Kesejahteraan 05.2 Pemahaman tentang Meninggalkan

Kita telah mempelajari dari Kej 2:24 bahwa pernikahan, yaitu pembentukan sebuah keluarga haruslah memiliki 3 dasar, yaitu (i) berdasarkan rancangan Allah, (ii) bagi orang dewasa (meninggalkan) (ii) terdiri dari satu pria dan satu perempuan (bersatu). Dalam bagian ini kita akan belajar tentang apa itu meninggalkan – yaitu satu keputusan untuk menjadi dewasa.

 

Apa saja yang harus kita tinggalkan ketika kita menikah:

 

Meninggalkan secara emosi – dan memutuskan untuk menjadi dewasa

  • Memindahkan kesetiaan dan prioritas dari keluarga asal kepada keluarga yang baru

 

Karena sudah dewasa, maka ketika menjadi suami istri harus memindahkan kesetiaan dan prioritas dari keluarga asal kepada keluarga yang baru. b.Ketidakseimbangan dan ketidakdewasaan dalam memilih prioritas akan mengakibatkan konflik dan permasalahan dalam keluarga baru.

 

  • Meninggalkan peran seorang anak dan mengambil tanggung jawab sebagai orang dewasa

 

Pernikahan adalah proses bersatunya seorang laki-laki dewasa dan perempuan dewasa yang siap untuk mengambil peran dan tanggung jawab sebagai seorang suami, ayah, istri dan ibu yang sesuai dengan kehendak Allah. b.Harus diakui bahwa setiap orang akan memiliki ketidakdewasaannya masing-masing. Penekanannya adalah dalam memilih untuk menjadi dewasa dan berkomitmen untuk bertumbuh terus dalam kedewasaan. c.Dalam hal ini peran terbesar orang tua terhadap anak adalah dalam menyiapkan anak tersebut untuk siap meninggalkan keluarga asal dan menjadi orang yang mandiri dan dewasa.

 

  • Siap untuk diproses dari luka-luka lama, sehingga masa lalu tidak memiliki pengaruh negatif dalam kehidupan keluarga yang baru

 

Pernikahan sering menjadi ajang bagi masa lalu dua orang untuk ambil peranan. Sering pertengkaran terjadi, walaupun dipicu oleh masalah masa kini, namun sebenarnya pertengkaran itu hanyalah membuka luka lama, yang dialami oleh mungkin satu atau kedua pasangan itu. Karenanya penting untuk dapat membedakan mana yang sedang menjadi faktor dominan dalam suatu konflik atau pengambilan keputusan – apakah masa lalu atau masa sekarang. Ketika masa lalu masih memberi pengaruh yang besar dan negatif, maka pasangan harus siap untuk membereskannya dengan cara yang sehat.

 

Memisahkan diri – dan memutuskan untuk memberi batasan yang jelas

 

  • Harus ada pemisahan dan batasan yang jelas antara keluarga asal dan keluarga baru

 

Pemisahan itu sebaiknya berupa pemisahan fisik – ketika keluarga yang baru menempati rumah sendiri dan dan mengaturnya tanpa terlalu banyak campur tangan pihak lain. Ketika pemisahan secara fisik tidak dapat dilakukan, perlu ada pemikiran bahwa hal tersebut hanya berlangsung sementara saja dan bukan hal yang permanen. Namun yang paling penting adalah batasan yang jelas – di mana keluarga yang baru menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilewati

 

  • Meninggalkan aturan-aturan keluarga asal yang sudah tidak sesuai dan menggantinya dengan aturan keluarga yang baru

 

Tidak semua aturan yang diberikan pada keluarga asal kita merupakan hal-hal yang prinsipil. Kita harus bisa membedakan mana yang merupakan prinsip dasar sesuai kebenaran Firman Tuhan, mana prinsip yang membawa kebaikan, dan mana aturan yang tidak prinsipil yang bisa diganti dengan aturan yang lebih sesuai dengan kondisi keluarga yang baru. Sering ada aturan yang tersembunyi di dalam keluarga asal, yang kita bawa ke dalam keluarga baru, dan menjadi aturan yang harus dipraktekkan

 

  • Meninggalkan ketergantungan – dan memutuskan untuk mandiri: (i) Mandiri dalam mengambil keputusan – menolak pola kendali yang tidak sehat: dominasi dan manipulasi, (ii) Mandiri dalam keuangan – menolak ketergantungan keuangan dengan keluarga asal

 

Apa yang tidak boleh dilakukan saat meninggalkan

 

  • Mengabaikan rasa hormat kepada orang tua

 

Menjadi keluarga yang baru biasanya akan membentuk pemahaman yang baru tentang orang tua kita. Kita bisa melihat kekuatan orang tua yang selama ini kita abaikan. Mungkin juga kesalahan dan kelemahan orang tua menjadi jelas kepada kita. Tapi dalam semua itu kita tidak akan membuang rasa hormat dan siap untuk menerima dan mengasihi orang tua sebagaimana adanya. Kita harus tetap menerima masukan dan nasihat dari orang tua, karena mereka adalah orang yang sudah mengalami dan bisa memberi perspektif yang berbeda dalam menyikapi hidup dan masalah yang terjadi.

 

  • Mengabaikan tanggung jawab sebagai anak kepada keluarga asal – dengan syarat: (i) Tidak merusak prioritas kepada keluarga yang baru, (ii) Ada komunikasi yang jelas antara pasangan suami istri tentang bentuk tanggung jawab kepada keluarga asal
  •  

  • Kembali ke keluarga asal ketika sedang ada masalah antara suami istri – ini sama dengan nyanyian yang berkata “pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku…”


Kesejahteraan 05: Meninggalkan dan Bersatu sebagai dasar pernikahan

05.1 Pemahaman tentang tentang dasar pernikahan Kristen
05.2 Pemahaman tentang Meninggalkan
05.3 Pemahaman tentang  Bersatu
05.4 Bagaimana cara meninggalkan & bersatu

3 thoughts on “Kesejahteraan 05.2 Pemahaman tentang Meninggalkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s