50 Keterampilan komunikasi dan pertolongan dalam konseling #1

Seorang konselor membutuhkan alat dan keterampilan yang dapat mendukung tugasnya menolong konseli mengalami kebebasan dan pencerahan. Untuk itu kita bisa belajar beberapa teknik komunikasi dan pertolongan. Penggunaannya tentu tergantung konteks dan situasi yang ada. Tidak semua keterampilan ini bisa digunakan dalam semua situasi pertolongan (konseling).

Teknik-teknik konseling adalah bentuk-bentuk aplikasi praktis dan konkret dari teori serta prinsip-prinsip konseling dalam situasi nyata dengan tujuan menolong konseliagar merasa lebih bebas – berani melibatkan diri dalam proses konseling, dan mendapatkan pencerahan dan keterampilan hidup yang baru. Teknik-teknik yang dimaksud meliputi:

  1. eksplorasi: yakni bersama-sama dengan konseli menyelidiki dan memeriksa semua data yang ada kaitannya dengan masalah konseli serta berbagai kemungkinan yang terbuka baginya – sangat baik digunakan ketika konseli merasa tidak memiliki pilihan lagi dalam masalah dan hidupnya
  2. memberikan dukungan dan semangat: yakni secara tepat menunjukkan penerimaan, minat serta bombongan kepada konseli untuk meneguhkan dan memperkuat identitas dirinya sehingga percaya bahwa dirinya mampu mengatasi situasi yang sedang dihadapinya dan meningkatkan kemampuannya untuk menjalankan peran serta tugas-tugasnya secara efektif – baik digunakan saat konseli merasa putus asa ataupun takut untuk melakukan perubahan yang dibutuhkan
  3. memberikan penjelasan: keterampilan konselor untuk membagikan pemahaman konselor tentang faktor-faktor yang ada kaitannya dengan situasi yang sedang dihadapi oleh konseli dengan tujuan untuk meningkatkan  pengertian konseli tentang situasinya secara lebih menyeluruh – sangat menolong ketika ada ketidaktahuan ataupun ketidakmengertian tentang suatu konsep/pemikiran. Perlu dijaga agar tidak menjadi proses mengatur konseli untuk mengambil keputusan sesuai keinginan konselor.
  4. memberikan bimbingan: yakni menolong konseli mengubah situasi lingkungannya atau mengubah sikap-sikapnya sehingga mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisik dan emosionalnya secara lebih memadai – terutama untuk keterampilan baru yang perlu dimiliki konseli sehingga hidupnya akan mengalami perubahan yang dibutuhkan
  5. menolong mengungkapkan perasaan: dengan cara memberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan yang selama ini ditekan (ventilating), yakni menolong konseli mengungkapkan perasaan-perasaan berkaitan dengan sejumlah kebutuhan yang mendesak dalam suasana hangat, penuh dukungan –pengertian. Perasaan-perasaan yang selama ini ditekan diberi kesempatan agar diungkapkan atau disalurkan keluar – sangat dibutuhkan oleh konseli yang merasa hati dan pikirannya disesaki dengan perasaan yang ditekan
  6. memberi perspektif baru, dengan cara menyadarkan konseli bahwa dirinya bukan satu-satunya orang yang menderita –  yakni menolong konseli untuk menyadari bahwa ada juga orang lain yang mengalami seperti apa yang dideritanya. Ia bukan satu-satunya orang yang mengalami masalah seperti yang sedang dideritanya. Berguna ketika konseli mengasihani diri sendiri dan tidak mau bertanggung jawab akan kehidupannya.
  7. memberikan klarifikasi/pencerahan, terutama akan tanggung jawab pribadi, yakni berusaha menolong konseli menyadari bahwa dirinya sepenuhnya bertanggungjawab berkaitan dengan masalah yang melibatkan orang lain, yang sedang dialaminya. Berguna ketika konseli menyalahkan orang lain ataupun situasi eksternal sebagai penyebab kondisinya yang tidak nyaman.
  8. katarsis: yakni menolong konseli menyalurkan perasaan-perasaan yang selama ini ditekan lewat proses yang direncanakan oleh konselor dan yang disesuaikan dengan situasi konseli – yang berguna bagi konseli yang selama ini tertekan karena perasaan yang direpresi ataupun disupresi.
  9. memberikan interpretasi yang dinamis: yakni keterampilan untuk menolong konseli memahami alam perasaannya kini; situasi yang menimbulkan perasaan tersebut; betapa perasaan tersebut tidak sesuai dengan tuntutan keadaan serta mekanisme keliru yang telah ditempuhnya dalam rangka usahanya mengatasi perasaan-perasaannya itu. Konselor diharapkan mampu memahami akar sejarah masalah konseli, namun disarankan untuk tidak menyampaikannya begitu saja kepada si konseli, melainkan menolong konseli menemukannya sendiri.
  10. membuat sintesa: yakni menolong konseli membulatkan pengetahuan-dirinya yang sepotong-sepotong menjadi konsep yang utuh tentang dirinya sendiri sehingga secara sadar ia dapat memilih cara-cara yang semsetinya untuk melindungi dirinya sendiri dalam situasi-situasi tertentu yang tidak dapat dikuasainya dengan baik
About these ads

2 thoughts on “50 Keterampilan komunikasi dan pertolongan dalam konseling #1”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s