Kesejahteraan 05.3 Pemahaman tentang Bersatu

Kita telah mempelajari dari Kej 2:24 bahwa pernikahan, yaitu pembentukan sebuah keluarga haruslah memiliki 3 dasar, yaitu (i) berdasarkan rancangan Allah, (ii) bagi orang dewasa (meninggalkan) (ii) terdiri dari satu pria dan satu perempuan (bersatu). Kita juga telah belajar tentang konsep Meninggalkan – yaitu satu keputusan untuk menjadi dewasa, secara emosi, lewat pemisahan diri dan pemberian batas, meninggalkan ketergantungan dan menjadi mandiri. Saat ini kita akan belajar konsep Bersatu sebagai syarat terjadinya keluarga yang harmonis.

Apa yang dimaksudkan dengan bersatu dalam pernikahan:

Dua pribadi yang memiliki keunikan masing-masing yang memilih untuk melebur dalam satu kesatuan, menjadi terikat satu sama lain dalam perjanjian.

Apa saja yang perlu disatukan, ketika menjadi suami dan istri?

Menjadi satu kesatuan dalam kasih

  • Kesatuan secara tubuh, namun juga secara emosi – menjadi satu daging berarti ada kedekatan dan keintiman secara fisik, seksual dan juga emosional. Pada mulanya ketika laki-laki dan perempuan diciptakan, tidak ada batas yang memisahkan Adam dan Hawa, bahkan pakaian pun tidak. Dan itu adalah rencana awal Allah bagi suami dan istri ketika mereka akan memiliki keintiman yang sangat dalam. Namun karena kejatuhan manusia dalam dosa, Adam dan Hawa memiliki batas secara fisik lewat pakaian mereka, tapi juga secara emosi, karena mereka mulai menyalahkan satu sama lain. Saat ini dibutuhkan cara-cara dan komitmen yang sehat, agar suami dan istri memiliki keintiman secara fisik, seksual dan emosional. Banyak keluarga yang tidak didasari oleh kasih dan keintiman satu sama lain, dan walaupun dari luar kelihatannya baik-baik saja, namun sebenarnya mereka sebenarnya kehilangan sukacita berkeluarga.
  • Kesatuan secara jiwa – ketika seorang laki-laki dan perempuan melakukan hubungan seksual, terjadi ikatan di antara mereka berdua. Dan hal ini terjadi, baik ketika kita melakukannya dalam ikatan yang sah sebagai suami dan istri, ataupun dengan orang lain. `Dalam 1Kor 16:6 Paulus menggunakan istilah ‘mengikatkan’ untuk hubungan perzinahan. Karenanya penting bagi suami dan istri untuk menjaga kekudusan dalam pernikahan, baik sebelum menikah, maupun setelah menikah. Jika tidak, maka akan ada ikatan-ikatan yang lain yang mengganggu kesatuan jiwa antara suami dan istri.
  • Kesatuan dalam tujuan – dalam bagian pertama telah disebutkan bahwa keluarga dibentuk berdasarkan rancangan Allah, dan karenanya juga akan memiliki tujuan-tujuan ilahi. Tujuan itu di antaranya: (i) Beranak-cucu, (ii) Melakukan pekerjaan-pekerjaan baik di bumi, (iii) Bersukacita lewat pernikahan. Karenanya penting bagi suami dan istri untuk memadukan semua sumber daya mereka untuk tujuan bersama. Misalnya secara materi, apa yang menjadi milik istri akan menjadi milik suami, karena akan digunakan untuk tujuan bersama. Demikian juga apa yang kemudian didapatkan oleh suami, misalnya pendapatan sehari-hari, sebenarnya juga didapatkan oleh istri dan digunakan untuk tujuan bersama. Dan walaupun keduanya memiliki hak masing-masing sebagai pribadi, namun mereka bersedia untuk melepaskan hak tersebut untuk dapat mencapai tujuan bersama.

Hidup dalam kesetiaan

Karena pernikahan ini adalah perjanjian yang dilakukan oleh dua orang pribadi di hadapan Tuhan, maka ketika bersatu, artinya keduanya berjanji untuk memiliki kesetiaan satu sama lain, dalam segala aspek kehidupan. Mereka telah meninggalkan masa lalu dan keluarga asal, dan sekarang telah menerima satu sama lain dan membentuk keluarga yang baru.

  1. Kesetiaan secara seksual – tidak ada hubungan seksual di luar pernikahan
  2. Kesetiaan secara hati – tidak ada orang lain di luar keluarga asal yang boleh mengganggu kesatuan hati
  3. Kesetiaan secara prioritas – memberi prioritas yang tertinggi bagi keluarga dan tidak membiarkan ada hal yang lain mengganggu prioritas ini, termasuk di dalamnya keluarga asal, lingkungan sosial (teman-teman), pekerjaan, bahkan pelayanan.
  4. Kesetiaan secara finansial – bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di dalam keluarga

Memiliki peran dan tanggung jawab ilahi

Peran dan tanggung jawab sebagai seorang laki-laki, suami dan ayah:

  • Sebagai kepala, yang dalam kasih, memiliki inisiatif dan tanggung jawab untuk membawa keluarga mencapai tujuan-tujuan ilahi
  • Sebagai sumber, yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga. Tidak jadi masalah apakah istri bekerja, atau pendapatannya lebih tinggi, karena semua itu menjadi satu dalam keluarga. Yang penting apakah suami sudah memberi yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 
  • Sebagai saluran kasih Allah kepada keluarga

Peran dan tanggung jawab sebagai perempuan, istri dan ibu

  • Sebagai penolong yang sepadan – mitra suami dalam membawa keluarga mencapai tujuan ilahi
  • Sebagai Manajer keluarga – yang akan mengatur sumber daya di dalam keluarga agar bisa mencapai tujuan-tujuan ilahi.


Kesejahteraan 05: Meninggalkan dan Bersatu sebagai dasar pernikahan

05.1 Pemahaman tentang tentang dasar pernikahan Kristen
05.2 Pemahaman tentang Meninggalkan
05.3 Pemahaman tentang  Bersatu
05.4 Bagaimana cara meninggalkan & bersatu

4 thoughts on “Kesejahteraan 05.3 Pemahaman tentang Bersatu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s