Mundurnya Rowan Williams: Kesenjangan antara Agama dan Spiritualitas, antara Institusi dan Komunitas

Ketika agama dan spiritualitas bertabrakan


Uskup Agung Canterbury Rowan Williams, pemimpin Gereja Inggris dan Komuni Anglikan seluruh dunia, baru-baru ini mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri pada akhir tahun ini. Beberapa hari kemudian, Gereja Inggris menolak rencana yang didukung Williams bagi kesatuan  Anglikanisme secara global, sebuah gereja yang sedang pecah karena isu-isu gender dan identitas seksual. Waktu pengunduran diri dan penolakan ini  mungkin tidak kebetulan. Peristiwa ini menandakan kegagalan lembaga Anglikan.

Tapi mengapa kita, yang bukan jemaat Anglikan maupun Episkopal sepupu mereka di Amerika Serikat, perlu peduli? Ketegangan di gereja Anglikan tentang imam yang terlibat homoseksual biasanya dibingkai sebagai konflik kiri dan kanan, bagian dari kisah perbantahan politik yang lebih besar. Namun cerita ini mengaburkan ketegangan yang lebih signifikan di  masyarakat Barat: meningkatnya kesenjangan antara spiritualitas dan agama, dan kegagalan institusi keagamaan tradisional untuk belajar dari ketegangan ini.

Sampai saat ini, Uskup Agung Canterbury adalah pemimpin pendeta untuk gereja global yang terikat oleh liturgi umum dan identitas agama Anglikan. Harapan untuk pemimpin agama jelas: Jalankan gereja dengan keberanian dan visi. Uskup mengarahkan orang awam, dan memberikan inspirasi tentang ketaatan, pengorbanan dan heroisme; kaum imam memerintah jemaat dari atas.

Namun dunia yang sekarang ini, bagaimana pun juga sudah berbeda.

Semua instituasi sedang terpengaruh akan adanya ketegangan antara dua kelompok: mereka yang ingin menegaskan kembali pola kepemimpinan yang sudah akrab dan teruji – yaitu model kepemimpinan  top-down, keseragaman kontrol dan birokrasi, dan mereka yang ingin menyambut pola yang belum teruji tetapi sangat menjanjikan  – yaitu pemberdayaan  akar rumput, keragaman dan jaringan relasional. Ini bukan perbedaan antara kaum konservatif dan liberal, melainkan adalah kesenjangan antara institusi dan roh.

Struktur top-down sedang menurun. Dalam hal gereja Anglikan, kepemimpinan spiritual dan kelembagaan telah terputus. Visi yang muncul menyatakan bahwa kepemimpinan rohani harus dipelajari, diterima dan dialami secara berbeda, bahkan sering dalam ketegangan dengan, peran seorang uskup (secara administratif).

Karir Williams adalah ilustrasi tentang konflik ini. Sejak awal, Williams diakui sebagai guru dan pendeta dengan tingkat kerohanian yang dalam, seseorang yang mempraktekkan apa yang dikhotbahkan. Dia memiliki karakter dan wawasan yang paling diperlukan Komuni Anglikan   untuk bergerak menuju masa depan yang baru. Dan di situlah masalah dimulai – dan di mana cerita berubah tragis. Williams terperangkan dalam situasi sulit. Sebagaimana jemaat Anglikan di seluruh dunia bertengkar tentang peran kaum gay dan lesbian di gereja, otoritas uskup agung pun ikuat dipertanyakan. Williams berjuang untuk menjadi seorang pemimpin spiritual yang mencakup visi baru dan sekaligus pemimpin lembaga berkomitmen untuk menjaga tatanan lama.

Uskup agung ini yang adalah seorang “pemimpin spiritual” dari Anglikanisme, namun ia juga bertindak sebagai CEO dari perusahaan religius Anglikan yang harus mengelola kebijakan perusahaan, memastikan keuntungan, mempertahankan asset dan properti, membuka pasar baru dan negosiasi politik. Ini adalah birokrasi, seringkali lebih bisnis agama dari komunitas spiritual yang bersemangat.

Selama berabad-abad, iman memiliki model top-down: kekuatan rohani mengalir dari Paus kepada umat beriman, uskup agung untuk jemaat Anglikan, imam kepada orang saleh, pendeta kepada jemaat. Ini telah berubah sebagai orang-orang biasa dengan yakin menyatakan bahwa spiritualitas adalah petualangan kalangan akar rumput dalam  mencari Tuhan, sebuah perjalanan wawasan dan inspirasi yang melibatkan otentisitas dan tujuan yang mungkin atau tidak mungkin terjadi dalam sebuah sinagoga, gereja atau masjid. Spiritualitas adalah ekspresi iman dari bawah ke atas dan tidak selalu cocok dengan pola  teologi atau praktek yang selama ini diterima.

Takut akan perubahan ini badan keagamaan seperti Komuni Anglikan, semakin terpaku pada aturan dan kontrol, memimpin mereka untuk menegaskan kembali hirarki  otoritas dan akibatnya menjadi kurang responsif bagi keinginan orang yang sedang dilayani. Dan itu akan mendorong agama ke dalam spiral kemunduran dan kehilangan relevansi lebih jauh lagi.

Williams menunjukkan bagaimana telah terjadi kesenjangan yang besar antara spiritualitas dan agama. Masa jabatannya membuktikan bahwa lembaga-lembaga keagamaan – seperti yang ada saat ini – telah gagal ketika mereka menolak untuk melibatkan pola iman yang baru. Kesenjangan antara roh dan institusi tidak hanya bermasalah bagi organisasi keagamaan. Kesenjangan ada di bisnis, di mana bekerja dan kerajinan telah digantikan oleh modal ventura dan profitabilitas; dalam politik, di mana kebaikan bersama dan demokrasi telah hancur oleh keberpihakan dan uang perusahaan; dalam pendidikan, di mana pemikiran kritis dan humaniora telah dikorbankan untuk sekedar ujian mendapatkan nilai.

Krisis Anglikan bukan tentang Rowan Williams atau bahkan agama. Ini adalah tentang usaha untuk memiliki hubungan yang  bermakna dan komunitas, serta dunia yang lebih adil dan damai ketika lembaga gereja, negara dan lembaga ekonomi tampaknya semakin tidak responsif terhadap keinginan kita tersebut. Ini adalah tentang kesenjangan antara semangat baru dan institusi yang telah kehilangan jalan mereka. Hanya pemimpin yang dapat menjembatani kesenjangan ini dan mengubah lembaga-lembaga mereka yang akan berhasil dalam aturan budaya yang baru.

Sang Uskup Agung akan kembali mengajar – suatu pilihan yang baik. Pada zaman kita, pembaruan spiritual sedang terjadi di antara teman-teman, dalam percakapan, dengan saling mempercayai dan melalui saling belajar. Suatu hal baru sedang terjadi di jalanan, di kedai kopi, dalam komunitas agama lokal, dan dalam gerakan perubahan keadilan dan sosial. Jauh dari tuntutan agama institusional, Rowan Williams akan menemukan bahwa suatu jenis iman yang baru sedang lahir.

Oleh Diana Butler Bass – Diana Butler Bass is the author of eight books, most recently Christianity After Religion: The End of Church and the Birth of a New Spiritual Awakening. A version of this commentary originally appeared in USA Today.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s