Kesejahteraan 03.3: Syarat terjadinya pemulihan

Apakah saya adalah calon yang baik untuk pelayanan pemulihan?

Prinsip dasarnya di sini adalah bahwa Allah selalu siap untuk bekerja di dalam kita untuk memberikan pemulihan, tetapi tidak setiap orang siap untuk menerima pemulihan-Nya. Bagaimana Anda bisa mengetahui apakah Anda sudah siap untuk proses pemulihan? Ada beberapa karakteristik yang telah kami temukan dalam kehidupan orang-orang yang merupakan calon yang baik untuk pelayanan pemulihan. Karakteristik itu adalah:

  • Kemiskinan rohani
  • Keterbukaan dan kejujuran di hadapan Allah
  • Keterbukaan dan kejujuran dalam hubungan dengan orang-orang lain
  • kesediaan untuk meninggalkan kebiasaan berdosa
  • Kemauan untuk menerima kebenaran Allah


Karakteristik pertama adalah kemiskinan rohani. Seperti dikatakan Yesus, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Kita adalah orang yang miskin rohaninya ketika kita memiliki kebutuhan rohani dan emosional yang dalam, dan kita menyadari kebutuhan kita. Ini merupakan langkah pertama menuju kesembuhan dan pemulihan. Kita harus mengakui dalam hati kita bahwa kita terluka dan berdosa, dan bahwa kita tidak bisa menolong diri kita sendiri. Kita membutuhkan jamahan Allah yang memulihkan. Orang percaya yang miskin rohnya siap untuk menyingkirkan segala dalih, pembenaran diri sendiri, dan semua bentuk penipuan. Mereka tahu bahwa satu-satunya harapan mereka terletak pada pertolongan kasih dan kuasa Allah yang memulihkan.

Karakteristik kedua adalah keterbukaan dan kejujuran di hadapan Allah. Kadang-kadang orang-orang datang kepada kami untuk mendapatkan pemulihan tetapi mereka tidak pernah mencurahkan hati mereka kepada Tuhan dalam segala kejujuran dan keterbukaan. Sering kali doa-doa mereka kedengaran sopan dan rohani, tetapi mereka tidak pernah membawa masalah yang sebenarnya yang tersembunyi di dalam hati mereka kepada Allah. Mereka berdoa dengan tenang dan lembut, tetapi mereka tidak pernah mencurahkan luka yang dalam atau kemarahan dan kebencian yang tersimpan di lubuk hati mereka kepada-Nya. Mereka tidak pernah melepaskan dukacita dan kekecewaaan yang mereka alami sebagai akibat doa yang tidak dijawab kepada-Nya. Dan mereka tidak pernah mengungkapkan kedalaman kecemaran yang mereka simpan dalam hati mereka sebagai akibat dosa yang telah mereka lakukan kepada Allah. Jenis keterbukaan dan kejujuran di hadapan Allah ini merupakan persyaratan yang penting untuk mengalami kesembuhan batin yang sejati.

Karakteristik ketiga adalah keterbukaan dan kejujuran dalam hubungan kita dengan orang-orang lain, yang dimulai dengan tim pelayanan. Kenyataannya adalah bahwa kebanyakan kita biasa menggunakan topeng dalam hubungan kita dengan orang-orang lain. Dalam beberapa kasus, kita telah mengalami kekecewaan, luka dan penolakan yang berat dalam hidup kita, tetapi kita menunjukkan diri kita sendiri sebagai orang yang independen, percaya diri dan santai. Dalam kasus lain, kita sangat frustrasi karena kita tidak dapat membebaskan diri dari pola hidup dan hubungan dengan orang lain yang berdosa, namun kita bertindak seolah-olah kita tidak punya problem atau pergumulan. Kita biasanya menyembunyikan keadaan kita yang sebenarnya karena kita malu untuk mengakui kebutuhan batin kita, atau kita takut bahwa orang-orang lain akan menghakimi atau menolak kita, atau tidak ingin menghadapi akibat dosa kita. Untuk mengalami kesembuhan yang sejati, kita harus siap untuk menanggalkan topeng dan hidup secara terbuka, terutama dalam konteks sesi pelayanan.

Saya tidak bermaksud untuk menyiratkan bahwa kita harus menceritakan rahasia kita yang paling dalam dan paling gelap kepada setiap orang. Kenyataan menunjukkan bahwa ada beberapa orang yang tidak pantas untuk mendapat kepercayaan kita. Untuk alasan tersebut, kita perlu menggunakan hikmat dalam memilih kepada siapa kita akan membuka hati kita. Orang itu harus sudah dewasa rohaninya, tidak punya tendensi untuk menghakimi orang lain, dan siap untuk menyimpan rahasia.  Namun, kita sungguh-sungguh perlu belajar menceritakan luka batin dan dosa-dosa kita kepada orang lain, sebab pengakuan dosa itu merupakan langkah yang penting dalam proses kesembuhan. Seperti dikatakan Alkitab,

“Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh” (Yak. 5:16).

Pengakuan dosa pada dasarnya merupakan satu langkah untuk menuju pemulihan dalam sebagian besar kasus.  Selain itu pengakuan dosa juga membantu tim pelayanan mengetahui bagaimana berdoa dan bagaimana memimpin proses itu. Seperti halnya dokter tidak bisa membuat diagnosa dan rencana pengobatan yang akurat jika kita tidak menjelaskan gejala yang kita rasakan dengan jelas dan lengkap, demikian juga tim pelayanan akan mengalami kesulitan untuk bekerja dengan informasi yang tidak lengkap dan menyesatkan. Proses kesembuhan juga akan lebih lambat jika informasi tentang latar belakang yang berhubungan disingkapkan sedikit demi sedikit selama berlangsungnya beberapa sesi. Penyingkapan informasi yang lengkap pada tahap permulaan selalu bermanfaat ketika tim pelayanan membantu memandu proses kesembuhan.

Karakteristik keempat adalah kesediaan untuk meninggalkan sikap dan praktek berdosa yang menghalangi di jalan kesembuhan, pemulihan dan keintiman yang sejati dengan Bapa. Bertahun-tahun yang lalu Robert Munger menerbitkan buklet yang berjudul My Heart – Christ’s Home, di mana ia membandingkan hati kita dengan rumah di mana Yesus hadir untuk tinggal ketika kita menerima Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan.2  Namun, ketika Yesus menerima undangan kita untuk mengambil alih tempat tinggal dalam hati kita, Ia membawa kita melalui proses penyerahan masing-masing kamar di rumah itu – yang melambangkan aspek kehidupan kita yang berbeda-beda seperti pola pemikiran kita, keinginan kita dan kegiatan rekreasi kita – kepada-Nya. Pada saat kita membuka setiap bidang kehidupan kita kepada-Nya, berserah pada ketuhanan-Nya dan memberi Dia ijin untuk menyembuhkan dan menyucikan, Ia bekerja dengan dahsyat untuk memimpin kita pada kesembuhan dan pertumbuhan rohani yang sejati. Tetapi Yesus seorang yang lemah lembut, dan Ia tidak akan pernah memaksakan diri-Nya sendiri atau kehendak-Nya pada kita. Ia menunggu dengan sabar – dan mengetok – sampai kita membuka pintu untuk setiap ruangan kepada-Nya (Why. 3:20). Kemudian Ia bergerak untuk mendatangkan kesembuhan, pemulihan dan pengudusan.

Kita perlu menekankan bahwa sering kali sikap berdosa kita bisa menghalangi kita mengalami pemulihan yang sungguh-sungguh.  Banyak orang percaya memiliki perasaan sombong karena mereka tidak pernah mencuri harta milik orang lain, mereka tidak pernah mabuk, mereka tidak pernah terlibat korupsi dan mereka tidak pernah melakukan perzinahan. Namun meskipun demikian hati mereka bisa dipenuhi dosa – pembenaran diri sendiri, iri hati, kepahitan, kebencian dan sikap menghakimi orang lain. Mereka memandang diri sendiri lebih baik dari pada orang lain karena mereka berkunjung ke gereja dengan teratur, berpuasa dan berdoa dengan teratur, memberikan persepuluhan dengan setia, dan terlibat dalam berbagai jenis pelayanan kepada orang lain. Dalam banyak hal mereka seperti orang Farisi yang disebutkan dalam Injil Lukas.  Mereka memusatkan perhatian mereka pada hal-hal lahiriah. Namun mereka lupa bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, dan bahwa Ia ingin menguduskan kita dari dalam keluar. Cukup menarik bahwa kadang-kadang, dalam proses pemulihan, Tuhan mengejutkan kami. Kami mulai berdoa untuk pemulihan memori dan emosi, tetapi Ia menunjukkan sikap berdosa yang perlu diperhatikan lebih dahulu. Setelah orang yang dilayani itu mengakui dosa mereka dan bertobat darinya, kemudian Roh Kudus sudah siap untuk menuntun kami pada pemulihan batin. Ia ingin membereskan segala sesuatu sesuai prioritas-Nya. Karena alasan inilah, beberapa orang tidak mampu melangkah maju dalam proses pemulihan batin karena mereka menolak untuk membuka hati mereka dan berpaling dari sikap berdosa yang telah mereka jalankan selama bertahun-tahun.

Karakteristik kelima adalah kesediaan untuk menerima kebenaran Allah. Salah satu hal yang kita lihat dalam Alkitab adalah bahwa hati manusia – bahkan sekalipun telah ditebus – memiliki kemampuan yang luar biasa untuk menipu dan ditipu. Kecenderungan ini sering kali menuntun kita untuk bertindak dan bereaksi berdasarkan asumsi yang salah tentang Allah, diri kita sendiri dan orang lain. Dalam proses pelayanan pemulihan, Roh Allah sering kali membawa kami untuk menghadapi penipuan ini, dengan tujuan untuk menuntun kita ke dalam kebenaran yang akan memerdekakan kita. Namun, pada tahap itu, kita harus membuat pilihan. Kita akan menerima kebenaran yang disingkapkan Roh Kudus kepada kita, atau kita akan berpaut pada kebohongan yang telah membentuk lapisan dasar keberadaan kita selama bertahun-tahun. Kadang-kadang kebenaran yang disingkapkan Allah kepada kita tidak mudah untuk diterima, paling tidak pada awalnya. Kita mungkin merasakan bahwa hal itu sangat merendahkan hati, mempertanyakan persepsi dasar kita tentang diri sendiri dan orang lain, atau mungkin mengancam cara-cara yang telah kita gunakan untuk melindungi diri kita sendiri agar tidak terluka dalam hubungan kita dengan orang lain. Meskipun demikian rencana dan maksud Allah bagi kita selalu baik, dan kita hanya bisa mengalami kesembuhan dan pemulihan yang sejati jika kita menyangkal kebohongan yang telah kita percayai dan menerima kebenaran yang dinyatakan Allah kepada kita, kebenaran yang memerdekakan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s