Mendengarkan: Pengaruh pengasuhan dalam pembentukan sikap dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi

“Terima kasih untuk Mendengarkan”

“Bagaimana Mendengarkan membentuk dan menghubungkan kita satu sama lain.”

Definisi tentang diri kita berkembang dalam interaksi lisan  dengan orang lain. Kita berfungsi dalam relasi dengan orang lain melalui berbicara dan mendengar, membuat suatu keseimbangan satu sama lain.Mendengarkan adalah kunci utama bagi pengembangan hubungan yang sehat antara diri kita sendiri dan dengan orang lain. Pengalaman batin kita dibentuk oleh apa yang kita disetujui untuk katakan atau lakukan, dan hal-hal yang tidak diperbolehkan. Orang tua membentuk persepsi batin anak-anak mereka dengan cara  mendengarkan hal-hal yang mendukung harga diri batiniah, atau dengan mengatakan hal-hal berupa penolakan yang  berkontribusi terhadap keyakinan dan kebutuhan seorang anak untuk mendapatkan  persetujuan dari orang luar. Pikiran yang tidak pernah dibagi bersama akan  membuat perpecahan batin dalam diri dan mempengaruhi karakter  anak.

Kita tidak dilahirkan dengan identifikasi diri yang telah utuh. Identifikasi diri ini dibangun oleh bagaimana kita mendengar dan menanggapi reaksi seorang bayi. Daniel Stern, dalam bukunya “Dunia interpersonal dari bayi” (New York: Basic Books, 1985) menjelaskan penemuannya tentang hubungan simbiosis terus-menerus dari bayi ke ibu, dan adanya kebutuhan untuk berfungsi di dalam hubungan itu sebagai awal menjadi orang yang dipahami, sesuatu yang sangat penting bagi kita. Berikut adalah perkembangan kebutuhan dan hubungan seorang bayi.

  • “Inilah Aku”: Munculnya Makna Diri  – Bayi (Lahir sampai 2 Bulan) sekali terlahir ke dalam dunia, mulai membuat tuntutan yang keras dengan suara keras. Mereka yang merawat bayi harus mencari tahu apa yang bayi inginkan. Para orangtua kemudian mulai memberikan makna terhadap suara-suara bayi, “Kamu ingin itu?”, “Kamu lapar?”, “Kamu ingin dipegang?”, “Kamu melakukan itu?”, dll.  Bayi yang tidak ditanggapi akan menjadi panik, merasa ditinggalkan, merasa tidak dimengerti, yang mulai membangun bentuk kehidupan bagi sang bayi.
  • “Hei, lihat aku!”: Perasaan Inti Diri Muncul – Ini adalah usia 2 sampai 7 Bulan ketika bayi mulai aktif dengan  senyum, suara, dan mengamati orang di sekitar. Ada godaan untuk menanggapi secara lebih tanda-tanda yang diberikan bayi. Ada juga orangtua yang begitu sibuk bahwa mereka tidak memberi tanggapan. Bayi adalah pribadi  dengan perasaan  dan kebutuhannya sendiri. Orang tua yang menanggapi berlebihan atau mengabaikan si bayi mengabaikan kebutuhan emosional anak. Respon yang tepat adalah untuk berhubungan dengan si bayi apa adanya, bukan seperti yang diinginkan orang tua. Kesepian dan keraguan adalah hasil negatif dari kegagalan pada usia dini.
  • “Sayang, aku kedinginan. Kamu mau pake sweater.?”: Rasa Diri yang Subyektif – Ini adalah usia sampai 12 Bulan saat anak mulai mengirimkan pesan tentang apa yang sesungguhnya dia inginkan. Ini adalah waktu telepati dan eksplorasi secara mental. Jika pesan tersebut dipahami, anak merasa diterima. Jika eksplorasi tersebut dihambat, anak merasa bingung dan kesal. Kesesuaian adalah tujuan bagi anak agar merasa diterima dan didukung untuk melanjutkan komunikasi dan eksplorasi.
  • “Tidak, saya tidak Ingin tidur siang, saya Ingin Bermain.”: The Sense of a Cukup Verbal – Pada usia ini (15 sampai 18 bulan) bahasa berkembang. Bahasa adalah langkah besar dalam belajar komunikasi. Namun, jika anak yang diabaikan pada tahap yang penting ini, ia akan mulai menarik diri dan pada ekstrimnya, dapat berkembang menjadi seseorang secara terus-menerus merasa sedih.
  • Pada usia empat atau lima tahun, anak yang telah didengarkan akan lebih percaya diri dan mempercayai orang-orang terdekat. Anak yang telah diabaikan, baik oleh penolakan atau dengan disiplin yang kuat, cenderung menarik diri dibandingkan mencari pertolongan saat berada dalam situasi stres di sekolah.

Saling pengertian satu sama lain adalah cara kita berhubungan, biasanya dengan cara lisan. Kita ingin berbagi pengalaman  dengan orang lain lewat  cara-cara paling sederhana yang memungkinkan kita bercerita tentang diri kita sendiri dan memiliki seseorang yang mendengarkan. Berhubungan secara empatik  membantu kita  merasa dihargai dan diperhatikan, apa adanya, tanpa dihakimi. Ketika anak sudah merasa aman, ia menjadi orang dewasa yang terus merasa aman saat berhubungan.

Ketika seseorang  didengar dan dihargai sebagai anak-anak, mereka tumbuh menjadi orang yang terbuka dan bisa percaya dengan orang lain. Orang yang dikerdilkan karena tidak didengar akan memegang kuat pikiran dan perasaannya, dan hal itu mengganggu komunikasi secara penuh. Mendengarkan dan didengarkan akan meningkatkan sikap, dan bahkan meningkatkan vitalitas fisik kita.

One thought on “Mendengarkan: Pengaruh pengasuhan dalam pembentukan sikap dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s