Mendengarkan: Seni yang Hilang

Mendengarkan adalah sebuah perilaku yang kelihatannya mudah dilakukan. Kenyataannya, walaupun kita memang mudah mendengar, sebenarnya sering kita tidak  meluangkan hati dan waktu untuk benar-benar mendengarkan orang lain. Artikel ini, dan yang lainnya yang akan menyusul, adalah serangkaian ringkasan sebuah buku tentang mendengar, The Lost Art of Listening, karya Michael P. Nichols, Ph. D.  Harapannya agar kita bisa meningkatkan keterampilan berkomunikasi secara efektif, terutama keterampilan mendengarkan dengan seksama.

Wisdom is the reward you get for a lifetime of listening when you’d have preferred to talk.  ~Doug Larson

Mendengarkan: Seni yang Hilang – Introduksi

Mendengarkan, atau lebih tepatnya, tidak mendengarkan satu sama lain telah memisahkan kita dari keluarga, teman, rekan kerja dll. Kita belum belajar untuk mendengarkan, apalagi untuk benar-benar mendengarkan secara empati. Biasanya ketika mendengarkan, kita sedang mempersiapkan tanggapan, baik untuk menceritakan kisah kita sendiri atau untuk menawarkan nasihat.

Kenyataannya, kita memiliki kebutuhan untuk berbicara dengan orang lain dan memperjelas pikiran kita sendiri. Sebagian besar dari kita disibukkan dengan alur kehidupan kita sendiri dan tidak memberi banyak pemikiran untuk mempertimbangkan kebutuhan orang lain untuk didengar. Kita mendengarkan sambil berharap untuk memberi tanggapan. Ketika sedang bersama seseorang, kita mendengarkan supaya tahu di mana kita dapat membantu. Ketika kita berbicara dalam suasana yang panas, kita menjadi defensif dan membalas dengan berbicara secara agresif atau menarik diri. Kemudian hidup terasa kosong dan kita tidak selalu mengerti mengapa. Akhirnya kita mengalihkan diri dengan hiburan atau kesibukan yang kemudian menghalangi kita untuk berbicara satu sama lain.

Dibutuhkan waktu dan usaha secara khusus untuk sungguh-sungguh mendengarkan. Kita tidak tahu bagaimana mendengarkan secara obyektif. Kita memberikan reaksi. Belajar mendengarkan membutuhkan waktu. Bahkan mungkin ada saat-saat ketika kita tidak dihargai sampai kita bisa lebih mengembangkan keterampilan mendengarkan. Ketika kita terampil,  mendengarkan akan menjadi sebuah seni yang memberi kepuasan besar saat kita belajar untuk memberi dan menerima.

Sudahkah anda belajar mendengar?

Menjawab sebelum mendengar adalah perbuatan yang bodoh dan tercela. (Amsal Sulaiman 18:13)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s