Kesejahteraan 04.2 Sikap keluarga dalam menghadapi krisis

Dalam sesi yang lalu kita belajar pemahaman tentang krisis, apa itu krisis dan jenis-jenis krisis yang berbeda yang dihadapi oleh pribadi dan keluarga, yaitu: darurat (insidentil), perkembangan & pertumbuhan, berkelanjutan dan eksistensial.
 
Pada sesi ini kita akan belajar tentang sikap-sikap dan reaksi yang biasa dilakukan oleh orang dan keluarga dalam menghadapi krisis. Seperti disebutkan sebelumnya, setiap orang akan memiliki reaksi yang berbeda-beda ketika menghadapi krisis. Reaksi ini biasanya akan dipengaruhi oleh beberapa hal:

  • Tingkat kedewasaan orang – yang berhubungan dengan keterampilannya mengatasi emosi dan tekanan
  • Pemahaman tentang krisis itu sendiri – bagaimana seseorang melihat krisis
  • Pengalaman selama ini ketika menghadapi krisis – bagaimana keberhasilan atau kegagalannya selama ini ketika menghadapi krisis, yang akan mempengaruhi baik keterampilannya maupun kepercayaan dirinya
  • Keterampilan dalam memecahkan masalah – yaitu kemampuan mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi
  • Adanya sumber daya yang mendukung – misalnya pelatihan, konseling, teman-teman, buku-buku dll.

Dalam hal ini reaksi anggota keluarga bisa berbeda-beda dalam menghadapi krisis, yang sering menimbulkan dinamika yang baru, atau bahkan krisis susulan. Bisa juga reaksi anggota keluarga seragam dalam menghadapi krisis, baik secara negatif maupun secara positif. Untuk itu kita perlu belajar apa saja reaksi negatif dan positif yang sering dilakukan orang.

Reaksi yang negatif yang umum

  • Menyalahkan atau mencari kambing hitam, mungkin pada diri sendiri, kepada anggota keluarga yang lain, orang luar atau bahkan kepada Allah
  • Menyangkal – merasa tidak ada masalah, atau berpura-pura tidak ada masalah, mungkin karena takut dianggap gagal atau jelek oleh orang lain
  • Mengeraskan hati – mengakui keberadaan masalah, namun berusaha menguatkan diri dengan cara yang negatif, bahkan menolak untuk mencari pertolongan ketika tidak dapat menghadapi krisis tersebut
  • Melupakan masalah – mengakui keberadaan masalah dan kemudian berusaha untuk menghilangkannya dari pikiran
  • Mengabaikan atau meremehkan masalah – mengakui keberadaan masalah, namun mengecilkan arti atau pengaruhnya dalam hidup kita
  • Melarikan diri dari masalah – beberapa orang lari dari masalah dengan melakukan hal-hal tertentu, yang sering membawa masalah yang baru. Beberapa lagi lari ke fantasi atau sakit penyakit. Beberapa orang yang lain justru berusaha menjauhkan diri dari orang-orang lain.
  • Bertumpu pada satu reaksi tertentu. Beberapa orang hanya memiliki reaksi emosionil yang terbatas, misalnya ketika ia takut, sedih, khawatir, kecewa atau frustasi, yang menjadi reaksi hanyalah marah.

Reaksi yang positif

  • Mengakui keberadaan krisis, dampaknya dan emosi-emosi yang ditimbulkan oleh krisis tersebut – terbuka di hadapan diri sendiri, orang lain dan Allah
  • Secara obyektif berusaha memahami krisis tersebut dan memisahkan: (i) mana yang adalah tanggung jawab pribadi, mana yang tanggung jawab bersama, (ii) mana hal yang berada di dalam kendali dan di luar kendali
  • Secara realistis dan bertahap mencari jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi
  • Belajar dan berusaha untuk fleksibel dan beradaptasi dengan perubahan yang ada
  • Berkomunikasi, mencari dukungan dan pertolongan dari luar, apalagi untuk hal-hal yang di luar kemampuan diri


Sikap orang percaya dalam menghadapi krisis

  • Melihat pencobaan dan penderitaan sebagai sarana untuk bertumbuh

Yak 1:2-4   2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,  3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.  4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

  • Berpusat pada Allah yang tahu masalah dan penderitaan yang kita alami dan akan menolong pada waktunya

Ibrani 4:15-16  15 Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.  16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

  • Berpegang pada janji Allah yang tidak akan meninggalkan kita

Roma 8:37-39  37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.  38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,  39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

  • Mengandalkan komunitas sebagai sarana untuk bertumbuh

Ibrani 10:24-25  24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.  25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s