Konseling dan Dialog Internal – mengenali suara yang berbicara dalam pikiran kita

 

Baru-baru ini saya menolong seseorang yang hidupnya penuh ketakutan. Begitu ketakutan sehingga ia seperti lumpuh: tidak berani pergi ke mana-mana, atau ketika ada kegiatan penting yang harus dilakukan dan ketakutannya muncul, maka ia harus menghentikan kegiatan tersebut. Salah satu hal yang muncul dalam pembicaraan adalah ada banyak suara-suara di dalam dirinya yang menuduh, mendakwa dan mengintimidasi. Ia sendiri bergumul dan seperti ada dalam konflik dengan dirinya sendiri, karena sering ia menyalahkan dan menuntut dirinya sendiri. Ini adalah yang disebut dialog internal, ketika kita seperti beradu bicara dengan diri kita sendiri. Dalam banyak situasi, apalagi bagi orang-orang tertentu yang sedang bermasalah, dialog internal ini sering bernada negatif dan menuduh.

Bagaimana cara keluar dari jeratan konflik pikiran ini? Pertama-tama kita perlu belajar untuk berempati pada diri sendiri. Kita perlu belajr untuk mendengar dan memahami dialog internal kita yang sering menuduh, kecewa, dan menghakimi, serta mengenali kebutuhan yang sedang tidak terpenuhi, yang mengakibatkan munculnya dialog internal tersebut. Dialog internal ini sering diberi label yang membuat kita memahaminya dengan cara yang mungkin keliru, karena sering diberi label negatif, seperti: pikiran yang tidak rasional, pikiran negatif, bayangan, orang tua yang kritis, atau anak yang tidak dapat beradaptasi dengan baik.

Saya memberi pemahaman bahwa dialog internal ini bisa berasal dari pikiran kita sendiri, nurani yang sedang disentuh oleh Tuhan, ataupun perlawanan dari kuasa-kuasa jahat. Kita perlu belajar untuk bisa mengenali dan membedakan suara mana yang sedang sangat kuat berbicara. Kita juga perlu memahami perasaan apa yang muncul dalam dialog batin kita ini. Sering ketika berada dalam situasi konflik di dalam batin, kita malah menyalahkan orang lain atau situasi sebagai penyebab atau pemicu timbulnya konflik batin. Tapi kita perlu menyadari bahwa dialog internal ini bisa muncul kapan saja tanpa harus ada orang tertentu atau situasi yang memicunya.

Karenanya kita perlu menolong orang untuk bertanggung jawab akan perasaan pribadi. Kita perlu belajar untuk mengakui adanya kebutuhan yang tidak terpenuhi, keinginan, pengharapan, nilai-nilai inti dan pikiran yang adalah miliki kita sendiri. Cerita sama yang kita ulang terus-menerus dan ketidakmampuan untuk maju adalah tanda-tanda kebutuhan yang tidak terpenuhi. Dengan memahami secara empatis dan bersama-sama mencari dukungan untuk mendapatkan kebutuhan ini, maka seorang konseli bisa belajar untuk maju dalam kehidupannya.

Kita juga perlu belajar mengenal suara Tuhan lebih dalam lagi. Kita perlu memahami bahwa Tuhan berbicara lewat banyak hal, peristiwa, orang lain, atau di dalam batin kita. Dan kita percaya bahwa suara Tuhan tidak akan menyimpang dari Firman-Nya, dan semakin kita mengenal Firman-Nya kita juga akan semakin mengenal suara Tuhan.

Kita juga perlu belajar mengenal suara dari si jahat. Biasanya ini adalah suara yang akan dengan kejam mendakwa, memanipulasi dan mengintimidasi kita. Yang dilakukan si jahat adalah menghancurkan diri kita sendiri dan potensi kita untuk berkembang sesuai kehendak Tuhan. Karenanya kita perlu belajar untuk melawan suara-suara si jahat dan mengusirnya agar menjauh dari hidup kita. 

Bagaimana dengan anda? Apakah anda sering mengalami konflik secara batin? Apa yang anda lakukan ketika sedang terpuruk dalam sebuah dialog internal yang menekan??

 

 

3 thoughts on “Konseling dan Dialog Internal – mengenali suara yang berbicara dalam pikiran kita

  1. saya juga mengalami seperti itu dan saya sangat terganggu karna bersifat negatif

    bagaimana menanganinya…
    toolong…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s