Kesejahteraan 03.4: Proses pelayanan pemulihan

Orang sering bertanya-tanya, jika mereka akan dilayani dalam sebuah pelayanan pemulihan, proses seperti apa yang akan terjadi? Bagaimana seharusnya mereka bersikap? Dalam artikel ini kita akan membahas dua hal, yaitu seperti apakah proses pelayanan pemulihan, serta perlunya perlawanan terhadap roh-roh jahat dalam pelayanan pemulihan.

Apa yang akan terjadi dalam sesi pemulihan?

Hal pertama yang harus terjadi adalah bahwa Anda perlu mengambil waktu untuk mengenal tim pelayanannya. Mereka ada untuk membantu dan mendukung Anda, dan Anda akan disapa dengan kasih, sikap hormat dan penerimaan.

Setelah Anda mengenal tim pelayanannya, orang yang memimpin tim akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kehidupan dan pekerjaan Anda, dan pergumulan baru-baru ini yang telah membawa Anda untuk mendapatkan pelayanan ini. Ia akan memandu Anda mengisi formulir isian yang bersifat rahasia dan mengajukan beberapa pertanyaan untuk membantu memperjelas latar belakang Anda dan hubungannya dengan problem Anda baru-baru ini. Dengan menggunakan informasi yang Anda berikan, pemimpin tim sambil berdoa akan menelusuri akar problem Anda sebelum masuk dalam diskusi dan doa.

Sering kali sebagian besar atau seluruh sesi pertama digunakan untuk saling mengenal satu dengan yang lain dan mengumpulkan informasi tentang latar belakang, meskipun dalam beberapa kasus ada kemungkinan mereka sudah masuk dalam pelayanan doa sebatas tertentu selama dua jam pertemuan. Dalam sesi berikutnya orang yang memimpin pelayanan akan bergerak langsung dalam doa untuk problem yang sulit yang muncul ke permukaan selama wawancara tentang latar belakang. Tujuan proses ini adalah untuk menangani “akar” problem orang itu, bukan sekedar gejalanya.

Pada saat orang yang dilayani itu dipimpin melalui proses doa kesembuhan, tim juga akan menghentikan dan membahas pentingnya apa yang sedang dikerjakan atau disingkapkan Tuhan. Hal ini mungkin akan menuntun pada doa pengampunan, pengakuan dosa atau pertobatan, atau doa tambahan untuk kesembuhan, tergantung pada kebutuhan orang itu. Siklus doa, diskusi, kemudian doa lagi dan diskusi lagi sering diulang-ulang selama beberapa kali dalam sesi pelayanan. Karena Roh Kudus adalah Pribadi yang memimpin sesi ini, kita tidak mungkin mengatakan dengan tepat apa yang akan terjadi. Kadang-kadang, saya harus mengakui, sebagai pemimpin tim saya sebelumnya sudah berpikir bahwa sesi ini akan berjalan ke satu arah tertentu, dan Tuhan telah mengejutkan saya sama sekali dengan menuntun saya ke arah yang berlawanan sama sekali! Namun ketika saya menengok ke belakang pada sesi itu, saya bisa melihat rencana Allah yang baik dengan melakukan apa yang Ia lakukan.

Berapa banyak sesi yang saya butuhkan sebelum saya dipulihkan?

Saya perlu menekankan di sini bahwa setiap orang dan setiap situasi berbeda. Jumlah sesi yang dibutuhkan tergantung pada sejumlah faktor. Pertama, hal itu tergantung pada keterbukaan orang yang dilayani. Apakah ia jujur terhadap tim pelayanan sejak awal tentang latar belakangnya dan pergumulannya baru-baru ini? Atau apakah ia menyembunyikan hal-hal detail yang memalukan sampai saat ia mulai mempercayai tim pelayanan? Apakah ia siap untuk menghadapi sakit hatinya dan mengijinkan Tuhan untuk mendatangkan kesembuhan dan pemulihan? Atau apakah ia menekan emosinya dan menunjukkan sakit hati yang ia alami seminimal mungkin? Atau apakah ia menyangkal semua ini dalam usaha supaya kelihatan rohani? Peraturan umumnya adalah bahwa makin terbuka seseorang yang dilayani, makin cepat orang itu sampai pada kesembuhan dan pemulihan.

Kedua, jumlah sesi yang dibutuhkan tergantung pada kerumitan kasus itu dan keseriusan trauma atau penganiayaan yang telah dialami. Beberapa kasus melibatkan beberapa lapis pemulihan yang mencakup trauma tertentu, berbagai penipuan yang timbul darinya, dan respons kita yang tidak sehat terhadap kejadian itu. Dalam kasus lainnya, kita sekedar perlu berdoa untuk trauma itu dan tidak ada faktor yang rumit yang membutuhkan perhatian kita. Selain itu, dalam beberapa kasus tingkat trauma atau penganiayaan yang dialami secara relatif kecil dan terjadi pada satu saat tertentu, sedang dalam kasus lain ada banyak trauma dan penganiayaan itu terjadi selama bertahun-tahun. Faktor-faktor tersebut jelas mempengaruhi jumlah sesi yang dibutuhkan agar orang itu mendapat manfaat sepenuhnya dari pelayanan pemulihan. Namun perlu ditekankan, bahwa faktor-faktor obyektif seperti frekuensi penganiayaan hanya merupakan sebagaian gambarannya. Sering kali, yang lebih penting adalah respons seseorang yang bersifat subyektif terhadap trauma yang mereka alami.

Dalam beberapa kasus, trauma yang mungkin secara relatif dianggap kecil memiliki dampak yang besar dalam kehidupan seseorang, terutama jika hal itu terjadi ketika ia masih kecil.
Secara keseluruhan, cukup tepat jika dikatakan bahwa perkembangan pemulihan cukup cepat jika dibandingkan dengan konseling tradisional, tetapi prosesnya tetap membutuhkan waktu. Beberapa orang bisa melihat hasilnya yang positif dalam 2-3 sesi, sedang yang lain dalam 5-7 sesi, sedang yang lain mungkin membutuhkan lebih dari 10 sesi. Bahaya terbesarnya adalah bahwa orang yang dilayani akan merasa bahwa mereka telah membuat kemajuan yang cepat dan memilih untuk tidak melanjutkan sesi mereka sampai mereka menerima manfaat maksimal dari proses pemulihan.

Apa hubungan antara kesembuhan batin dengan peperangan rohani?

Mengapa kita perlu membahas peperangan rohani dalam buku tentang pelayanan pemulihan? Kenyataannya adalah bahwa kedua hal itu tidak bisa dipisahkan dengan rapi, tetapi itu tidak mengejutkan kita karena kesembuhan dan kelepasan sering kali dikaitkan bersama-sama dalam pelayanan Yesus:
Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit (Mat. 8:16-17; Mrk. 1:32-34; bdk. Luk. 4:40-41; 8:1-2).

Mengapa ada hubungan yang erat antara pelayanan pemulihan dengan kelepasan? Pengalaman menunjukkan bahwa kedua pelayanan itu sering kali berkaitan dalam dua hal.

Pertama, tidak jarang roh-roh jahat berusaha untuk menghalangi proses pemulihan. Mereka melakukan hal ini karena trauma terhadap manusia rohaniah, maupun karena penipuan dan respons yang tidak sehat yang sering kali menyertai pengalaman ini, seringkali memberi kesempatan – pintu-pintu terbuka, jika Anda mau – yang dibutuhkan roh-roh jahat pada saat mereka berusaha mempengaruhi kehidupan kita dan menetralisir keefektifan kita dalam pekerjaan Kerajaan Allah. Selama pelayanan kita jauh dari “kubu-kubu” ini dalam kehidupan seseorang, kuasa-kuasa ini akan mereda dan terus mempengaruhi kehidupannya secara diam-diam. Namun, ketika kita membawa dia kepada Tuhan dalam doa pemulihan, dan berusaha membereskan traumanya, penipuan,  dan respons yang tidak sehat yang telah memberi kesempatan kepada Musuh, maka kita langsung mengancam pekerjaannya dalam kehidupan orang itu. Pada tahap itu, roh-roh tersebut sering kali menyatakan kehadirannya dengan usaha menghalangi pekerjaan pemulihan Allah dalam hidupnya.

Bagaimana roh-roh bekerja untuk menghalangi pelayanan pemulihan? Salah satu trik yang umum adalah menghalangi penerimaan orang itu terhadap penyingkapan kebenaran dan kasih yang memulihkan yang ingin diberikan Allah kepada mereka. Kadang-kadang kami berdoa, memohon jamahan Allah yang memulihkan dalam kehidupan orang itu, tetapi tidak ada sesuatu yang terjadi. Kemudian kami berbicara langsung kepada roh-roh jahat, dan melarang mereka menghalangi penerimaan orang itu terhadap pekerjaan yang ingin dikerjakan Tuhan dalam diri mereka. Setelah itu, kami berdoa lagi dan orang itu mengalami penyataan kebenaran dan kasih Allah yang mendatangkan pemulihan yang luar biasa dalam roh mereka. Namun, tanpa pemahaman tentang peperangan rohani, dan kemampuan untuk mengambil otoritas atas roh-roh jahat yang melawan pekerjaan Allah, kita sulit untuk menerobos oposisi musuh terhadap pemulihan yang membawa pada kemerdekaan dan kemenangan di dalam Kristus.

Strategi lain yang digunakan musuh adalah melakukan manifestasi dengan cara tertentu pada poin-poin kritis dalam proses pemulihan. Orang yang didoakan mungkin tiba-tiba menjadi pusing atau tidak mampu berpikir dengan jelas. Pada tahap tersebut kami biasanya melarang pekerjaan roh-roh jahat, dan memerintahkan kepada mereka untuk melepaskan orang itu sehingga mereka bisa mengalami jamahan pemulihan Allah. Biasanya ini berjalan efektif, tetapi jika mereka bertahan dalam usaha untuk menghalangi pekerjaan pemulihan, maka kami biasanya bergerak langsung ke dalam kelepasan yang lembut dan mengusir mereka. Setelah itu kami bisa bergerak maju dalam proses pelayanan pemulihan yang sangat ditakuti roh-roh jahat.

Kedua, setelah pemulihan terjadi dalam bidang kehidupan tertentu seseorang, langkah logis berikutnya adalah mengusir roh-roh jahat yang telah bekerja di dalam dan melalui trauma dan penganiayaan, kebohongan dan respons yang tidak sehat terhadap pengalaman traumatis itu. Urutan pelayanan yang terbaik pertama adalah pemulihan dulu, baru kelepasan. Menggunakan ilustrasi Charles Kraft, kita harus menyingkirkan “sampah” (= luka batin, kepahitan, sikap menghakimi, dan jenis dosa lainnya) dalam hidup kita melalui pemulihan batin dan pertobatan, kemudian kita bisa mengusir “tikus-tikus” (= roh-roh jahat) relatif lebih mudah.3  Namun merupakan hal yang memalukan untuk memimpin seseorang mengalami pemulihan batin dan tidak melihat proses itu sampai pada tahap akhirnya. Meskipun dalam banyak kasus, pemulihan batin tanpa kelepasan bisa memberikan pertolongan sejauh tertentu – bahkan pertolongan yang cukup besar – bagi orang yang terluka batinnya, akhirnya hal itu gagal mendatangkan tingkat kesembuhan yang maksimal yang direncanakan Allah untuk kita alami.  Seperti kita lihat dalam pelayanan Yesus, kesembuhan dan kelepasan berjalan berdampingan.

Saya sangat bisa merekomendasikan pelayanan pemulihan. Tuhan telah menggunakan proses ini secara menakjubkan dalam kehidupan saya sendiri, dan melalui hal itu Ia telah mengubah pelayanan saya juga. Namun, kita harus selalu memeriksa untuk melihat bahwa fokus kita tetap terletak pada tempat yang tepat. Kita tidak boleh membiarkan diri kita sendiri menjadi sebegitu antusias dengan proses pemulihan sehingga kita kehilangan pandangan pada fakta bahwa, pada akhirnya, orang-orang disembuhkan karena kita membawa mereka kepada Yesus. Kita tidak boleh melupakan bahwa Allah itulah satu-satunya yang “menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” (Mzm. 147:3). Bagi-Nya kemuliaan dan hormat untuk selama-lamanya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s