Menghadapi Perubahan: Apa yang mendorong perubahan?

Apakah anda sedang mengalami perubahan dalam hidup? Apakah hal tersebut sesuatu yang menyenangkan atau sebaliknya? Atau mungkin anda sedang merasa nyaman dalam hidup anda, dan tidak menginginkan terjadi perubahan yang bisa mengganggu kenyamanan itu? Bagaimana sikap kita kala menghadapi perubahan?

Pada suatu hari nabi-nabi yang dididik oleh Elisa, mengeluh kepadanya. Mereka berkata, “Tempat tinggal kita terlalu sempit!  Izinkanlah kami pergi menebang pohon kayu di dekat Sungai Yordan, dan mendirikan tempat tinggal kita di sana.” “Baiklah,” jawab Elisa.  Salah seorang dari antara mereka mendesak supaya Elisa ikut dengan mereka. Elisa setuju, lalu mereka berangkat bersama-sama. Setelah tiba di tepi Sungai Yordan, mulailah mereka menebang pohon.  Tiba-tiba mata kapak seorang di antara mereka jatuh ke dalam air. “Waduh, Pak!” teriaknya kepada Elisa, “Itu kapak pinjaman!”  “Di mana jatuhnya?” tanya Elisa. Orang itu menunjukkan tempatnya, lalu Elisa mengerat sepotong kayu dan melemparkannya ke tempat itu. Maka timbullah mata kapak itu ke permukaan air.  Elisa berkata, “Ambil!” Orang itu mengulurkan tangannya lalu mengambil kapak itu.  (2 Raja-raja 6:1-7 BIMK)

Perubahan adalah sesuatu yang pasti terjadi dalam hidup ini. Semua hal, apakah makhluk hidup atau bahkan benda matipun akan mengalami perubahan. Beberapa dari kita menginginkan terjadinya perubahan, tentunya yang membawa kebaikan dalam hidup. Sementara ada orang-orang tertentu yang tidak mengharapkan ada perubahan, apalagi perubahan yang membawa keburukan. Bagi sekelompok orang yang sedang berkumpul dalam sebuah sekolah para nabi, yang dipimpin oleh nabi Elisa, perubahan adalah sesuatu hal yang sedang mereka dambakan.

Pada suatu hari nabi-nabi yang dididik oleh Elisa, mengeluh kepadanya. Biasanya perubahan akan dicari jika ada ketidaknyamanan. Kondisi yang tidak enak akan mendorong orang untuk memikirkan perubahan. Siapa saja yang mungkin merasa tidak nyaman? Yang paling sensitif akan ketidaknyamanan tentunya adalah kita sendiri. Jika kita berada dalam kondisi yang tidak nyaman, maka sering kita langsung berpikir untuk melakukan perubahan. Sebaliknya, ketika kita sudah berada nyaman, justru kita tidak terpikir atau bahkan menolak untuk mengalami perubahan. Padahal ada kemungkinan orang lainlah yang saat itu sedang tidak nyaman dengan keberadaan kita.

Siapa yang perlu berubah? Ada kecenderungan ketika kita sedang merasa tidak enak, dengan cepat kita bisa menilai orang-orang di sekeliling kita yang perlu berubah supaya kita kembali merasa nyaman. Yang mengganggu adalah ketika kemudian kita menuntut, walau cuma dalam hati, agar orang-orang tersebut berubah – kita sering menjadi kecewa karena belum tentu orang mau berubah sesuai kemauan kita. Kita perlu belajar untuk melihat apa yang bisa kita ubah dari diri sendiri, dan mengundang orang lain untuk ikut terlibat dalam perubahan yang membawa kenyamanan bagi semua pihak.

Yang juga sering perlu berubah adalah situasi dan kondisi. Kadang-kadang orang-orang yang terlibat tidak perlu berubah banyak –  yang perlu mengalami perubahan adalah sistem yang berlaku. Ketika sistem diubah untuk mengakomodasi beberapa kepentingan dan tujuan, maka sering orang-orang pun menjadi lebih bisa mentolerir suasana – dan keharmonisan kembali terjadi. Dan jangan dilupakan bahwa kadang-kadang kita berada dalam situasi yang menekan, namun perlu bagi kita untuk menghadapi penderitaan dan tekanan tersebut dengan besar hati. Kita berharap bahwa situasinya akan cepat berubah, dan kemudian kita akan merasa lebih nyaman. Sebagai contoh, seorang ibu yang sedang hamil akan menerima situasi yang tidak nyaman ini karena memiliki harapan yang besar untuk melihat bayinya setelah 9 bulan ke depan. Walaupun situasinya sangat tidak enak bagi si ibu, ia dengan sukacita menunggu perubahan yang akan terjadi di masa datang. Tidak semua situasi tidak enak memiliki kepastian masa depan seperti ini, namun kita tahu ada saat-saat tertentu ketika yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah menunggu situasinya berubah.

Bagi orang percaya, ada satu pribadi yang perlu diperhitungkan dalam perubahan, yakni Tuhan sendiri. Dalam kasih dan rahmat-Nya, kadang-kadang Tuhan merasa ‘tidak nyaman’ melihat situasi dan kondisi kita. Tuhan ingin yang terbaik bagi kita, dan ketika kita tidak hidup sesuai rencana-Nya, maka Tuhan akan turun tangan sendiri untuk mengubah situasi,  yang akan mengundang kita untuk melakukan perubahan dalam hidup. Mungkin yang perlu diubah cara berpikir, mungkin tingkah laku ataupun karakter. Yang pasti, Tuhan tidak akan tinggal diam dan membiarkan kita seadanya. Ia akan mengubah dan membentuk seturut rencana-Nya.

Perubahan pasti terjadi dalam hidup manusia. Ketika ada satu atau beberapa pihak yang sedang tidak nyaman, apakah itu diri sendiri, orang lain ataupun Tuhan, perubahan sedang ada di ambang mata. Bagaimana kita menyikapinya?

One thought on “Menghadapi Perubahan: Apa yang mendorong perubahan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s