Mendengarkan: Ketika luka dan emosi menjadi penghalang proses komunikasi yang efektif

“Mengapa reaksimu terlalu berlebihan?”

“Bagaimana perasaan yang terluka membuat kita menjadi defensif”

 

Kritikan adalah ungkapan yang paling memicu reaksi emosional dalam diri kita. Reaksi emosional termasuk kemarahan dan rasa takut pada apa pun yang dikatakan. Kadang-kadang kita mentolerir seseorang yang biasanya tidak berbicara kasar dan berpikir bahwa mereka mungkin sedang dalam mood yang buruk. Namun seseorang yang bereaksi berlebihan saat membuat kesalahan membuat lebih sulit untuk dipahami ketika mengisolasi diri. Juga ada orang-orang yang yang super kritis. Setiap komentar akan membuat mereka marah secara defensif, yang kemudian membuat mereka sangat sulit untuk mendengarkan. Kita bisa membuat generalisasi untuk menjelaskan perilaku mereka, tetapi lebih penting untuk menyadari bahwa sejarah individu orang tersebut dapat  mengungkapkan mengapa mereka bereaksi dengan cara yang tidak sehat. Luka kita mungkin sesuatu yang sangat dalam dan tersembunyi sampai ada hal tertentu yang  memicu reaksi kita, biasanya malu atau rasa tidak aman. Kritik memukul  diri kita sendiri, identitas kita, apa yang kita lakukan atau katakan, atau bahkan penampilan kita.

 

Kita biasanya sangat tidak toleran terhadap hal-hal yang memang tidak kita sukai dalam diri kita sendiri, sehingga sulit bagi kita untuk menjadi pendengar yang baik. Ketika kita menyadari ini dan mulai memperhatikan orang lain dengan mempertimbangkan kondisi mereka, kita dapat meningkatkan kemampuan kita untuk mendengarkan secara obyektif.

Emosi dan bagaimana cara kita bereaksi adalah alasan utama mengapa suatu dialog bisa berubah menjadi pertengkaran. Reaksi berlebihan terjadi karena emosi kita meledak. Emosi tidak salah, tetapi emosi bisa sangat mengganggu  hubungan karena bisa menyulitkan untuk bersikap rasional. Penting untuk memperhatikan apa reaksi kita, namun melakukan hal tersebut pada saat emosi sedang kritis bukanlah saat yang tepat. Emosi seperti itu keluar dari bagian diri yang tidak kita sukai, namun perlu diterima dan dimengerti. Ketika kita merasa dikritik, maka sering kita merasa seluruh diri kitalah yang buruk.

Konflik sering timbul dengan orang-orang terdekat karena kita tidak suka atau tidak ingin mendengar apa yang mereka katakan atau lakukan. Misalnya, ketika anak-anak kita menunjukkan perilaku negatif, kita ingin membantu mereka,  namun karena merasa tak berdaya, maka kita lebih suka menghindari atau mengabaikan mereka. Lalu kita tidak bisa mendengar mereka, tanpa berusaha memberi nasihat, yang kemudian akan menjadi pertengkaran, sehingga salah seorang atau keduanya berusaha meninggalkan ruangan, atau meninggalkan hidup anda. Jika anda melihat atau terlibat pertengkaran, lihatlah bahwa kedua belah pihak sulit untuk berhenti berdebat. Ketika kita merasa terancam oleh ungkapan orang lain sering memicu perasaan malu karena tidak bisa menangani hal yang menjadi masalah. Kita akan bereaksi dengan sangat kuat tentang hal-hal yang memang kita sendiri tidak suka.

Orang sering mengeluh bahwa mereka tidak didengar oleh pasangannya, tetapi hal yang sama sering dirasakan oleh pihak yang lain. Misalnya, seorang istri berbicara kepada suaminya tentang punggungnya yang sakit. Si suami kemudian  memberikan saran untuk ke tukang pijat. Beberapa lama kemudian, istri memberitahu suami bahwa seorang teman menyarankan hal yang sama. Apa reaksi suami? , “Kan sudah saya katakan, mengapa kamu tak mendengarkan?” Itu terjadi karena  istri tidak membutuhkan saran dari suaminya, ia hanya butuh perhatian dan kasih sayang, sehingga saran ditolak. Istri tidak bisa mendengar saran dari suami.

Belajar menjadi pendengar yang baik dapat dibuat semakin rumit oleh pembicara yang nada suara dan caranya tidak enak didengar bagi kita. Mendengarkan orang seperti itu membuat kita merasa tertekan dan cemas. Jika mengerti tentang pribadi sendiri, kita akan menjadi orang yang mudah untuk mendengarkan. Masalah muncul saat perasaan dua orang yang tumpang tindih dan saling mengganggu satu sama lain, lalu kemudian masalah datang dalam suasana yang sudah tidak enak. Kita perlu belajar memisahkan pikiran kita dari perasaan, dan mengijinkan orang lain menjadi apa adanya mereka.

Peningkatan emosi dapat mengganggu komunikasi, yang kemudian  pendengar merasa diserang atau diremehkan. Kita perlu mendengarkan bagaimana cara kita terdengar saat  mengungkapkan perasaan kita. Kita perlu untuk menurunkan nada bicara yang tinggi supaya orang lain bisa mendengar kita, terutama dalam situasi sulit.

Penyembuhan hubungan yang rusak dimulai dengan mencari cara untuk mengungkapkan kepada orang apa pemahaman Anda tentang perasaan mereka, yang dapat  mendorong lawan bicara kita untuk berbicara. Sering apa yang orang ingin dengar adalah permintaan maaf sederhana, tanpa membela posisi diri atau memberikan tanggapan.  

Orang-orang pendiam atau tertutup biasanya memiliki lapisan pelindung di sekitar mereka, karena merasa lebih aman sendiri dibandingkan ketika harus berhubungan. Dinamika kejar-kejaran akan terjadi kalau satu orang mencoba berkomunikasi dan mitranya ingin melarikan diri. Tekanan dari satu pihak akan membuat pihak yang lain berusaha untuk menjauh. Orang yang paling sulit untuk kita dengar sering adalah mereka di dalam hubungan keluarga dan hubungan kerja. Dengan ketekunan untuk siap terbuka dan memberi tanggapan, kita akan bertumbuh semakin kuat dan dewasa, dan memperkaya kemampuan kita untuk mendengar dan didengar.

One thought on “Mendengarkan: Ketika luka dan emosi menjadi penghalang proses komunikasi yang efektif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s