Termehek-mehek dan SARA

Malam minggu lalu saya memiliki perasaan yang campur aduk tentang acara Termehek-mehek, reality show dari Trans TV yang bertemakan pencarian orang yang hilang atau lama tidak bertemu. Secara umum saya memang kurang berselera dengan  acara-acara seperti ini, karena menurut hemat saya reality (kenyataan) dan show (pertunjukan) adalah dua hal yang sebenarnya bertolak belakang (oxymoron). Kalau digabung, mungkin akan menjadi pertunjukan yang dianggap sebagai kenyataan, atau menjadi kenyataan yang dikemas dalam pertunjukan – kedua-duanya berbahaya karena membuat kenyataan menjadi semu. Tentu tidak semuanya bersifat negatif, ada beberapa acara reality show yang juga bisa sangat positif, seperti Jika aku menjadi yang juga disiarkan oleh TransTV.
 
Ada beberapa kontroversi dan pro-kontra  seperti yang kita baca di harian Kompas dan juga di forum-forum internet. Diantaranya, apakah acara ini hanya rekayasa (ada script), atau betul-betul dokumenter, atau dokumenter dengan beberapa pengadeganan – sebagai dramatisasi atau ilustrasi. Lalu tentang masalah privacy – seberapa jauh tayangan seperti ini telah melanggar hak pribadi seseorang.

Bagi saya pribadi, keberatan saya dengan acara Termehek-mehek adalah ketika melihat Panda dan Mandala yang begitu antusias menolong klien mereka mencari target. Dengan berasumsi bahwa tayangan ini bersifat semi dokumenter dengan tambahan ilustrasi/dramatisasi di bagian tertentu, saya melihat kedua host ini mencapai tujuan mereka tanpa terlalu memperdulikan konsekuensi pada orang-orang lain. Istilah saya wreaking havoc. Seperti badai topan yang menerjang apa yang ada di hadapannya, dan meninggalkan porak poranda, begitu juga Panda dan Mandala bekerja untuk mencapai target yang mereka cari. Meninggalkan suami istri yang bertengkar karena salah paham, orang tua yang tiba-tiba malu karena anak mereka menghamili orang lain. Ini adalah orang-orang yang sebenarnya tidak bersalah, namun harus kena getahnya. Dan dari perspektif pelayanan pemulihan, orang-orang ini pun mengalami trauma yang kemudian mungkin membutuhkan penanganan lebih lanjut,


Episode Sabtu, 3 Januari 2009 memperlihatkan plot yang biasa digunakan. Seorang klien meminta tim untuk mencari teman lamanya yang sudah tidak bertemu sejak 10 tahun yang lalu. Dibumbui dengan adanya mimpi dan tanda-tanda, yang membuat para host mencurigai bahwa target sudah meninggal. Dalam pencarian mulai dari vihara, mencari abu, ternyata salah orang…sampai ke mantan teman dekat Olivia Than, yang mengakibatkan suami-istri bertengkar karena si istri mengira suaminya masih berhubungan dengan sang target…
Kejutan dihadirkan ketika ternyata Olivia Than ini masih hidup, hanya terganggu jiwanya karena sejak kerusuhan Mei 1998, yang mengakibatkan rumah dan tokonya dijarah. Ayah Olivia meninggal, dan sejak itu Olivia mengalami gangguan jiwa.

Satu sisi saya melihat bahwa ada beberapa rekayasa dalam episode ini. Misalnya, ketika Ida kaget melihat rumah Olivia yang sudah 10 tahun ditinggalkan. Apakah sulit bagi Ida selama ini untuk datang ke rumah itu, sehingga ia tidak tahu bahwa rumah itu sudah kosong. Namun di sisi lain saya melihat bahwa media ini begitu powerful untuk menggambarkan kehancuran yang dialami orang-orang setelah Mei 1998. Pesan yang dibagikan oleh episode ini, tentang pentingnya persatuan dan keharmonisan yang melampaui ras dan agama bergaung dengan begitu kuat lewat penggambaran vihara, Ida yang memeluk Oma Olivia, dan Olivia yang duduk termenung di rumah sakit jiwa.

Saya sangat berharap ada pesan-pesan dengan nilai-nilai luhur yang bisa terus dimunculkan lewat televisi. Dikemas dengan baik dan profesional, tanpa perlu menggurui, namun sangat menyentuh hati. Dan menghindarkan kesan rekayasa dan sekedar dramatisasi, karena sebenarnya mengganggu. Jelas dibutuhkan kreativitas dan integritas untuk bisa menggarap secara idealis. Dan saya sebagai penonton pun jelas tidak memiliki keterampilan seperti itu. Tapi bayangkan dampak yang akan ditimbulkan tayangan idealis seperti itu – Termehek-mehek ditonton oleh hampir empat juta orang. Apa yang bisa dilakukan oleh empat juta orang yang digerakkan untuk melakukan hal-hal yang baik?

Related:
Termehek-mehek, Program TV Terfavorit ABI 2008
Termehek Mehek Edisi Sabtu, 3 Januari 2009 (pencarian Olivia Than oleh Ida)

3 thoughts on “Termehek-mehek dan SARA

  1. menurut saya pendapat anda benar, kita hanya bisa ambil pesan dibalik cerita itu. maklumlah, media sekarang kan mementingkan industri, hehehe

    salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s