Keterampilan Konseling: 5 Tujuan Konseling

Introduction to Counselling Skills: Texts and Activities

Apa yang biasanya dicari dalam sebuah hubungan konseling antara konselor dan konseli (orang yang ditolong)? Dari sudut konseli biasanya ada harapan untuk secepat-cepatnya keluar dari situasi yang bermasalah (presenting problem). Artikel berikut, yang saya ambil secara bebas dari buku ini mencoba melihat beberapa tujuan dari hubungan konseling.

  • Menjadi pendengar – yaitu untuk menolong orang yang sedang ditolong mereasa dipahami dan didukung. Konselor membutuhkan keterampilan: mendengar sehingga dapat menenangkan, meredakan penderitaan, mengobati luka-luka psikologis dan sebagai tempat yang aman untuk bergerak maju. Untuk itu konselor perlu terampil untuk menyimak, memahami perspektif mereka, dan secara sensitif menunjukkan pada orang yang ditolong bahwa mereka telah didengarkan secara akurat.
  • Menolong mengelola situasi bermasalah secara spesifik – yaitu membantu menangani situasi tertentu yang tidak kondusif bahkan destruktif bagi orang yang ditolong. Untuk itu konselor perlu terampil untuk memusatkan pada satu masalah yang penting di depan dan bukan menyelesaikan seluruh masalah yang lebih besar.
  • Menolong menangani masalah secara luas – sering terjadi ada masalah yang lebih besar dan lebih kompleks dibanding situasi yang spesifik. Untuk itu konselor perlu mengenali dimensi-dimensi dan aspek-aspek permasalahan yang secara luas mengganggu kehidupan orang yang ditolong dan menyebabkan mereka tidak bisa maju dalam hidup.
  • Mengubah keterampilan yang buruk – yaitu kebiasaan dan keterampilan hidup yang bermasalah, tidak efisien dan tidak efektif dalam memajukan hidup konseli. Biasanya ada pengulangan kebiasaan masa lalu, yang terdiri dari keterampilan pikiran, keterampilan berpikir dan keterampilan bertindak. Jadi yang perlu ditemukan bukan hanya presenting problem (yaitu masalah saat ini yang ingin dibereskan konseli), namun keterampilan buruk yang menciptakan, melestarikan atau memperburuk kehidupan seseorang.
  • Mewujudkan nilai-nilai dan falsafah hidup – yaitu keterampilan konseli untuk secara kompeten mengelola situasi yang bermasalah dalam hidupnya, mengelola masalah-masalahnya dan mengubah keterampilan yang bermasalah menjadi keterampilan yang mendukung, sehingga orang yang ditolong  menjadi seseorang yang dapat mengaktualisasi diri (self actualizing), berfungsi sepenuhnya (fully functioning) dan memiliki pencerahan hidup (enlightenment).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s