Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #2

A Yesus datang untuk membawa hidup

Sejak manusia jatuh dalam dosa, kelimpahan dan kehidupan menjadi sesuatu yang harus diusahakan dengan keras oleh manusia. Kejatuhan manusia membuatnya menjauh dari kehidupan yang sejati, karena manusia kemudian menjadi terpisah dengan Allah yang adalah sumber kehidupan yang sejati . Dunia ciptaan pun mendapatkan kutukan , sehingga menjadi sulit bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sejak itu keadaan kelimpahan merupakan suatu suasana kondisional, yaitu keadaan bersyarat yang tergantung akan hubungan manusia dengan Allah.

Bukan itu saja. Kondisi manusia yang terpisah dengan Allah menyebabkan manusia memiliki kehidupan yang semu. Kita masih memiliki kesempatan untuk meneruskan kehidupan, sama seperti Adam yang masih mengalami hidup, sampai ia berumur 930 tahun dan kemudian mati. Namun sebenarnya itu adalah kehidupan yang semu, karena kita semua seharusnya sudah mati, atau sedang menuju kematian kekal yaitu penghukuman untuk dosa-dosa kita. Kelihatannya bernyawa dan berfungsi, namun sebenarnya sedang tidak hidup. Kondisi ini digambarkan dalam film Matrix, saat manusia mengira mereka sedang menjalankan aktivitas sehari-hari, walaupun sebenarnya mereka sedang berada dalam kondisi mati suri dan hidup dalam dunia maya.

Manusia berada dalam keadaan yang sulit. Di satu sisi ia adalah orang hukuman yang harus
menanggung sanksi yang dijatuhkan padanya. Namun di sisi lain tidak ada satu pun yang bisa ia lakukan untuk membebaskan diri hukuman. Hukuman itu begitu besar, sehingga tidak ada manusia yang bisa bebas dari hukuman tersebut. Hanya Allah sendiri yang bisa memuaskan hukuman tersebut. Itu artinya kondisi manusia adalah suatu kepastian – yaitu hukuman kekal , dan tidak ada cara untuk menghindarinya. Jadi walaupun manusia hidup, namun terpisah dari Allah – selama-lamanya. Bagaimana manusia bisa melepaskan diri dari kerusakan ini?

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita,” (Ef 2:4)

demikian Paulus berkata, untuk memperlihatkan bagaimana sebenarnya hati Allah. Bahkan ketika Ia menjatuhkan hukuman kepada Adam dan segala ciptaan, Allah sudah mempersiapkan jalan keluar bagi manusia. Allah  berjanji bahwa akan ada Pembebas yang berasal dari keturunan Hawa yang akan menghancurkan pekerjaan Iblis , dan pada saat yang sama membebaskan manusia.

Untuk itulah Yesus datang ke dunia. Ketika malaikat datang kepada Yusuf, ada janji bahwa anak Maria akan menjadi orang yang “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:21). Kehidupan yang bebas dari hukuman adalah hasil kedatangan Yesus. Tidak ada satupun yang bisa mendapatkan hidup ini melalui kelahiran, kebaikan, prestasi ataupun pencapaian lainnya. Tidak ada cara lain untuk mendapatkan
keselamatan kecuali melalui Yesus.

Dalam Yoh 10 Yesus menempatkan diri—Nya sebagai Gembala, dan mereka yang percaya kepada—Nya sebagai domba. Mengapa domba? Karena domba memiliki beberapa karakteristik:

  1. domba memiliki ketergantungan yang sangat besar kepada gembala karena ketidakmampuannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri – perlindungan, makanan, minuman, kandang dan pengobatan,
  2. domba juga biasanya kurang cerdas, mudah tersesat dan kesulitan untuk kembali ke kandang, walaupun sebenarnya berada di dekat mereka.

Kepada orang-orang yang bergantung kepada—Nya Yesus menjanjikan kehidupan yang sejati. Hidup yang dijanjikan oleh Yesus sang Gembala Agung adalah hidup yang:

1. Dalam keselamatan

Kita berada di dalam keselamatan karenaYesus bersedia mati untuk keselamatan kita . Hanya dengan memandang kepada salib, dimana Allah sendiri pernah tergantung, disitulah manusia menemukan keselamatan. Karena hanya Allah sendiri yang bisa memenuhi tuntutan hukum, maka Ia sendiri yang datang
dan menjadi manusia untuk menggantikan manusia, dan pada saat yang sama membebaskan kita semua dari hukuman itu.

2. Dalam keamanan

Kita berada dalam keamanan karena ada perlindungan penuh dari sang Gembala Agung. Ada penjaga yang ikut menjagai kehidupan kita. Ada pintu di mana kita bisa mengalami kebebasan untuk masuk dan keluar ke padang rumput. Ia menghalau pencuri, perampok dan para serigala.

3. Dalam bimbingan dan tuntunan

Yesus juga mengenal domba-domba—Nya, bahkan memanggil dengan nama masing-masing. Dan
kebalikannya, para domba pun bisa mengenali suara Sang Gembala. Yesus menuntun kita dan juga memimpin kehidupan kita dengan cara berjalan di depan.

4. Dalam kesejahteraan

Kesejahteraan dan kelimpahan domba ada dalam pikiran Gembala. Padang rumput adalah tempat yang
dijanjikan oleh Yesus kepada kita. Karenanya hidup yang dijanjikan Yesus bukanlah sekedar hidup, namun hidup yang berkelimpahan.

Keempat hal ini, keselamatan, keamanan, bimbingan dan kesejahteraan adalah satu paket yang dimaksudkan dengan hidup yang dijanjikan Tuhan. Ketika kita menerima hidup, yang adalah karunia dari Allah buat kita,
maka secara otomatis kita menerima hidup itu dalam segala aspek-aspek yang dijanjikan Allah.

One thought on “Renungan: Hidup yang Berkelimpahan (Yoh 10:10) #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s