Kesejahteraan 07.1 Pemulihan Luka Batin

Reaksi orang yang mengalami suatu peristiwalah yang menentukan apakah kejadian tersebut menjadi pengalaman traumatis. Dua orang yang mengalami kejadian buruk yang sama belum tentu akan melihatnya sebagai satu pengalaman traumatis. Karenanya penting untuk melihat kejadian traumatis sebagai peristiwa yang unik, sangat tergantung pada reaksi dan pemahaman orang tersebut secara subyektif, yang ditandai oleh:

  • Anggapan bahwa pengalaman tersebut merupakan ancaman yang besar terhadap kehidupan, keutuhan fisik, eksistensi, harga diri maupun kesehatan mentalnya
  • Perasaan tidak berdaya dalam melindungi dan menyelamatkan milik yang berharga, baik jasmani maupun rohani
  • Ketidakmampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan perasaan, dan lebih banyak berpikir serta berperilaku berdasarkan refleks dan naluri

Sebuah kejadian mengakibatkan trauma kejiwaan saat kejadian tersebut melebihi kemampuan seseorang untuk menanggulangi, baik secara fisik, intelektual maupun emosional. Semakin seseorang merasa terancam dan tidak berdaya, maka semakin besar pula kemungkinan trauma yang terjadi.

Selain unsur ancaman dan ketakutan, hal-hal di bawah ini juga merupakan sumber trauma bagi seseorang, apabila ia mengalami satu peristiwa dan unsur-unsur berikut terjadi:

  • Kehilangan dan dukacita: saat seseorang merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan berarti baginya, hal tersebut dapat mengejutkan sehingga mengakibatkan trauma. Sesuatu yang sangat berharga ini dapat merupakan hal yang bersifat kongkrit dan fisik, mis. kehilangan materi atau barang-barang, kehilangan orang yang dikasihi dll, dan juga bisa hal yang bersifat abstrak non-materi, misalnya seseorang yang merasa kehilangan nama baik atau reputasinya hancur
  • Malu dan merasa sangat terhina: seseorang yang mengalami peristiwa yang dirasa sangat memalukan atau melecehkan harga dirinya juga biasanya mengalami trauma, mis. seseorang yang mengalami penyiksaan yang kejam, selain mengalami trauma karena kekerasan, juga bisa mengalami trauma karena merasa dirinya begitu rendah dan kotor
  • Isolasi dan pemisahan: yaitu kondisi di mana seseorang merasa sendiri, atau berbeda dari yang lainnya. Hal ini bisa dialami secara fisik, misalnya seorang anak yang dipisahkan dari orang tuanya, atau secara psikis, misalnya seseorang yang baru selamat dari bencana dan kemudian merasa terasing ketika sedang bersama-sama dengan orang lain yang tidak mengalami bencana tersebut.
  • Penolakan dan pengabaian: yaitu kondisi dikhianati, tidak diperhatikan dan tidak dikasihi, terutama oleh mereka yang seharusnya mengasihi dan memperhatikan
  • Kerusakan jasmani: termasuk di dalamnya adalah mereka yang mendapat luka atau cedera fisik yang berat, melihat peristiwa di mana ada kerusakan fisik yang hebat, misalnya dalam satu pertempuran, atau juga ketika mengakibatkan kerusakan jasmani pada orang lain, misalnya dalam satu kecelakaan


Faktor-faktor yang mempengaruhi Trauma
Seperti dikatakan di atas, peristiwa traumatis adalah sesuatu yang bersifat subyektif, yaitu sangat tergantung pada pemahaman dan reaksi orang yang mengalami peristiwa tersebut. Sebuah peristiwa akan mempengaruhi seseorang dengan cara yang unik, dan saat beberapa orang mengalami peristiwa yang sama, mereka tidak akan memberikan reaksi yang sama persis. Usia, tingkat pendidikan, pengalaman lampau, budaya serta iman seseorang akan mewarnai reaksinya terhadap satu peristiwa. Walau demikian, ada beberapa faktor yang dapat memperbesar kemungkinan trauma:

Frekuensi peristiwa traumatis
Peristiwa yang terjadi hanya sekali, atau terulang dalam bentuk yang jauh berbeda, ataupun terjadi lama setelah peristiwa pertama terjadi, misalnya:

  • Bencana, yaitu kejadian yang tragis dan dahsyat yang biasanya meliputi populasi yang relatif besar: gempa, topan badai, tsunami, banjir, dll.
  • Kecelakaan: kebakaran, kecelakaan kendaraan, pesawat, kapal dll.,
  • Kekerasan: perampokan, pemerkosaan, pemboman teroris, dll.
  • Kehilangan, yaitu kehilangan orang yang dikasihi, kematian, dan kehilangan materi

Peristiwa yang terjadi dalam bentuk yang sama atau hampir sama dan berulang, misalnya:

  • Peperangan: perang saudara, invasi, penjajahan yang berlangsung bertahun-tahun
  • Pelecehan: pelecehan anak atau pelecehan seksual yang dilakukan berulang kali
  • Kekerasan: kekerasan antar geng, pemerasan, kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dalam kurun waktu tertentu.

Bentuk: Aktif atau Pasif

  • Aktif: Ketika hal-hal yang buruk terjadi pada seseorang, misalnya: pelecehan, bencana dan kekerasan
  • Pasif: Ketika hal-hal yang baik tidak terjadi pada diri seseorang, mis: kekurangan kasih sayang/ perhatian, ketiadaan teladan, dll.

Tujuan: Sengaja atau Tidak sengaja

  • Sengaja: ketika kejadian tersebut dilakukan secara sengaja, atau korban memang menjadi sasaran pelaku, misalnya teror bom atau perampokan di suatu tempat
  • Tidak sengaja: ketika kejadian tersebut terjadi tanpa unsur kesengajaan, korban bukan merupakan sasaran pelaku, misalnya bencana alam, atau kecelakaan di jalan

Pelaku: Otoritas/orang dekat atau orang luar

  • Otoritas, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang seharusnya dapat dipercaya dan bertanggung jawab untuk kesejahteraan kita, mis. orang tua, saudara yang lebih besar, guru, pendeta dll. Ketika pihak otoritas ini mengakibatkan pengalaman traumatis, akan ada dampak perasaan tertolak, rasa dikhianati dan kehilangan kepercayaan kepada otoritas.
  • Orang luar, mis. perampokan oleh seseorang, bisa orang yang dikenal maupun tidak, namun hal ini dapat mengakibatkan perasaan menghakimi kepada orang atau kelompok tertentu
  • Persepsi orang lain terhadap peristiwa tersebut

Dalam banyak hal reaksi seseorang yang mengalami peristiwa traumatis akan sangat dipengaruhi oleh tanggapan orang lain terhadap peristiwa itu (baik secara nyata maupun menurut anggapan korban), misalnya:

  • Seorang korban pelecehan, yang merasa peristiwa tersebut bagi orang lain merupakan peristiwa memalukan, akan mengalami trauma yang lebih besar karena harus menyembunyikan peristiwa tersebut, atau ada perasaan takut akan dituduh sebagai biang keladi peristiwa tersebut
  • Korban bencana alam, apalagi bencana yang dahsyat yang menjadi pusat perhatian dan mengundang simpati banyak orang. Perhatian dan simpati ini akan dapat mengurangi intensitas trauma dibandingkan mereka yang mengalami trauma dan kemudian merasa diabaikan sama sekali.
  • Seorang anak yang berulang kali mengalami penolakan, namun hal tersebut terjadi pada budaya yang biasa mempraktekkan hal tersebut (misalnya dalam budaya suku tertentu yang mengutamakan anak laki-laki dan mengabaikan anak perempuan). Anak itu akan tumbuh besar dan tidak sadar bahwa ia telah mengalami trauma, bahkan mungkin trauma yang mungkin sangat mempengaruhi hidupnya. Orang lain di sekelilingnya pun mungkin tidak menyadari hal tersebut, dan menganggap bahwa apa yang terjadi adalah peristiwa yang biasa saja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Intensitas Trauma

Dampak pengalaman traumatis pada seseorang akan semakin besar apabila terdapat aspek-aspek berikut:

  • Disebabkan oleh manusia, baik secara sengaja maupun karena kelalaian
  • Kejadian tersebut berulang, atau ada pengalaman traumatis lain yang mendahuluinya
  • Tidak dapat diprediksi atau terjadi dengan sangat tiba-tiba
  • Memiliki beberapa aspek yang traumatis sekaligus, mis: gempa dahsyat diikuti kehilangan keluarga, dan kemudian mengalami penjarahan
  • Memiliki unsur teror, sadisme atau sesuatu yang sangat dahsyat
  • Terjadi pada saat masih kecil, dan dilakukan oleh seseorang yang adalah bagian dari otoritas, yaitu orang yang seharusnya dapat dipercaya
  • Situasi yang akan memberikan dampak yang paling besar adalah apabila pengalaman traumatis tersebut dilakukan dengan cara kekerasan (baik fisik, emosional maupun seksual) dan masih terus berlangsung, yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang menjadi tempat bergantung ditambah perasaan tidak berdaya karena harus menyimpan rahasia/aib, misalnya pelecehan oleh orang tua kepada anaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s