Kesejahteraan 03.1: Aspek-aspek pelayanan pemulihan

Bagaimana sesungguhnya cara Yesus mendatangkan pemulihan kepada manusia
batiniah kita? Saya harus mengakui bahwa setiap orang itu unik, dan
karena Tuhan mengenal kebutuhan kita yang terdalam dengan sempurna, Ia
memperlakukan kita masing-masing secara individual. Meskipun demikian
ada empat aspek luas dari pekerjaan-Nya yang sering kali muncul selama
pelayanan kesembuhan batin. Keempat aspek itu adalah:

  • Memulihkan luka-luka manusia yang terdalam
  • Meneguhkan kebenaran-Nya dalam hati kita
  • Membebaskan kita dari dampak dosa secara internal
  • Menuntun kita bertobat dari pola hidup dan hubungan kita dengan orang lain yang tidak sehat


Memulihkan luka-luka kita yang terdalam

Pengalaman kehidupan tertentu mungkin melukai kita secara mendalam,
atau bahkan menghancurkan roh kita. Beberapa dari kita mengalami
pelecehan fisik atau seksual di tangan orang-orang yang seharusnya
memberikan kasih dan perlindungan kepada kita. Orang lain telah
ditinggalkan oleh salah satu atau kedua orang tua mereka, yang
merupakan sumber utama kasih dan rasa aman bagi anak-anak. Orang yang
lain lagi berasal dari keluarga-keluarga yang tetap tinggal serumah,
tetapi anggota keluarga itu berhubungan satu dengan yang lain dengan
cara yang saling melukai. Kata-kata kritikan, pembandingan yang
negatif, kata-kata yang mematahkan semangat, semua input negatif ini
bisa membuat kita terluka secara mendalam. Seberapa dalam tingkat luka
yang dialami seseorang sangat bervariasi. Beberapa dari kita lebih
efektif dalam menutupi luka kita dan menggantikannya dengan sikap yang
lain, tetapi tidak ada seorang pun yang pernah mengalami jenis
pengalaman ini yang hatinya tidak terluka. Seperti halnya tubuh kita
membutuhkan kesembuhan jasmani jika terluka, demikian juga roh kita
membutuhkan jamahan Allah yang memulihkan jika kita terluka secara
emosional.

Selama proses doa untuk pelayanan pemulihan, Roh Kudus akan bekerja
dengan lembut untuk mendatangkan pemulihan kepada manusia batiniah.
Orang-orang mengalami pemulihan ini dengan cara yang berbeda-beda.
Kadang-kadang perasaan yang kita alami pada titik trauma muncul di
depan kita secara dramatis untuk sesaat, kemudian Roh Kudus mengangkat
dampak trauma dari roh kita dan memenuhi kita dengan damai sejahtera
dan sukacita. Dalam kasus lainnya, kita mengalami kehadiran Yesus dalam
bentuk terang dan kehangatan, yang mendatangkan pemulihan bagi
luka-luka batin kita. Kadang-kadang kesembuhan terjadi secara visual
ketika Roh Kudus memampukan kita untuk melihat dirinya sendiri pada
saat kita terluka secara mendalam, kemudian Yesus muncul dan menyatakan
kasih dan perlindungan-Nya. Dan dalam kasus-kasus tertentu, kita tidak
melihat atau merasakan apapun, tetapi kita tahu bahwa Yesus hadir
karena kita mengalami pemulihan dari dampak pengalaman yang telah
melukai kita secara mendalam. Hal yang terpenting adalah kehadiran
Yesus sebagai jawaban bagi doa-doa kita yang mendatangkan pemulihan
bagi orang yang dilayani, seperti halnya kehadiran-Nya selama kehidupan
dan pelayanan-Nya di bumi mendatangkan kesembuhan bagi orang-orang yang
Ia jamah.

Meneguhkan kebenaran-Nya dalam hati kita

Pengajaran dan teladan orang lain – terutama orang tua dan anggota
keluarga lainnya – maupun pengalaman traumatis dalam kehidupan, bisa
membuat kita memiliki ide yang salah tentang Allah, tentang diri kita
sendiri, dan tentang orang lain. Kebohongan ini membuat kita menderita,
dan akan membuat kita memandang rendah diri kita sendiri, dan
merongrong hubungan kita dengan Allah dan dengan orang lain. Misalnya,
ayah yang kehilangan anak satu-satunya karena kanker mungkin akan
menyimpulkan bahwa Allah tidak ada, dan jika Ia ada, Ia tidak bisa
dipercaya. Anak yang dilecehkan oleh orangtuanya mungkin percaya jauh
di lubuk hatinya bahwa ia tidak pantas untuk dikasihi. Atau gadis muda
yang dilecehkan secara seksual oleh ayahnya atau kakak laki-lakinya
ketika ia masih kecil mungkin merasa yakin bahwa laki-laki tidak bisa
dipercayai, dan hal yang mereka inginkan semata-mata hanyalah seks.
Jenis penipuan tingkat yang dalam ini sering kali membuat kita
menderita, merongrong keakraban hubungan kita dengan Allah dan orang
lain, dan menghalangi kita untuk menikmati kehidupan yang berkelimpahan
yang dikehendaki Allah untuk kita sebagai anak-anak-Nya.

Jika penipuan sejenis ini telah berakar dalam kehidupan seseorang, hal
terpenting yang bisa kita lakukan adalah menyampaikan kebenaran Allah
kepada mereka. Seperti dikatakan Yesus,

“Dan kamu akan mengetahui
kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:32).

Namun
kita perlu menyadari bahwa berbagai pendekatan dibutuhkan untuk
mendatangkan pemulihan dan kebebasan dari pengaruh penipuan itu. Dalam
beberapa kasus, penipuan itu tidak berakar terlalu dalam dalam
kehidupan seseorang, dan kita dalam kasih bisa dengan mudah menunjukkan
kepada mereka di mana pemikiran mereka yang salah atau tidak
Alkitabiah. Kita mungkin menunjukkan kepada mereka ayat-ayat Alkitab
yang berbicara tentang kemurahan dan kasih Allah bahkan juga di
tengah-tengah penderitaan dan kehilangan.  Atau kita menunjukkan kepada
mereka bahwa mereka sudah dilayakkan di dalam Kristus, atau bahwa
laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling mengasihi dan
berpasangan. Sering kali Roh Kudus bekerja dengan cara yang ajaib
ketika kita menjelaskan kebenaran Allah untuk menghancurkan kuasa
kebohongan dan penipuan. Perubahan yang dramatis akan terjadi pada saat
kebenaran diteguhkan dalam hati dan pikiran mereka.

Namun tidak setiap orang akan mengalami kesembuhan dan kebebasan dari
dampak penipuan jika kita sekedar menjelaskan kebenaran Allah kepada
mereka. Dalam kasus-kasus tertentu, kebohongan itu sudah tertanam
begitu dalam sehingga orang yang bersangkutan mempercayai kebenaran ini
secara intelektual, tetapi dalam hatinya ia masih merasakan bahwa
kebohongan itu benar. Misalnya, saya pernah memberikan konseling kepada
seorang gadis muda yang dilecehkan secara seksual ketika masih kecil
oleh saudaranya yang lebih tua. Secara intelektual ia menyadari bahwa
ia adalah korban yang tidak bersalah pada saat pelecehan itu, tetapi
dalam hatinya ia merasa bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.
Ia dipengaruhi oleh kebohongan yang berakar sangat dalam bahwa ia harus
melakukan sesuatu untuk mencegah pelecehan tersebut. Kebohongan itu
sangat mempengaruhi kehidupannya sebagai orang dewasa. Ia sering kali
dihantui oleh perasaan bersalah yang kuat, bahkan sekalipun kesalahan
yang ia lakukan sepele atau bisa dipahami berdasarkan situasinya pada
saat itu.

Apa yang bisa kita lakukan untuk membebaskan seseorang dari jenis
kebohongan semacam ini? Jika kita tidak tahu sumber kebohongan itu,
kita membawa orang itu kepada Tuhan dalam doa, dan memohon kepada-Nya
untuk menyingkapkan sumber kebohongan itu kepadanya. Dalam beberapa
kasus sumber kebohongan itu adalah pengalaman yang traumatis, sementara
dalam kasus lainnya kebohongan itu masuk ke dalam hati kita melalui
kata-kata, saran-saran, atau reaksi orang lain. Setelah kita tahu
sumber kebohongan itu, kita bisa menuntun orang itu dalam doa, dan
memohon kepada Roh Kudus untuk menyingkapkan kebenaran-Nya secara
langsung kepada orang itu, menghapus kebohongan itu secara efektif dan
dengan demikian menetralkan kuasanya dalam hidup orang itu. Kemudian
kita dengan tenang menantikan Tuhan bekerja. Kita tidak pernah tahu apa
yang akan dikerjakan oleh Tuhan!

Dalam kasus gadis-gadis muda yang saya sebutkan di atas yang dihantui
oleh perasaan bersalah, Tuhan dengan seketika mengingatkan dia tentang
masa awal remajanya. Ia ingat suatu malam keadaan memaksa dia untuk
tidur di rumah saudaranya yang pernah melecehkan dia pada waktu ia
masih kecil. Dalam ingatannya ia melihat dirinya sedang bersiap-siap
untuk tidur, kemudian ia menggeser sebanyak mungkin meubel di depan
pintu kamar tidurnya sebelum ia pergi tidur. Ia dengan segera
mengetahui pentingnya apa yang ia lihat itu, “Ketika saya sudah cukup
dewasa, saya bisa melakukan sesuatu untuk mencegah saudara saya berbuat
jahat,” cetusnya, “tetapi ketika saya dilecehkan, saya masih terlalu
kecil.” Seolah-olah secercah sinar tiba-tiba menyala. Sejak saat itu
perasaan bersalah dan malu mulai menghilang secara dramatis. Ia
dibebaskan dari kuasa kebohongan yang telah mencengkeram dan
membelenggu dia selama waktu yang panjang.

Membebaskan kita dari dampak dosa secara internal

Dalam proses pelayanan pemulihan, Tuhan sering kali bertindak untuk
membebaskan kita dari dampak dosa, entah itu dosa kita sendiri ataupun
dosa orang lain terhadap kita.1 Ia sering kali melepaskan kita dari
perasaan bersalah dan malu yang kita alami sebagai akibat dosa-dosa
kita atau dosa orang-orang lain terhadap kita. Dalam beberapa kasus hal
itu terjadi pada saat kita mengakui dosa-dosa kita dan menerima
pengampunan-Nya. Pada saat kita datang kepada Tuhan dalam doa dan
pengakuan dosa, janji-Nya dalam 1 Yoh. 1:9 menjadi nyata bagi kita:
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga
Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala
kejahatan.” Dalam kasus lain, fokus pelayanannya terletak pada
penyucian kita dari kecemaran yang kita alami sebagai akibat dosa orang
lain terhadap kita. Korban pemerkosaan atau pelecehan seksual sering
kali merasa “kotor” atau “tidak layak”. Dalam proses pemulihan, Roh
Kudus sering kali bekerja untuk mengangkat perasaan ini dari roh
mereka, menyucikan mereka dan memampukan mereka untuk mengalami fakta
bahwa mereka sudah kudus dan layak di mata Tuhan.

Selain pengampunan dan penyucian, Tuhan sering kali bekerja untuk
memulihkan keintiman hubungan kita dengan Bapa di sorga. Sering kali
kita merasa jauh dari Dia dan tidak mampu mengalami kasih-Nya sebagai
akibat trauma pada masa lalu, problem dosa kita sendiri yang tidak
diselesaikan, perasaan bersalah dan malu, atau penghakiman yang kita
lakukan dalam hati kita terhadap Dia. Dalam proses pemulihan, Roh Kudus
dengan lembut dan sabar akan menuntun kita untuk membereskan hal itu
dan hal-hal lain dalam hidup kita yang menghalangi kita untuk mengalami
keintiman dengan Bapa. Ia akan menuntun kita kembali kepada diri-Nya
sendiri sebagai sumber kesembuhan dan pertumbuhan ke arah kedewasaan
rohani dan emosional.

Menuntun kita bertobat dari pola hidup dan hubungan kita dengan orang lain yang tidak sehat

Kita harus menjaga keseimbangan dalam pelayanan pemulihan. Pada satu
sisi, kita harus mengakui bahwa pengalaman masa lalu kita memang
mempengaruhi kita dalam banyak hal. Jika tidak, kita tidak akan
termotivasi untuk membawa problem dan pergumulan kita kepada Tuhan
untuk dipulihkan; akibatnya kita tidak akan pernah menikmati kesembuhan
dan pemulihan seperti dirindukan Allah untuk kita masing-masing. Pada
sisi lainnya, tidak satu pun kita yang semata-mata menjadi korban dosa
orang lain terhadap kita. Kita semua harus mengakui bahwa kita telah
menanggapi trauma kehidupan dan pengalaman lainnya dengan cara-cara
yang berdosa dan tidak sehat. Kita menyimpan kepahitan terhadap orang
lain, kita melakukan penghakiman yang ceroboh terhadap mereka, kita
mengembangkan cara kita sendiri untuk menghadapi pergumulan kita dan
tidak membawa pergumulan kita kepada Tuhan dan mencari pertolongan dan
petunjuk-Nya. Kadang-kadang kita juga mengambil jalan keluar yang
mudah, mencari kesenangan dan kepuasan dengan cara-cara yang
bertentangan dengan firman Allah.

Kita perlu memahami bahwa kesembuhan
batin bukan hanya melibatkan kesembuhan dari luka-luka lama, melainkan
juga memikul tanggung jawab kita atas tanggapan kita yang berdosa dan
tidak sehat dan bertobat darinya. Inilah jalan menuju kemerdekaan,
pemulihan dan pertumbuhan rohani yang sejati.

Kadang-kadang seseorang datang kepada kami untuk dilayani, dan kami
dengan segera menemukan bahwa mereka hanya tertarik pada kesembuhan,
bukan pada pertobatan. Pada saat itu, kami biasanya menghentikan
pelayanan dan menjelaskan pentingnya menangani pola hidup dan respons
kita terhadap orang lain yang berdosa dan tidak sehat. Jika, setelah
beberapa sesi berjalan, kemudian ketahuan bahwa mereka tidak siap untuk
maju ke dalam pengakuan dosa dan pertobatan, kami sekedar memberitahu
mereka bahwa tampaknya mereka belum siap untuk mendapatkan kesembuhan
batin, dan bahwa kami perlu menghentikan pertemuan untuk sementara.
Namun kami selalu menunjukkan bahwa kami akan senang untuk bertemu
dengan mereka lagi, setelah mereka merasa bahwa mereka siap untuk
menerima kesembuhan maupun pertobatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s