Konseling: Pemahaman secara umum

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang penolong (disebut konselor) kepada individu yang perlu mendapatkan pertolongan (disebut konseli) yang bertujuan agar masalah konseli dapat teratasi. Artikel berikut dan artikel lainnya yang menyusul adalah serangkaian penjelasan singkat tentang konseling.

Istilah konseling berasal dari kata latin “consilum” yang berarti “dengan” atau “bersama” dan “mengambil” atau “memegang”. Maka, bisa dirumuskan denga ungkapan “memegang” atau “mengambil bersama”. Konotasinya, ada sesuatu yang harus dipegang, diraih, diambil bersama-sama. Bila dikaitkan dengan konseling, berarti mencoba menangkap suatu masalah bersama orang lain atau mencoba memahami sesuatu bersama-sama. Bayangan yang timbul adalah dua pribadi yang sedang dihadapkan pada suatu gejala tertentu, keduanya sama-sama serius mencoba menangkap atau memahami gejala tersebut.

Sebagai proses, konseling meliputi relasi tatap muka secara pribadi antara dua orang di mana si konselor, lewat relasi tersebut dan dengan menggunakan kemampuan khususnya, berusaha memberikan sejenis situasi belajar di mana si konseli ditolong untuk memahami dirinya sendiri dengan cara yang memuaskan bagi dirinya sendiri dan tidak merugikan orang lain atau masyarakat. Dalam proses tersebut si konseli belajar memecahkan masalah-masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu.

Konseling berbeda dengan bimbingan. Bimbingan adalah relasi yang bertujuan menolong dan tepat bila diberikan kepada seseorang yang sedang butuh dibantu dalam rangka memahami dirinya sendiri dan lingkungan, serta dalam rangka membuat keputusan-keputusan yang bijaksana menyangkut pendidikan, pekerjaan atau masalah pribadinya.

Tingkat penyesuaian yang dicoba digarap menentukan apakah proses semacam itu lebih merupakan bimbingan atau konseling. Konseling bertujuan memecahkan masalah-masalah pribadi atau yang menyangkut alam perasaan, sedangkan bimbingan, kendati pada akhirnya juga menyangkut soal yang sama, namun secara langsung lebih bertujuan untuk menolong memperoleh informasi, mendapatkan orientasi dalam menghadapi masalah-masalah baru, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan ke-(maha)-siswaan, mengumpulkan data untuk membuat keputusan-keputusan berkaitan dengan kelanjutan studi atau memilih bidang pekerjaan, dan aneka kegiatan serupa. Bimbingan memiliki konotasi positif dan preventif. Konseling berkonotasi upaya memperbaiki atau menghilangkan suatu hambatan atau masalah yang sedang dialami kini.

Para penganut pandangan Adler memandang konseling sebagai proses yang meliputi empat fase: relasi, pemeriksaan terhadap dinamika, interpretasi kepada klien dan reorientasi.

Relasi dalam konseling bersifat kooperatif

Konselor dan konseli harus memiliki tujuan yang sama. Konseling meripakan suatu percakapan yang terarah, dan agar efektif, arah yang dituju haruslah sama. Relasi dalam konseling didasari oleh sikap saling percaya dan saling menghormati, dan ditandai dengan konfidensialitas. Relasi ini lebih dari sekedar rapport; menuntut kerja sama dan penyamaan tujuan-tujuan.

Relasi dalam konseling menuntut kerjasama yang erat, dan bagi banyak orang merupakan pengalaman indah relasi manusiawi yang pertama. Orang yang bersangkutan harus merasa dipahami serta mengantisipasikan sukses dari relasi konseling yang dijalaninya.

Fase pemeriksaan

Fase ini bertujuan menjelajahi situasi hidup kini sebagaimana dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Tugas konselor adalah menyelidiki aneka keluhan, masalah, serta simtom yang dikemukakan oleh konseli. Situasi nyata dan kiprah si konseli dalam tiga bidang kehidupan penting, yakni bidang pekerjaan, pergaulan sosial, dan seks, dicoba diperiksa dan didiskusikan. Memahami dinamika berarti memahami si pribadinya, sifat-sifatnya, situasi atau masalah-masalah yang sedang merundungnya, serta sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalahnya.

Menyampaikan interpretasi kepada klien

Klien perlu ditolong bukan hanya untuk menghayati perasaan-perasaannya, namun juga memahami makna perasaan-perasaannya itu. Ia perlu ditolong menyadari tujuan-tujuannya, intensi-intensinya, dan logika pribadinya. Tergantung dari pendekatan yang dipakai oleh konselor, konseli perlu ditolong dengan berbagai teknik untuk mendorongnya agar mau berubah, dengan menyadarkannya tentang

Reorientasi 

Dalam reorientasi, konseli ditolong untuk membuang konsep-konsep dan keyakinan-keyakinannya yang salah dan diganti dengan sikap pendirian baru yang lebih tepat. Salah satu perubahan penting dalam konseling adalah perubahan konsep diri. Konseli juga perlu ditolong mengubah sistem-sistem nilanya yang salah, yang menyebabkannya mengalami kesulitan dalam menjaling relasi dengan orang lain

2 thoughts on “Konseling: Pemahaman secara umum

  1. Pingback: winarsihputri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s