Renungan Hidup yang Bermakna: Yoh 2

Yesus di Kana (Yoh 2:1-11)

Apabila mengadakan pesta, kita pasti akan mempersiapkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Namun yang terbaik yang kita siapkan, belum tentu menghasilkan perhelatan terbaik seperti yang kita harapkan. Sering ada hal tak terduga yang bisa mengganggu, atau bahkan merusak dan mengacaukan sebuah acara besar. Hal seperti itulah yang terjadi pada pesta di Kana, ketika mereka kekurangan, bahkan kehabisan anggur di tengah-tengah acara.

Keadaan serupa sering terjadi bukan hanya dalam pesta, namun dalam keseluruhan hidup kita. Kita bisa merancang kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Ada orang bekerja keras untuk mencapai hal-hal tertentu yang mereka anggap sebagai tanda keberhasilan hidup, misalnya lewat prestasi, materi, pertemanan dll. Ada yang lain, yang atas nama “mencari kebahagiaan”, kemudian melakukan hal-hal yang sebenarnya merusak hidup mereka, seperti seks bebas, narkoba dan kesenangan-kesenangan lainnya. Yang pasti, orang mencari keberhasilan dan kebahagian dalam hidup ini, dengan cara yang mereka anggap baik. Namun hal itu belum tentu  membawa kebaikan dalam hidup mereka, bahkan sering membawa kesakitan dan penderitaan.

Saya bisa melihat hal tersebut dalam pelayanan dan kehidupan pribadi saya juga. Misalnya, seorang pengusaha yang telah bersusah payah untuk membangun bisnisnya. Namun ketika ia tua, dan telah ditinggal mati oleh istrinya, justru anak-anaknya berebut harta warisan di depan matanya, bahkan sampai ke pengadilan. Atau seorang hamba Tuhan yang telah memiliki pencapaian tertinggi sebagai gembala sebuah gereja besar dan pemimpin sebuah bisnis, yang tiba-tiba menceraikan istrinya dan melepaskan  pelayanannya, meninggalkan jemaat dan keluarga yang terluka dan kebingungan. Dalam hidup saya, berapa banyak saya harus mengalami jatuh bangun dan sakit dalam pencarian untuk memiliki hidup yang bermakna seperti yang saya inginkan…

Perkawinan di Kana memperlihatkan bagaimana memiliki hidup yang sejati itu. Kita perlu memulai hidup ini dengan mengundang Yesus, tentu bukan sebagai tamu, tetapi sebagai pemilik kehidupan kita. Dan ketika ada masalah, kita pun perlu datang kepada Dia, yang dapat memberi solusi permasalahan kita. Dan ketika Yesus turun tangan, ada beberapa hal yang perlu kita pahami:

  1. Tuhan bisa memakai apapun juga sebagai alat-Nya. Dalam ay 6, Yesus menggunakan tempayan yang biasanya digunakan untuk mencuci kaki dan tangan para tamu, setelah mereka berjalan jauh.Ini adalah air untuk mencuci, dan bukan untuk diminum. Namun lewat Yesus, air cucian bisa menjadi anggur yang baik. Artinya, dalam Yesus, kita mendapatkan definisi yang baru tentang hidup ini. Bisa dibayangkan perubahan nilai atau harga dari isi tempayan itu! Apa yang tidak terlalu berguna, bisa diubahkan menjadi sesuatu yang sangat berharga.
  2. Dibutuhkan ketaatan akan cara Tuhan bekerja. Ketika Tuhan berkata-kata, pasti ada maksud dan kehendak-Nya yang perlu kita taati, seperti pelayan yang diperintahkan menaruh air kedalam tempayan (ay. 7). Banyak orang yang meminta tolong kepada Tuhan, dan sekaligus menentukan apa dan bagaimana yang harus Ia kerjakan. Namun dalam kisah ini yang diminta Tuhan adalah, kita meminta tolong kepada-Nya secara spesifik, dan membiarkan Tuhan bekerja dalam waktu dan cara-Nya.
  3. Perubahan yang Tuhan kerjakan dan ketaatan kita sebagai tanggapan kepada-Nya, perlu dirasakan oleh orang disekitar kita. Ketika Tuhan bekerja, perubahan yang pertama-tama terjadi adalah perubahan dari dalam. Hati, karakter, iman, paradigma.. itulah yang pertama-tama perlu mengalami perubahan. Namun perubahan itu tentu tidak hanya terjadi di dalam kita, namun juga perlu berdampak kepada apa yang terlihat dalam kehidupan kita. Orang lain perlu mengecap dan merasakan (ay. 8-9), perubahan yang terjadi dalam hidup kita. 

Hal-hal itulah yang akan terjadi ketika kita mengundang Yesus dalam hidup kita, dan berserah kepada-Nya untuk mengendalikan hidup kita. Bagaimanapun kualitas hidup anda saat ini, apakah anda sedang merasa di atas karena keberhasilan, atau anda sedang frustasi akan hidup ini, tetap hal itu bukan kehidupan yang sejati, jika tidak kita biarkan Tuhan yang pegang kendali.

Hidup kita akan memiliki makna yang penuh, ketika kita ijinkan Ia mengubah hidup kita, dan kita taat kepada-Nya, dan mengalami perubahan yang  dapat dirasakan oleh orang lain dalam hidup ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s