Renungan: Natal – Tanggapan orang yang mengenal Allah

Apakah anda orang yang mengenal Allah? Banyak orang yang merasa bahwa mereka mengenal Allah. Namun bagaimana tanggapan kita ketika mendengar kehendak Allah dinyatakan, memperlihatkan pengenalan kita yang sesungguhnya akan Allah. Dalam bagian berikut, kita belajar tentang Maria, yang dari caranya menanggapi pesan Allah, memperlihatkan sebagai orang yang sungguh-sungguh mengenal Allah.

Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.  Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.  Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.  Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,  dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”  Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.  Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.  Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.  (Luk 1:26-37)

Bayangkan seorang gadis remaja, yang berumur sekitar 16-18 tahun. Ketika ia sedang sendirian, muncul seorang pribadi yang berbicara padanya. Maria tahu bahwa kedatangan tamu itu adalah seorang malaikat. Kemungkinan besar ia dibesarkan dengan pemahaman akan Allah yang diceritakan dalam keluarganya, sama seperti umumnya keluarga Yahudi. Karena itu ia bisa mengetahui bahwa yang datang adalah utusan Allah. Inipun adalah satu tanda bahwa Maria mengenal Allah. Namun bagaimana ia meresponi pesan yang diberikan oleh malaikat itu, yang adalah pesan dari Allah sendiri, itulah yang menjadi tanda pengenalan Maria akan Allah-nya. Bagaimana reaksi Maria? Yang ia lakukan adalah merenungkan, menggumuli dan kemudian taat dan berserah.


1. Ia merenungkan

Ketika mendapat pesan dari malaikat, Maria memilih untuk bertanya dalam hati tentang arti salam itu (ay 28). Ketika kita menerima pernyataan yang kita yakini dari Tuhan, mungkin dari alkitab, kotbah, penglihatan dari Tuhan, atau dari teman di sekitar kita, apakah kita memberi waktu, hati dan pikiran untuk merenungkan apa arti pesan itu bagi hidup kita?

2. Ia menggumuli

Seorang gadis biasa mendapat pesan yang tidak biasa. Ia akan mengandung dan melahirkan seorang anak, padahal ia sendiri belum pernah berhubungan dengan laki-laki manapun. Bahkan bayi yang akan dikandungnya itu adalah Anak Allah yang Mahatinggi. Suatu pernyataan yang luar biasa! Dan Maria bertanya kepada malaikat itu (ay 34). Ia tidak serta merta menerima pesan itu. Ia mencari tahu lebih lanjut dan menggumuli hal itu. Banyak orang percaya yang begitu merasa mendapat pesan dari Allah, langsung menaatinya, tanpa memberi waktu untuk menguji pesan tersebut. Betapa banyak orang yang menderita karena mendapat nasihat, nubuat dan penglihatan yang diklaim berasal dari Allah, tanpa menggumuli dan mengkonfirmasi pesan tersebut. Kemanusiaan kita memberi tempat untuk ragu-ragu dan bertanya. Allah tidak akan menghukum kita karena pertanyaan kita, justru itu adalah proses pertumbuhan kita secara sehat. Karenanya, berikan waktu, hati dan pikiran untuk menggumuli apa yang menjadi kehendak Allah dalam hidup kita.

3. Ia taat dan berserah

Ketika Maria mendapat peneguhanan akan isi pesan itu, yang ia lakukan adalah taat dan berserah kepada Allah. Setelah merenungkan dan menggumuli pesan tersebut, tidak ada lain yang dilakukan oleh Maria, kecuali berkata “Ya Tuhan, jadilah kehendak-Mu” (ay 37). Sama seperti Yesus yang bergumul 30 tahun kemudian di taman Getsemani, dan menyatakan kehendak-Nya secara pribadi yang bertentangan dengan kehendak Allah. Namun kemudian Yesus pun berkata “biarlah kehendak-Mu yang jadi”.
Bagaimana  dengan kita? Apabila ada kehendak Allah yang telah dinyatakan dalam hidup kita, yang kita gumuli dan yakini berasal dari Allah, siapkah kita untuk berkata “Ya Tuhan, aku mau”?  Dalam perenungan Natal ini, saya yakin Allah pun sedang berbicara kepada setiap kita yang percaya kepada-Nya.  Ia berbicara tentang pergumulan kita, luka-luka, dosa dan ikatan yang masih kita pelihara, harapan dan keinginan dll. Mungkin Ia sudah menyatakan kehendak-Nya yang bagi kita mustahil, atau tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana tanggapan kita? Maukah kita merenungkan, menggumuli dan kemudian taat dan berserah kepada Allah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s