Mendengarkan: Faktor apa yang menghalangi orang saling mendengarkan

“Mengapa Orang tidak saling mendengarkan?”

Konflik antara pribadi terjadi di masyarakat. Setiap dari kita memproses informasi yang ingin kita katakan dengan cara yang tampaknya jelas bagi kita. Sebaliknya, kita mengira kita mendengar orang lain dengan jelas. Namun saat sedang memproses informasi telah tertanam suatu harapan. Kami juga mentransfer harapan kita ke orang lain, mengharapkan mereka untuk berperilaku dengan cara yang sesuai dengan pengertian kita. Orang-orang pun menanggapi dengan cara mereka terbiasa untuk mendengarkan. Kemudian, ketika komunikasi rusak, kita menjadi defensif.

Untuk dapat benar-benar mendengarkan berarti kita harus meninggalkan apa yang ingin dengar,  dan mulai memperhatikan dengan penuh perhatian apa yang orang katakan. Ketika kita tumbuh menjadi remaja kita membuat perlindungan terhadap hal-hal yang memiliki potensi untuk menyakiti kita. Mendengarkan suara hati membuat kita  melindungi diri dari pesan-pesan yang antagonis. Ketika kita bersama orang yang kita percayai dan mereka tidak mendengar  seperti yang kita butuhkan, kita merasa sangat dikhianati. Mendengarkan bisa dipelajari, bahkan jika, pada awalnya, tampaknya seperti dibuat-buat. Kita perlu belajar untuk mendengarkan dengan seluruh diri kita, dan bukan hanya telinga kita.

Secara emosional, nada bicara yang kita berikan bisa menyampaikan berbagai arti, mulai dari  yang sederhana dengan pernyataan seperti, “Apakah kamu sudah memberi makan anjing itu?” Hubungan yang dekat satu sama lain bisa menimbulkan penafsiran emosional untuk menanggapi pernyataan sederhana itu dengan mudah, atau dengan membela diri.

Ketika kita tidak didengar sebagaimana yang kita butuhkan, kita cenderung untuk menimpakan kesalahan ke orang lain. Kita jarang memeriksa diri kita sendiri ataupun cara kita berbicara. Mengubah pola komunikasi mengharuskan kita untuk mengubah cara kita berhubungan. Kita tidak bisa mengubah orang lain.

Kadang-kadang kehendak yang dimaksudkan tidak dinyatakan dengan jelas. Kemudian kita cenderung menyindir, mengharapkan orang lain untuk memahami dan mengetahui apa yang kita maksud. Kita berbicara tentang maksud kita dengan berbagai cara, dan semuanya untuk menghindari mengatakan apa yang sebenarnya ada di pikiran kita.

Percakapan biasanya terjadi pada lebih dari satu tingkat, yaitu apa yang dikatakan dan apa yang dimaksudkan. Kita tahu apa yang kita katakan dan kita menganggap orang lain mendengar kita seperti yang kita inginkan. Sebagai contoh, kita mungkin memiliki kebutuhan hanya untuk berbicara, untuk melampiaskan kekesalan kita, jadi kita mulai berbicara. Orang lain kemudian menawarkan jawaban atau saran untuk memecahkan masalah kita. Tapi, kita mungkin tidak menjelaskan bahwa kita hanya ingin melampiaskan, bukan mencari bantuan. Sangat penting untuk mendengarkan kebutuhan seseorang pada tingkat emosional mereka dan bagi kita untuk secara teratur memeriksa cara bicara, untuk memastikan bahwa kita sedang mendengar seperti yang kita butuhkan.

Memilih waktu yang tepat untuk berbicara dengan seseorang adalah hal yang penting. Ketika seseorang jelas sedang sibuk, atau Anda merasa orang sedang berada dalam tekanan, Anda dapat memilih waktu terbaik untuk berbicara dengan mereka, baik secara serius atau hanya untuk mengobrol. Memilih percakapan yang sesuai dengan situasi adalah penting. Masalah keluarga tidak baik dibahas di sebuah pesta koktail. Yang hadir selama percakapan itu juga akan mengubah konteks dan apa yang diungkapkan. Beberapa percakapan serius lebih baik disediakan untuk waktu dan tempat yang lebih pribadi . Kita  juga akan terpengaruh oleh sikap penuh perhatian dari lawan bicara.

Beberapa orang sulit untuk mendengarkan, seperti mereka yang memberikan bicara atau terlalu banyak menerangkan, atau mereka yang tertarik hanya pada diri sendiri, atau  yang percakapannya  sangat sepihak. Kesulitan lain dari mendengarkan adalah ketika diberikan sindiran-sindiran yang menghakimi perilaku  atau kata-kata kita. Beberapa orang tidak banyak memberi tanggapan dan kita bertanya-tanya  apakah mereka mendengarkan. Mungkin kita kadang-kadang perlu memeriksa pembicaraan kita, apakah mereka siap untuk mendengarkan kita, atau, sebaliknya, mencari tahu apakah mereka merasa kita mendengarkan mereka. Mendengarkan adalah perilaku yang saling tergantung.

Pria dan wanita biasanya dianggap  berpikir, berbicara, dan mendengarkan dengan cara yang berbeda satu sama lain. Tapi mungkin saran terbaik adalah bahwa jika kita belajar  mendengarkan secara penuh, hal ini mungkin dapat menjembatani kesenjangan perbedaan dan membawa kita kembali ke dalam hubungan yang lebih efektif.

One thought on “Mendengarkan: Faktor apa yang menghalangi orang saling mendengarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s