balik konstruktif dan yang bisa dipertanggungjawabkan tentang bagaimana orang-orang lain mempersepsikan dirinya.
  9. Analisis mimpi –  yakni meminta konseli untuk mengingat kembali dan melaporkan mimpinya. Teknik ini didasarkan pada psikologi Freudian yang menyatakan bahwa isi mimpi mencerminkan proses-proses tak sadar tertentu yang perlu diungkap. Tidak semua kalangan menyetujui ataupun menggunakan terapi ini.
  10. Asosiasi bebas – yaitu menyuruh klien mengungkapkan secara tuntas-bebas apa saja yang melintas dalam pikirannya, tak peduli apakah yang dikemukakan iiitu terasa bodoh, irelevan ataupun buruk. Terapis bertugas menciptakan suasana yang penuh penerimaan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s