Lifeskill #4 Berdamai dengan Masa Lalu

Sebagian orang tidak begitu memperdulikan pengalaman yang terjadi di masa lalu. Apa yang sudah terjadi, terjadilah – begitu menurut mereka, dan lebih memberikan perhatian pada hal-hal yang harus dilakukan sekarang, atau perencanaan masa depan. Ada sebagian lagi yang terjebak dalam pengalaman masa lalu, mungkin akan keberhasilan-keberhasilan masa lalu, sementara beberapa hidup dalam kegetiran karena kegagalan masa lalu, dan sulit untuk memberikan perhatian pada kebutuhan masa sekarang dan perencanaan masa depan. Bagaimana seharusnya kita bersikap: memikirkan masa sekarang dan masa depan, atau memberi perhatian lebih pada masa lalu?

Kebutuhan memandang waktu secara kudus
A    Ketidakseimbangan yang dilakukan banyak orang

  • Berpusat pada masa lalu – Hidup dalam ingatan-ingatan akan masa lalu. Beberapa orang hidup mengenang kembali kejayaan yang dialami pada masa lalu, dan kemudian sering membandingkannya dengan kehidupan sekarang, yang sering dirasa lebih buruk. Beberapa terikat akan kepahitan dan kesakitan yang pernah dialami di masa lalu, hidup dalam trauma dan ketakutan, bahwa hal yang buruk akan terulang kembali.
  • Berpusat pada masa sekarang – hidup hanya untuk hari ini saja. Hidup yang hanya mengalir saja, tanpa memperhitungkan apa yang akan dicapai pada masa depan.
  • Berpusat pada masa depan – hidup dengan tujuan-tujuan yang besar yang ingin dicapai pada masa yang akan dating. Namun orang juga bisa terjebak hidup dalam fantasi dan ambisi,  dan hidup mengejar keinginan semata.

B    Contoh kasus – Yesus memulihkan Petrus dan memberinya tugas untuk masa sekarang dan depan

  • Dalam Yoh 21:15-19 Yesus tiga kali bertanya kepada Petrus – “apakah engkau mengasihi Aku”, dan hal itu menyedihkan hati Petrus. Namun Yesus melakukan ini untuk memulihkan hati Petrus yang telah 3 kali menyangkalnya. Dalam hal ini Yesus membereskan masa lalu Petrus agar ia siap untuk tugas selanjutnya.
  • Pertanyaan Yesus juga merujuk pada kondisi Petrus yang sekarang. Dulu Petrus pernah berkata bahwa imannya sekali-kali tidak akan tergoncang (Mat 26:33), namun sekarang Petrus menjawab dengan menyatakan isi hati yang paling dalam “Tuhan, Engkau tahu…”
  • Yesus juga memberi mandat dan tugas kepada Petrus “Gembalakanlah domba-dombaku”, dan memberi nubuatan bagaimana Petrus akan “mati dan memuliakan Allah” (John 21:19)
  • Di sini kita bisa melihat bahwa bagi Tuhan Yesus masa lalu, masa sekarang dan masa depan Petrus sangat berharga bagi Dia, dan Allah mau ikut campur dalam hal itu semua.


Pentingnya berdamai dengan masa lalu
A    Masa lalu adalah sebuah monumen peringatan

  • Allah secara spesifik memerintahkan umat Israel untuk mendirikan tanda-tanda peringatan (misalnya Yosua 4), supaya menjadi kesaksian akan kesetiaan dan kuasa Allah.
  • Dengan mengingat pekerjaan Allah di masa lalu, kita memiliki jaminan akan perlindungan dan pemeliharaan Allah di masa depan.

B    Masa lalu bagian dari proses pertumbuhan

  • Masa lalu, apakah itu dalam hal kesuksesan ataupun kegagalan, merupakan bagian pertumbuhan seseorang. Dengan melihat masa lalu dan membandingkannya dengan kondisi sekarang, kita bisa menilai apakah kita sedang bertumbuh semakin baik, atau justru semakin buruk. Jelas tujuannya bukan untuk membanding-bandingkan, namun supaya kita tahu aspek apa dalam kehidupan kita yang perlu mendapatkan fokus pertumbuhan.
  • Kita juga perlu belajar dari apapun yang kita telah kita lewati, yang akan mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan dengan lebih baik. Belajar dari kesuksesan dan kegagalan kita menolong kita untuk merubah hal-hal yang bisa menghalangi kita mencapai tujuan yang dikehendaki.

C    Pemberesan masa lalu diperlukan untuk menghadapi tugas-tugas masa depan
Seperti contoh yang diperlihatkan dengan kisah Petrus di atas, maka pemberesan masa lalu merupakan bagian dari pemulihan untuk menghadapi tugas dan mandat pekerjaan Tuhan di masa depan.

Bagaimana berdamai dengan masa lalu
A    Prinsip-prinsip yang perlu kita pegang

  • Kita perlu berorientasi pada masa depan. Seperti Paulus katakan, bahwa ia melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan dirinya ke satu tujuan (Fil 3:13-14). Namun sebelum itu ia telah membereskan masa lalunya terlebih dahulu (Fil 3:7-8). Masa lalu yang belum dibereskan akan menghambat pencapaian tujuan yang dicita-citakan.
  • Kita secara berhikmat membereskan aspek masa lalu yang perlu dipulihkan, dan bukan mencari-cari hal-hal yang perlu dibereskan dengan sia-sia. Kita perlu membatasi agar perhatian kita tidak sepenuhnya dikendalikan untuk membereskan masa lalu, bahkan sampai membutakan kita akan kebutuhan masa sekarang. Untuk itu kita perlu memberi waktu dengan bertanya kepada Tuhan hal-hal spesifik apa yang perlu dibereskan.
  • Satu langkah setiap waktu. Jika kita telah mengetahui hal-hal tertentu yang perlu dibereskan, kecenderungan kita ialah ingin agar semuanya beres dalam sekejap. Namun pemulihan dari masa lalu perlu dilakukan dalam konteks kehendak Allah, dan kita perlu melewati proses ini dengan kecepatan dan cara yang sesuai kehendak Allah.
  • Kita perlu melibatkan orang lain, yaitu bagian dari komunitas kita untuk menolong dan mendukung kita melewati proses ini. Kemungkinan besar bagian dari masa lalu yang perlu dibereskan akan melibatkan orang lain, apakah sebagai pelaku hal-hal yang menyakitkan, atau sebagai korban dari hal-hal tidak benar yang kita lakukan. Untuk itu keberadaan orang yang bisa dipercaya akan sangat menolong kita dalam memberi pandangan yang berhikmat dan dukungan moral dalam melewati proses ini.

B    Langkah-langkah berdamai dengan masa lalu
1.    Mengambil waktu untuk merenungkan hal-hal apa saja yang perlu dibereskan. Kita bisa mulai dengan membuat daftar:

  • Hal-hal yang menghambat pertumbuhan kita untuk menjadi pribadi yang diinginkan Allah
  • Hal-hal yang mengurangi sukacita, rasa penuh dan sejahtera di dalam Tuhan
  • Ingatan-ingatan yang mengganggu kita

2.   Dengan dukungan dari orang yang berhikmat dan bisa dipercaya, kita perlu berdoa kepada Tuhan untuk menunjukkan secara spesifik, hal-hal apa dari daftar di atas yang perlu kita bereskan saat ini. Sekali lagi kita perlu mengingat prinsip bahwa pemberesan ini dilakukan dengan cara dan waktu Allah.
3.    Ketika kita sudah  mendapatkan hal yang perlu secara spesifik kita bereskan, maka tanggapan kita akan terdiri dari beberapa hal:

  • Jika hal tersebut berhubungan dengan kesalahan dan dosa kita, maka kita perlu membereskannya dengan Tuhan dan orang yang telah kita rugikan
  • Jika hal tersebut berhubungan dengan kesalahan dan dosa orang lain terhadap kita, maka kita perlu membereskannya dengan cara mengampuni orang yang bersalah
  • Jika hal itu berhubungan sifat dan kebiasaan kita yang tidak baik, maka kita perlu bertobat, dan mengubah hal-hal yang tidak baik tersebut.

4.    Dalam semua hal tersebut kita perlu merenungkan apa yang Allah ingin kita pelajari dari hal-hal yang telah terjadi tersebut. Jika kita merenungkannya dengan melibatkan Allah dan orang lain secara benar, maka kita akan bisa berkata seperti Paulus dalam Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
5.    Hasilnya adalah hidup yang bersyukur dan dipenuhi oleh sukacita, karena kita tahu bahwa kita berada dalam kehidupan yang aman dan sejahtera, dalam perlindungan dan pimpinan Allah Mahakuasa yang tahu hal yang terbaik buat kehidupan kita.

One thought on “Lifeskill #4 Berdamai dengan Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s