Bersyukur: 6 riset psikologis yang mendukung pentingnya bersyukur

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

 

Firman Tuhan mendorong kita untuk selalu bersyukur, baik itu dalam doa ataupun komunikasi kita. Harus diakui bahwa perasaan bersyukur yang keluar dari hati yang dalam adalah sesuatu yang jarang kita lakukan. Riset berikut memberikan alasan mengapa kita perlu bersyukur, menguatkan apa yang telah difirmankan Tuhan.

  • Perilaku yang lebih baik: Anak-anak yang mempraktekkan cara berpikir beryukur memiliki sikap yang lebih positif terhadap sekolah dan keluarga (Froh, Sefick, Emmons, 2008).
  • Pencapaian tujuan pribadi yang lebih baik: Para peserta yang memiliki daftar untuk disyukuri akan memiliki kemajuan penting terhadap tujuan pribadi (baik secara akademis, antar pribadi maupun kesehatan) dalam sebuah eksperimen selama 2 bulan, dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki daftar untuk disyukuri.
  • Hubungan yang lebih dekat, kebahagiaan yang lebih besar: para pelajar yang diberikan tema bersyukur merasa mereka lebih bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan sekolah. Mereka yang menghitung berkat selama 3 minggu memiliki rasa bersyukur lebih besar kepada orang yang menolong, yang membuat rasa bersyukur yang lebih besar lagi. Menyatakan syukur juga membuat orang lebih puas dan merasa lebih baik tentang hidup dan sekolah.
  • Nilai yang lebih baik: Anak-anak kelas 6 dan 7 yang memiliki jurnal syukur selama 3 minggu memiliki nilai yang lebih baik dalam waktu setahun berikutnya
  • Energi, Perhatian dan Antusias yang lebih besar: Latihan bersyukur pada orang dewasa muda memberikan hasil kepekaan, antusias, ketekunan, perhatian dan energi yang lebih besar
  • Sensitivitas lebih besar: Anak-anak yang menulis jurnal rasa syukur memiliki kepekaan lebih akan situasi yang ada, dan mendukung mereka lebih menolong, memberi, berbelas kasihan dan perilaku sosial positif lainnya. 

“Rasa syukur adalah sesuatu yang baik bagi pemberi dan juga baik bagi penerima,”

Kata Professor Emmons. “Hal ini telah didokumentasikan dalam pertemanan, percintaan dan pasangan hidup. Satu riset memperlihatkan bahwa pernyataan terima kasih akan memperbesar sampai dua kali lipat kemungkinan seorang penolong untuk memberikan bantuannya lagi. 

Apa yang terjadi jika kita tidak mempraktekkan Rasa Syukur?

Riset memperlihatkan bahwa anak muda yang tidak bersyukur akan “kurang puas dengan hidup mereka dan lebih mungkin bersifat agresif dan melakukan tindakan yang beresiko, seperti seks bebas lebih awal, kecanduan, pola makan tidak sehat, tidak melakukan aktivitas fisik dan nilai yang buruk”. 

Riset from: Thanks!: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s