50 Keterampilan komunikasi dan pertolongan dalam konseling #2

Seorang konselor membutuhkan alat dan keterampilan yang dapat mendukung tugasnya menolong konseli mengalami kebebasan dan pencerahan. Untuk itu kita bisa belajar beberapa teknik komunikasi dan pertolongan. Penggunaannya tentu tergantung konteks dan situasi yang ada. Tidak semua keterampilan ini bisa digunakan dalam semua situasi pertolongan (konseling).

  1. Berbasa-basi (small talk) – yakni pembicaraan lepas-ringan, biasanya diperlukan pada awal pertemuan untuk membuat baik konseli maupun konselor sendiri merasa tidak kikuk, jadi, mencairkan suasana (breaking the ice). Hal ini baik dilakukan, khususnya dalam situasi dimana tidak ada ketegangan atau tekanan. Dalam situasi krisis, yakni bila perasaan konseli sedang kacau atau bila dituntut dilakukan tindakan segera, teknik ini harus digunakan secara berhati-hati dengan memperhatikan kecemasan, ketakutan, atau amarah yang sedang berkecamuk di dalam hati si konseli.
  2. Menentramkan hati (reassurance) – yakni secara berulang-ulang meyakinkan konseli bahwa terdapat jalan keluar bagi situasi yang sedang digelutinya, bahwa ia mampu mengatasi masalah-masalahnya dengan kekuatannya sendiri.  Hal ini berguna ketika kita melihat konseli merasa kecil hati dan ragu-ragu untuk melakukan perubahandalam kehidupannya, atau sedang kehilangan harapan untuk meneruskan hidup ini.
  3. Konfrontasi – yakni menolong dengan cara menunjukkan kondisi konseli apa adanya. Artinya, konselor mengkonfrontasikan konseli dengan kenyataan situasi yang sedang dihadapinya, dengan perasaan-perasaan dan pola-pola perilaku yang bersifat destruktif, dengan kewajibannya untuk bertanggungjawab atas tindak perbuatannya sendiri, dengan keberhasilan dan kegagalannya. Kadang kita perlukan ketika konseli memiliki perspektif yang tidak realistis tentang kondisi yang sedang dialaminya. 
  4. Manajemen konflik, yaitu keterampilan itu menyelesaikan perselisihan pendapat, pertentangan, dan bentrokan atau tabrakan. Konflik merupakan salah satu bagian hidup. Setiap orang harus bisa berkelahi, sebab bila terjadi perbedaan-perbedaan, biasanya perasaan cenderung mendidih. Konselor harus memahami seluk beluk emosi, mampu menolong menyalurkannya, dan dalam mengatasinya mampu menggunakan kekuatan, kompromi, maupun persetujuan yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan rasional. Konselor juga harus tahu cara menggunakan teknik-teknik dan pernah mempraktikkannya sendiri, sehingga akan mampu membagikan ketrampilannya kepada konseli dan menolongnya agar juga mahir menggunakan teknik-teknik atau ketrampilan-ketrampilan tersebut
  5. Manajemen situasi, yaitu yang dimaksud adalah ketrampilan mengelola situasi maupun kondisi yang ada supaya dapat lebih memberi manfaat bagi konseli. Teknik ini dibenarkan bila dipakai sebagai sarana untuk memberikan suatu pengalaman yang konstruktif atau untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang diinginkan. Tidak dibenarkan menggunakan teknik ini untuk mencapai maksud-maksud yang bersifat pribadi, atau untuk memperdaya orang lain tanpa menghargai kebutuhan dan hak mereka untuk ikut berpartisipasi
  6. Merancang program dan kegiatan, yaitu aneka aktivitas dan program yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sulit dicapai dengan menggunakan media atau sarana yang sudah ada. Jadi tujuannya adalah untuk memperluas jangkauan konselor. Aktivitas-aktivitas dan program-program semacam itu bisa menolong pengungkapan perasaan-perasaan yang sulit diungkapkan dan tujuannya adalah mengolah secara langsung perasaan-perasaan tersebut pada taraf nonverbal atau dalam situasi permainan (game situation). Kegiatan-kegiatan seperti musik, menari, drama, ketrampilan (handicraft) dan sejenisnya, bisa merupakan sarana penunjang yang bagus. Konselor yang akan menggunakan teknik-teknik ini harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan secukupnya menyangkut berbagai teknik tersebut, agar mampu memilih sarana yang paling cocok dengan kebutuhan dan situasi.
  7. diskusi dan brainsorming – ini merupakan teknik yang memanfaatkan kemampuan berpikir dan menalar, mempersepsikan dan menilai faktor0faktor realitas, melihat alternatif-alternatif, serta mengantisipasi dan mengevaluasi akibat-akibat. Agar efektif, maka unsur-unsur perasaan terhadap situasi yang sedang dihadapi harus sungguh-sungguh dikendalikan, sedangkan kemampuan berpikir-menalar baik pada pihak konseli maupun pada pihak konselor harus benar-benar dikerahkan dan diarahkan pada persoalan yang sedang dihadapi. Kendati begitu, bila segi-segi perasaan dari masalahnya diabaikan, maka teknik ini cenderung tidak akan membawa hasil. Maka konselor harus memberi kesempatan agar reaksi-reaksi perasaan tetap dapat tersalur selama diskusi yang lebih mengandalkan logika itu berlangsung
  8. Pelatihan konsekuensi, dengan model pembiasan instrumental (instrumental conditioning), dengan cara mengganjar perbuatan baik atau menghukum perbuatan buruk. Ganjaran dan hukuman merupakan dua teknik yang bisa dipakai untuk memodifikasikan perilaku. Kedua teknik tersebut bisa diterapkan asalkan kita tahu sebab-sebab perilakunya serta bisa mengantisipasi dan mengendalikan akibat-akibatnya. Konselor yang ingin menggunakannya perlu mendapatkan latihan khusus, terutama tentang cara menentukan bentuk perilaku yang harus dikuatkan serta metode-metode perkuatannya.
  9. Pelatihan dan demonstrasi keterampilan baru – dalam hidup ini, individu-individu sering dituntut untuk menjalankan peran-peran baru, misalnya seorang remaja yang tiba-tiba harus menjadi kepala keluarga sejak kematian ayahnya. Peran-peran baru semacam itu jelas akan menimbulkan kecemasan. Konselor dapat menolong dengan memberikan kesempatan berlatih menjalankan peran-peran tersebut, entah lewat diskusi atau bermain peran. Kadang-kadang permainan peran tidak mungkin dilakukan, maka konselor perlu mendemonstrasikan cara melakukan peran-peran tersebut
  10. Penguatan, yaitu model untuk membantu konseli meningkatkan apa yang sudah baik dalam hidupnya, dengan cara:

  • perkuatan positif, yakni memberikan rangsangan begitu sebuah tindakan yang positif diselesaikan,  sedemikian rupa sehingga frekuensi dilakukannya tindakan tersebut di masa mendatang meningkat
  • ekstingsi, yakni tidak memberikan penguatan, sesudah suatu tindakan yang sifatnya negatif atau ingin dihilangkan
  • penguatan campuran (differential reinforcement) yakni penggabungan antara penguatan positif dan ekstingsi. Penguatan positif dipakai untuk meneguhkan perilaku pro-sosial, sedangkan teknik ekstingsi dipakai untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku bermasalah

2 thoughts on “50 Keterampilan komunikasi dan pertolongan dalam konseling #2

  1. Anda memberikan masukan yang sangat baik, Saya akan membutuhkan anda untuk mendampingi Saya… Siapkan diri anda Bang .. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s