Mendengarkan: Pola berkomunikasi yang sehat bagi keluarga

Di sini tidak ada yang mau mendengarkan saya!

family conflict 300x228

Memahami bahwa komunikasi adalah sebuah proses dapat memberikan menolong pengertian bahwa hubungan adalah sesuatu yang fleksibel. Keluarga mengembangkan pola interaksi satu sama lain dan kemudian bertahan terhadap perubahan. Kesulitan terbesar untuk mendengarkan dalam keluarga terdiri dari  peran yang terlalu kaku, pengharapan yang tetap, dan tekanan untuk menyesuaikan diri. Saat kita mulai  melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan, biasanya kita tidak menentukan siapa dan apa yang akan melakukan sesuatu. Biasanya kita bertindak dan bereaksi dan dan mulailah pola dibentuk..Jika pasangan melakukan sesuatu hal lebih banyak, biasanya pasangan yang lain akan melakukan hal yang sama lebih sedikit, misalnya saat harus merawat anak-anak. Ada subsistem dalam keluarga yang terdiri dari masing-masing individupasangan-pasangan, seperti istri-suami, anak ibu, dll. Sering waktu untuk berbicara dan mendengarkan antara pasangan ini melebur ke dalam perbincangan seluruh keluarga. Memiliki anak-anak sering bisa membawa suami-istri semakin dekat, tetapi lebih sering membuat perhatian lebih kepada anak-anak dibandingkan bagi suami istri.

Kesalahan orang tua dalam hubungannya dengan anak adalah: 1) gagal menetapkan batas-batas dan 2) terlalu banyak mengatur mereka. Ada perbedaan antara membiarkan anak-anak untuk “mengekspresikan” apa yang mereka inginkan dan mengijinkan mereka untuk “melakukan” apa yang mereka mau. Mengasihi tidak berarti meninggalkan aturan. Omelan seringkali menjadi metode yang digunakan untuk mengendalikan. Penting untuk pertama-tama mendengarkan anak-anak, baru kemudian merespon.

Ketka anak-anak mulai bertumbuh, hubungan tiap orang tua dan anak berkembang melalui tingkat kedekatan dan pemisahan yang berganti-ganti. Namun ketika orang tua tidak mendengarkan atau berbicara pada anak dan mulai mengeluh pada pasangannya, segitiga tercipta dan komunikasi langsung terhalangi. Segitiga ini sering dibayangi oleh hubungan yang kuat lainnya: misalnya dengan saudara, teman, orang tua, mungkin juga denganingatan. Segitiga yang sering terjadi adalah jika ada perselingkuhan, di mana pasangan berusaha untuk menemukan kebutuhannya yang tidak terpenuhi dalam pernikahan. Setiap kita mengeluh tentang seseorang kepada orang yang lain (menciptakan korban dan penjahat), kita memiliki sebuah segitiga yang mulanya tidak kelihatan bermasalah, namun akan dapat menghalangi hubungan yang utama. Berbicara pada seseorang tentang masalah kita tidaklah salah, namun menghindari perbincangan secara langsung dengan orang yang terlibat dengan kita akan mengurangi kualitas hubungan. Nama hubungan ini adalah hubungan yang berpihak.

Peran orang tua termasuk memelihara dan mengontrol anak-anak. Ambil dan sedikan  waktu untuk mendengarkan mereka. Membuat jarak dalam interaksi percakapan dengan anak-anak sama saja dengan membuat penghambat komunikasi. Ingat untuk membagikan hal-hal yang positif dan mempersiapkan diri untuk mendengar keluhan ketika Anda mulai dan terus mendengarkan. Menjauhkan diri  hanya berguna untuk melindungi diri sendiri.

Kedekatan dapat meningkatkan atau menghambat keintiman. Sebuah batas yang sehat antara orangtua dan anak akan memungkinkan orangtua memiliki otoritas yang tepat dan anak-anak memiliki kebebasan tertentu yang memungkinkan mereka bertumbuh secara utuh, dan bahwa semua orang dihormati karena perasaan dan sudut pandang mereka dihargai. Orang tua perlu belajar “mengakomodasi” sehingga terjadi kesatuan berdasarkan komunikasi, kompromi dan perjanjian satu sama lain. Orang tua yang bersatu saling mendukung. Orangtua yang tidak dapat bersatu akan menjadi pincang, ketika yang satu terlalu ketat, yang lain sangat permisif. Kepincangan ini pun terjadi dalam batin kita. Kita memproyeksikan ke orang-orang sekitar tentang konflik batin kita. Pasangan yang marah biasanya akan mencoba untuk mengganggu pasangannya sampai  marah dan kemudian ikut memproyeksikan konflik batinnya sendiri, sehingga terjadi lingkaran ketergantungan klasik. Ketika kondisi itu tercipta, kita sedang mengurangi peran satu sama lain yang seharusnya saling menguatkan.

Orang tua belajar mendengarkan ketika memiliki bayi, yaitu kemampuan untuk mendengarkan dan tahu apa yang diinginkan atau dibutuhkan si bayi. Seorang “bayi mudah” adalah bayi yang yang bisa berkoneksi dengan kita. Seorang “bayi yang sulit” adalah  yang kita sulit berkoneksi. Beberapa petunjuk yang orang tua tidak mendengarkan anak-anak mereka terlihat dari kata-kata yang diberikan. “Hati-hati jangan sentuh itu!” menunjukkan orang tua lebih peduli dengan lingkungan eksternal sekitar anak daripada dengan anak. “Diam! Masuk kamar mandi dan cuci tangan; dan jangan main-main dengan dirimu sendiri disitu!”, menunjukkan orangtua yang selektif saat menerima anak, dan membentuk anak yang tidan menghormati atau menghargai diri sendiri. Misalnya, orang tua atau orang tua yang mencoba untuk menghibur anak yang ketakutan dan tidak mendengarkan, akan mengajari anak untuk tidak mencari orang tua saat membutuhkan penghiburan. “Jangan membual. Itu tidak baik” menunjukkan orang tua yang merusak mimpi anak dan harga diri mereka. Mencoba untuk membuat anak berperilaku tertentu dapat menghalangi  pertumbuhan alami  dalam diri mereka. Ingatlah untuk bereaksi terhadap apa yang mereka katakan, bukan hanya apa yang mereka lakukan. Gagal untuk merespon sukacita anak akan membuat anak menarik dan tidak berbagi lagi di masa depan. Mendengarkan dengan empati, bukan simpati, memungkinkan seorang anak untuk meningkatkan harga diri mereka sendiri di antara lingkungannya.

Halangan utama dalam mendengarkan terjadi karena kita merasa perlu membela diri, tidak setuju, atau berusaha memecahkan masalah. Sebuah analogi dari empati adalah dua tangan tergenggam. Masing-masing tangan berbeda tetapi bersatu dengan kontak hangat. Mendengarkan berarti  mengikuti pimpinan orang yang sedang berbicara, mencerminkan pernyataan atau perilaku mereka, tanpa penghakiman. Gagal saat berempati tidak merusak anak, tetapi akan mengecilkan harga diri mereka dalam waktu yang lama. Empati adalah vitalitas.

Mengapa orang tua sering gagal dalam berkomunikasi? Anak-anak sering menjadi pribadi yang sulit. Orang tua juga memiliki kekurangan dan kelebihan. Waktu datangnya kebutuhan tidak selalu tepat. Sering terjadi ledakan, namun hal ini tidak seberbahaya dibanding suasana yang tidak mendengarkan dan tidak memberi tanggapan. Ketika orang tua memiliki peran yang tegas dalam hubungan dengan anak-anak, pesan yang lebih konsisten, tegas, dan penuh kasih. Orang tua perlu memberikan struktur yang kuat di mana anak-anak bisa bergantung. Semakin anak bertumbuh menjadi diri mereka sendiri, semakin sulit  menjadi orangtua yang empatik yang dapat membiarkan mereka tumbuh secara independen. Anak-anak perlu  diberikan pilihan untuk hal-hal yang mereka mampu memilih dan  diberikan suara dalam hal-hal di mana orangtua perlu mengambil  keputusan. Yang terjadi, sering orang tua ingin membentuk dan mengendalikan anak-anak, daripada membiarkan mereka untuk mengekspresikan kepribadian mereka sendiri yang unik.

Menjadi orang tua adalah pekerjaan amatir karena ketika kita merasa memahami anak pada satu usia, dia sudah  tumbuh menjadi satu pribadi yang baru yang perlu dipelajari lagi. Persaingan siapa pegang kendali berkontribusi terhadap reputasi remaja sebagai generasi yang tidak terkendali. Remaja berusaha untuk membangun otonomi dan kemudian kita bereaksi. Kita dapat mengatakan, “ya, kamu benar”, tanpa kehilangan kendali. Berbicara merendahkan bagi remaja mendorong mereka untuk menanggapi dengan kasar. Penting untuk mengijinkan mereka mengatakan apa yang mereka inginkan, kemudian menjelaskan mengapa Anda mengatakan tidak, tapi jangan membiarkannya berkembang menjadi ancaman. Konflik muncul ketika orang tua melupakan peran remaja untuk tumbuh jauh dari keluarga karena mereka menguji sendiri. Jika kita terus mencoba mendengarkan mereka, kita dapat mempertahankan hubungan dengan mereka. Bekerja melalui konflik dapat membantu remaja belajar bagaimana untuk berjalan melalui perbedaan pendapat dan konfrontasi. Mendengarkan dengan baik akan mendukung  kepercayaan diri remaja. Remaja yang menarik diri, dan kemudian meninggalkan keluarga, belum sempat memecahkan masalah mereka dalam berkomunikasi dan cenderung tetap tinggal beku dalam pola remaja mereka. Pola keluarga membuat anggota keluarga terjebak dalam peran yang mendukung sistem yang sudah mapan, walaupun belum tentu menolong. Namun kita bisa melakukan perubahan, ketika kita berani keluar dari pola lama dan membuat pola yang baru.

RELATED POST

2 thoughts on “Mendengarkan: Pola berkomunikasi yang sehat bagi keluarga

  1. Heya i’m for the first time here. I came across this board and I find It really useful & it helped me out much. I hope to give something back and help others like you helped me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s