Mendengarkan: Bagaimana cara meredakan kebiasaan bereaksi secara emosional

Saya bisa lihat ini bahwa hal ini sungguh menyakitkan Anda”

Bereaksi secara emosional adalah alasan utama orang tidak mendengarkan yang  menyebabkan perasaan babak belur dan terluka. Beberapa orang memang  secara alami menjengkelkan, sementara yang lain bereaksi secara berlebihan terhadap kritik apapun. Masalah sebenarnya adalah bagaimana cara kita sendiri bereaksi terhadap mereka. Memang secara alami kita lebih defensif, namun jika ingin berhubungan dengan sehat, ktia perlu belajar membuka diri terhadap kerapuhan.

Banyak uang yang dihabiskan lewat terapi hanya  karena orang perlu didengar. Mengijinkan orang lain untuk mengeluarkan perasaan mereka hanya bisa terjadi lewat empati dan kelembutan. Bagi kita di  dalam diri, perasaan adalah fakta. Tidak bereaksi secara emosional akan membantu kita mempertahankan kendali diri saat  berhubungan. Untuk mendengarkan secara efektif kita harus belajar untuk mengijinkan adanya kecemasan, tanpa harus melawan atau melarikan diri.

Alih-alih langsung memberi tanggapan, kita perlu belajar mendengarkan lebih keras. Kekalahan kita sebenarnya bukan disebabkan oleh orang lain, tetapi karena reaksi defensif kita. Dibutuhkan keberanian untuk terlibat dalam situasi konfrontatif, dan  hanya membodohi diri sendiri jika kita merasa berada dalam kendali jika menghindari hal tersebut. Bersedia untuk terlibat sebenarnya akan mengurangi kecemasan kita dalam jangka panjang. Perhatikanlah pesan yang nyata dari orang lain.

Supaya kita bisa menghindari kebiasaan bereaksi dengan cepat adalah: mendengar orang lain di luar. Katakan, “Ceritakan lebih banyak.”  Salah satu cara untuk mengatur cara anda bereaksi  adalah untuk merencanakan ke depan. Ketika Anda menyadari kondisi bertambah buruk,  rencanakanlah  untuk mendengarkan saat akan berbicara, dan memberikan lawan bicara waktu yang penuh untuk berbicara. Rencanakan untuk mengajukan pertanyaan dan bukannya bereaksi. Jika ada pernyataan retoris yang dibuat, beri tanggapan secara harfiah, menjawab sesuai dengan pertanyaan itu.

Menangis adalah alat pelepasan emosi, belum tentu sesuatu yang perlu dihibur atau berhenti. Mengekspresikan kemarahan dengan cara marah memberikan suatu kesempatan untuk kemarahan itu untuk menyebar. Belajarlah untuk mengijinkan seseorang mengekspresikan perasaan mereka. Seringkali apa yang sedang diungkapkan bukanlah inti yang ingin dikatakan. Misalnya, seorang istri meminta suami  untuk memberikan anak yang sudah cukup besar uang yang lebih banyak. Sang suami marah. Ketika mereka berbicara dan si istri diperbolehkan untuk mengungkapkan keprihatinan sebenarnya, dia hanya khawatir tentang anaknya. Uang itu hanya satu ide tentang bagaimana untuk membantu. Setelah Anda mendengarkan omelan itu, merespon dengan perasaan Anda sendiri, bukan ide-ide Anda.

Bagaimana perasaan orang lain bukanlah tanggung jawab Anda. Mereka hanya ingin didengarkan. Ketika seseorang sangat marah, kelihatannya  seperti akhir dunia. Namun ketika kita membiarkan perasaan itu dinyatakan, kita dapat mencairkan suasana sampai pada kondisi yang lebih mudah untuk dikelola. Mendengarkan seseorang yang sedang marah tidak mudah. Fokus pada pilihan Anda untuk mendengarkan. Secara aktif merespon, ulangi kembali kepada mereka apa yang Anda dengar mereka katakan. Jika Anda telah benar-benar tidak kuat lagi untuk mendengarkan, cobalah memberitahu mereka bahwa Anda perlu menjauh sebentar dan bahwa Anda akan kembali.

Bila Anda salah satu yang sedang dikritik, mendengarkan. Apakah memang berlaku? Tetaplah pada topik. Cobalah untuk merasakannya sebagai sebuah serangan terhadap seluruh diri anda. Dengarkan secara kritis. Fokus. Mintalah orang lain untuk menguraikan posisi mereka sehingga Anda dapat mengerti. Jika serangan itu begitu kasar, Anda dapat merespon aspek dari serangan yang menyinggung Anda. Minta mereka untuk lebih spesifik jika perlu. Orang yang mengeluh terus-menerus juga perlu disimak. Apa yang menjadi masalah inti? Masalahnya sering tentang apa yang mengganggu mereka dan bukannya tentang anda. Banyak berbicara pada mereka tidaklah membantu.

Kebiasaan membela diri atau perasaan aman berasal dari cara orang menanggapi kita sebagai anak-anak. Jika anda ingin mengubah kebiasaan  bereaksi terhadap orang tua, kita dapat mulai dengan mempelajari apa yang mereka lakukan atau katakan yang membuat kita bereaksi dengan kuat. Ini adalah peluang yang baik untuk menjadi lebih bisa memberi tanggapan dengan tenang. Berlatih di rumah dapat menolong kita menemukan bagian yang terlalu reaktif. Kita mungkin menemukan seorang ibu super-kritis, atau seorang ayah yang tidak pernah mengatakan atau  berbicara tentang apa pun secara intim atau dekat. Cobalah menjauh dari kondisi tersebut. Lihat siapa mereka, bagaimana mereka melihat dunia. Perubahan perspektif kita dapat meredakan banyak tekanan. Kita tidak perlu mengubah mereka.

Bereaksi secara emosional berkembang sebagaimana hubungan berlanjut. Topik yang sebelumnya tidak punya muatan emosional, kini mengakibatkan kecemasan. Mencoba untuk menjaga keseimbangan dengan cara mengalah ataupun menghindar hanya membuat ketegangan meningkat. Hanya Anda yang dapat mengendalikan diri Anda. Perhatikan seberapa banyak Anda terbiasa menjadi kritis ataupun menghindar. Cobalah untuk menjadi lebih terbuka dan peduli. Hormati diri sendiri dan pasangan. Hubungan yang sehat akan  bergerak bersama seperti sebuah tarian, tanpa ada yang merasa terancam. Dengan orang yang tidak banyak bicara, coba kurangi tekanan  dan ijinkan mereka untuk merasa cukup aman untuk membuka.

Tenangkan diri sebelum kita terlibat dalam pembicaraan penting. Perasaan cemas dapat meningkatkan situasi apapun menjadi komunikasi yang buruk. Ingat Anda menikah dengan seorang pribadi dengan hal negatif dan positif. Terus menerus menuntut apa yang baik dari sudut pandang Anda tidak akan membantu apa-apa. Kadang-kadang lebih penting untuk mencintai mereka dan menerima mereka sebagaimana adanya. Dan awasi nada suara dan penggunaan waktu Anda. Persiapan orang lain jika kita akan berbicara tentang topik-topik yang sensitif, baik secara lisan maupun tulisan, terutama jika Anda merasa akan ada reaksi yang kuat. Dan ingat bahwa Anda tidak perlu marah hanya karena orang lain marah. Anda selalu bertanggung jawab atas diri sendiri.

Kadang-kadang kita harus melepaskan orang dari kehidupan kita yang memang tidak dapat berubah. Sayangnya kita sering berpikir seseorang dekat dengan kita tidak berubah, padahal dengan sedikit usaha, situasi dapat jauh lebih baik. Ketika seseorang bereaksi buruk terhadap sesuatu yang kita katakan, mungkin mereka sangat malu tentang diri mereka sendiri. Jadilah sensitif.

One thought on “Mendengarkan: Bagaimana cara meredakan kebiasaan bereaksi secara emosional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s