Teknologi, anak muda dan seks

Survey secara nasional di AS atas 1280 remaja dan dewasa muda memperlihatkan bahwa 20% remaja menggunakan teknologi untuk mengirimkan foto diri, baik telanjang maupun setengah telanjang kepada orang lain, dengan menggunakan internet dan handphone. Survey yang dilakukan oleh The National Campaign to Prevent Teen and Unplanned Pregnancy bekerja sama dengan CosmoGirl.com mendata 653 remaja berumur 13 sampai 19 tahun dan 627 dewasa muda (umur 20-26 tahun) yang ikut serta  secara online pada akhir September kemarin. Beberapa hasil dari survey ini adalah berikut:

  • Hampir setengah remaja tersebut pernah mendapatkan pesan bernuansa seksual lewat email, SMS dan Internet Messenger, sementara 40% pernah mengirimkan pesan semacam itu. 60% dewasa muda pernah mengirim pesan semacam itu, sementara 64% pernah menerima, hampir semuanya mengirimkan pada kekasih mereka, walau ada 15% yang mengirimkannya pada teman dunia maya (online friend).
  • Hampir semua responden setuju bahwa melakukan hal seperti ini memiliki konsekuensi negatif yang serius, namun tetap melakukannya. 40% sadar bahwa gambar diri yang seksual ini dapat dibagikan dengan mudah di dunia maya, namun masih melakukan juga.
  • Hampir 25% berkata bahwa teknologi membuat mereka menjadi lebih berani (agresif), sementara 40% remaja percaya bahwa saling bertukar gambar diri yang seksual akan membuat mereka lebih laku berpacaran.

Survey ini memperlihatkan beberapa hal:

  • banyak orang yang tidak mengerti atau tidak peduli betapa rentannya internet akan privacy seseorang. Mereka tidak menyadari bahwa sekali informasi sensitif beredar di internet (ataupun lewat handphone), maka sulit atau bahkan tidak ada jalan untuk menghapusnya kembali. Lihat saja kasus-kasus Sarah Azhari dan Rahma Azhari, di mana mereka sendiri tidak sadar (atau lupa) bahwa mereka memiliki foto-foto telanjang seperti itu, dan sekali tersebar, mereka tidak bisa menghentikannya.
  • orang juga tidak menyadari konsekuensi dari apa yang mereka lakukan, atau walaupun sadar, tidak mengubah keputusan mereka karena belum mengalami konsekuensi itu sekarang. Misalnya, bayangkan jika gambar-gambar diri kita secara seksual itu disebarluaskan, berapa banyak orang yang bisa melihatnya, dan bahwa hal itu masih akan terus membayangi. Kembali ke Sarah dan Rahma Azhari, satu hal yang membuat mereka terpukul dengan gambar-gambar itu adalah karena mereka sekarang sudah memiliki anak, yang mungkin juga sudah bisa koneksi internet. Bagaimana jika mereka melihat gambar-gambar bernada seksual seperti itu? Pesan apa yang sedang kita berikan tentang diri kita kepada orang lain?
  • Betapa seksualitas, baik dulu maupun sekarang, masih tetap sebagai pendorong utama bagi manusia. Teknologi membuat kehausan dan kebutuhan akan hubungan dan seks menjadi semakin mudah di satu sisi, namun juga semakin rumit di sisi yang lain.

Survey ini juga memberi beberapa tips tentang mengirimkan sesuatu yang sensitif secara online:

  • Jangan pernah mengasumsikan apapun yang kamu kirimkan akan tetap menjadi milik pribadi
  • Tidak ada cara mambatalkan pikiran di dunia virtual – apa yang kita kirimkan tidak akan hilang begitu saja
  • Jangan menyerah untuk melakukan hal-hal yang mebuat kita tidak sejahtera, bahkan ketika dilakukan secara virtual
  • Selalu pertimbangkan apa yang akan dipikirkan oleh penerima informasi tersebut
  • Tidak ada yang betul-betul anonim di dunia maya

Related:

PDF dari survey
Kampanye Jangan Bugil Depan Kamera

3 thoughts on “Teknologi, anak muda dan seks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s