Kesejahteraan 02.3 Peran dan aturan dalam keluarga yang disfungsi

Seperti telah dikatakan sebelumnya, anggota-anggota keluarga yang disfungsi biasanya pintar untuk bermain peran. Artinya ada pola-pola tertentu yang dilakukan secra berulang-ulang oleh anggota keluarga ini, yang lama kelamaan menjadi suatu ciri, atau bahkan identitas dari orang tersebut.
Beberapa peran dominan yang dilakukan oleh anggota keluarga adalah dengan menjadi orang yang: bergantung, memfasilitasi, pahlawan dll.

Peran-peran yang sering dilakukan oleh keluarga yang disfungsi…

  • The ”Dependent” – yang bergantung pada orang lain. Ia adalah anggota keluarga yang masalahnya cukup serius sehingga mempengaruhi anggota keluarga yang lain. Ingat bahwa disfungsi pada satu anggota keluarga akan mengakibatkan disfungsi dalam anggota keluarga yang lain.
  • The”Enabler”, yang memfasilitasi sehingga sistem yang disfungsi ini terpelihara. Sering melakukannya agar keluarga tetap utuh dan berfungsi. Cenderung melindungi orang yang bermasalah itu sehingga (1) masalahnya tidak diketahui orang lain (2) tidak mengalami konsekuensi atau tindakan-tindakan yang menyakitkan. Sering istri memainkan peran ini.
  • The ”Hero”, sang pahlawan. seringkali peran ini dimainkan oleh anak yang paling sulung atau anak yang paling pintar. Ia berusaha bekerja keras supaya ia berhasil dan berprestasi. Fungsinya dalam konteks keluarga adalah untuk menentramkan hati keluarga  dengan membuktikan bahwa mereka ”baik-baik saja”. Banyak orang cenderung memuji anak tersebut,tetapi ia sendiri cenderung stres dan sering merasa bersalah karena ia tahu dalam hatinya bahwa semua usahanya tidak bisa membahagiakan keluarganya.
  • The ”Little Prince/Princess”, yang menjadi pangeran dan putri kesayangan. Menjadi anak yang favorit bagi salah satu orang tuanya. Sering mengalami penganiayaan secara emosional karena harus menggantikan peran orang tua yang lain (misalnya pengganti suami dalam hidupnya supaya kebutuhan emosionalnya terpenuhi). Peran yang dia mainkan tidak wajar. Ia sendiri dituntut hidup bukan sebagai seorang anak.
  • The”Doer”, si pekerja keras. Ia bekerja keras untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Ia cenderung memikul tamggung jawab yang terlalu berat baginya tetapi ia merasa bersalah dan merasa bahwa usahanya tidak cukup. Sering kali ia merasa bahwa pekerjaannya yang makan semua waktu dan tenaga tidak dihargai oleh anggota keluarga yang lain. Ia merasa kecil hati dan kosong.
  • The”Scapegoat” si kambing hitam. Sering sekali anak kedua dalam keluarga yang disfungsi memainkan peran ini. Supaya orang tidak merasa bersalah akibat kondisi keluarganya. Anak ini seolah-olah menjadi penyebab keluarganya menjadi disfungsi. Dalam situasi-situasi tertentu dia marah karena perhatian keluarganya diberikan kepada anak yang masalahnya cukup serius atau anak yang paling pintar. Anak yang seperti ini cenderung lari ke narkoba, alkohol, seks bebas dll.
  • The ”Lost Child” (anak yang tersesat). Anak tersebut cenderung menjadi pemalu dan mengisolasi dirinya . Ia merasa seperti orang asing dalam konteks keluarganya, terabaikan oleh orang tua dan saudara-saudaranya. Ia cenderung memisahkan diri dari semua kekacauan keluarga. Akibatnya sering masuk ke dunia fantasi dan dia mendapatkan kenyamanan disana. Dalam kasus lain ia sering mencari perhatian seperti kesakitan, alergi, ngompol dll
  • The”Mascot”. Sering kali anak bungsu dalam keluarga tidak berfungsi memainkan peran ini. Ia mencari perhatian semua anggota keluarga,dan berusaha untuk memghibur meraka dengan humor dan jok-jokenya . Anggota keluarga yang lain cenderung melindungi anak ini dari masalah dan tantangan hidup.Namun didalam hatinya sendiri ia penuh ketakutan dan kecemasan.

Akibat fatal yang bisa terjadi adalah lama-kelamaan mereka menikmati peran yang disfungsi ini yang kemudian meluas ke dalam banyak aspek kehidupan orang tersebut. Misalnya si pekerja keras, yang ketika keluar rumah pun kemudian bersikap sebagai pekerja keras.

Selain adanya peran di atas, keluarga yang disfungsi juga akan memiliki sistem yang tidak sehat, yang biasanya ditandai dengan adanya aturan-aturan tertentu yang kaku dan cenderung memanipulatif. Aturan ini belum tentu dirumuskan dalam kalimat-kalimat di bawah, namun dalam kenyataannya menjadi panduan dalam mengambil keputusan atau bertingkah laku dalam keluarga dan masyarakat.

Beberapa “peraturan” dalam keluarga yang disfungsi

Aturan berkomunikasi:

  • Jangan membicarakan masalah-masalah khusus dalam keluarga
  • Jangan mengungkapkan perasaan anda secara terbuka dan jujur dihadapan orang lain
  • Jangan berkomunikasi dengan langsung kepada orang lain. Lebih baik secara tidak langsung, misalnya dengan berdim,memisahkan diri dari orang lain, atau melalui pihak ketiga.
  • Jangan membahas mengenai seksualitas atau hal-hal yang lain yang dianggap tabu

Aturan menyelesaikan masalah:

  • Jangan hadapi besarnya masalah yang dialami oleh  “The Dependen” (masalahnya sangat besar yang mempengaruhi semua anggota keluarga) sehingga anda mempunyai pengharapan-pengharapan yang tidak realistis mengai apa yang akan dilakukan olehnya bagi anda.
  • Jangan berusaha mengubah situasi keluarga anda
  • Jangan mempertanyakan keyakinan ataupun prinsip-prinsip orang tua anda, baik aturan yang kelihatan rohani maupun non-rohani

Aturan dalam hubungan:

  • Jangan “egois “berarti anda harus mengutamakan orang lain (berarti anda tidak boleh menetapkan batas-batas tertentu dengan keluarga lain)
  • Jangan meneladani orangtua anda. Lebih baik melakukan apa yang mereka katakan dari pada apa yang mereka lakukan.
  • Jangan menikmati diri sendiri (“Don’t have fun”)

Karakteristik yang tidak sehat yang sering kita ketemu dalam kehidupan orang yang berasal dari keluarga yang disfungsi

  • Mereka hanya bisa menerka apa yang normal dan sehat dalam konteks hubungan mereka dengan orang lain
  • Mereka sering kali mengalami kesulitan dalam mengerjakan suatu proyek dari awal sampai akhir.
  • Mereka cenderung menipu dan membohongi orang bahkan dalam situasi-situasi dimana mereka bisa menjawab dengan benar.
  • Mereka cenderung menghakimi diri sendiri tanpa belas kasihan
  • Mereka cenderung tidak dapat bersenang-senang
  • Mereka cenderung menganggap diri sangat serius
  • Mereka cenderung mengalami kesulitan dalam pembentukan hubungan yang dekat dan intim
  • Mereka cenderung bereaksi besar terhadap perubahan besar diluar kontrol mereka
  • Mereka mencari terus penerimaan dan pujian dari orang lain
  • Mereka merasa bahwa mereka berbeda dengan orang lain
  • Mereka cenderung menjadi terlalu bertanggungjawab (dengan cara yang over dan tidak sehat) atau sama sekali tidak bertanggung jawab
  • Mereka cenderung sangat loyal, bahkan setelah terbukti bahwa orang lain itu tidak layak menerima keloyalan mereka
  • Mereka cenderung impulsif tidak mempertimbangkan konsekuensi tindakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s