Konseling: Memahami frustasi dan konflik

Frustasi dan konflik sering merupakan sumber masalah, maka seorang konselor harus memahami dinamikanya sehingga bisa lebih memahami si konseli.

Frustrasi
Frustrasi adalah keadaan batin terhambat. Reaksi akibat keadaan batin terhambat ini disebut perilaku yang dipicu oleh frustrasi. Beberapa reaksi terhadap frustrasi adalah:

  • Menjadi emosional, misalnya menjadi marah, sedih, susah atau menarik diri bila langkahnya terhalang.
  • Motivasi meningkat sehingga mendorong orang melipatgandakan usaha untuk melanjutkan aktivitasnya. Orang semacam ini kita sebut memiliki toleransi frustrasi yang tinggi.
  • Apati atau menghentikan usaha. Apati bisa dipandang sebagai penghentian tindakan-tindakan yang tidak memberikan kepuasan. Orang yang bersangkutan tidak lagi berminat mengejar tujuan yang telah dikecewakan.
  • Melakukan aneka macam perbuatan seperti membuat temuan-temuan, belajar, atau mencari tujuan-tujuan pengganti
  • Agresi, yaitu menyerang secara langsung dan kadang-kadang dengan penuh kekerasan, sumber penghalang
  • Regresi, yaitu kembali menunjukkan perbuatan yang kekanak-kanakan ataupun memutuskan hubungan
  • Displacement atau pemindahan, yaitu memindahkan sasaran tindakan agresif ke orang atau objek yang tidak ada sangkut pautnya dengan frustrasi yang dialami. Jika frustrasinya tetap tidak tersalurkan maka rasa tegangnya-yakni rasa tegang yang sangat menganggu atau penuh kecemasan-akan terus bertahan. Maka, si organisme harus berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Ia harus memperkuat integritasnya dengan menggunakan aneka mekanisme pertahanan.

Konflik
Bila dua atau lebih kecenderungan untuk bertindak yang tidak sejalan menjadi aktif dan si organisme ingin melakukan dua tindakan atau dua cara bertindak, namun hanya satu yang mungkin, maka timbullah konflik. Ada tiga jenis konflik:

  • Konflik antara berbagai kebiasaan. Suatu kebiasaan berkonflik dengan salah satu kebiasaan lain. Contoh: harus menemani kawan-kawan sampai larut malam dan kebiasaan tidur awal.
  • Konflik antara berbagai pengertian, yaitu memiliki kepercayaan atau gagasan-gagasan yang saling bertentangan. Tepatnya, pengertian-pengertian disebut saling bertabrakan bila salah satu diantaranya tidak runtut-logis dengan yang lain-lainnya, melainkan justru berlawanan. Bila terjadi konflik antara dua pengertian semacam itu, individu yang mengalaminya berada dalam apa yang disebut disosiasi kognitif. Contohnya adalah orang yang mengakui kesamaan martabat semua manusia namun sekaligus memandang orang miskin berstatus lebih rendah dari orang kaya. Orang yang melecehkan penderitaan atau ketertindasan seseorang karena kemiskinannya dan menghormati orang lain karena kekayaan yang dimilikinya adalah orang yang mengalami disonansi.
  • Konflik antara berbagai motif. Ini adalah konflik dasar antara hasrat dan perasaan takut. Contohnya adalah hasrat agar dicintai dan diterima oleh orang lain dan ketakutan bahwa tidak pantas diterima oleh orang lain. Dalam kecemasan, orang semacam itu selalu ingin menonjolkan diri dan memusatkan perhatiannya pada diri sendiri, bukannya memedulikan kebutuha orang lain.

Sumber-sumber konflik

  • Sumber-sumber intraindividual. Disini, konflik berasal dari dalam diri orang yang bersangkutan sendiri. Mungkin terjadi konflik antara id, superego dan ego; atau antara parent, adult, dan child; atau konflik antara apa yang diinginkan dan apa yang sesungguhnya dibutuhkan oleh orang yang bersangkutan.
  • Konflik antara nilai-nilai. Kita semua dituntut mempelajari nilai-nilai, perasaan-perasaan dan sikap-sikap yang dipandang benar atau sesuai oleh apra sesepuh kita. Bila aneka pola nilai yang harus kita pelajari itu sungguh-sungguh konsisten, hidup ini relative mudah. Kenyataannya, orang-orang tua menjunjung tinggi bilai ketertiban, maka tingkah laku mereka terkesan kaku. Sebaliknya, orang-orang muda menjunjung tinggi nilai kebebasan berekspresi, sehingga mereka suka pada hal-hal yang tanpa mereka mereka sadari oleh para orangtua dipandang sebagai amburadul belaka
  • Konflik peran. Banyak konselor mengalami konflik peran bila mereka harus memberikan konseling dan sekaligus menertibkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s