Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 3

Yesus dan Nikodemus (Yoh 3:1-36)

Bayangkan jika anda adalah seorang pemain piano yang handal. Anda berasal dari sebuah keluarga yang sangat dihormati oleh kalangan musik, karena turun temurun ada pemain piano dan pemusik hebat yang lahir di keluarga anda. Anda pun telah mendapatkan pendidikan yang terbaik tentang musik dan piano, dan memiliki keterampilan dan teori yang tinggi. Anda sudah terbiasa melakukan resital dan konser musik, dan setiap penampilan anda mendapat pujian dari kritikus musik. Anda merasa berada di puncak karir anda.
Tiba-tiba anda mendengar tentang seorang pianis baru. Anda dengar bahwa ia tidak pernah mendapatkan pendidikan formal, bahkan berasal dari keluarga yang bukan pemusik. Namun ia bisa bermain dengan luar biasa, dan mendapatkan penghormatan yang besar dari orang-orang, apakah orang awam, namun juga dari pengamat musik. Anda pun bersegara datang ke tempat orang itu untuk melihat bagaimana sebenarnya orang itu. Dan anda terkejut! Jelas orang itu hanya belajar secara otodidak, namun ketika ia bermain, semua orang terpesona, dan tidak sedikit yang menangis. Anda tahu secara intuisi bahwa anda sedang bertemu dengan seorang maestro yang jenius… Apa yang akan anda lakukan? Dalam situasi seperti itu, sementara orang akan berkomentar dengan sinis dan melecehkan si pianis baru, karena ia bukan siapa-siapa. Beberapa yang lain akan mengakui kejeniusannya, dan berharap bahwa merekapun bisa memiliki keterampilan seperti itu. Yang lain, mungkin akan datang dan mau belajar dari sang pianis tersebut.

Begitulah yang terjadi dengan Nikodemus, seorang pemimpin dan pengajar agama Yahudi. Ia sangat terpesona dengan pengajaran Yesus, dan dengan sembunyi-sembunyi ia datang untuk belajar pada Yesus, karena secara lembaga, orang Farisi menghina dan melecehkan Yesus. Dan Nikodemus siap untuk menyerap ilmu dari Yesus, yang ia sebut sebagai “Rabbi” dan “guru yang diutus Allah”. Namun jelas bahwa Nikodemus tidak siap dengan jawaban Yesus, yang berkata “jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (ay 3). Bagi seorang Farisi, yang turun temurun adalah orang Yahudi, dan memiliki banyak pengetahuan tentang Allah, dan merasa sebagai seseorang yang kudus, sama saja Yesus berkata bahwa apapun yang Nikodemus miliki, tidak ada artinya di hadapan Allah.

Hal yang sama berlaku bagi kita. Apakah kita memiliki hidup yang hebat, biasa-biasa saja, atau penuh penderitaan, semua itu tidak memiliki makna yang sejati, kecuali kita dirubah dari dalam, yang merupakan pekerjaan Roh Allah (ay. 5,6). Dan itu bukanlah hasil usaha kita, namun semata-mata karena Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita dan melakukan apapun yang perlu dilakukan, agar kita memiliki hidup yang sejati (ay 16). Yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Yesus, Anak Allah yang Hidup (ay 15, 18).

Hidup yang bermakna dimulai ketika kita diubahkan menjadi baru oleh Roh Kudus saat kita percaya kepada Yesus, Anak Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s