Kesejahteraan 04.3 Langkah-langkah dalam menghadapi krisis

Ada beberapa langkah yang secara umum harus kita lewati agar bisa menangani krisis dalam keluarga secara maksimal. Langkah-langkah ini berlaku secara umum dan perlu diketahui baik oleh mereka yang sedang mengalami krisis, maupun orang yang ingin menolong keluarga yang sedang dilanda krisis. Langkah-langkah ini juga hanya bersifat panduan, dan tidak harus terjadi secara berurutan.

Langkah-langkah itu adalah:

  • Pengakuan dan pengenalan akan krisis
  • Mencari dukungan
  • Memeriksa prioritas dalam tindakan
  • Mencari alternatif solusi atau pilihan-pilihan
  • Membuat perubahan secara fleksibel
  • Berfokus dalam memecahkan masalah

Pengakuan dan Pengenalan akan krisis
Penting bagi seluruh keluarga untuk secara bersama-sama mengetahui keberadaan krisis. Sangat berat bagi anggota keluarga yang mau keluar dari krisis, tapi ada anggota lain yang tidak peduli, tidak tahu, atau menyangkal keberadaan krisis. Keluarga juga perlu seobyektif mungkin untuk mengenali apa sebenarnya yang menjadi sumber krisis tersebut. Dan ini bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan, namun lebih ke arah mencari akar-akar krisis tersebut. Bagi orang percaya juga penting bagi kita untuk langsung datang mencari Tuhan dan mengakui keberadaan krisis dalam hidup kita, karena kita percaya, jalan keluar yang paling baik adalah yang berasal dari Tuhan. Karenanya saat terjadi krisis ada dua hal penting

  • Pengakuan pada diri sendiri, keluarga maupun Tuhan
  • Mengajak keterlibatan seluruh anggota keluarga untuk menghadapi masalah bersama-sama
  • Mendefinisikan masalah yang terjadi serealistis mungkin

Mencari dukungan
Keluarga juga serealistis mungkin mencari dukungan dari luar. Ada beberapa alasan kita membutuhkan dukungan dari luar:

  • Kondisi krisis didefinisikan sebagai kondisi yang dialami yang tidak dapat ditangani dengan cara-cara yang biasa dilakukan. Artinya memang ada masalah dalam mengatasi kondisi yang terjadi karena ada sesuatu yang baru terjadi, dan mungkin membutuhkan orang lain untuk bisa keluar dari situasi yang baru ini.
  • Keluarga yang sedang berada di dalam krisis, kemungkinan besar tidak bisa melihat secara obyektif apa yang menjadi masalah maupun sumber masalah. Beberapa anggota keluarga mungkin terlalu stress dan tegang untuk berpikir secara jernih. Beberapa yang lain mungkin lebih terfokus dalam menyalahkan dan bukan mencari jalan keluar. Mungkin ada yang lebih tertarik untuk menyelamatkan diri sendiri, dan mengabaikan kepentingan keluarga. Karenanya penting agar ada orang luar yang dapat melihat situasi dengan lebih jernih.
  • Dukungan juga dibutuhkan karena kemungkinan kita yang sedang mengalami masalah sedang menderita tekanan batin dan emosional yang besar. Mungkin kita membutuhkan orang lain yang bisa menjadi tempat mencurahkan hati dan mengeluarkan uneg-uneg kita.

Saya katakan serealistis mungkin karena pada saat yang sama kita perlu berhati-hati untuk melibatkan orang luar dalam masalah kita. Kadang-kadang keberadaan orang luar justru malah menambah masalah. Atau mereka sebenarnya tidak kompeten untuk membantu. Atau masalah yang terjadi terlalu sensitif untuk diketahui oleh orang luar. Karena itulah penting bagi kita untuk memiliki komunitas yang aman, dan terlebih lagi mau berdoa bersama-sama untuk menghadapi masalah.

Melihat prioritas tindakan
Sering ketika ada masalah atau krisis terjadi ada tindakan yang harus diambil, dan hal itu harus terjadi dalam waktu yang singkat atau mendesak. Jika kita belum mengenali masalahnya secara obyektif, kita akan kesulitan untuk mengambil keputusan. Ada beberapa hal yang harus dicermati:

  • Periksa mana yang bersifat darurat. Ada hal-hal yang harus ditangani sedini mungkin dan kalau tidak terjadi dapat mengakibatkan krisis yang semakin berkepanjangan. Misalnya ada anggota keluarga yang sedang depresi berat dan sedang merencanakan bunuh diri. Dalam hal ini kita mungkin harus tinggalkan semua pekerjaan dan mencari solusi untuk masalah ini
  • Periksa hal-hal yang prinsipil atau kita anggap prinsipil yang tidak boleh diganggu gugat. Ketika masalah terjadi, sering ada rambu-rambu yang (menurut kita) tidak boleh dilewati, atau ada juga kebiasaan (ritual) yang menurut kita harus dilakukan. Misalnya ada kehamilan di luar nikah, dan orang tua berprinsip: tidak boleh menikah dengan orang tidak seiman. Atau ada masalah keuangan, dan ada yang berprinsip: tidak boleh rumah yang ditempati ini dijual, karena ini warisan dll. Sering hal-hal yang dianggap prinsipil akan menjadi sumber pertengkaran di dalam menghadapi masalah. Penting bagi orang percaya untuk merumuskan mana yang prinsipil dan mana yang tidak, tentunya berdasarkan kebenaran Tuhan.
  • Periksa mana yang bersifat sementara atau berlangsung lama/seterusnya. Kita perlu melihat apakah masalah yang sedang terjadi bersifat sementara, atau berlangsung terus. Tindakan yang harus diambil pun tentu akan berbeda. Jika terjadi krisis karena kepala keluarga meninggal, tentu kita tidak bisa mengharapkan bahwa almarhum akan memenuhi kebutuhan keluarga seterusnya (walau mungkin ada pensiun). Tapi jika krisis yang terjadi adalah karena seorang remaja yang sedang kehilangan kepercayaan diri, tentu kita akan menyikapinya dengan cara yang berbeda.

Mencari alternatif solusi atau pilihan-pilihan
Sering mereka yang sedang mengalami krisis terpaku dengan solusi tertentu, mungkin yang berasal dari pengalaman pribadi (dulu), atau berdasarkan saran orang lain yang pernah mengalami peristiwa yang mirip atau serupa. Namun yang sering terjadi krisis menuntut perubahan yang berbeda, karena ini merupakan masalah yang  tidak bisa ditanggulangi oleh cara-cara biasa. Dalam hal ini memang kita diminta untuk bersikap lebih kreatif, terbuka pada ide-ide baru, dan mau memberi waktu untuk memeriksa pilihan-pilihan yang kita miliki. Bagaimana caranya? Beberapa hal yang bisa membantu:

  • Periksa asset atau sumber daya yang bisa menolong kita. Tentu ini bukan berhubungan dengan materi saja, tetapi juga hal-hal non materi. Misalnya, mungkin kita memiliki keterampilan atau hobi tertentu yang selama ini diabaikan, namun dalam kondisi krisis bisa menjadi jalan keluar, walaupun masih sementara.
  • Periksa peluang atau kesempatan apa yang selama ini mungkin kita abaikan. Mungkin ada hal-hal yang dulu kita anggap tidak berharga atau tidak bernilai, dan bisa menolong kita dalam keadaan krisis.
  • Periksa tindakan-tindakan apa yang bisa kita ambil, yang mungkin selama ini tidak terpikirkan oleh anggota keluarga. Tentu kita juga perlu mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan-pilihan yang kita ambil.

Dalam hal ini perlu anggota keluarga duduk bersama dan membicarakan pilihan-pilihan dan alternatif solusi yang ditawarkan. Tidak semua pilihan itu akan diterima oleh semua pihak. Karenanya penting untuk berkepala dingin dan berdiskusi dengan sehat agar kita bisa melihat pilihan-pilihan yang ada dengan lebih sehat.

Membuat perubahan secara fleksibel
Krisis terjadi karena ada perubahan dalam situasi kita yang tidak tertanggulangi, dan biasanya menuntut perubahan dalam kehidupan kita sebelum krisis itu bisa tertangani. Artinya krisis memang menuntut perubahan. Namun dalam melakukan perubahan kita perlu melakukannya dengan cara yang sehat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Sering perubahan yang dituntut adalah perubahan karakter atau diri. Namun kita perlu realistis, karena ketika kita sedang berada di dalam krisis, mungkin perubahan karakter itu tidak bisa terjadi dengan cepat, atau kita perlu memprioritaskan perubahan tersebut dalam hal yang lain.
  • Mungkin yang perlu dirubah adalah kebiasaan kita. Dan bagi kita untuk melakukan perubahan hal yang sudah biasa dilakukan mungkin membuat kita tidak nyaman. Namun kalau memang itu dibutuhkan sebagai solusi masalah, kita harus mau keluar dari daerah nyaman kita dan melakukan hal-hal yang tidak kita sukai.
  • Berubahlah secara perlahan, namun pasti. Kadang-kadang dibutuhkan perubahan besar-besaran dalam waktu singkat. Tapi bila kita tidak melakukannya dengan bijak, kita bisa jatuh kembali ke dalam pola lama. Yang biasanya berlaku dengan baik adalah jika kita melakukan perubahan sesuai kemampuan kita, secara bertahap, dan bersyukur untuk setiap keberhasilan perubahan yang kita dapatkan.

Fokus dalam memecahkan masalah
Jika kita telah memeriksa pilihan-pilihan yang kita miliki, dan kemudian secara bertanggung jawab mengambil sebuah pilihan sebagai solusi terhadap masalah, maka kita harus berfokus untuk memecahkan maslah tersebut. Dengan memeriksa kekuatan, dan kemampuan yang ada, kita perlu menetapkan sasaran apa yang kita harapkan terjadi, dan kemudian berfokus pada sasaran itu. Mungkin yang menjadi sasaran ini belum menyelesaikan masalah sampai tuntas, tapi kita tahu kita telah mengambil langkah pertama yang perlu untuk memulai memecahkan masalah tersebut. Pada saat kita melangkah, kemudian kita akan bertemu dengan hal-hal yang menjadi penghalang dan rintangan dalam memecahkan masalah. Pada saat itu kita perlu melakukan evaluasi dan memikirkan pilihan-pilihan dan langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya.

One thought on “Kesejahteraan 04.3 Langkah-langkah dalam menghadapi krisis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s